
Moana melotot lebar saat tangan Yansen berusaha membuka bajunya. Dengan cepat dia mencegahnya, menahan Yansen untuk tidak melakukan apapun. Bukan karena hanya dirinya yang belum siap tapi juga ini siang hari. Di bawah sana ada ibu mertua juga ibunya. Bagaimana jika mereka berdua memergokinya, pasti akan sangat memalukan.
"Mas..."
"Oke, aku bisa menyelesaikan sendiri. keluarlah." Yansen langsung menarik tangannya lalu membelakangi Moana.
Melihat itu membuat Moana menjadi merasa bersalah. Dia tahu kewajibannya sebagai seorang istri itu apa. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan kasar. Demi keharmonisannya bersama Yansen dan membuat pria itu tak marah akhirnya Moana pun memutuskan untuk menyerahkan dirinya.
"bukan begitu, tapi ini masih siang." Cicitnya dengan suara pelan nyaris tak terdengar.
Yansen langsung menautkan kedua alisnya. Pria itu menyunggingkan senyum kecil tanpa sepengetahuan Moana.
"tak apa Moana, aku tahu alasannya. kamu bisa keluar sekarang. aku akan istirahat."
"uumm...mas!" Seru Moana sembari menyentuh lengannya. Pria itu tetap diam, menunggu Moana mengatakan hal yang akan menggembirakan baginya.
"Baiklah, tapi jangan sekarang. ini masihlah sangat siang. Mak juga akan pulang, aku harus kembali kekamar ibu untuk membantu berbenah." Lanjut Moana pada akhirnya dengan satu tarikan nafas.
"kamu serius?" Pancing Yansen, takut Moana hanya berkata saja tanpa benar-benar yakin ingin melakukannya.
"iya." Jawab Moana dengan kepala tertunduk. Jujur saja dia sangat malu membahas hal seperti itu meski mereka sudah menikah.
Yansen pun langsung membalik tubuhnya. Ia menepuk pucuk kepala Moana. Membuatnya mendongakkan wajahnya.
"Kita temui ibu dan Mak. Aku juga akan ikut membantu."
"tapi mas bilang tadi..."
"pusing kepala ku hilang. ayo..."
Dengan cepat Yansen menuntun Moana keluar dari kamarnya. Moana mengeryitkan keningnya, kenapa Yansen menjadi semangat sekali bahkan tadi begitu lesu seperti tak bertenaga.
Tak ingin berpikir aneh Moana pun mengikuti langkah Yansen. Mereka langsung masuk kedalam kamar Rada.
"Yansen, kamu pulang?" Rada menurunkan tas besar dari kasur. Dengan sigap Yansen pun segera membantunya.
"iya Bu, masa mertua ku mau pulang aku tetap bekerja." Jawabnya membuat Safira tersenyum begitu juga Rada.
"tapi...tadi..."
"Moana, kamu duduk saja. ibu aku akan bawa tas ini keluar. Biar aku antar ibu pulang, lagipula Johan sibuk sekarang." Sela Yansen cepat, memotong ucapan Moana.
Moana yang semakin bingung pun yang menurut saja. Dia duduk di tepi kasur lalu merebahkan tubuhnya perlahan. Pinggangnya sering sakit sekarang bahkan cepat sekali merasakan lelah.
Safira mengelus punggung Moana, seolah tahu apa yang sedang di rasakan putrinya.
"Ana, sudah Mak bilang. Jangan banyak bergerak. Orang hamil itu memiliki pembawaan yang berbeda-beda. ada yang tak boleh kelelahan, seperti kamu ini."
__ADS_1
"iya Mak. tapi aku baik kok."
"Kalian berdua mengobrollah dulu." Rada memilih untuk pergi meninggalkan keduanya, memberikan ruang untuk ibu dan anak itu.
Yansen sudah memasukkan semua tasnya kedalam bagasi mobil. Pria itu bekerja dengan sangat cekatan. Rada yang melihatnya sampai mengerutkan kening heran.
"kamu begitu bersemangat. Sepertinya kamu senang ibu mertua mu akan pulang?" Rada mengucapkan itu dengan suara berbisik takut Safira atau Moana tiba-tiba datang dan mendengarnya.
Yansen langsung menatap ibunya. Kenapa bisa Rada berasumsi begitu, dia hanya sedang senang saja hari ini. Itu karena hal lain bukan soal ibu mertuanya yang akan pulang.
"Kenapa diam? apa ucapan ibu benar? kamu kenapa sepicik itu Yansen." Seru Rada.
"ibu, mana ada aku berpikir begitu. aku hanya senang saja, apa tak boleh? lagipula ini tak hubungannya dengan mertua atau ibu." Ujarnya.
Rada menghembuskan nafasnya.
"bagus kalau begitu. ibu pikir kamu tak menyukai mertua mu."
"jangan asal menuduh." Decak Yansen.
Moana dengan berat melangkah mengikuti ibunya. Kebersamaannya selama 3 hari ini belum terasa cukup.
