Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 46


__ADS_3

Moana bisa bernafas lega karena sudah kembali kerumah. Saat ini dirinya tengah berbaring di atas kasur dengan paha Yansen sebagai bantalnya.


"Mas, aku pikir kita tak akan pernah seperti ini. Kita menikah karena terpaksa dan..." Moana mendongak, menatap manik Yansen yang begitu tajam. "Mas Yansen juga begitu membenciku dulu."


Yansen tersenyum. Dengan gemas ia sentil hidung Moana. Wanita ini tak pernah berubah, masih saja polos dan bicara dengan apa adanya.


"kenapa masih memikirkan hal-hal yang sudah berlalu. Sekarang kita pikirkan masa depan saja, apalagi setelah bayi ini lahir kebahagiaan kita semakin bertambah nanti." Yansen mengelus perut Moana.


Mata keduanya saling bertatapan. Yansen sedikit membungkukkan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka. Mata bulat Moana perlahan menutup rapat. Saat merasakan bibirnya bersentuhan. Terasa begitu dingin dan hangat. Dua rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Kita sudah sejauh ini, aku, kamu dan bayi kita nanti akan bahagia bersama. Tak akan ada yang bisa memisahkan kita. kamu percaya dan yakin akan itu bukan?" Tanya Yansen.


Moana mengangguk. Ia selalu berharap bisa terus seperti ini. Meskipun banyak rintangan dan juga masalah lainnya, mereka tetap bersama. Menjalani kehidupan dengan baik dan tentu saja saling percaya satu sama lain.


"i love you, Moana." Bisik Yansen kemudian.


Pria itu mengelus pipi Moana yang bersemu. Rasa bahagia ini jangan sampai hilang apalagi harus terusik oleh orang luar. Sebisa mungkin Yansen akan mempertahankan cintanya, Moana dan juga calon anaknya.


Tak akan ia biarkan siapapun melukainya. Kejadian kemarin jangan sampai terulang kembali.


"tapi...aku masih sedikit khawatir tentang Kak Drean, kenapa kakak tak melaporkannya saja ke polisi?"


"Karan yang akan mengurus segalanya. kamu tenang saja, hummm..."


"iya."


"Kita tidur, ini sudah malam." Yansen merebahkan tubuhnya di samping Moana.


Mereka pun memejamkan mata dengan senyum yang tak hilang dari bibirnya. Moana mengeratkan pelukannya ketika merasakan tubuhnya sedikit dingin.


Di ruang tamu, Jane nampak gelisah. Gadis kecil berulang kali melihat ponselnya. Menghela nafas berat ketika pesan yang di kirimnya tak mendapat balasan.


"ckk...kenapa cuma di baca doang sih. apa dia tak suka aku ya?"


Lagi-lagi hanya helaan nafas berat yang terdengar. Ini sudah jam 11 malam, semua sudah terbuai dalam mimpi. Sementara dirinya masih saja duduk sendirian dengan perasaan resah.


"Bosan sekali." Serunya sembari merebahkan tubuhnya di kursi. "Kak Karan, dia sudah tidur atau belum ya?"


Tiba-tiba Jane teringat dengan pria itu. Maka dengan cepat dia mengetik pesan dan menekan tombol send. Bibirnya tersenyum lebar ketika melihat pesannya telah di baca dan melihat tanda mengetik. Itu artinya Karan sedang mencoba membalasnya.


Tring...


Tak lama pesan balasan dari Karan pun masuk.


...Tidurlah, anak kecil tak baik bergadang. Otak mu bisa bodoh....


^^^"Ck.. apa-apaan ini. aku bertanya dia malah menjawab seperti ini. membuat ku kesal saja." Keluh Jane. Dia bertanya apa Karan sudah tidur apa belum tapi jawabannya begitu panjang dan menyebalkan.^^^


Jane pun kembali membalasnya.


Tring...


Pesan dari Karan kembali masuk. Jane dengan cepat membacanya. Ia merenggut kembali, kenapa Karan selalu menganggapnya seperti anak kecil. Padahal dia sudah kelas 2 SMP. Menurutnya bukan lagi anak-anak, sudah waktunya dia menjadi dewa. Tapi, Karan tak pernah sekalipun menganggapnya begitu.


