
Moana menelan ludahnya gugup, ini bukan yang pertama mungkin tapi melakukannya dengan penuh rasa cinta dan sayang merupakan pengalaman pertama baginya. Dulu, Yansen melakukannya dengan sangat kasar. Tapi kali ini, pria itu memulai segalanya dengan sangat lembut dan penuh cinta.
"Jangan takut." Bisik Yansen sembari membelai rambut Moana.
Anggukan kecil sebagai jawaban atas perkataan Yansen membuat Moana jadi salah tingkah sendiri. Tanpa sadar dia menyetujui permintaan suaminya.
Perlahan Yansen mendekatkan wajahnya, ia kec*p bib*r merah Moana dengan penuh na**u. Sebagai permulaan yang baru ia tak akan melakukannya dengan tergesa-gesa. Memberikan rasa aman juga nyaman pada Moana adalah hal yang paling Yansen utamakan untuk saat ini.
Ia tak ingin memberikan rasa takut atau mengingatkan Moana pada kejadian waktu lalu. Di mana dirinya yang di paksa dan di perlakukan dengan sangat kasar.
"i love you, sayang." Bisik Yansen.
Kini semuanya telah mereka tanggalkan, hanya tersisa baju dalam saja. Moana merona tatkala tangannya menyentuh perut Yansen. Terasa sekali otot-ototnya yang kencang, pria itu memang sangat gemar olahraga jadi tak heran jika bentuk tubuhnya begitu bagus.
"Kamu siap?" Tanya Yansen meyakinkan.
Moana kembali menganggukkan kepalanya, tak banyak bicara atau pun menjawab pertanyaan Yansen. Hanya anggukan dan gelengan yang Moana berikan sebagai jawaban. Terlalu malu baginya untuk sekedar mengucapkan kata iya saja.
"eeumm..." Moana mengigit bibirnya kala rasa sakit menyeruak begitu saja.
Yansen langsung bangkit dan menatap Moana dengan cemas. Ia padahal sudah sangat hati-hati dan lembut melakukannya. Tapi masih saja, Moana merasakan kesakitan.
"Lanjutkan saja." Cicit Moana dengan wajah memerah malu.
"kamu benar-benar tak apa-apa kan?" Tanya Yansen memastikan.
Moana mengangguk. Mungkin hal wajar jika ia merasakan sakit, karena ini menjadi kali pertama lagi baginya melakukan hal itu. Yansen pun menarik nafas dalam-dalam lalu memejamkan matanya. Mencoba untuk melakukan dengan perlahan.
"Jika sakit, gigit saja bahu ku." Ujarnya.
Mata Moana terpejam erat merasakan rasa sakit di bagian bawahnya. Sementara Yansen menggeram lega, pria itu berhenti sejenak. Menatap wajah Moana.
"Boleh aku bergerak?" Tanyanya lagi.
Yansen mungkin tak perlu bertanya sebenarnya, tapi dia tak ingin melakukannya dengan terburu-buru atau tanpa persetujuan Moana. Setelah mendapatkan persetujuan, perlahan Yansen menggerakkan tubuhnya.
Moana hanya diam saja dengan mata terpejam. Tangannya mencengkram erat lengan Yansen, masih sedikit ada rasa sakit di sana sehingga membuatnya tak nyaman.
Yansen mengelus pipi Moana. Peluh membanjiri pelipisnya.
"Apa lebih baik?" Yansen kembali menghentikan pergerakannya membuat Moana langsung membuka matanya.
Ada rasa yang aneh di dalam tubuhnya. Jantungnya berpacu berkali-kali lipat tak seperti biasanya. Moana melepaskan cengkraman tangan di lengan Yansen.
"Iya."
Yansen tersenyum mendengarnya. Ia pun kembali melanjutkan aksinya. Dimulai dari gerakan yang pelan hingga benar-benar cepat. Moana pun mulai merasakan kenyamanan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Matanya semakin terpejam dan bibirnya di gigit kuat-kuat saat tanpa sadar lenguhan keluar dari mulutnya.
"jangan gigit bibirmu, berteriak saja." Bisik Yansen dengan suara bergetar.