"jaga dirimu baik-baik ya? nanti ketika akan melahirkan Mak janji akan menemanimu."
"iya Mak. Mak juga jaga kesehatan."
Yansen mengangguk lalu membukakan pintu untuk mertuanya. Moana melambaikan tangannya, rasanya sedih sekali.
"ayo masuk." Ajak Rada.
...*************...
Jane duduk di samping Inggit dengan gelisah. Matanya fokus pada buku pelajaran tapi pikirannya melayang kemana-mana. Apalagi saat ini tepat di hadapannya ada Sammy.
Regard yang merasakan kecanggungan di antara temannya pun langsung membuka suara.
"Jane, kamu bisa menulis ini kan?" Tanyanya.
Seketika Jane mengangkat wajahnya lalu mengangguk. Regard tersenyum, menyerahkan buku pada Jane. Inggit pun ikut tersenyum kecil, menepuk bahu Jane pelan.
Sammy melirik ke arah Regard tak suka.
"Sam, kamu paling pintar di sini. jadi kamu yang merangkum semuanya. Aku dan Jane menulis soal dan nanti Regard yang akan..."
"Kurasa Jane tak akan mampu menulis soal." Sela Sammy cepat.
Jane yang sedang menulis pun langsung menghentikan kegiatannya. Tangannya gemetar memegang pensil menahan rasa kesal. Sammy begitu meremehkannya dan memandangnya tak berguna.
__ADS_1
"kenapa bicara seperti itu? kita..."
"kamu juga diamlah, Regard!" Seru Sammy. "jangan sok pintar."
Regard mengepalkan tangannya. Jika saja dia bisa memilih teman satu kelompoknya maka akan ia lakukan sekarang juga. Inggit langsung menatap Sammy dengan tajam. Gadis ini tak bisa membiarkan Sammy seenaknya saja.
"jangan keterlaluan deh, mentang-mentang ketua kelas juga murid terbaik. Kamu seenaknya saja menghina kita." Bentakan Inggit pada Sammy membuat yang lain melihat kearah mereka.
Jane langsung menarik tangan Inggit. Matanya mengisyaratkan Inggit untuk kembali duduk. Inggit tak bisa lagi diam, ia menggelengkan kepalanya lalu menatap Sammy dengan marah.
"aku tak ingin satu kelompok denganmu." Cetusnya lalu pergi keluar dari kelas.
"Inggit." Seru Jane cepat. Dia melihat Sammy sebentar lalu berlari mengejar Inggit.
Jane tahu temannya itu pasti akan menemui guru mereka dan meminta untuk menggantikan anggota kelompoknya. Inggit jika sudah marah sangat sulit untuk di bujuk.
Regard tersenyum sinis.
"Bagus sekali, Sam. kamu menghancurkan semuanya."
"Diamlah."
Regard mengendikkan bahunya lalu segera beranjak dari duduknya. Ia pun bergegas keluar untuk menyusul Jane dan Inggit. Temannya yang lain hanya diam, tak tahu harus bersikap seperti apa.
Semua tahu Sammy itu selalu berkata dengan sangat menyakitkan bahkan pemuda berparas itu tak pernah sekalipun mengatakan kata maaf meski bersalah.
"Inggit, Bu Amar sedang rapat. jangan membuat masalah." Jane dengan cepat menahan Inggit yang saat ini sudah berada di depan pintu masuk menuju ruang rapat para guru.
"Jane, Sammy itu tak bisa di maafkan. jika kita terus satu kelompok dengannya..."
"abaikan saja. aku saja tak peduli." Jane langsung menyela. Ia tak ingin membuat Guru nya marah hanya karena hal tadi.
Sammy sudah biasa menyakiti perasaan orang. Mungkin dengan mengacuhkannya akan terbiasa nanti juga. Lagipula masih ada Regard yang bisa di ajak bicara juga tak se menyebalkan Sammy.
"kalian ingin mengadu pada Bu Amar?"
Jane dan Inggit langsung saling tatap begitu Regard bertanya. Pemuda berkulit sedikit gelap itu tersenyum lalu menarik tangan keduanya.
"jangan membuat rusuh karena Sammy. kita kerjakan bertiga saja atau kita hanya menunggu beres, biarkan Sammy menyelesaikan semuanya. dia kan pintar." Ucapan Regard membuat dua gadis itu tersenyum kembali.
"kamu memang bisa." Seru Inggit.
"kita kembali ke kelas sekarang atau Sammy akan meledak karena sumbunya yang terbakar semakin memendek."
"hahaha...kamu ini, Gard. baiklah ayo." Jane jadi tak merasa sedih atau kesal lagi sekarang berkat candaan Regard.
Ketiganya pun kembali ke kelas. Sammy mendengus melihat Regard dengan pandangan tak suka. Lalu melirik Jane, ia menarik nafas lalu menghembuskan kasar.
__ADS_1
...***********...