Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 56


__ADS_3

Moana berjalan mondar-mandir di kamarnya. Pasalnya dia bingung harus bagaimana sekarang. Tadi siang sudah berjanji pada Yansen tidak akan menolak permintaan pria itu. Tapi, jauh di dalam hatinya. Masih saja tersimpan ketakutan, Moana masih saja terbayang dengan perlakuan kasar Yansen sewaktu dulu. Pria itu merobek bajunya dan memperlakukan dirinya dengan sangat kasar. Tak ada kelembutan sama sekali.


"haaaah..." Menghembuskan nafas kasar. "Apa yang harus aku lakukan nanti."


Matanya gelisah melirik jam, sudah jam 6. Itu artinya Yansen akan segera pulang dari mengantar ibunya. Moana menduduki kasur dengan resah, keringat sudah membasahi pelipisnya.


Tok...Tok...


Ketukan pintu yang cukup keras membuatnya semakin resah. Menelan ludahnya dengan gugup lalu membuka kuncinya. Pintu kamarnya memang sengaja ia kunci agar Yansen tak masuk dengan tiba-tiba.


Ceklek...


Pintu terbuka lebar, Yansen berdiri dengan bingung ketika melihat wajah Moana yang begitu tegang.


"Ada apa? terjadi sesuatu?" Tanyanya. Tangannya menyentuh wajah Moana.


Moana semakin gugup saja.


"Apa perutmu sakit?" Yansen semakin cemas tak mendapat jawaban dari Moana. Beralih menyentuh perut sang istri dengan lembut.


"ma...mas, a...aku akan mandi dulu." Suara gugup dan tergagap Moana membuat Yansen mengeryit.


Tapi detik kemudian pria itu terkekeh saat menyadari sesuatu. Dengan cepat dia menahan tangan Moana.


"jangan terburu-buru, kita makan dulu. ibu bilang kamu belum makan."


Moana mengangguk setuju. Keduanya pun segera turun kebawah untuk makan malam. Yansen tak melepaskan genggaman tangannya, pria itu menuntun Moana dengan sangat hati-hati menuruni tangga.


Rada sudah menyiapkan semuanya. Wanita itu tersenyum saat melihat Yansen dan Moana.


"ayo makanlah. ibu akan pergi sebentar."


"ibu mau kemana?" Tanya Moana, melihat Rada yang sudah rapi.


"menjenguk ayah dan oh...ya, Jane ada di kamarnya. gadis itu entah kenapa begitu murung. jika bisa, kamu nanti bujuk dia untuk makan ya?" Pinta Rada pada Moana.


"iya Bu."


"ibu pergi sendiri?" Tanya Yansen.


Rada menggelengkan kepalanya. Dia sudah menelpon Karan tadi, memintanya untuk mengantar.


"dengan Karan. kalian makan saja."


Yansen dan Moana pun langsung duduk dan menikmati makan malam mereka begitu Rada pergi. Setelah itu Moana membawakan Jane makanannya kekamar.


"mas, tunggu di kamar saja." Ujarnya sambil berjalan menuju kamar Jane.


Yansen mengangguk lalu pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


Jane hanya duduk di meja belajarnya dengan pandangan kosong. Rupanya dia tengah melamun, bahkan tugas sekolahnya saja belum ada yang dia kerjakan satu pun.


Ceklek...


Moana membuka pintu dengan pelan. Melongokkan kepalanya untuk melihat sedang apa Jane. Ketika mendapati iparnya tengah duduk di kursi, ia segera masuk kedalam.


"Jane, ibu bilang kamu belum makan." Moana menutup buku Jane lalu menggesernya. "makanlah." Meletakkan piringnya di atas meja.


Jane menghela nafas panjang. Matanya melirik Moana sekilas lalu menatap piring berisi nasi dengan ayam goreng itu dengan tak berminat sama sekali.


Rasa laparnya sudah hilang dari siang tadi. Semua karena Sammy tentunya. Pemuda itu selalu menyakitinya, dari ucapannya dan sikapnya menunjukkan kalau dia membenci Jane. Itulah kenapa Jane menjadi sangat tak bersemangat bahkan tak ingin melakukan apapun dari sepulang sekolah tadi.


"Jane, ada apalagi?" Tanya Moana. "apa soal Sammy lagi?" Tebaknya tepat sasaran.


Jane langsung memutar kursinya lalu memeluk pinggang Moana.


"Kak, kenapa Sammy begitu membenciku. Apa mencintai seseorang itu suatu kesalahan hingga harus dibenci?"


Moana mengelus punggung Jane. Gadis kecil ini masih saja di lema dengan perasaan cintanya. Di usia muda memang seperti itu, mudah terluka dan rapuh.


