
Yansen menatap tubuh Alea yang kini terbaring di ranjang pesakitan. Gadis itu sungguh tak berdaya, luka di kepala dan beberapa luka gores di tubuhnya membuat Yansen semakin merasa sedih.
Ia menyesal karena telah meninggalkannya begitu saja. Seandainya tadi ia mengajak Alea masuk kedalam dan tak mendengarkan apa yang di katakan Rada, saat ini mungkin Alea masih baik-baik saja.
"Ganti baju mu, pulang lah." Seru Rada.
Baju Yansen memang berlumuran darah, karena tadi menggendong tubuh Alea. Pria itu menepis tangan Rada yang menyentuh bahunya.
"biarkan aku melakukan apa yang aku inginkan." Desisnya.
Rada menarik nafas dalam.
"Alea bukan gadis yang pantas untuk mu Yansen. dia gadis buruk, bahkan selama ini menjual dirinya kepada pria hidung belang." Seru Rada, ia tak lagi menutupi apa yang telah di ketahuinya.
Yansen mendongakkan kepalanya lalu berdiri sejajar dengan ibunya.
"aku tahu itu." Ucapnya.
Kening Rada mengeryit. Tak menyangka jika Yansen akan setenang ini mendengar kebenarannya.
"aku tahu semuanya, Alea sudah menjelaskan padaku. dia terpaksa melakukannya."
"dan kamu percaya?"
Yansen memalingkan wajahnya. Hatinya memang terluka waktu melihat bagaimana Alea bermesraan dengan seorang pria, tapi ia tekankan itu. Karena cintanya, Yansen mencoba menutup mata. Ia percaya dengan apa yang Alea katakan.
"meskipun demikian kami harus tetap bertanggungjawab terhadap gadis itu. dia korban, kamu tak bisa bersama Alea." Seru Rada tak ingin lagi mendengar bantahan dari Yansen.
Yansen mendesah pelan. Sungguh sekarang posisinya dalam keadaan menyulitkan. Disisi lain, dia tak bisa meninggalkan Alea. Gadis itu butuh perhatian dan dirinya sekarang. Tapi, gadis yang telah dia lecehkan pun harus mendapatkan apa yang jadi hak nya. Yansen tak mau di cap sebagai pria yang tak berhati.
"aku akan bertanggungjawab, tenang saja." Lirihnya.
"bagus, ibu akan pulang. kamu mau tetap di sini terserah tapi ingat..." Rada menyentuh lengan Yansen. "besok kamu pulang dan kita temui gadis itu."
Beberapa menit kemudian, seorang perawat menghampiri Yansen. Memintanya untuk segera membayar biaya pendaftaran.
"Pak, tolong daftar kan dulu pasien di sana."
Tanpa bicara, Yansen langsung menuju ke tempat pendaftaran. Dia kembali dengan lelah, bajunya masih lusuh dan kotor penuh darah.
"sudah Pak?"
"ya, bagaimana kondisinya?" Yansen tak bisa mendekati Alea karena memang di larang. Ia hanya bisa melihat di balik kaca.
"Pasien harus segera di operasi karena benturan di kepalanya cukup keras. mohon, tanda tangan di sini."
Yansen pun segera menandatanganinya. Pria itu berharap Alea baik-baik saja. Untuk yang terakhir kali saja, izinkan dirinya melakukan yang terbaik untuk Alea.
Segera menghubungi Karan, memintanya untuk datang membawakan baju ganti untuknya.
Rada sudah kembali kerumah. Wanita itu berjalan melewati Gutomo begitu saja.
"Apa dia mati?" Pertanyaan Gutomo membuat langkahnya terhenti.
Rada berbalik menatap Gutomo dengan kebingungan.
Gutomo menyilang kan kakinya. Dia tersenyum penuh arti kearah Rada.
"Aku telah melakukan hal yang benar bukan?" Ucapnya.
Untuk sesaat Rada berpikir lalu kemudian dia tersadar dan langsung menghampiri Gutomo.
"jadi...kamu yang..."
__ADS_1
"ya... aku meminta anak buahku untuk melenyapkannya." Ucapnya santai.