Hasr*tnya sudah naik ke ubun-ubun. Yansen tak bisa lagi menahannya. Rasa bahagia membuncah didalam sana. Ia sungguh tak pernah bayangkan akan melakukan ini semua dengan sangat senang bahkan begitu merasakan kehangatan yang luar biasa.
Tubuh Moana meng*jang berulang kali begitu juga Yansen. Keduanya telah melakukan pelepasan dengan sangat baik.
"Terimakasih, Moana." Yansen merebahkan tubuhnya di samping Moana, memeluk tubuh kecil itu dengan lembut.
"Aku mengantuk." Ujar Moana.
"tidurlah."
__ADS_1
Yansen bangkit, memakai bajunya lalu menyelimuti tubuh Moana. Tak lupa ia kecil perut Moana yang sedikit membuncit. Bayinya harus sehat dan Moana pun harus kuat.
Akhirnya keinginannya untuk melakukan hal itu terpenuhi. Yansen semakin mencintainya, tak ada lagi keinginan yang belum terpenuhi. Yansen berharap kebahagiaannya akan terus bertahan seperti ini, selamanya.
...**************...
Jane membereskan semua bukunya kedalam tas, ia baru selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya. Berkat Moana, rasa galaunya terobati sehingga Jane tak lagi murung.
Gadis itu bertekad akan mengacuhkan Sammy. Mau bagaimana pun pria itu berulah, ia tak akan memperdulikannya.
"Jane..."
"Ibu? sebentar." Jane segera membuka pintu saat mendengar suara Rada memanggilnya.
Rada berdiri di depan pintu dengan wajah sayu. Wanita itu langsung memeluk tubuh Jane.
"ibu ada apa?"
"Ayahmu.., akhirnya bisa keluar dari rumah sakit itu." Isaknya bahagia. Jane pun ikut menangis mendengarnya.
Ini merupakan hal yang sangat membahagiakan. Akhirnya waktu ini pun tiba, Jane langsung melepaskan pelukannya.
"Ibu, tak bohongkan?"
"tentu saja tidak."
"aku senang sekali. besok aku ingin ikut menjemputnya."
Rada langsung terdiam. Bagaimana cara dia memberitahu pada Jane. Gutomo akan pulang kerumah, pria itu memilih untuk kembali ke kantor polisi dan menyerahkan dirinya. Pria itu ingin menebus segala kesalahannya yang telah melenyapkan Alea dan juga ibunya. Meski kasus itu telah lama tapi tetap saja, Gutomo ingin menebus segala kesalahannya sekarang.
"ibu, kenapa diam? aku bisa izin tak sekolah nanti. bolehkan?"
"ayah boleh pulang?" Tanyanya.
"iya kak. ayah sudah boleh pulang dan besok kita akan menjemputnya." Seru Jane riang.
Yansen langsung melihat ibunya yang kini terdiam. Ia tahu, pasti ibunya belum memberi tahu Jane perihal ayahnya yang ingin menyerahkan dirinya kepada pihak berwajib.
"Jane, masuk kekamar mu. aku ingin bicara dengan ibu." Perintahnya.
Jane pun mengangguk, segera masuk lalu menutup pintunya. Ia begitu bahagia karena sebentar lagi keluarganya akan kembali lengkap.
"Ibu, apa Jane belum tahu?" Pertanyaan Yansen yang di jawab dengan gelengan kepala Rada.
Wanita itu menangkup wajahnya. Menangis tanpa suara.
"Ibu hanya tak bisa melihatnya kembali sedih. Apalagi barusan Jane sangat bahagia sekali." Isaknya.
Yansen menghembuskan nafasnya. Ia tahu itu, tapi tetap saja Jane harus tahu kenyataannya. Waktu dulu saja dia menerima kenyataan bahwa ayahnya memilliki penyakit kejiwaan dan sekarang pun Jane harus menghadapi sekali lagi masalah rumit dalam keluarganya.
Karena kebenaran tak boleh di tutupi begitu juga dengan kebohongan. Yansen memeluk tubuh rapuh Rada. Wanita ini sangat rapuh selama ini, hanya saja selalu bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Dari dulu Yansen sangat tahu, jika ibunya selalu berpura-pura baik-baik saja padahal hatinya terluka.