"Cinta itu tak pernah salah Jane. Jangan seperti ini, cuma gara-gara satu pria kamu kehilangan semangat. Buktikan padanya kamu baik-baik saja,masih banyak pria di dunia ini bukan hanya Sammy."


Mendengar itu Jane langsung mendongakkan wajahnya.


"kamu itu cantik dan baik. Sammy tak pantas untukmu."


"jadi...bukan aku yang tak pantas untuknya?"


Jane melepaskan pelukannya lalu menghapus airmatanya.


"kamu harus bisa membuatnya sadar, kalau Jane itu sangat berharga. Jangan pedulikan dia lagi."


"mmm...aku tahu kak."


"ayo makanlah."


Jane pun merasa sedikit lebih baik mendengar perkataan Moana. Ia segera memakan makan malamnya.


...***************...


Sammy melemparkan ponselnya keatas kasur. Membaca chat di grup kelasnya malah membuatnya semakin kesal saja. Apalagi saat teman-temannya membahas Jane dan Regard. Mereka merasa jika keduanya terlihat sangat cocok. Jane yang manis dan Regard yang ramah.


Mereka seolah sengaja membahas hal itu di grup kelas. Pasti semua ide Inggit. Gadis itu memang sangat membenci Sammy semenjak pemuda itu menyakiti perasaan Jane.


"Ck... seperti bocah saja." Dengus Sammy.


Ia jadi teringat dengan kejadian tadi siang saat melakukan kerja kelompok. Jane terjatuh karena tersandung kaki meja dan tentu saja Regard dengan cekatan menolongnya bahkan memberikan obat luka pada lututnya.


Melihat itu tentu saja Sammy merasa kesal entah karena apa. Dia pun mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan bagi Jane.

__ADS_1


"Penggoda pria."


Sammy memejamkan matanya saat ingat dengan perkataannya tadi. Kalimat itu pasti telah melukai Jane untuk kesekian kalinya. Di tambah lagi sewaktu pulang sekolah Sammy melihat Jane di jemput seseorang. Maka dengan begitu saja dia kembali melontarkan kata-kata menyakitkan.


Dan sekarang Sammy sadar, jika kata-kata yang dia lontarkan pada Jane sudah keterlaluan. Tapi, meski begitu dia masih tak ingin meminta maaf dengan alasan untuk apa dia minta maaf, semua yang dikatakannya kenyataan.


Bagaimana bisa Jane menyatakan cinta padanya tapi masih mendekati pria lain.


...***************...


Yansen merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Jalanan ke rumah orang tua Moana sangat rusak dan bahkan membuat mobilnya mogok beberapa kali. Hingga sekarang tubuhnya pun terasa sakit semua.


"mas.."


Mendengar suara Moana, ia langsung duduk. Menepuk tempat kosong di sebelahnya. Dengan ragu Moana melangkahkan kakinya.


"Moana, bisa oleskan minyak ke punggungku?"


"tentu saja." Jawab Moana dengan cepat membuat Yansen tertawa kecil.


Tingkah Moana sedari tadi sedikit aneh, tapi Yansen suka itu. Moana yang gugup terlihat sangat lucu di matanya.


Yansen memunggungi Moana. Pria itu ingin menggodanya kembali.


"buka bajunya, tanganku sakit." Ujarnya. "memegang setir mobil berjam-jam membuat jari-jariku keram."


Moana pun nampak bingung tapi dengan gerakan pelan dia menarik kaos yang di kenakan Yansen keatas. Matanya sedikit di pejamkan saat kulit punggung Yansen terlihat jelas.


"a.. apa ini cukup?" Tanya Moana.


Yansen menahan senyumnya. Pria itu merasa belum puas, maka dengan jahil membalik tubuhnya hingga berhadapan dengan Moana.


"belum. Oleskan di sini juga." Ujarnya sambil menunjuk dada dan perutnya.


"di..sana juga?"


Yansen mengangguk lalu mendekatkan wajahnya. Melihat ekspresi wajah Moana yang tegang membuat Yansen semakin bersemangat untuk menggodanya.


"Apa kamu sudah siap?" Bisiknya.


Seketika wajah Moana memerah hingga ke telinganya. Layaknya pengantin baru, Moana terlihat begitu malu-malu juga takut yang luar biasa.


"apa bayinya akan baik-baik saja?" Pertanyaan Moana membuat Yansen tertawa keras.


Sungguh Moana itu sangat lugu. Yansen semakin gemas dan segera memeluk tubuh yang lebih kecil itu. Rasanya semakin hari Moana terlihat begitu menarik juga mampu membuat Yansen semakin mencintainya.


"aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati." Bisik Yansen lagi membuat Moana langsung memukul bahunya.


Sungguh memalukan baginya. Perlahan keduanya merebahkan tubuhnya. Keduanya saling bertatapan, menyelami cinta masing-masing.

__ADS_1


...************...


__ADS_2