Tubuh Rada terjatuh kelantai, di duduk di lantai yang dingin dengan hati ketakutan. Kenapa Gutomo melakukan itu, bukankah itu artinya dia telah melakukan tindakan kriminal.
Gutomo tersenyum miring, bangkit lalu berjalan mendekati Rada. Tangannya mencengkram dagu Rada membuat wanita itu mendongak.
"Alea bukan gadis yang pantas untuk Yansen, kamu selalu berkata begitu bukan?"
"tapi bukan berarti kamu harus membunuhnya?" Pekik Rada.
"haha...hahahhaha..." Gutomo menghempaskan tubuh Rada, dia tertawa amat keras.
"kamu gila. bagaimana jika Yansen tahu kalau kamu yang telah melukai Alea?"
"gadis itu tak pantas untuk hidup. Dia terlalu kotor dan bisa menghancurkan masa depan putra kita. Bagus bukan aku mencegah hal itu?"
Rada tak habis pikir dengan apa yang telah di lakukan Gutomo. Pria ini sungguh sangat tak berperasaan. Teganya dia melukai orang lain dengan begitu sadis. Alea bisa benar-benar kehilangan nyawanya jika saja tak buru-buru di bawa kerumah sakit.
Sebenci dirinya terhadap gadis itu, Rada tak pernah berniat untuk menyingkirkannya dengan begitu kejam.
Gutomo berjalan melewati Rada yang kini bergetar ketakutan. Ia kembali memasuki ruang baca.
Brak...
Membanting pintu dengan keras. Gutomo mengambil selembar foto di dalam laci, ia menyeringai menakutkan.
"Kamu tak pantas hidup. Yansen putra ku dan kamu..." Gutomo merobek foto itu menjadi lembaran kecil lalu membuangnya ketempat sampah.
"Alea, Putri haram ku." Ujarnya detik kemudian lalu mendudukkan tubuhnya di kursi dengan perasaan campur aduk.
...*****************...
Alea terbangun di ruangan serba putih dengan kepala yang di perban. Ia melenguh kala merasakan denyutan di kepalanya dan sekujur tubuhnya terasa amat sakit seperti baru saja di pukuli.
"Yansen..." Panggilnya saat melihat bayangan seorang pria berdiri di samping ranjang pesakitannya.
Alea mengerjapkan matanya, menatap pria di hadapannya.
"Kamu...Karan kan?" Tanyanya begitu terlihat jelas wajah pria itu.
Karan mengangguk. Dia memang di pinta untuk menunggu Alea karena Yansen memiliki urusan penting.
Alea memengang kepalanya yang kembali berdenyut. Sekilas dia mengingat kejadian malam itu.
"Siapa yang membawaku kemari?"
"Pak Yansen."
Menghela nafas panjang lalu kembali merebahkan tubuhnya. Rasanya sungguh tak nyaman duduk dengan posisi setengah tidur. Alea menarik selimutnya, dia membelakangi Karan.
"kamu bisa pergi." Ucapnya dengan nada mengusir.
Karan memutar matanya malas. Lagipula siapa yang ingin berlama-lama tinggal di sini. Dia sedikit tak menyukainya, menurutnya Alea hanya memanfaatkan Yansen saja. Gadis ini terlalu buruk untuk di jadikan pasangan.
"aku sudah menghubungi ayahmu, dia akan segera tiba." Ucap Karan lalu pergi.
Mata Alea melebar. Ia langsung menyingkap selimutnya.
"apa? kenapa kamu memberitahu nya aku di sini?" Pekiknya keras.
Alea tak menghiraukan rasa sakit di sekujur tubuhnya, ia turun dari ranjang dengan cepat hingga selang infus terlepas dari tangannya.
Darah segar langsung mengucur ke lantai. Alea tak peduli, dia meraih kerah baju Karan.
__ADS_1
"kenapa memberitahu nya aku disini?" Alea nampak ketakutan, matanya bergulir gelisah.
Karan melepaskan cengkraman tangan Alea dari kerahnya, darahnya mengotori kemeja putih Karan.
