Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 18


__ADS_3

Moana berulang kali melihat hasil tesnya yang keluar beberapa jam lalu. Sekarang dia duduk termenung di bangku taman seorang diri. Rada sudah pulang setengah jam lalu, karena Jane sakit di rumah.


Sebenarnya Rada khawatir meninggalkan Moana sendirian, tapi berkat kepandaian gadis itu dalam membujuk membuat Rada akhirnya pun pulang. Sempat menghubungi Yansen untuk menjemput Moana, tapi seperti biasanya pria itu tak akan pernah mengangkat telponnya. Hingga akhirnya Rada pun hanya bisa pulang dengan hati cemas.


"Tunggu di sini, nanti hasilnya tes keluar sebentar lagi. setelah itu cepat pulang." Itulah pesan yang di berikan Rada pada nya.


Tapi, Moana justru bukan cepat pulang. Gadis itu malah merasa shock sehingga memilih untuk menenangkan dulu pikirannya di belakang taman rumah sakit.


"Mak, aku hamil." Cicitnya, sebulir bening menetes membasahi pipinya.


Rasa khawatirnya amat besar. Bukan karena janin yang ada di rahimnya, tapi tentang hubungannya dengan ayah sang jabang bayi. Moana takut, jika kelak bayi ini lahir harus terpisah jauh dan tak pernah bertemu kembali.


Jemarinya mengusap perutnya yang masih sangat rata.


Rasanya Moana ingin sekali pulang, memeluk ibunya dan menangis keras dalam dekapannya. Sayang, Moana tak bisa lakukan itu. Ia takut ibunya akan terluka jika tahu pernikahannya hanyalah sebuah ikatan yang tertulis saja, tak di akui juga tak di harapkan.


"Mak, Moana harus bagaimana?" Ujarnya lagi, seolah ibunya ada di sana.


Seorang pria menyipitkan matanya melihat keberadaan Moana. Matanya melebar kala wajah Moana terangkat dan dapat dia lihat dengan jelas.


"Ana..." Panggilnya keras.


Moana pun langsung menyembunyikan kertas putih hasil tesnya kedalam tas. Cepat-cepat menghapus airmatanya.


"Da... Daren, kamu di sini?"


Pria itu terkekeh, lalu mencubit pipi Moana.


"Iya, baru seminggu. aku bekerja di restoran dan ngkos di daerah sini. kamu..." Daren menarik nafas dalam-dalam. "Aku dengar kamu sudah menikah? itu benar?"


Moana mengangguk. "siapa yang memberi tahu mu?"


Daren tersenyum masam. Seandainya saja dulu dia tak ikut orangtuanya pindah ke bandung, mungkin tak akan keduluan orang seperti ini.


"Aku pulang ke kampung untuk menjengukmu, tahunya ibu mu bilang kamu sudah tinggal di kota bersama suamimu. Tak menyangka kita bisa bertemu." Ujarnya dengan senyum lebar, menutupi segala rasa kecewanya.


Moana menggigit bibirnya. Dulu, mereka selalu bermain bersama. Daren adalah pria yang baik. Dari SD hingga SMP selalu bersama. Tapi ketika SMA, Daren pindah karena ayahnya yang bekerja sebagai seorang supervisor di sebuah perusahaan di pindahkan tugasnya ke kota Bandung. Sejak saat itu mereka tak lagi bertemu.


Tak menyangka di pertemukan dalam keadaan seperti ini. Moana merasa bersalah, dulu dia pernah janji akan menunggu Daren. Tapi, janji itu terlupakan dengan seiringnya waktu.

__ADS_1


"mmm... Daren, kamu sudah menikah atau..."


"aku menunggu seseorang selama ini, tapi kurasa Tuhan sudah memberikan jawabannya sekarang. Sepertinya aku harus berhenti menunggu." Tuturnya, sedikit terasa menyindir bagi Moana.


Gadis itu terdiam, wajahnya menunduk dalam.


"jangan di pikirkan." Daren jadi merasa tak enak telah membuat Moana sedih. "kamu baru berobat atau..."


"aku...hanya kontrol saja." Jawab Moana. "Lalu kamu sendiri?"


"aaahh...itu, kemarin aku membawa seorang gadis kemari. dia pingsan dan di rawat di sini. aku ingin melihat apa dia masih di rawat tapi ternyata perawat bilang gadis itu sudah keluar malam tadi."


"siapa gadis itu?"


"aku sendiri tidak tahu, hanya saja aku merasa tak tenang semalaman. mungkin dia pingsan karena aku marahi. aah...sudahlah ceritanya panjang." Daren mengibaskan tangannya. "karena kita sudah bertemu, maukan makan bersama ku?"


Moana tampak ragu. Dia sudah terlalu lama berada di luar, takut jika Rada akan cemas. Tapi, Moana tak berani menolak ajakan Daren, sudah bertahun-tahun tak bertemu dan harus bisa membuatnya sedikit lebih senang.


