
Sarah sedikit merasa aneh ketika tiba di rumah Rada. Ia tak menemukan Moana ataupun Rada. Hanya ada keluarga Gutomo di sana, berbincang sambil tertawa di ruang keluarga. Dengan langkah pelan dia mendekat, saat tak sengaja mendengar nama Rada di sebut dalam obrolan mereka.
"Menantu kita itu tak berguna dan sekarang cucu mantu kita pun sama. kesialan apalagi yang harus di terima keluarga kita." Keluh seorang wanita tua, meski begitu dia masih terlihat modis dan segar meski kulitnya mulai keriput.
"Ibu benar, kakak menikahi Rada yang hanya bisa diam dirumah menghabiskan uang dan sekarang Yansen menikahi gadis tak jelas." Rodisa menimpali. Sarah tahu siapa gadis ini dan mengenalinya.
"aku dengar Yansen memperk*sanya, itulah kenapa dia harus menikahinya." Seorang wanita lain ikut bicara.
"cukup beri gadis itu uang dan suruh dia pergi, apa susahnya." Ujar wanita yang Sarah yakini kalau itu adalah kakak iparnya Rada.
Sarah menghela nafas. Tak pernah tahu jika kehidupan Rada begitu sulit di keluarga ini. Menjadi menantu di keluarga yang kaya ternyata sangat menyulitkan, pikirnya.
"Ibu, kakak dan Rodisa. semua teh nya sudah siap." Rada membawa nampan berisi 6 cangkir teh.
Ke enam wanita itu hanya melihatnya sekilas lalu kembali mengobrol. Sarah kesal melihatnya dengan cepat dia masuk.
"Rada, ku rasa kamu bukan pembantu di sini?" Ujarnya sembari menarik Rada.
"Sarah, kenapa kembali?" Rada terkejut.
Wanita-wanita itu menatap Sarah.
"Kamu menantu di sini kenapa mereka sama sekali tak menghargainya. Lalu mana Moana? apa mereka juga menindasnya?"
"hei... apa-apaan kamu ini, datang-datang bicara yang tak masuk akal." Rodisa berdecih.
Sarah menatap remeh gadis tua itu. Ia menyilangkan tangannya di dada lalu berjalan mendekatinya.
"aku mendengar semua pembicaraan kalian. Mertua dan ipar yang munafik." Desisnya.
Rada langsung menarik Sarah. Dia tak ingin Gutomo mendengarnya, bisa dalam masalah temannya ini jika Gutomo melihatnya sedang memarahi ibu dan saudaranya.
"Sarah cukup, kita kebelakang saja." Ajak Rada.
Rodisa yang merasa kesal karena telah terganggu dengan kehadiran Sarah langsung mencegahnya untuk pergi. Ia menarik lengan Rada kuat lalu melayangkan tamparan keras di pipinya.
Plak...
"kamu sengaja kan meminta temanmu untuk memaki kami. Dasar wanita jelek." Bentaknya.
Rada memegang pipinya yang terasa panas. Sarah hendak marah tapi dengan cepat Rada menariknya. Ia tak ingin lagi berdebat dengan mereka.
"Kenapa kamu diam saja, mereka..."
"sudah cukup." Rada menggelengkan kepalanya. "biarkan saja."
Moana yang hendak kedapur pun hanya berdiri di anak tangga, ia melihat semuanya. Bagaimana ibu Yansen di tampar. Tangannya meremat jemarinya sendiri. Sungguh ini bukan keluarga yang sehat, kenapa mereka memperlakukan menantu dengan begitu kejam.
Apa dirinya juga akan di perlakukan seperti itu nanti. Ada rasa takut di hatinya namun dengan cepat dia menghilangkan fikiran negatif itu. Langkahnya kembali kedalam kamar, ia urung untuk mengambil air minum.
"Pak Yansen, kenapa keluarga mu sangat jahat." Ujar Moana.
Yansen yang sedang memegang ponselnya berpaling menatapnya.
"ibu mu di tampar oleh..."
"baru sehari di sini kamu sudah bergosip. Mana ada hal seperti itu." Sela Yansen cepat.
"aku melihatnya sendiri. Wanita yang ku rasa adalah bibi mu itu telah menampar ibu."
Brak...
Yansen melemparkan benda pipih itu keatas nakas. Ia menatap Moana dengan kesal.
"Jangan mengada-ada. Bibi Rodisa tak akan begitu." Ucapnya. "jika pun begitu pasti Jane, orang pertama yang melapor padaku."
__ADS_1
Yansen memang tak pernah tahu seperti apa sikap keluarga ayahnya terhadap Rada karena dirinya jarang sekali di rumah. Sekalinya ada pun, mereka akan bersikap sangat baik terhadap Rada. Sementara Jane, gadis itu tak pernah mengatakan apapun kepada Yansen atas permintaan Rada.
Moana sungguh muak dengan sikap Yansen. Kenapa dia lebih memihak oranglain di banding ibunya.
"kamu keterlaluan." Ujar Moana.
Yansen terkekeh.
"jangan melunjak, kamu hanya sebatas istri di atas kertas. kamu hanya gadis tak berharga di mataku. pergilah." Usirnya.
