Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 50


__ADS_3

Moana tak tahu caranya bagaimana menghibur Yansen yang kini nampak murung. Sepulang dari kantor tadi hanya diam saja, seolah banyak sekali beban yang sedang di hadapinya.


Berulang kali Moana membuka mulutnya untuk bertanya tapi tak pernah ia lakukan. Moana kembali menutup mulutnya rapat. Tangannya perlahan mengelus punggung Yansen.


"Moana, aku selalu berusaha untuk bersikap baik, melakukan sesuatu dengan sepenuh hati. Tapi, ternyata apa yang aku lakukan itu salah. Karena obsesiku untuk menjadi yang terbaik membuat seseorang membenci ku." Ucapnya.


Rupanya Yansen masih terpikirkan oleh kejadian di kantor tadi. Tak menyangka jika Drean seperti itu karena dirinya. Padahal selama ia mengenal pria itu, tak pernah sedikitpun berpikir untuk mengalahkannya. Ia hanya berusaha untuk menjadi yang terbaik, bukan untuk menjatuhkan seseorang apalagi sampai membuat orang itu membencinya.


"mas, aku tak tahu apa yang terjadi antara mas dan kak Drean. Tapi, aku rasa sebaiknya jangan dipikirkan berlebihan seperti ini. Nanti mas bisa sakit."


"Kamu bertemu dengannya di saat aku menurunkanmu di jalan bukan?" Pertanyaan Yansen membuat Moana mengeryitkan keningnya.


"Memangnya kenapa? tentu saja, itu pertama kali aku dan kak Drean bertemu."


Yansen langsung memeluk tubuh Moana. Kenapa dia begitu bodoh. Moana yang dulu ia sia-sia kan telah menarik perhatian orang lain. Beruntung sekali, saat ini mereka telah baik-baik saja. Jika tidak, maka Yansen pasti akan menyesal. Drean saja yang baru bertemu dengannya langsung jatuh hati. Tak terbayangkan jika dirinya masih belum menerima Moana, pasti Drean akan dengan mudah merebut Moana dari sisinya.


"ada apa?" Moana sampai tersentak di buatnya.


"tidak, aku hanya ingin memelukmu saja."


"mmm..." Moana pun membalas pelukan Yansen, cukup lama mereka seperti itu. Hingga akhirnya Yansen melepaskan pelukannya.


Ia tatap wajah Moana. Semakin hari Moana terlihat sangat cantik. Karena memang hampir sebulan sekali Moana melakukan perawatan kecantikan bersama Rada.


Yansen mendekatkan wajahnya. Moana yang mengerti dengan apa yang akan di lakukan Yansen pun langsung memejamkan matanya. Saat hembusan nafas itu menerpa kulit wajahnya, detakan jantung keduanya berpacu dengan sangat cepat.


Moana meremat jemarinya sendiri kala bibirnya bersentuhan dengan bibir Yansen. Penuh rasa dan cinta juga kelembutan. Ciuman yang tak terburu-buru dan hanya di dasari oleh rasa sayang.


Keduanya terbuai hingga tanpa sadar mereka kini saling berp*gut satu sama lain. Moana sampai harus menepuk bahu Yansen saat nafasnya terasa akan habis.


"Manis sekali." Bisik Yansen, mengelus pipi Moana lembut.


Moana menundukkan kepalanya. Malu dan tak berani menatap wajah Yansen. Itu merupakan c*uman pertama baginya, terasa sekali ada getar-getar aneh di dalam dadanya.


"Moana, orangtua mu sudah tiba." Rada mengetuk pintu lalu berujar cukup keras.


Moana yang mendengar itu langsung berdiri dan bergegas membuka pintu.


"Mana Bu?" Serunya tak sabar. "mas, ayo..." Ajaknya pada Yansen.

__ADS_1


Yansen pun mengikuti Moana dan Rada yang kini berjalan menuju ruang tamu. Di sana orangtua Moana sudah duduk, keduanya langsung berdiri begitu melihat Moana berjalan mendekat.


"Moana, putri Mak." Safira langsung memeluk Moana, menciumi wajahnya.


Sementara ayahnya hanya mengelus kepala Moana. Tak di pungkiri, rasa rindu ketiganya kini telah terobati.


"Selamat malam, Pak... Bu!" Seru Yansen sedikit canggung.


Pertemuan pertama mereka sedikit tak mengenakan jadi Yansen masih merasa gugup ketika berhadapan seperti ini dengan mertuanya.


