
Moana dan keluarganya tiba di rumah sekitar pukul setengah 8 malam. Mereka langsung menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Hanya Rada yang memilih untuk duduk di teras rumah, wanita itu menengadah keatas menatap langit yang gelap. Baru setengah 8 tapi gelapnya seperti sudah tengah malam, mungkin karena mendung.
Ciittt....
Rada melihat kearah gerbang ketika mendengar suara decitan ban motor. Mata memicing kala melihat anak gadisnya turun dari motor.
Dengan cepat Rada berdiri.
"Kamu sedang sakit bukan, Jane?"
Jane langsung menghentikan langkahnya, bergerak cepat kebelakang Karan. Pria itu pun mengerti dengan apa yang di lakukan Jane, juga mendengar pertanyaan Rada. Mungkin gadis ini berbohong agar bisa bolos sekolah.
"Kami habis dari klinik." Jawab Karan yang langsung terpikirkan hal itu. "iya kan Jane?" Matanya mengerling.
Jane tak menyangka jika Karan se mengerti ini. Gadis itu buru-buru mengangguk.
"i...iya. di rumah tak ada siapa-siapa, jadi aku meminta kak Karan untuk mengantar."
Rada menatap keduanya bergantian, Jane menunduk tak berani menampakkan wajahnya. Wanita beranak dua itu pun mengulas senyum tipis, berjalan mendekati Jane lalu menyentuh kepalanya.
"ibu tahu Jane, kamu berbohong." Serunya membuat Jane semakin gelisah di tempatnya. "tapi...kenapa kamu membantunya Karan?" Mata Rada menatap Karan tajam.
Pria itu berdeham pelan, tangannya mengusap tengkuk dengan canggung.
"maaf Bu. aku hanya..."
"tak masalah. Jane, masuklah." Perintahnya dengan suara lembut.
Jane pun segera berlari masuk kedalam. Sementara Rada mengajak Karan bicara.
"kalian darimana?"
"Jane memintaku menemaninya seharian ini. Bermain dan makan."
"lalu...apa dia mengatakan sesuatu? aku merasa ada yang sedang dia sembunyikan. Tak biasanya Jane malas kesekolah."
Karan tahu kekhawatiran Rada terhadap Jane. Tapi, jika dia tahu apa yang terjadi pada putrinya pasti akan bersedih. Karan tak ingin membuat wanita itu sedih dan semakin cemas terhadap Jane.
"maaf, Bu. aku tidak tahu. Jane tak mengatakan apapun."
Rada menghela nafas. "mm..baiklah, masuklah Karan."
"tidak, aku akan pulang."
Karan pun segera pulang. Rada melambaikan tangannya pada pria itu. Karan sudah seperti putranya. Dia baik juga sangat mengerti dengan perasaan Jane juga dirinya. Bahkan Yansen pun sangat mempercayai Karan, menempatkan pria itu di setiap hal penting.
Moana hendak keluar setelah membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Ia ingin mengambil air minum.
"mau kemana?" Tanya Yansen yang baru keluar dari kamar mandi.
"aku..., mas apa-apaan ini." Moana sangat kaget begitu berbalik mendapati Yansen tengah berdiri dengan telanjang dada.
"apa?" Tanya Yansen bingung, perasaan dirinya tak melakukan hal aneh.
Moana menutup matanya, ia malu. Meski status mereka suami istri tetap saja Moana belum terbiasa akan hal itu. Yansen meraba dadanya, pria itu pun tersenyum begitu menyadari sesuatu.
"kenapa? aku suamimu. untuk apa malu melihatnya?" Tanya Yansen.
"tetap saja aku malu. biasanya..." Moana terperanjat saat Yansen menarik kedua tangannya.
"itu dulu, sekarang kita harus membiasakan diri untuk ini. Lagipula kedepannya aku ataupun kamu akan melihat tubuh..."
"sudah cukup jangan di teruskan." Sela Moana cepat, dia malu hanya mendengarnya saja apalagi sampai harus melihatnya secara langsung.
Buru-buru keluar dari kamar untuk menghindari Yansen. Pria ini menjadi banyak bicara sekarang, berbeda dengan dulu. Hanya seperlunya saja, tapi sekarang Yansen bahkan bisa merayu dengan kata-kata manis sehingga membuat Moana malu.
Perubahan pada diri Yansen tentu bisa di rasakan oleh semuanya. Ia lebih hangat juga tak pernah lagi bersikap kasar ketika tengah emosi. Yansen dapat meredam emosinya akhir-akhir ini. Mungkin karena ia berpikir, sebentar lagi akan menjadi seorang ayah jadi harus membuang sikap jeleknya.
Moana menuruni tangga dengan cepat. Takut Yansen mengikutinya.
"Ana, jangan tergesa begitu. Kamu bisa terjatuh." Safira langsung berteriak ketika keluar dari kamar melihat Moana yang berjalan dengan tergesa.
"Mak, belum tidur?"
"belum, Mak kepikiran Appa mu."