"aku yang akan menjelaskan semuanya pada Jane. Ibu istirahat lah."
"kamu yakin?"
"ibu tenang saja."
Rada mengangguk. Menyerahkan semuanya pada Yansen. Berharap Jane akan mengerti dan menerima kenyataan pahit itu nanti.
__ADS_1
Jane baru akan merebahkan tubuhnya. Ia tak sabar ingin segera besok, bertemu ayahnya dan berkumpul bersama. Tapi, Yansen masuk sehingga Jane pun kembali bangkit. Duduk di tepi ranjang dengan bingung.
"ada apa? kakak butuh sesuatu?"
"Jane, ada yang ingin kakak katakan."
"apa?"
Yansen menghela nafas panjang. Dengan yakin dia pun mengatakan semuanya. Jane terpaku di tempatnya. Tubuh gadis itu luruh tak bersemangat. Baru saja rasa bahagia itu hinggap di hatinya.
"Jane.."
"Aku mau sendiri." Jane menepis tangan Yansen. Ia tarik selimut lalu menutup seluruh tubuhnya.
Jane menangis sekeras-kerasnya. Rasa kecewanya kembali hadir. Yansen hanya bisa diam, lalu keluar dari kamar itu.
Berharap besok akan baik-baik saja. Jane bisa menerima kenyataannya.
...************...
Moana mengerang ketika terbangun di pagi hari. Tubuhnya terasa sakit semua.
"Mas..." Moana menggoyangkan lengan Yansen. "bangun. aku haus tapi pinggangku rasanya mau patah."
Yansen membuka matanya. Mengelus kepala Moana lalu bangun.
"apa terasa sakit?" Tanyanya.
Moana mengangguk. Yansen terkekeh pelan. Dia terlalu bersemangat semalam sehingga sekarang Moana kesakitan seperti ini. Pria itu mengambil air minum di atas meja lalu segera memberikannya pada Moana.
"tidurlah lagi. ini baru jam 5." Yansen menyelimuti tubuh Moana kembali, meletakkan gelas kosong keatas meja.
"aku harus buat sarapan." Seru Moana.
"tak perlu. tidurlah atau mau mengulang yang malam?" Goda Yansen.
Moana langsung mendelik tajam. Ia belakangi Yansen lalu kembali memejamkan matanya. Lagipula saat ini tubuhnya terasa lelah dan matanya pun memang masih mengantuk. Yansen pun kembali merebahkan tubuhnya.
Sementara itu, Jane sudah bangun. Gadis itu sepertinya akan pergi. Bajunya sudah rapi dan rambutnya di ikat.
Berulang kali menghembuskan nafas kasar. Dadanya terasa begitu sesak mengingat soal ayahnya. Mungkin dengan berlari di pagi hari akan membuatnya sedikit lebih baik. Semalaman dia tak bisa tidur, terus memikirkan Gutomo.
Setelah berlari cukup jauh, Jane mendudukkan tubuhnya di pinggir jalan. Langit sudah cerah dan matahari pun muncul. Gadis itu tak ingin beranjak sama sekali.
"Hei... Jane." Regard menghentikan sepedanya. Pemuda itu duduk di samping Jane.
"Regard?"
"kamu tak mau sekolah? ini sudah siang loh?" Pemuda itu menelisik penampilan Jane yang memakai baju biasa.
Jane menggelengkan kepalanya. Keduanya pun sama-sama terdiam cukup lama. Regard tak peduli jika pagi ini ia kesiangan. Pemuda itu memilih menemani Jane.
Sammy mengepalkan tangannya, saat tanpa sengaja mobil yang di tumpanginya melintas tepat di depan Jane dan Regard.
"dasar si miskin itu." Makinya pada Regard.
Sammy memang terlahir dari keluarga yang cukup berada. Kesekolah pun selalu antar jemput, berbeda dengan Regard. Pemuda itu hanya mengayuh sepeda setiap harinya. Orangtuanya hanya pegawai biasanya. Jauh berbeda dengan Sammy.
...*************...
__ADS_1