"Tolong, jangan biarkan dia kemari. ku mohon." Pintanya. "aaahh..." Detik kemudian Alea meringis, tangannya memegang kepalanya yang semakin berdenyut.
"hei...kamu kenapa?" Karan panik, melihat Alea kembali tak sadarkan diri.
Dengan segera Karan mengangkat tubuhnya keatas ranjang lalu segera memanggil dokter. Melelahkan sekali, sudah 4 jam dia berada di sini. Dan sekarang harus di hadapkan dengan kejadian seperti ini.
"Menyusahkan saja." Umpatnya.
Alea kembali di tangani dokter. Karan pun memilih untuk keluar. Berada di ruangan itu membuatnya pusing, bau obat-obatan menusuk hidungnya.
"Ini kamar Alea di rawat kan?" Seorang pria berjalan tergesa mendekati Karan yang baru keluar.
Karan mengangguk. Hafal sekali dengan wajah ini, ayah Alea yang beberapa waktu lalu di hubunginya.
"Apa terjadi hal buruk kepada putri ku?" Tanyanya.
"Bapak lihat saja kedalam. Aku permisi." Karan tak mau lagi terlibat dengan gadis itu. Lagipula Yansen sudah mengatakan jika ia boleh pulang sekarang.
Pria tua tadi masuk. Memperhatikan dokter yang sedang memeriksa Alea.
"apa putriku baik-baik saja?"
Dokter wanita itu tersenyum lalu mengangguk.
"iya, tapi lukanya belum sepenuhnya sembuh. Jadi bapak harus menjaganya dengan benar."
Alea membuka matanya merasakan ada seseorang yang menyentuh tangannya. Dia menatap dokter wanita yang baru saja memeriksanya, hendak meminta tolong untuk tidak pergi tapi terlambat. Sang dokter telah keluar dan kini tinggallah dirinya dengan seorang pria yang selalu ingin dia singkirkan itu.
"menyusahkan saja, kenapa terjadi seperti ini?" Desis pria itu.
"aku kecelakaan dan ayah malah bertanya."
Pria itu mencengkram lengan Alea, hingga kuku-kukunya menancap di kulit putih itu. Alea meringis.
"dengar... kamu itu hanya anak pungut, sudah seharusnya membayar jasa ku selama ini. Mana uang yang kamu hasilkan dari mel"nte." Ucapnya kasar tak berperasaan.
Alea mengigit bibirnya. Selalu seperti ini, dari kecil sudah di peras olehnya. Bahkan sampai saat ini dia tak pernah tahu di mana kedua orangtuanya. Hanya pria ini lah yang mengurusnya, dengan keras dan tanpa kasih sayang.
...***************...
Yansen memasuki mobilnya dengan enggan. Rada dan Jane sudah duduk manis di belakang. Mereka akan kerumah Sarah sekarang.
Dengan hati berat Yansen meninggalkan Alea di rumah sakit. Sebenarnya ia tak tega, cemas dan takut Alea akan mencarinya nanti.
Sementara Karan sendiri baru saja menghubunginya, mengatakan jika dia sudah pulang karena Alea telah sadar.
Ada rasa lega mendengar gadis itu baik-baik saja.
"Kamu sudah berjanji akan menikahi Moana. jangan ingkari itu." Ucap Rada.
Yansen berdecih.
"Kak Moana, cantik kok. aku sudah bertemu dengannya." Ucap Jane.
Yansen terdiam, bayangan wajah gadis di malam itu terlintas di kepalanya. Memang benar yang di katakan Jane. Dia gadis yang cantik, memiliki tubuh yang hampir sama dengan Alea. Hanya saja wajahnya terlihat masih muda.
"Kak Yansen..." Jane melongokkan kepalanya kedepan.
Yansen melihatnya sekilas lalu kembali fokus menyetir. Hanya gumaman pelan sebagai jawaban.
__ADS_1
Pria itu sungguh tak ingin bicara sekarang. Dia hanya ingin segera menyelesaikan masalahnya dan kembali menemui Alea. Dia berjanji akan bertanggungjawab atas perbuatannya tapi tak berjanji akan meninggalkan Alea.
...****************...