"kamu jaga Moana dengan baik kan?" Ayah menepuk bahu Yansen kuat.


"tentu saja ayah, mas Yansen memperlakukan ku dengan baik." Sahut Moana.


"Perutmu sudah semakin besar, Mak tak sabar ingin segera gendong cucu."


"iya, Bu. kami juga di sini sama." Timpal Rada. "cucu pertama bagi kita, ya Bu?"


Safira dan Rada nampak senang sekali. Mereka akrab meski memiliki status yang berbeda.


"dimana Pak Gutomo?" Ayah Moana bertanya pada Rada.


Rada melirik Yansen. Wanita itu menggigit bibirnya. Bagaimana ini, apa dia harus berbohong untuk menutupi aib suaminya atau berkata jujur karena mereka sudah menjadi keluarga juga.


"Ayah..." Yansen membuka suaranya. "ada di rumah sakit jiwa."


Pernyataan Yansen membuat orangtua Moana terkejut. Safira langsung menghampiri Rada yang kini sudah menangis. Ia tak ingin bertanya kenapa atau bagaimana bisa besannya itu bisa ada di sana. Itu masalah pribadi keluarga menantunya.


"yang sabar ya Bu." Mengusap lembut punggung Rada.


Ayah Moana pun langsung terdiam. Ikut bersedih atas apa yang telah menimpa keluarga Yansen.


...***************...


Karan akhirnya bisa pulang juga setelah menjawab beberapa pertanyaan yang begitu menjebak. Untung saja Karan memiliki otak yang cerdas, tak satupun dia terjebak dari salah satu pertanyaan yang di berikan kepadanya.


Sementara itu, Drean harus mendapatkan hukuman atas apa yang di lakukannya. Berencana untuk menghabisi nyawa seseorang juga membeli senjata api secara ilegal. Sabila pun mendapat imbas atas itu, karena keterlibatan di setiap rencana Drean. Maka gadis itu pun harus mendekam di penjara.


"Kalian bisa memakai pengacara untuk persidangan pertama nanti." Seru salah seorang polisi sambil menggiring Drean dan Sabila.

__ADS_1


Karan tersenyum puas melihat keduanya yang kini tak bisa berkutik sama sekali.


"Banyak sekali panggillan masuk." Karan memeriksa ponselnya, selama di dalam tadi ia sengaja mensilentnya sehingga tak tahu jika ada yang menghubunginya.


"Jane..."


Dengan cepat dia pun menekan gambar telpon berwarna hijau di sudut kanan. Mencoba menghubungi balik gadis itu. Biasanya jika Jane menghubunginya sebanyak itu, ia sedang membutuhkan bantuan. Soal pelajaran ataupun masalah lainnya.


"Ada apa Jane? maaf, aku tadi..."


"..........."


"Baiklah, kamu mau bertemu dimana?"


"............."


"iya, aku menjemputmu besok."


Karan pun mematikan panggilannya. Benar saja dugaannya. Jane membutuhkan dirinya karena sedang merasa resah, ia butuh teman untuk mendengarkan segala keluhannya.


Malam ini Karan akan pulang dengan sedikit tenang. Karena Yansen sudah memberikan izin padanya untuk cuti dua hari di karenakan kejadian tadi siang.


Sesampainya di rumah dia langsung merebahkan tubuhnya.


"Mandi dulu sana, bau sekali. Darimana seharian ini?" Tanya Johan yang memang tak mengetahui apapun.


"terlalu panjang jika aku ceritakan. Sini aku haus." Karan merebut air minum yang hendak di minum Johan.


"Ck... seenaknya saja." Ketus Johan. "tadi aku bertemu dengan Jane. Dia menangis di pinggir jalan."


"apa? kenapa? tadi kapan?" Karan langsung duduk dengan tegak begitu mendengarnya.


"biasa saja bisakan, bikin kaget saja." Johan menoyor kepala Karan. Ia pun menceritakannya pada Karan. Lupa jika Jane memintanya untuk menjaga rahasia tadi.


"Beraninya anak ingusan itu." Desis Karan.


Johan langsung menutup mulutnya dengan tangan. Dia baru teringat dengan permintaan Jane yang memintanya untuk tetap diam dan jangan menceritakan semuanya pada Karan maupun Yansen.


Hanya bisa menghela nafas pasrah. Semua sudah terlanjur dia katakan, hanya tinggal menunggu gadis itu marah saja.

__ADS_1


Karan merasa sangat marah mendengar Jane di permalukan seperti itu


...****************...


__ADS_2