Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 30


__ADS_3

Moana mengerutkan keningnya saat tak merasakan Yansen bergerak. Ia sentuh punggung pria itu pelan, hanya geliatan kecil yang dia rasakannya. Yansen rupanya kembali tertidur. Dengan hati-hati Moana merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Menyelimuti tubuh Yansen lalu ia sendiri segera turun dari kasur.


"Alea..." Nama itu kembali terdengar dari mulut Yansen.


Moana terdiam sejenak, ada rasa tak suka di hatinya. Kenapa Yansen bisa semabuk ini karena gadis itu.


"Moana jangan pergi." Seru Yansen kemudian membuat Moana yang hendak keluar dari kamar pun kembali berbalik.


Ia pikir Yansen kembali terbangun tapi ternyata pria itu masih mengigau seperti beberapa detik yang lalu. Menghela nafas panjang lalu Moana kembali duduk di tepi kasur, tangannya mengelus wajah Yansen dengan lembut.


Desiran aneh yang di rasakan olehnya mungkin saja rasa sukanya yang perlahan muncul. Moana tak menyangkal itu, ia rasa tak ada salahnya dia mencintai Yansen sekarang lagipula mereka sudah menjadi pasangan suami istri.


Pada awalnya mungkin Moana merasa keberatan dan tak yakin bisa hidup bersama pria ini. Tapi secara perlahan, setelah beberapa bulan bersama ia mulai tahu jika Yansen memang pria yang baik. Dia begitu tanggung jawab dan kadang peduli terhadapnya. Meski di hati pria itu ada nama gadis lain, tapi Yansen terkadang masih memperhatikannya.


Ia pandang wajah itu, terlihat sekali tidurnya tak nyenyak. Alisnya berkerut seolah tengah memikirkan beban berat.


"Mmm... tidurlah, aku di sini." Bisik Moana.


Membaringkan tubuhnya di samping Yansen. Perlahan-lahan matanya pun ikut terpejam.


Moana seolah lupa jika pernikahannya terjadi karena bayi di dalam perutnya. Ia melupakan sesuatu yang penting, bahwa pernikahannya akan terputus di saat bayi itu lahir.


Di waktu yang sama, Rada tengah gelisah dan tak sabar ingin segera tiba di kantor polisi. Wanita itu mengendarai mobil dengan sangat cepat. Pikirannya kacau karena Gutomo tak mengatakan apapun lagi setelah memintanya menemuinya di kantor polisi. Pria itu bahkan mematikan ponselnya hingga sulit di hubungi.


Drrrt....


Ponsel di dalam dashboard mobil bergetar. Rada tak peduli akan peduli, mengabaikan panggilannya hingga akhirnya ponselnya kembali diam.


"Bagaimana?" Tanya Karan pada Jane.


Gadis itu menggelengkan kepalanya. Sudah berulang kali mencoba menghubungi Rada tapi panggilannya tak ada yang di jawab satu pun.


"Kak, cepetan. aku khawatir terjadi apa-apa pada ibu. ibu membawa mobil sangat cepat." Cemasnya. Takut terjadi hal yang tak di inginkan.


Karan pun segera tancap gas. Tangan kanannya memegang setir sementara tangan kiri menggenggam jemari Jane. Mencoba untuk membuat gadis itu tetap tenang.


Rada menghentikan mobilnya saat matanya tak sengaja melihat mobil Gutomo berada tak jauh di depannya. Ia terus memperhatikan sampai akhirnya Gutomo keluar lalu pria itu berjalan masuk kedalam kantor polisi.


Jantung Rada berdebar kencang. Semalam dan tadi pagi ia memaksa Gutomo untuk mengakui semua kejahatannya, apa pria itu sungguh akan melakukannya.


Dengan cepat Rada pun keluar dari mobil. Berlari masuk kedalam dengan tergesa.

__ADS_1


Gutomo duduk dengan tenang, wajahnya bahkan tak menunjukkan rasa takut atau sesal sama sekali setelah mengakui semuanya. Bahkan ia memberitahu bahwa di dalam mobilnya sebuah mayat yang bawanya.


Beberapa petugas polisi langsung keluar untuk memeriksa apa yang dikatakan Gutomo benar atau hanya gurauan saja.


Rada mematung tepat di depan pintu masuk. Tubuhnya bergetar bahkan lututnya terasa lemas. Ia mendengar semuanya dengan sangat jelas.


"Mas..." Serunya pelan.


Gutomo berbalik, pandangan matanya menatap Rada dengan pandangan kosong. Pria itu seperti sudah tak berjiwa. Bibirnya terkunci rapat dengan mata yang memandang lurus kedepan.


