Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 32


__ADS_3

Rada duduk termenung memandang wajah Jane. Gadis itu kini berada di rumah sakit karena terlalu shock hingga harus kehilangan kesadarannya. Melihat ayahnya yang mengamuk seperti tadi membuat Jane takut.


"sayang." Lirih Rada pilu.


Rada benar-benar tak tahu harus berbuat apalagi. Sekarang Jane sakit dan Gutomo di bawa kerumah sakit jiwa. Pria itu mendadak kehilangan kewarasannya, ia berteriak dan kadang menangis lalu tertawa keras. Lebih parahnya lagi Gutomo mencoba melukai dirinya sendiri.


Kasus pemb*nuhan yang di lakukannya pun tak di lanjut kembali karena telah di pastikan bahwa Gutomo memiliki penyakit jiwa.


Dengan ragu Rada menatap ponselnya, ingin sekali menghubungi keluarga Gutomo dan mengabari mereka atas apa yang telah menimpanya. Tapi, hatinya merasa ragu. Takut kedua mertuanya akan drop. Mereka terlalu tua untuk mengetahui kabar buruk ini.


"ibu..." Jane terbangun. Gadis itu kembali meneteskan air matanya. "apa yang sebenarnya terjadi dengan ayah?"


"sayang." Rada langsung memeluknya. "kamu istirahat saja ya. Jangan pikirkan ayah."


"tidak bisa begitu, ayah sedang di penjara sekarang. apa yang sebenarnya ayah lakukan Bu?"


Rada memejamkan matanya. Apa harus di memberitahu Jane. Bagaimana reaksinya nanti, apa Jane akan kuat mendengar semuanya.


Di sisi lain, Yansen pun tengah termangu menatap pusara Alea. Matanya sedikit berembun, banyak sekali kenangan manis bersama gadis itu. Tak bisa di pungkiri olehnya bahwa Alea pernah mengisi hari-harinya selama ini.


"Pak..." Karan mendekat.


"dimana ayah?" Tanya Yansen tanpa melihat Karan.


Karan melirik Johan sekilas. "Di kantor polisi." Jawabnya kemudian.


Yansen mengeryit. Berbalik menatap keduanya.


"secepat itu?" Tanyanya tak mengerti. Gutomo itu pria yang sangat licik. Sebagai putranya dia sedikitnya tahu bagaimana karakter sang ayah.


"Pak Gutomo melaporkan dirinya sendiri." Jawab Karan lagi membuat Yansen semakin tak mengerti.


Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Gutomo melaporkan dirinya. Bukankah selama ini dia selalu menyangkal telah melukai Alea, sebesar apapun usaha Yansen untuk mengungkapkan kejahatan hanya kegagalan yang di dapat. Gutomo sulit di tangkap, dia terlalu licik.


"Kamu tahu apa alasannya?" Suara Yansen merendah.


Karan menggelengkan kepalanya. Ia memang tak tahu apa alasannya.


Yansen menghela nafas panjang.


"aku akan kembali." Serunya sambil berjalan melewati keduanya.


Drrrt...Drrrt


Baru beberapa langkah ponselnya berdering. Yansen melihat ponselnya, keningnya mengerut melihat nama ibunya terpampang di layar. Tak biasanya wanita itu menghubunginya.


"ya, ini aku."


"........."


Yansen bergegas menuju mobilnya setelah mendapat kabar kalau Jane berada di rumah sakit.

__ADS_1


"Karan ikuti aku dan Johan, antarkan Moana kembali kerumah." Perintahnya.


Karan pun segera berlari mengejar Yansen. Sementara Johan langsung menuju ke arah mobil di mana Moana berada.


"Loh, Kenapa Pak Yansen masuk ke mobil itu?" Tanya Moana pada dirinya sendiri, hendak keluar tapi Johan segera menahannya.


"Bu Moana, kita pulang sekarang."


"tapi..." Moana melihat yang di tumpangi Yansen berjalan melewati mobil mereka. "mau kemana Pak Yansen?"


"aku tidak tahu. mungkin ada pekerjaan mendadak." Jawab Johan seadanya, hanya menebak saja karena tak tahu akan kemana atasannya itu.


Moana hanya menghembuskan nafas pelan. Yansen terlihat terburu-buru tadi, ia melihat dengan jelas dari balik kaca mobil. Setelah menerima telpon pria itu langsung terlihat panik. Apa terjadi hal lain lagi.


...****************...


Jane terus saja menangis di pelukan Rada. Gadis itu ingin kembali ke kantor polisi.


"ibu, aku mohon. aku ingin bertemu ayah."


Dengan erat Rada memeluknya. Ia tak sanggup harus mengatakan kebenarannya, bisa-bisa Jane akan sangat terpukul. Apalagi jika tahu kalau saat ini Gutomo berada di rumah sakit jiwa.


