Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 21


__ADS_3

Daren menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan. Ia akan mencoba menerima dengan lapang kenyataan pahit yang sekarang tengah di hadapinya. Sengaja meminta bertemu Moana di rumahnya sekarang, ia hanya ingin melihat seperti apa sosok pria yang telah menikahi gadis tercintanya.


"aku sudah di luar." Ia mengetik pesan lalu kembali memasukan ponselnya kedalam saku celana.


Tak lama Moana keluar, gadis itu terlihat sangat cantik. Dress batik modern yang di dikenakannya sangat cocok di tubuhnya. Bahkan Moana terlihat manis dari dulu.


"Daren, ayo masuk." Ajak Moana, membuka pintu pagarnya.


Langkahnya terasa berat juga dadanya terasa tercekat. Melihat rumah yang berdiri begitu megah di hadapannya, di tambah ada beberapa kendaraan terparkir di sana. Menunjukan jika suami Moana bukanlah pria biasa. Daren tersenyum pahit, sungguh bukan lagi tandingannya.


Dirinya hanya seorang pria sederhana. Tapi, dengan kenyataan Moana yang seperti sekarang membuat Daren bahagia. Ia tak khawatir lagi Moana akan kekurangan uang ataupun hal lainnya. Melihat pancaran cerah di wajahnya menunjukan kalau dia telah hidup dengan baik selama ini.


"ayo duduk. aku buatkan minum sebentar." Moana hendak pergi tapi Daren memanggilnya.


"Tak perlu."


"baiklah, sebentar ya. aku akan panggil ibu."


Daren tersenyum lalu mengangguk. Ia melihat foto pernikahan Moana yang terpajang di dinding. Matanya menyipit melihat wajah pria yang ada di foto itu, tepatnya Daren memperhatikan wajah Yansen. Merasa pernah melihatnya tapi entah di mana.


Tengah mencoba mengingatnya, Moana sudah kembali bersama dengan Rada. Daren yang sedang berdiri pun langsung menggaruk kepalanya tak gatal, malu karena telah berlaku tak sopan. Melihat-lihat apa yang tak seharusnya.


"aku...hanya melihat foto saja." Ucapnya dengan malu, takut Moana dan wanita yang baru di temuinya itu berpikir lain.


"kamu teman Moana?" Tanya Rada, mengulurkan tangannya.


"iya Tante. Daren Liam." Daren menjabat tangan Rada.


Moana pun menceritakan tentang kedekatannya dengan Daren. Rada yang mendengar itu merasa cukup senang, Moana benar-benar tak menutupi kehidupannya dari dirinya. Gadis ini mengatakan apa adanya tanpa ada yang di tutupi sedikitpun. Bahkan Moana pun mengatakan jika dirinya dan Daren pernah berjanji akan menikah jika bertemu lagi. Tapi apalah daya, Tuhan tak menghendaki itu semuanya.


Moana kini telah menjadi istri dari Yansen. Rada mengelus kepala Moana lalu tersenyum kecil ke arah Daren yang sedari tadi diam.


"kalian tak sakit hati atau merasa terluka?" Tanya Rada.


"Jika bertanya soal itu, aku akui ada rasa sakit di sini." Jawab Daren. Matanya melirik Moana yang kini menundukkan wajahnya. "tapi, aku bahagia karena Moana menikah dengan pria yang lebih baik dariku bahkan mendapatkan mertua sebaik tante."


Rada menghela nafas panjang. Menatap wajah Daren yang begitu tenang, pria muda di hadapannya ini sungguh jauh berbeda dengan Yansen putranya. Dapat dia lihat jika Daren lebih lembut juga mencintai Moana begitu tulus.


"Kamu tahu jika Moana..." Rada menggenggam tangan Moana yang kini nampak gelisah.


Daren menatap Rada menunggu kelanjutan ceritanya.

__ADS_1


"Moana menikah karena sebuah kecelakaan yang di sebabkan putraku." Tutur Rada. Ia tak ingin menutupi kejadian apa yang menimpa Moana sehingga terikat pernikahan dengan Yansen sekarang.


Moana menggigit bibirnya. Ia tak ingin Daren mengetahui nasib buruknya yang menimpanya dulu. Pria itu pasti akan sangat kecewa juga marah. Daren hanya mengepalkan tangannya erat mendengar apa yang di katakan Rada. Ia tak mengira jika Moana akan bernasib seperti itu.


"jadi... maksud Tante, putra Tante tak mencintai Moana? semua karena terpaksa?" Pertanyaan Daren membuat Rada langsung terdiam. Dia tak bermaksud mengatakan itu tapi dengan ia menceritakan semuanya maka secara tidak langsung ia telah memberi tahu Daren jika Yansen menikahi Moana hanya karena sebuah tanggung jawab saja.


"Bu...bukan begitu Daren. Suamiku sangat mencintaiku makanya dia bersedia bertanggung jawab." Jawab Moana cepat. Ia tak ingin membuat Rada tersudutkan.


Daren menatap Moana tak suka. Dari dulu Moana terkenal baik, sering sekali melindungi teman-temannya jika mengalami kesulitan. Sekarang pun Daren yakin apa yang di katakan Moana adalah bohong.