Moana tersenyum. Meski sudah berusia, kedua orangtuanya memang masih harmonis. Apalagi Mak yang tipe pencemas, selalu mengkhawatirkan segalanya.
__ADS_1
"Appa bukan anak kecil, untuk apa Mak mencemaskannya. Appa bisa jaga diri."
"iya, Mak tahu. tapi, Appa selalu sakit pinggang setiap pulang dari ladang. Appa tak bisa tidur jika belum Mak pijit."
Moana menghela nafas. Dari dulu memang seperti itu. Sudah menjadi kebiasaan ayahnya, ketika akan tidur harus di pijit lebih dahulu.
"besok Mak pulang ya? kamu baik-baik di sini."
"loh...Mak, baru dua hari menginap. katanya..."
"Ana, maafkan Mak. tapi, sekarang kamu sudah berkeluarga. Jangan terus-terusan bergantung pada Mak. Kasihan Appa mu di rumah sendirian."
"iya Mak."
Moana jadi sedih. Kembali kekamar dengan wajah muram. Padahal dia masih kangen dan ingin bersama ibunya sedikit lebih lama. Tapi, jika itu keputusan ibunya. Ia tak bisa menghalanginya untuk tetap tinggal. Lagipula benar adanya kalau ayahnya lebih membutuhkan ibunya sekarang.
Yansen meletakkan ponselnya saat mendengar suara pintu di buka. Pria itu melihat Moana dengan heran.
"Kamu kenapa? menangis!"
"mas..."
"ada apa Moana?" Langsung bangkit dari duduknya segera menuntun Moana menuju kasur.
"Mak, besok Mak..."
"Mak? ada apa dengan ibumu?" Tanya Yansen.
"Mak mau pulang katanya." Isak Moana.
Yansen langsung tertawa mendengarnya. Merasa jika Moana sungguh lucu, kenapa harus menangis seperti ini karena ibunya akan pulang kampung.
"Moana, ibumu punya kehidupannya sendiri begitu juga kamu. kenapa menangis? ck...senang menangis dan sedih pun menangis. Kapan tertawanya." Goda Yansen.
"mas, aku serius sedang sedih."
"aku tahu. Sini, berbaringlah."
Moana pun membaringkan tubuhnya. Yansen memeluknya lalu mencium keningnya. Hal yang paling membahagiakan baginya saat ini adalah adanya Moana dan sang buah hati yang akan segera hadir di antara mereka.
...**************...
Entah Yansen melakukannya secara sadar atau tidak. Yang jelas Moana tetap marah akan itu.
"Aku minta maaf. Lagipula bagi pasangan itu hal yang wajar kan?" Ujar Yansen sembari meraih tangan kanan Moana.
"tapi aku sedang hamil, mas." Di tepisnya tangan Yansen hingga terlepas.
Pria itu tahu bukan soal lagi hamil atau tidak. Yang jelas Moana belum siap untuk melakukan hal itu. Yansen menghela nafas panjang lalu menyugar rambutnya kebelakang.
"baiklah, aku akan menunggumu hingga siap." Ujarnya dengan pelan lalu masuk kedalam kamar mandi.
Moana menggigit bibirnya. Ia masih trauma dengan apa yang di lakukan Yansen dulu. Cara pria itu melakukannya dengan sangat kasar malam itu sering terbayang di kepalanya. Moana mungkin mencintai Yansen, tapi hatinya belum menerima pria itu untuk menyentuhnya lebih. Masih ada rasa takut di sana.
Tidak ingin berpikir lebih lagi, Moana memutuskan untuk segera turun kebawah. Membantu Rada dan Safira yang sedang menyiapkan sarapan.
"Kamu duduk saja. Mak buatkan sarapan spesial untuk mu dan suamimu."
"Iya, ibu juga hanya melihat ibumu memasak dari tadi." Cetus Rada.
Moana menatap punggung ibunya, ini hari terakhirnya di sini. Sore nanti Safira akan pulang. Rasanya berat sekali untuk berpisah lagi dengan ibunya.
Tak lama, Yansen pun keluar. Pria itu nampak sumrawut. Wajahnya kusut dan tatapan matanya seperti tak bersemangat.
"Loh, kamu sakit Yansen?" Tanya Rada.
Moana langsung melihat Yansen. Ada rasa tak enak hati terhadapnya karena telah menolak keinginan pria itu. Dengan cepat Moana menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah suaminya.
Safira meletakkan masakannya di atas meja. Matanya menangkap sesuatu yang aneh dari putri juga menantu nya.
"kalian bertengkar?" Pertanyaan Safira membuat Moana dan Yansen langsung saling menatap satu sama lain, lalu membuang pandangannya kearah lain.
Rada mengeryit. Baru kali ini dia melihat Moana dan Yansen bertingkah aneh. Ingin bertanya tapi ragu.
"Kita tinggalkan saja mereka, kita sarapan di ruang tamu saja." Ajak Rada pada Safira.
Rada membawa dua porsi, satunya untuk Jane.
