
Seharian Yansen tak bisa konsentrasi mengerjakan pekerjaan kantornya. Berulang kali memijit pelipisnya, entah karena sesuatu yang tak tersalurkan atau karena memang pusing dengan pekerjaan yang menumpuk. Yang jelas, hari ini Yansen merasa benar-benar pusing dan juga tak enak, kepalanya terasa berputar.
"Ada apa Pak?" Tanya Karan.
"Karan, aku akan pulang sekarang. kepalaku sakit, kamu selesaikan semuanya dan batalkan meeting sore nanti."
"Baik Pak."
Baru juga dua jam duduk di kursinya Yansen merasa sudah sangat letih. Memilih untuk pulang, mungkin menurutnya akan sedikit lebih baik jika beristirahat di rumah.
Moana dan Rada membantu Safira berkemas. Ada beberapa baju yang beri Rada dan juga Mona. Keduanya sengaja membelikan baju juga keperluan rumah untuk Safira.
"ini terlalu banyak." Seru Safira merasa tak enak.
Rada memasukan baju-baju itu kedalam tas.
"Ini tak seberapa, Bu Safira. Semoga ibu suka ya?"
"tentu saja, Bu. Baju-baju ini bagus."
Moana menghela nafas panjang. Memeluk Safira lalu menyandarkan kepalanya di punggung.
"Mak, apa tak sebaiknya menginap lagi. Semalam saja."
Safira langsung melepaskan pelukan Moana. Memutar tubuhnya untuk dapat melihat wajah putrinya. Mata bulatnya ikut berkaca-kaca ketika menatap wajah sendu Moana. Rada pun jadi ikut terharu melihatnya. Kedekatan ibu dan anak memang sangat sulit di pisahkan. Dirinya dan Jane pun begitu, gadis itu tak pernah mau jauh dengannya.
"Sayang, dengarkan Mak. Mak punya suami dan kamu juga punya. Kita disini sama-sama seorang istri. wajib bagi kita melayani suami kita, kalau Mak terlalu lama di sini. Nanti siapa yang akan melayani suami Mak, ayah mu itu tak bisa apa-apa jika jauh dari Mak."
Safira memang masih betah disini. Apalagi Rada, sang besan sangat baik juga bersikap seperti saudara dekat saja. Tak ada kecanggungan diantara kedua nya.
Moana paham dengan apa yang di katakan ibunya. Ia pun mengangguk sebagai jawaban.
"Sepertinya di luar ada yang datang." Seru Rada ketika mendengar deru mesin mobil.
"Biar aku saja, Bu." Moana Bergegas turun dari kasur.
Rada dan Safira pun melanjutkan acara berbenahnya. Langkah Moana semakin cepat saat melihat Yansen keluar dari mobil.
"mas, kenapa? Kamu tak jadi kerja?"
Yansen tersenyum, merangkul pinggang Moana lalu berjalan masuk dengan posisi bergandengan. Pria itu langsung menuntun Moana masuk kedalam kamar.
"apa apa mas?" Moana cemas ketika melihat wajah Yansen yang tak bersemangat.
__ADS_1
Pria itu tak langsung menjawab, merebahkan tubuhnya di kasur lalu berujar pelan.
"kepala mas pusing, Moana."
Melihat sepatu yang masih terpakai membuat Moana langsung membukanya. Lalu meletakkan sepatu itu di bawah, beralih ke dasi Yansen. Moana melakukannya dengan sangat hati-hati takut menggangu Yansen yang kini telah memejamkan matanya.
"Sudah minum obat?" Tanya Moana, meletakkan tangannya di kening Yansen untuk mengecek suhu tubuhnya.
Tak panas sama sekali, itu artinya Yansen hanya pusing biasa. Bukan karena demam.
Gelengan kepala Yansen membuat Moana langsung beranjak, ia pergi kedapur untuk mengambil obat juga air minum. Yansen membuka matanya, menatap pintu yang tertutup.
"Aku butuh kamu, bukan obat." Lirihnya.
Tak lama Moana kembali. Memberikan obat itu pada Yansen. Berharap setelah meminumnya sakit kepala itu reda.
"Kenapa hanya di lihat? minum obatnya."
"kamu tahu Moana, sakit kepalaku tetap tak akan hilang dengan obat ini." Pernyataan Yansen membuat Moana bingung. Kenapa bisa begitu.
