Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 51


__ADS_3

Sudah lama sekali Moana tak mendengar kabar Daren. Pria itu pun tak pernah datang lagi kerumah sekarang. Terakhir kali datang ketika Daren memberikan sebuah ponsel kepadanya. Hal itu membuat Moana jadi kepikiran, apa Daren sakit atau ada hal lainnya sehingga tak perlu lagi datang.


"Moana, ada apa? Ibu mertuamu sudah menunggumu dari tadi." Safira mengelus kepala Moana. Menatap wajah putrinya yang terlihat cemas.


"Mak, Daren ada di kota ini."


"Itu bagus, kalian masih bisa berteman sampai sekarang. Daren anak yang baik."


"mmm... tapi..."


"tapi apa? apa Daren masih berharap padamu?" Tanya Safira. "Tak baik jika begitu, kamu jauhi Daren. kalau niat Daren dekat dengan mu hanya untuk merusak hubunganmu dengan suami mu, sebaiknya kamu jauhi Daren."


Moana termenung mendengar nasihat ibunya. Memang benar sekali, di matanya masih terlihat jika Daren masih mengharapkannya. Moana juga tahu itu, tapi apa yang di katakan Safira tidak akan melukai perasaan Daren.


Yansen yang hendak masuk kekamarnya mengurungkan niatnya begitu mendengar percakapan Moana dengan mertuanya. Pria tersenyum saat mendengar kalimat yang keluar dari bibir mertuanya. Setidaknya mertuanya lebih memilihnya meski awal pertemuan mereka tak mengenakkan. Safira sudah menganggapnya sebagai menantu sekarang.


"Baiklah Mak. Moana dengarkan apa kata Mak."


"bagus, ayo segera turun. Mertua mu sudah lama menunggu dan suamimu juga."


"hehehe...iya Mak."


Moana menggandeng lengan Safira. Senang sekali karena hari ini akan pergi cek up bersama Safira dan Rada. Di tambah Yansen pun akan ikut, pria itu meliburkan dirinya demi melihat perkembangan sang buah hati.


Yansen buru-buru pergi ketika tahu kalau Moana dan Safira akan keluar. Ia pura-pura baru menaiki tangga, menyambut keduanya dengan senyuman.


"aku baru mau memanggil ibu dan Moana." Tuturnya.


Safira langsung mendorong pelan tubuh Moana kearah Yansen. Bahagia sekali melihat kenyataan bahwa putrinya hidup baik di dalam keluarga ini.


Awalnya sempat ragu, apa Moana akan bahagia dengan pernikahannya atau tidak. Karena pernikahan Moana dan Yansen yang terbilang sangat buru-buru juga tidak di dasari cinta. Tapi, melihat bagaimana wajah berseri Moana dan perlakuan Rada sebagai mertuanya sangat baik membuat Safira yakin kalau Moana bahagia selama ini. Yansen pun merupakan suami yang baik, perhatian juga selalu bertindak dengan cepat. Membuat Safira tak perlu khawatir lagi sekarang. Moana telah di kelilingi oleh orang-orang baik.


Di meja makan sudah ada Rada dan ayah Moana. Mereka sedang menunggunya untuk sarapan.


"Dimana Jane?" Tanya Moana pada Yansen.


"Jane kurang sehat. Ibu tadi sudah mengantarkan sarapan kekamarnya." Terang Rada. "duduklah, kita berangkat sebentar lagi."


Mereka pun sarapan bersama. Setelah selesai, segera bergegas untuk pergi kerumah sakit. Ayah Moana tak ikut, ia harus pulang pagi ini karena tak bisa meninggalkan pekerjaannya di kebun. Johan yang bertugas mengantarkannya.


Sementara itu Jane, masih berbaring di tempat tidurnya. Gadis itu tak masuk sekolah karena tak ingin bertemu Sammy atau mendapatkan ejekan dari teman-teman kelasnya nanti.


Drrrt...