......aku bilang tidurlah Jane. Kamu bisa jerawatan nanti.......


Begitulah pesan kedua yang di kirimkan Karan. Jane jadi semakin kesal, gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menyebalkan sekali, tak ada satupun yang mengerti kalau saat ini dirinya butuh seseorang untuk menyemangati dirinya.

__ADS_1


Tring...


Ada pesan lain mausk. Jane dengan malas membukanya. matanya seketika membuka lebar.


......Tidurlah Jane. jika ingin bercerita besok saja.......


Seulas senyum terukir di bibirnya. Rupanya Karan tahu apa yang sedang dirasakannya tanpa harus mengatakannya. Hatinya mendadak senang dan dengan cepat Jane pun masuk kekamarnya.


...**************...


Karan merenggangkan kedua tangannya. Seharian ini dia duduk di depan komputer, matanya sedikit perih dan kepalanya pun agak pusing. Ia berdecih saat melihat Johan yang sudah terlelap di atas kasur.


Mereka memang tinggal bersama, di rumah yang telah di sediakan khusus oleh Yansen.


"apa ini?" Saat hendak mematikan komputernya Karan tak sengaja melihat sesuatu pada rekaman cctv yang di putarnya tadi.


Berulang kali di lihat dan akhirnya ia menemukan sebuah petunjuk penting. Jelas sekali, Sabila ada memasuki ruangan Yansen. Gadis itu nampak celingukan seolah mencari sesuatu, berjalan mendekati meja Yansen lalu membuka salah satu laci. Entah apa yang di ambilnya karena tak terlihat dengan jelas tapi Karan yakin kalau itu adalah gelang emas yang di berikannya pada Yansen tadi.


"sungguh licik tapi bodoh." Serunya.


Setelahnya Karan pun mengirimkan video itu kepada Yansen. Akhirnya pekerjaannya selesai dan besok ia harus melanjutkannya lagi.


Sabila menguap panjang. Matanya sudah sangat mengantuk tapi Drean tak memperbolehkannya untuk pergi tidur. Pria itu meminta Sabila menyelesaikan semua laporan keuangan perusahaan.


"Dre, aku mengantuk. ini sudah tengah malam."


Drean hanya melemparkan tatapan tajam lalu kembali fokus menonton TV, acara di tengah malam memang sangat menyenangkan baginya. Film aksi kesukaannya akan selalu di putar tanpa ada adegan sensor sama sekali.


Sabila hanya bisa meratapi nasibnya. Sungguh malang sekali, padahal dia meminta jadi sekretaris Drean karena ingin mendekati Yansen bukan untuk bekerja seperti ini. Melelahkan juga menguras otak.


"kamu boleh tidur, tapi ingat besok mulai aksimu. jangan sampai gagal." Seru Drean.


Ia merebahkan tubuhnya di sofa, karena Drean masih di rumah sakit maka mau tak mau dia pun harus menemani pria itu.


Pagi menjelang...


Moana terbangun dengan wajah yang berseri. Rasanya seperti mimpi saja, semua kata-kata manis Yansen masih terbayang hingga ia terbangun.


"Mas...loh..kok.." Moana terkesiap saat Yansen malah mengeratkan pelukannya.


Pria itu menelusupkan wajahnya tepat di tengkuk Moana, membuat wanita itu merinding. Tanpa sadar Yansen mengusap perut Moana. Entah apa yang sedang dia impikan, yang jelas semua gerakannya membuat Moana jadi gugup bahkan merasa canggung.


"mas..." Moana menelan ludahnya saat merasakan sesuatu yang mengganjal mengenai pahanya.


"sebentar saja, Moana..." Seru Yansen. Tangannya menyusup masuk kedalam baju Moana.


Tok...Tok...


Ketukan pintu yang keras membuat Moana bangun dengan cepat sehingga Yansen pun ikut terbangun. Pria itu nampak bingung melihat ekspresi wajah Moana yang malu.


"Moana, Yansen...kalian tak ingin bangun? ini sudah jam 8." Suara Rada terdengar dengan keras.