Yansen meletakkan gelas dan obat di tangannya ke atas nampan yang masih di pegang oleh Moana. Lalu mengambil nampan itu dan menyimpannya di atas meja.
Moana jadi semakin bingung saat tangannya di tarik oleh pria itu hingga tubuhnya setengah menimpa Yansen. Pandangan kedua bertemu.
"mas..."
Yansen mengusap lembut punggung Moana, membuat Moana tubuh Moana meremang.
...*************...
Jane dengan ragu melangkah memasuki kelasnya. Semua mata tertuju kepadanya, membuat gadis itu ragu untuk terus melanjutkan langkahnya. Tangannya sudah basah oleh keringat.
Inggit langsung menggenggam tangan Jane. Tersenyum tipis lalu menariknya masuk.
Belum ada yang bersuara di kelas, mereka diam dengan pandangan mata tertuju pada Jane. Mengikuti gerakan Jane yang kini telah duduk di bangkunya.
"hei, kalian lihat apa? ini Jane, teman kita bukan hantu." Cetus Inggit.
Semuanya langsung membuang pandangannya. Lalu beberapa detik kemudian mereka secara serempak bergerombol mendekati Jane.
Jane memandang satu persatu wajah temannya. Ada rasa takut di hatinya, bagaimana jika mereka kembali mengejeknya.
"Jane, kami semua minta maaf karena telah mengolok-olok mu di grup." Seru salah satu dari mereka.
__ADS_1
Lalu yang lain pun bergantian mengatakannya. Jane menatap mereka tak percaya, ia pikir temannya akan kembali mengejeknya tapi rupanya mereka semua malah meminta maaf.
"Inggit benar, kamu seharusnya di berikan acungan jempol karena telah berani mengakui cintamu. Tak seperti kami, hanya bisa memendam saja." Ucapan salah seorang siswa lelaki membuat Jane langsung beralih menatap teman sebangkunya itu.
"hehe..maaf Jane." Seru Inggit.
Jane tersenyum, tahu jika Inggit pasti telah mengatakan hal yang baik tentangnya kepada teman-teman sekelasnya. Dengan senang Jane pun menerima permintaan maaf teman-temannya.
Sammy berdiri di depan pintu. Pandangannya tertuju pada Jane, melihatnya yang tersenyum begitu ceria membuat Sammy terdiam. Pemuda itu sebenarnya ingin minta maaf juga, tapi gengsinya yang besar membuatnya malah bertindak semakin kasar. Kata-katanya di luar kelas tadi pun sudah menyakiti Jane.
"Ekhem..." Deheman keras dari belakang membuat Sammy terlonjak.
Rupanya guru mereka telah tiba. Buru-buru semua berlari menuju kursi masing-masing.
Pelajaran akan segera di mulai. Sammy pun memimpin doa yang langsung diamini oleh semuanya.
"Jane, kamu sudah sembuh?" Tanya guru itu, berjalan kearahnya.
Para guru memang tahu jika Jane sakit sehingga tak masuk kemarin. Jane dengan cepat mengangguk.
"bagus." Serunya. "buka halaman 23, kerjakan berkelompok."
Anak-anak pun langsung membuka halaman buku yang hari ini sedang di pelajari.
"Berapa orang Bu?" Tanya salah satu murid.
Guru berambut ikal itu pun langsung menulis di papan tulis.
"4 orang, dua laki-laki dan 2 perempuan. Tapi, karena murid perempuan lebih banyak, tak apa satu kelompok perempuan semua." Jelasnya. "kalian mau tentukan sendiri atau ibu yang memilih?"
Semua serempak menjawab.
"ibu saja."
Maka dengan cepat Guru itu menulis nama-nama di papan tulis. Jane berharap satu kelompok dengan Inggit. keduanya berpegangan tangan cemas.
"nah, sudah ibu bagi. kalian kerjakan sekarang dan nanti ibu akan minta salah satu dari kelompok untuk menjelaskan di depan. Hari ini ada rapat guru, kalian belajar dengan tenang."
Semua langsung sibuk memutar kursi untuk membuat lingkaran. Jane terdiam saat melihat nama Sammy berada tepat di bawah namanya. Inggit mengelus punggungnya pelan.
"apa minta di ganti saja?" Tanya Inggit.
Jane menggelengkan kepalanya. Guru sudah pergi, jika mengganti kelompok seenaknya pasti akan di marahi nanti.
__ADS_1
Sammy pun masih duduk di bangkunya. Kecanggungan tercipta diantara keduanya.
...***************...