"aku...sedang hamil." Ujar Moana lagi membuat Daren langsung bungkam.


Dadanya serasa di hantam batu besar untuk kedua kalinya.


...**************...


Alea tak bisa berhenti mengoceh ketika Karan dan Johan tak menuruti permintaannya. Kedua pria itu mengabaikannya sejak tadi. Mereka sungguh sudah lelah juga merasa jengkel dengan tingkah Alea yang selalu seenaknya.


"aku akan laporkan kalian pada Yansen." Ancamnya sembari mencoba menghubungi nomor Yansen.


Karan memutar matanya malas, ancaman itu sekarang tak berlaku lagi baginya. Di pecat atau di turunkan jabatan baginya bukan masalah. Yang penting dia bisa terbebas dari tugas menyebalkan ini, begitu pula dengan Johan.


"lihat saja, Yansen akan memecat kalian." Seringai Alea, dia baru saja menghubungi Yansen dan pria ia itu mengatakan akan segera datang.


"tunggu Yansen." Gutomo mencegatnya di parkiran.


"apa lagi?" Yansen menutup pintu mobilnya kembali lalu berbalik menghadap Gutomo.


"sudah ayah katakan padamu, tinggalkan Alea."


Yansen terkekeh, ia pandang ayahnya dengan tatapan remeh.


"apa alasannya? Ayah begitu membenci gadis ku."


Lidah Gutomo terasa kelu. Ingin mengatakan kebenarannya tapi rasa takutnya lebih besar hingga pria itu hanya bisa diam. Ia tak ingin Yansen terus membencinya, apalagi jika sampai tahu siapa Alea sebenarnya.


"tak ada alasan maka tak ada alasan bagiku juga untuk mendengarkan perkataanmu." Ucap Yansen.


Gutomo hanya diam membiarkan Yansen pergi. Pria tua itu lalu menelpon seseorang.


"lenyapkan gadis itu secepatnya." Perintahnya.

__ADS_1


Saat ini bagi Gutomo hanya satu jalan yang harus ia pilih. Kembali melenyapkan satu nyawa demi menyelamatkan kehidupannya.


Mobil hitam itu terus membelah jalanan, Yansen sedikit merasa kesal karena Gutomo lagi-lagi memintanya untuk meninggalkan Alea. Ayahnya selalu mengatakan hal itu tanpa alasan yang jelas, hanya di dasari kata tak suka saja.


Drrrttt


Ponsel Yansen bergetar, ada nama Moana tertera di sana. Keningnya mengeryit, sejak kapan ia memiliki nomor gadis itu. Maka tanpa pikir panjang lagi Yansen langsung mengangkatnya.


"halo..."


Berdecak sebentar lalu segera menghentikan mobilnya. Kebetulan sekali ia baru saja melewati warung nasi padang. Maka dengan cepat dia keluar lalu membeli dua bungkus nasi dengan lauk ayam bakar.


"aku sudah membelinya, jangan hubungi aku lagi." Decak Yansen kesal.


Ia tak kesal bukan karena permintaan Moana yang memintanya membelikan nasi Padang, tapi Yansen kesal pada dirinya sendiri kenapa bisa-bisanya dia menuruti gadis itu.


"ckk... merepotkan saja." Serunya lalu menyimpan bungkusan itu di jok sampingnya. Ia pun melanjutkan perjalanan kembali menuju rumah Alea.


Sementara itu Moana tengah duduk tak sabar menunggu kepulangan Yansen.


"Apa Bapak benar-benar membelikannya atau tidak ya?" Gumam Moana penasaran.


Sepulangnya Daren, perut Moana terasa lapar. Lalu ia ingat jika kemarin malam Jane mengatakan sudah menyimpan nomor telepon Yansen di ponselnya. Maka dengan cepat ia periksa, benar saja ada. Maka dengan cepat Moana menghubunginya.


Ia sungguh ingin sekali makan nasi yang di belikan Yansen. Berharap pria itu mau menuruti kemauannya.


"baby, tenang ya. ayah akan pulang sebentar lagi." Cicitnya sembari mengelus perutnya.


Yansen tiba di rumah Alea. Pria itu membawa masuk nasi yang di belinya tadi. Di sana ada Karan dan Johan yang sedang berdiri di depan pintu. Mereka persis sekali seperti penjaga keamanan.


"kalian boleh istirahat." Seru Yansen.


Maka keduanya pun segera pergi dari sana.


"sayang, aku laper dari tadi. kedua anak buah mu menyebalkan." Adu Alea begitu Yansen masuk. "waahhh..kamu bawa makanan ya?"


Kantong keresek yang ada di tangan Yansen langsung di ambilnya. Alea dengan cepat membukanya.


"itu..." Yansen tak melanjutkan ucapannya begitu melihat Alea melahapnya dengan cepat. "makanlah, aku akan ambilkan air."


Alea mengangguk. Tanpa Yansen tahu jika saat ini Moana tengah menunggu di rumah. Gadis itu sengaja tak memakan cemilan apapun agar nanti begitu Yansen tiba bisa menikmati makanannya dengan enak.

__ADS_1


...***************...


__ADS_2