Moana dan Yansen pun sontak melihat jam. Keduanya langsung panik dan bergegas keluar. Penampilannya yang masih khas bangun tidur membuat Rada menyipitkan matanya.


"kalian tak biasanya bangun sesiang ini. atau..apa yang sudah kalian lakukan semalam?" Goda Rada.


"aku..kami..." Moana jadi tergagap, meski tak melakukan apapun tapi dia jadi teringat dengan adegan beberapa menit lalu. Dimana tangan Yansen yang mengg*rayangi tubuhnya.

__ADS_1


Yansen menggaruk kepalanya tak gatal, sebenarnya saat Moana bangun dia sudah terbangun juga. Hanya saja Yansen ingin menggoda Moana, sehingga melakukan hal seperti tadi. Jika saja Rada tak mengetuk pintu Yansen yakin pasti telah melakukan sesuatu tadi.


"aku mandi dulu, siapkan baju kerja untukku." Ujar Yansen kemudian, menghindari tatapan menggoda Rada.


Rada tersenyum melihat keduanya yang nampak salah tingkah.


"baiklah, jika sudah selesai kalian turunlah. Ibu sudah siapkan sarapan."


"iya Bu."


...**************...


Sabila sudah berdiri di depan kantor Yansen. Gadis itu berpenampilan sedikit berbeda. Memakai baju yang cukup tertutup.


"Selamat pagi Pak, semua laporan sudah ada di atas meja dan pesan semalam yang aku kirimkan sepertinya belum Pak Yansen lihat?"


"ahh..iya, aku terlalu sibuk. nanti aku lihat."


Sabila tersenyum melihat Yansen dan Karan yang berjalan kearahnya. Dengan cepat Sabila pun mencegatnya.


"mau apalagi?" Tanya Yansen jengah.


"aku hanya mau katakan, gelang emas itu..."


"ada apa dengan gelang itu? kamu mau memillikinya?" Pertanyaan Yansen membuat Sabila langsung menggelengkan kepalanya cepat.


"aku..."


"maaf Bu Sabila, Pak Yansen sibuk. mari Pak." Karan memberikan jalan untuk Yansen. "biar aku urus wanita ini." Ujarnya dengan pelan.


Yansen mengangguk lalu pergi meninggalkan Karan.


"kamu mau mengancam Pak Yansen menggunakan gelang itu?" Tanya Karan langsung pada intinya.


"hahaha..kamu memang pintar. Benar kata Pak Drean, kamu adalah otak dari perusahaan."


Karan hanya mengendikkan bahunya tak peduli sama sekali dengan pujian Sabila.


"Gelang itu milik kekasihnya dan jika istrinya tahu soal itu, bagaimana? Yansen masih menyimpan barang kekasihnya. sungguh bagus bukan?" Dengan percaya diri Sabila mengatakan itu.


Karan sampai harus menahan tawanya. Kenapa lawannya hanya memiliki kecerdasan di atas anak SD. Sama sekali tak menarik dan membosankan.


"Jadilah gadis cantik yang berotak. Kamu mendapatkan kabar itu dari mana?" Karan menyilang tangannya, matanya memandang remeh Sabila. "ah...tentu Pak Drean. tapi...apa kamu tahu..."


Sabila mundur saat Karan mendekatkan wajahnya.


"Semuanya tak berguna. Ancaman seperti itu tak berarti sama sekali. Coba tanyakan kenapa tak berarti? karena pemilik gelang itu sudah ada di dalam peti mati. Tidur dengan damai juga nyaman."


"apa?"


"cari tahu semuanya dengan jelas baru bertindak." Seru Karan lagi.


Sabila sampai kehabisan kata-kata untuk melawannya. Bagaimana bisa Drean melakukan kesalahan seperti ini. Dirinya jadi malu sekarang, jika sudah begini tak ada lagi kesempatan untuk mendekati Karan dan membuat pria itu berpihak pada Drean.


Karan terlalu setia terhadap Yansen. Pria itu pun terlalu cerdik. Sulit untuk menghadapinya.


Untuk kedua kalinya, rencananya kembali gagal. Sabila pastikan Drean tak akan pernah menang dari Yansen.

__ADS_1


...***************...


__ADS_2