Ponselnya berdering. Dengan enggan Jane mengambil ponselnya, melihat ada beberapa notif dari grup kelas. Airmatanya kembali menggenang. Mereka masih saja membahas soal dirinya yang menembak Sammy. Ada yang mengejeknya tapi ada juga beberapa temannya yang menyindir Sammy. Tak suka dengan apa yang di lakukan pemuda itu. Sebagian mendukung Sammy dan sebagian lagi berpihak pada Jane, terutama para anak gadis. Mereka lebih membela Jane, karena mereka sama-sama perempuan tahu rasanya jika di perlakukan buruk seperti itu.


Meski begitu, Jane tetap tak ingin pergi kesekolah lagi. Dengan cepat dia keluar dari grup itu, Jane tak mau lagi melihat apa yang di bahas di sana.


Dengan cepat dia bangun, membasuh muka lalu duduk di depan komputer. Sudah jam 8, ia punya janji dengan Karan nanti siang. Mungkin dengan pergi jalan-jalan bersama pria itu akan membuatnya melupakan masalahnya.

__ADS_1


Drrrt...


[Jane, aku sibuk siang nanti. sekarang aku kerumah mu, kita rubah waktu temunya.]


Mendapatkan pesan seperti itu dari Karan membuat Jane bergegas untuk mandi. Dia tak ingin Karan tiba penampilannya masih berantakan. Memoles make up tipis dan yang terpenting menghilangkan sembab di matanya. Karan tak boleh tahu kalau dirinya semalaman tidak menangis.


25 menit kemudian. Karan sudah tiba, pria itu memakai baju casual tak seperti biasanya. Mungkin karena libur bekerja jadi berpakaian sedikit santai.


"Jane, katakan sesuatu padaku sekarang. Kenapa ingin bertemu denganku, biasanya kamu butuh bantuan untuk mengerjakan soal sulit tapi aku yakin kali ini bukan soal itu." Ucap Karan begitu panjang.


Jane langsung berdecak mendengarnya.


"aku hanya butuh teman buat jalan-jalan saja. Semua orang mengantar kak Moana cek up jadi aku tak punya pilihan selain meminta kak Karan yang menemani."


Karan diam. Dia ingin sekali bertanya tentang cerita Johan tadi malam secara langsung kepada Jane. Tapi melihat Jane yang sepertinya tak akan mengatakan permasalahannya itu membuat Karan pun jadi berpikir dua kali untuk bertanya. Mungkin Jane belum siap untuk bercerita kepadanya pikir Karan. Ia akan menunggu sampai Jane mengatakannya sendiri masalahnya.


...***************...


Yansen terpaku menatap layar yang menunjukkan gambar sang buah hati. Jantungnya berdetak kencang. Ia bisa melihat dengan jelas seperti apa anaknya. Meringkuk nyaman di dalam rahim sang istri.


"Ini... maksudnya apa?" Tanya Yansen.


"Anak Bapak dan ibu berjenis kel*min perempuan. Selamat ya, Pak Yansen." Dokter itu ikut senang melihat raut bahagia keluarga pasien.


Moana pun tak hentinya mengucap syukur. Apa yang di harapkan Yansen telah terpenuhi. Pria itu langsung memeluk Moana saking bahagianya.


Di luar Rada dan Safira sudah menunggu. Amat senang begitu mendengar kabar bahagia itu. Mereka semakin tak sabar menyambut kedatangan bayi mungil itu.


"Jadi... hari ini kita sekalian beli peralatan bayi. Yansen, kamu juga tidak bekerja kan, ikut pilih perlengkapan untuk calon anakmu." Rada tersenyum.


Tentu saja Yansen akan melakukan itu. Meski awalnya dia sempat ragu dengan kehadiran anak itu tapi setelah semua yang di lewati nya bersama Moana membuat Yansen menyambut baik kehadiran sang buah hati. Bahkan sekarang, ia sudah ingin menggendongnya. Menimangnya di saat akan tidur, menciumnya dan masih banyak hal yang ingin dia lakukan bersama sang anak nanti.


"mas, malah bengong. ayo jalankan mobilnya." Tegur Moana, karena Yansen malah diam saja begitu masuk kedalam mobil.


"aah...iya" Yansen pun segera menyalakan mesin mobilnya.


Pria ini terlalu membayangkan kebahagiaannya bersama sang anak nanti, sehingga lupa dengan semuanya.


Rada dan Safira hanya tersenyum di belakang.