Jalan satu-satunya hanya meminta Yansen untuk menenangkan Jane. Rada berharap Yansen segera tiba.


"Jane."


Akhirnya Rada bernafas lega begitu mendengar suara Yansen. Ia langsung meminta Yansen untuk mendekat.


"apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Yansen.


"Pak, aku akan tenangkan Jane." Karan langsung menarik Jane kedalam pelukannya.


Melihat Jane yang sedikit tenang membuat Rada dan Yansen pun mempertanyakan gadis itu pada Karan. Kemudian keduanya segera keluar. Rada tak ingin Jane mendengar semuanya.


"Ayahmu..."


"aku tahu, dia di kantor polisi saat ini. apa itu yang membuat Jane seperti ini?"


Rada menelan ludahnya. Ia raih kedua tangan Yansen. Airmatanya menetes perlahan.


"Bukan hanya itu saja." Ujarnya dengan suara bergetar. "Ayahmu...dia..." Suaranya sungguh tercekat.


Rada tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. Ia menangis tersedu-sedu. Yansen yang melihat itu langsung memeluknya.


"Ayahmu...di bawa kerumah sakit jiwa." Ujarnya setelah sedikit lebih baik.


Yansen terdiam. Terkejut dengan apa yang di dengarnya. Pria itu melepaskan pelukannya lalu mundur beberapa langkah.


"jangan sampai Jane tahu soal itu. ibu tak ingin dia semakin terpukul." Pinta Rada.


Tubuh Yansen seperti tersengat listrik. Kenapa semuanya menjadi serumit ini. Keluarganya selama ini baik-baik saja, bahkan Gutomo tak terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Pria itu sangat sehat juga selalu menanggapi semuanya dengan tenang.

__ADS_1


Rasanya seperti mimpi saja. Hanya dalam beberapa jam saja keluarganya hancur.


...*****************...


Moana sungguh tak bisa tenang. Berulang kali melihat ke arah luar. Yansen dan yang lain belum juga kembali. Ini sudah hampir jam 9 malam. Pikirannya sungguh berantakan.


Drrrt...Drt...


Ponsel di rumah berdering. Moana langsung berlari untuk mengangkatnya. Berharap itu Yansen atau Rada yang menelpon.


"halo...I...ibu.."


Moana lega sekali pada akhirnya Rada menelpon.


"Di rumah sakit? apa ibu sakit?" Cemasnya.


Setelah mendengar penjelasan Rada akhirnya Moana pun merasa tenang. Wanita itu hanya mengatakan jika Jane sakit dan tak membahas perihal Gutomo sedikit pun.


"iya Bu. apa Pak Yansen di sana juga?"


"........."


"syukurlah. aku akan menunggunya kalau begitu."


Telpon pun terputus. Moana bisa tenang kembali sekarang. Yansen sedang dalam perjalanan pulang. Ia pun segera masuk kedalam kamar, mengganti bajunya lalu merebahkan tubuhnya.


Kecemasannya sudah tak ada lagi sekarang. Tapi Moana kembali murung saat mengingat tentang Alea. Gadis itu telah tiada sekarang, apa Yansen bersedih atau tidak sama sekali tak terlihat olehnya.


Selama di pemakaman tadi wajahnya datar-datar saja tanpa ekspresi. Apa karena terlalu bersedih jadi seperti itu, airmata pun sulit untuk keluar.


Ceklek.


Pintu terbuka. Moana hampir loncat saking terkejutnya. Matanya melebar melihat Yansen yang tersenyum kearahnya, apa dia bermimpi saat ini. Bagaimana bisa Yansen tersenyum begitu manis kepadanya.


"Pak Yansen..."


Yansen hanya bergumam pelan lalu duduk di samping Moana.


"tidak perlu bangun." Yansen menahan Moana yang akan bangun dari tidurnya. "apa kamu baik-baik saja?"


Kening Moana berkerut.


"seharusnya aku yang bertanya begitu. Pacar bapak baru saja meninggal. Apa pak Yansen baik?"


Yansen merebahkan tubuhnya, matanya terpejam.


"Apa aku terlihat seperti itu?"


Moana terdiam. Memandang wajah Yansen dari samping.


"Aku hanya ingin istirahat." Ucap Yansen lagi. Pria itu pun berbalik menghadap Moana lalu memeluk tubuh kecil itu. "Sebentar saja."

__ADS_1


Hanya ini yang bisa dia lakukan. Setiap memeluk tubuh Moana hatinya merasa tenang dan masalahnya akan menghilang begitu saja. Pria itu tak sadar jika perlakuannya telah membuat Moana semakin berharap.


...************...


__ADS_2