"begini saja, mana nomormu. kamu kelihatannya tak bisa pergi hari ini." Ujar Daren, seolah tahu apa yang di pikirkan Moana.


"iya, ibu mertuaku bisa cemas karena aku belum pulang." Jawab Moana.


Moana sungguh tak bisa menjawab. Gadis itu langsung mengambil ponselnya lalu menyerahkannya pada Daren.


"ini ketika nomor mu, nanti malam aku telpon."


"sip." Daren langsung mengetik nomor ponselnya. "ponselmu masih begini saja, mintalah suamimu untuk beli yang baru. ponsel ini terlihat jadul sekali." Kekehnya.


Moana mendelik, ponsel ini amat berharga. Dulu, ayahnya sampai puasa berhari-hari demi mengumpulkan uang untuk membelinya. Makanya, sampai kapanpun Moana tak akan menggantinya. Lagipula masih bisa dipakai untuk berfoto dan layarnya pun masih bagus.


Setelah itu Moana pun memutuskan untuk pulang. Daren menghembuskan nafas kasar. Hatinya tak bisa berbohong, ada rasa bahagia sekaligus kecewa. Moana adalah gadis yang selalu dia impikan selama ini. Hanya saja, dulu dirinya terlalu muda. Tak kepikiran soal hubungan jarak jauh, jika saja dulu dia punya ponsel dan Moana pun begitu. Mungkin sampai sekarang mereka masih berhubungan dekat.


"Tuhan memang tak menjodohkan kita, tapi tak apa, hanya bisa melihatmu bahagia saja sudah cukup." Daren merasa bodoh dengan dirinya sendiri.


Kenapa sampai sekarang tak pernah bisa melupakan Moana. Baginya, belum ada yang bisa menggantikan gadis itu di hatinya.


...*****************...


Johan dan Karan ingin sekali menolak ketika Yansen memintanya untuk menjaga Alea selama 24 jam. Gila saja, pekerjaannya di kantor saja padat belum lagi harus melakukan apapun perintahnya di luar jam kerja dan sekarang mereka harus menjaga Alea. Bisa hancur seluruh tubuhnya, bekerja tanpa istirahat seperti itu.

__ADS_1


"lalu... bagaimana dengan pekerjaan kantor dan..."


"tak perlu khawatir, aku bisa melakukannya. kamu di sini saja." Sela Yansen membuat Karan langsung bungkam.


Jabatannya dari asisten sepertinya akan turun menjadi seorang satpam. Sungguh gila, Yansen benar-benar tak bisa di mengerti.


Johan pun tak bisa mengatakan apa-apa, jika Yansen sudah memutuskan seperti itu maka siapapun tak bisa membantahnya. Termasuk orangtuanya sendiri.


"Anda mau kemana Pak?" Tanya Johan memberanikan diri saat melihat Yansen beranjak dari duduknya.


"apa aku harus laporan dulu saat mau pulang."


"maaf." Johan langsung mundur beberapa langkah, memberikan jalan untuk Yansen.


Kedua pria itu saling pandang lalu menghembuskan nafas bersamaan. Yansen sudah keluar, pria itu memasuki mobilnya. Karena merasa Alea aman sekarang, maka dia bisa pulang dan istirahat dengan tenang. Lagipula, Alea pun saat ini tengah tertidur.


Moana naik kendaraan umum, ia sengaja berhenti agak jauh dari rumah. Tak ingin Rada marah melihatnya naik angkot. Karena wanita itu telah memintanya untuk memesan Gojek atau menghubunginya ketika akan pulang. Tapi, Moana tak ingin merepotkan.


Saat hendak berjalan menuju rumahnya, mobil Yansen melintas. Moana langsung menghentikan langkahnya, begitu juga Yansen. Ia menghentikan mobilnya,lalu segera keluar.


"kamu dari mana?" Tanyanya.


"aku... maafkan aku Pak. aku tak izin dulu." Moana langsung meminta maaf saat sadar kalau dirinya tadi tak memberitahu Yansen akan keluar rumah.


Yansen mendengus.


"tak penting. aku hanya tanya kamu dari mana?"


Saat hendak akan menjawab, Rada sudah berlari ke arah mereka. Tadinya hanya ingin melihat mobil siapa yang terparkir di luar pagar. Begitu melihat ada Moana, dirinya langsung saja menghampiri.


"bagaimana hasil tesnya, Moana?" Tanya Rada langsung, sungguh tak sabar rasanya. "lalu kamu pulang dengan Yansen?"


Sepertinya Rada salah paham, tapi keduanya hanya diam tak ingin membenarkan. Moana langsung menggandeng lengan Rada.


"ayo, Bu. kita bicara di dalam."


"iya, ibu sudah tak sabar."


Sementara Yansen kembali masuk kedalam mobil, meski penasaran tes apa yang di maksud Rada. Ia tak berani bertanya, lebih memilih diam saja.

__ADS_1


...*************...


__ADS_2