__ADS_1
Setelah kedua wanita itu pergi, suasana justru semakin canggung. Moana jadi bingung harus bagaimana sekarang. Melayani Yansen atau diam saja.
"Kenapa tak makan? makanlah." Yansen menyendok nasi lalu menyodorkannya pada Moana.
"mas, tak marah?"
"marah? kenapa aku harus marah. buka mulut mu."
Moana pun langsung membuka mulutnya. Makan dengan tenang.
Setelah makan Moana langsung membuatkan Yansen teh hijau. Pria itu pasti akan merasa lebih baik.
"Maafkan aku mas. aku hanya masih takut saja." Cicit Moana sambil meletakkan teh nya di atas meja.
Yansen terkekeh. Ia sudah tahu itu, semua salahnya juga. Jadi ia mengerti dengan apa yang di rasakan Moana. Makanya ia tak akan memaksanya sampai Moana benar-benar siap.
Rada dan Safira pun sudah menyelesaikan sarapannya. Hanya Jane yang belum, gadis itu tak mau keluar dari kamar karena takut di paksa sekolah.
Jane masih belum siap untuk bertemu teman-temannya.
"Jika begini terus, ibu akan kesekolah mu dan mencari tahu apa yang terjadi Jane." Teriak Rada.
Jane langsung membuka pintu kamarnya. Ancaman Rada biasanya tak pernah main-main. Jika dia sudah berkata begitu pasti akan melakukannya.
"i...iya. aku akan sekolah sekarang."
"Jane, jika ada masalah ceritakan pada ibu. siapa tahu ibu bisa membantu mu, jangan begini? kamu bolos di tengah pelajaran dan kemarin pura-pura sakit. ada apa sebenarnya?"
Jane mengigit bibirnya. Meski Rada memaksanya ia akan tetap tutup mulut. Jane tak ingin ibunya menjadi khawatir.
Sementara itu, di sekolah Jane. Teman-temannya tengah memperhatikan bangku Jane yang sudah 2 hari ini kosong. Sammy menghela nafas panjang.
"Sam, apa yang kamu lakukan salah. seharusnya kamu tak berbuat begitu." Inggit, teman sebangku Jane menghampiri.
Gadis berkuncir itu menatap Sammy dengan pandangan tak suka. Teman yang lain pun ikut melihat kearah Sammy. Yang awalnya mengejek Jane kini justru merasa bersalah. Karena ulah mereka, Jane tak masuk sekolah.
"Kamu harus minta maaf pada Jane." Hardik Andin. Teman kelas Jane yang merupakan sekretaris kelas.
Sammy melihat semua temannya lalu mendengus kesal. Ia seorang ketua kelas, baginya di pojokan seperti ini sungguh tak menyenangkan. Mereka benar-benar tak menghargainya.
"apa urusan kalian. Ini masalah ku dan Jane, tak perlu ikut campur." Ucapnya lalu pergi dari kelas.
"Sammy itu sudah keterlaluan. Mentang-mentang ketua kelas dan murid terbaik. aku tak suka." Cerca Inggit. Yang lain pun ikut setuju dengan apa yang di ucapkannya.
Sammy berjalan menyusuri koridor sekolah. Pemuda itu menjadi kesal dan hilanglah semangatnya untuk belajar.
"Jane, aku akan menjemputmu nanti. bye!"
"bye, kak."
Jane berlari cepat karena sebentar lagi bel akan berbunyi. Sammy menghentikan langkahnya tepat dengan Jane yang sekarang berdiri di hadapannya.
Keduanya sama-sama diam. Jane langsung membuang pandangannya, berjalan melewati Sammy begitu saja. Ia tak ingin mendengar ejekan dari pria itu.
"oh...aku tolak ternyata langsung dapat pengganti ya? om-om tua." Ledek Sammy.
Sammy ingat pria yang baru saja mengantar Jane adalah pria yang sama siang kemarin. Jane langsung berbalik, menatap Sammy dengan marah.
"apa maksudmu?"
"sudah jelas. aku bahkan kemarin melihat mu berboncengan dengannya, sangat mesra. sebentar..." Sammy merogoh kantong celananya. "ini.!" Serunya kemudian sambil memperlihatkan foto Karan dan Jane yang tengah naik sepeda motor.
Jane tak menggubris. Untuk apa melayani Sammy, tak ada gunanya. Jane pun kembali melanjutkan langkahnya. Merasa di acuhkan tentu Sammy tak terima, dia mengejar Jane. Mencegatnya dengan mencekal lengannya.
"Sammy, mau apalagi? belum cukup menghinaku di grup kelas?"
"Jane, kamu masuk. aku senang sekali." Inggit yang akan membuang sampah keluar langsung berlari mendekati Jane.
Sammy langsung menarik tangannya. Pemuda itu pun bergegas masuk ke kelas.
"Jane, kamu baik?"
"mmm..."
"ayo."
Inggit merangkul pundak Jane. Keduanya masuk bersamaan dengan bel berbunyi nyaring. Tanda kelas akan segera di mulai.
__ADS_1
...*************...