"Tangkap pria tua itu dan masukkan kedalam. kasusnya akan langsung di proses malam ini juga." Seru salah satu polisi sambil berjalan ke arah Gutomo.


Gutomo berdiri dari duduknya, mengangkat kedua tangannya dengan pasrah. Seolah semuanya telah berakhir, Gutomo sama sekali tak melakukan perlawanan.


"Bu, apa ada yang bisa di bantu?"


Rada tersadar lalu segera berlari mengejar Gutomo yang sudah di bawa oleh dua orang polisi ke ruangan lain. Mengabaikan polisi yang bertanya kepadanya.


...*************...


Moana terbangun saat perutnya terasa tak nyaman. Ia mendesah pelan kala tangan Yansen melingkar di perutnya.


"Alea, jangan pergi."


Sepertinya Yansen masih belum bisa menerima kenyataan tentang dirinya dan Alea yang masih memiliki hubungan darah. Pria itu tak bisa menerimanya dengan hati yang lapang. Ia bahkan terus memegang tangan Moana dan memanggilnya dengan sebutan Alea.


"Apa kamu begitu mencintainya?" Tanya Moana sedikit berbisik.


Hatinya terasa sesak kala Yansen membuka matanya dan menatapnya dengan tajam. Pria itu langsung bangun dari tidurnya, menarik tangannya dari perut Moana.


"pergi." Desisnya tajam dan dingin.


Membuat Moana jadi tersadar jika dirinya tak akan bisa mendapatkan cinta Yansen, seperti apa dan sebesar apapun usahanya.


"Pergi ku bilang." Usir Yansen lagi, kali ini sedikit membentak karena Moana masih saja duduk di sampingnya.


Moana menggigit bibirnya, airmatanya menggenangi pelupuk matanya. Dengan cepat dia turun dari kasur dan pergi dari kamar itu dengan hati yang sakit.


"aaaahhhh...****." Yansen berteriak sambil mengacak rambutnya sendiri.


Kepalanya sedikit pusing efek minuman keras.

__ADS_1


Moana menuruni tangga dengan menangis. Selalu seperti itu, di saat dirinya yakin dengan cintanya maka Yansen akan meruntuhkan semuanya hanya dengan sekali tepukan saja. Pria itu benar-benar tak bisa di mengerti. Kadang bersikap sangat baik sehingga Moana merasa jika dirinya bisa mendapatkan cintanya dan kadang akan sangat dingin sehingga sulit untuk di jangkau.


Ting...Tong...


Bel rumah berbunyi beberapa kali. Moana segera menghapus airmatanya lalu bergegas membuka pintu.


"Daren!"


Daren tersenyum sambil mengangkat sebuah buket bunga mawar putih. Pria itu mengelus pipi Moana lembut.


"kenapa? kejutan untukmu. Ambil ini."


Moana pun mengambil buket bunga tersebut lalu segera mengajak Daren masuk kedalam.


"aku mencoba menghubungimu tapi sulit sekali. apa kamu sengaja?"


"ah...tidak begitu. Ponsel ku rusak."


Daren mengangguk. "lalu...di mana mertuamu? kenapa nampak sepi?"


Moana ragu untuk mengatakan bahwa saat ini keluarganya tengah dalam masalah.


"sudahlah, duduklah." Daren menarik tangan Moana agar duduk di sampingnya.


Keduanya mengobrol tanpa tahu jika Yansen saat ini tengah menatap mereka dengan pandangan tak suka. Pria itu berdiri di ujung tangga dengan tangan terkepal erat.


Melihat Moana yang tertawa juga terlihat sangat bahagia membuat Yansen semakin marah. Kenapa gadis itu menunjukkan senyum seperti itu kepada pria lain. Ada rasa cemburu menguasai dirinya.


Yansen tak sadar bahwa dirinya pun telah melakukan hal yang sama selama ini. Ia tersenyum begitu tulus terhadap gadis dan selalu menunjukkan wajah dinginnya kepada Moana.


Daren membenarkan poni Moana. Pria itu tak sengaja melihat keberadaan Yansen, dengan saja dia tersenyum lalu mengelus kepala Moana.


"Jangan seperti ini, aku istri orang." Seru Moana seraya memukul lengan Daren.


Daren terkekeh pelan.


"Tak masalah Ana. aku akan menunggumu sampai waktu itu tiba."


"waktu itu? maksudnya bagaimana?" Tanya Moana tak mengerti.


Daren tersenyum penuh arti. Pria semakin melancarkan aksinya dengan mengelus lengan Moana saat melihat Yansen berjalan mendekat ke arah mereka. Seolah menantang, Daren menatap Yansen dengan tajam.

__ADS_1


...*****************...


__ADS_2