Tak lama mereka pun tiba di toko khusus menjual serba keperluan untuk bayi. Rada begitu antusias, memilih roda, baju juga beberapa alat makan. Safira hanya mengikutinya dari belakang sambil melihat-lihat. Ingin sekali dia membeli sesuatu untuk calon cucunya, tapi sayang uangnya tak sebanyak Rada. Hanya bisa berandai-andai saja.


"Bu Safira, kenapa diam saja. Ayo ikut memilih." Ajak Rada yang baru sadar kalau sedari tadi besannya itu hanya diam tanpa ikut memilih.


"tidak, ibu saja."


Moana menghampiri ibunya, meraih tangan Safira lalu berujar pelan.


"Mak tak ingin memilih baju atau barang untuk anak Moana ya? ini cucu Mak loh." Suara Moana yang terdengar sendu membuat Safira menjadi tak enak.

__ADS_1


"bukan begitu Ana, Mak tak punya uang. Kamu tahu sendirikan Mak tak pernah bisa membelikan mu barang apapun dulu." Cetus Safira membuat Moana langsung terdiam. Rada pun mengelus pelan bahu Safira.


"Bu Safira. Aku juga tak membeli dengan uangku. Hanya memilih saja, biar nanti Yansen yang membayar." Ujarnya sembari melirik kearah Yansen.


Moana mengangguk pelan. "Iya Mak. Mak tak perlu membeli apapun, hanya memilih saja."


Safira menatap Rada dan Moana bergantian. Menghela nafasnya lalu beralih melihat ke arah Yansen yang kini tengah melihatnya juga.


"Boleh, Mak memilih barang itu?" Tanyanya pada Yansen sembari menunjuk sebuah kereta bayi berwarna pink yang di penuhi hiasan bunga.


Yansen melihatnya lalu mengangguk, membuat ketiga wanita berbeda usia itu pun tersenyum. Safira akhirnya ikut memilih baju bersama Rada, keduanya sangat senang sekali.


"terimakasih banyak." Ujar Moana pada Yansen.


"untuk apa?"


"untuk Mak. Aku senang bisa melihat wajahnya yang bahagia itu."


Yansen menuntun Moana, mengajak untuk duduk di tempat tunggu. Ia tak ingin Moana kelelahan, lagipula sekarang Rada dan Safira sudah mengurus segalanya. Membeli beberapa baju juga keperluan lainnya.


"mas,.apa sebaiknya kita tak membeli terlalu banyak?"


"kenapa?"


"usia kandunganku baru 7 bulan, masih ada waktu 2 bulan lagi."


"Tak apa Moana, biar pas lahir nanti tak perlu repot lagi karena sudah ada semua." Rada dan Safira sudah selesai memilih lalu meminta Yansen untuk segera membayarnya.


"benar kata mertuamu." Timpal Safira.


"bagaimana ibu dan Mak saja. Lagipula ibu dan Mak kan lebih pengalaman."


"tentu saja." Rada mengatakan itu sambil tersenyum kecil kearah Safira.


Melihat Yansen yang sudah selesai membayar semuanya mereka pun segera beranjak dari duduknya.


Hari ini benar-benar melelahkan tapi juga menyenangkan. Ibu dan mertuanya begitu akur, membuat Moana tenang. Biasanya jarang sekali ada besan yang begitu dekat apalagi beda status sosial. Tapi, Rada tak sama dengan wanita-wanita lainnya. Tak memandang derajat seseorang, baginya semua orang itu sama. Tak ada yang kaya atau miskin.


Moana jadi teringat dengan Gutomo. Seandainya ayah mertuanya sehat, pasti sekarang sedang berbahagia juga.


"Mas, aku ingin menjenguk ayah." Tutur Moana, membuat Yansen dan Rada melihat kearahnya.


"Moana..." Rada menatapnya sendu. Ia pun jadi teringat dengan suaminya. Sudah dua hari ini Rada belum menjenguknya.


"Iya, Mak juga ingin melihat ayahmu." Safira menimpali. "Bu Rada, kita lihat Pak Gutomo sekarang ya?"


Rada mengangguk. Yansen pun segera memutar kemudinya.


...******************...

__ADS_1


__ADS_2