Apa menjadi seorang menantu itu hal yang buruk. Bahkan anak sendiri dan suami pun tak ada di pihaknya. Moana tak bisa diam saja, dia harus membuat Yansen tahu jika Rada selama ini di perlakukan amat buruk.
Brak...
Moana menutup pintu kamar dengan keras. Kesal sekali terhadap Yansen. Ia keluar dengan cepat menuju belakang rumah.
"gadis itu..." Yansen sedikit terkejut dengan sikap Moana.
Tak mengira jika gadis yang terlihat pendiam dan lemah itu bisa melawannya.
...*************...
Karan nampak kesal dan lelah. Seharian terus saja menjaga Alea di rumah sakit. Hari ini dia keluar dari rumah sakit dan Yansen memerintahkannya untuk mengurus semuanya.
"Johan, kenapa kamu diam saja. setidaknya kamu gantikan aku sekali saja." Keluhnya.
Johan yang di tugaskan hanya membawa mobil itu hanya tersenyum canggung. Merasa tak sebenarnya terhadap Karan, tapi mau bagaimana lagi Yansen hanya menyuruhnya untuk mengantarkan saja lalu setelah itu dia kembali ke kantor.
"maafkan aku Karan. Ini aku bawakan makanan untukmu."
"terimakasih. kamu mau kembali?"
"iya, Pak Yansen memintaku untuk kerumahnya."
Karan mengerti lalu ia kembali masuk kedalam. Seharian hanya diam saja, Alea tak banyak bersuara. Gadis itu hanya mengutak-atik ponselnya dan sesekali meminta Karan untuk membeli makanan atau minum.
Alea melirik sekilas Karan yang baru saja masuk. Pria itu tak mengatakan apapun, duduk di kursi lalu menikmati makanan yang baru saja di terimanya dark Johan.
Dengan santainya dia melahap semuanya tanpa mempedulikan Alea yang kini melihat ke arahnya.
"Kamu makan sendiri?" Tanya Alea kemudian.
Pria tinggi itu menghentikan suapannya lalu melihat Alea.
"Hanya satu porsi saja." Ucapnya santai lalu kembali melahap nasi dan ayam gorengnya.
Alea menelan ludahnya, rasanya sungguh ingin. Gadis itu menghembuskan nafas kasar, seandainya ada Yansen di sini. Dengan cepat dia mengirimkan pesan pada pria itu.
Yansen tersenyum melihat pesan yang di terimanya. Ia bergegas berganti pakaian lalu keluar dari kamar. Melewati semua orang yang ada di ruang keluarga dengan santainya.
"Yansen, mau kemana?" Tanya Rodisa, mengejarnya hingga ke pintu.
"Bibi, aku mau keluar sebentar." Jawabnya sambil terus berjalan.
"hei...ini malam pertamamu sebagai pengantin, kenapa..."
"aku ada urusan sebentar, tak lama." Selanya.
Rodisa tersenyum miring. Dia tahu jika keponakannya tak ingin melewatkan malam ini.
"Pak..." Johan yang baru saja tiba terkejut melihat Yansen yang pergi menggunakan mobil lain.
Dia berdecak pelan. Yansen memintanya kesini tanpa memberitahu untuk apa dan sekarang setelah sampai hanya di tinggalkan begitu saja. Sungguh, Johan merasa kesal. Seandainya saja Yansen bukan bos nya, sudah dia maki pria itu.
Sementara itu, Rada dan Sarah berada di belakang rumah. Rada terus meminta Sarah untuk tidak terlibat dalam masalahnya. Keluarganya terlalu kejam, apalagi Gutomo. Pria itu bisa melakukan apa saja, hal kotor sekaligus.
__ADS_1
"Tapi, mereka menindasmu Rada?" Seru Sarah tak terima.
"ku mohon Sarah. aku tak ingin terjadi apapun denganmu."
Sarah menghela nafas.
"baiklah."
Moana tak berani mendekat, dari tadi hanya diam memperhatikan. Hingga Jane menepuk bahunya, membuatnya terlonjak kaget.
"astaga..." Moana menyentuh dadanya yang berdetak kencang karena terkejut.
"kakak, mengintip?"
"Itu...ibu..." Moana ragu untuk berkata.
Jane mengerutkan keningnya.
"ada apa dengan ibu?"
"aku melihatnya di tampar." Ujar Moana. Jane yang mendengarnya langsung kaget dan segera menghampiri ibunya.
Tadi dia berada di dapur, mencuci semua piring kotor bekas mereka makan.
"ibu..." Panggilnya.
Rada dan Sarah berbalik. Jane menyentuh pipi Rada yang memerah, ada bekas jari di sana. Pukulan itu pasti sangat keras hingga meninggalkan bekas.
"apa yang terjadi? siapa pelakunya, nenek atau bibi?" Tanya Jane, karena dia tahu dua wanita itulah yang selalu bermain kekerasan terhadap ibunya.
"Sayang, tenang. ibu tak apa-apa." Rada meraih tangan Jane.
"Moana, kamu di sini juga?" Sarah melihat Moana berdiri tak jauh dari tempat mereka.
Moana tersenyum lalu mendekat. Gadis itu memeluk Sarah erat.
"ada apa?" Tanya Sarah cemas.
Moana hanya menggelengkan kepalanya. Dia ingin mengatakan soal Yansen tapi tak ada keberanian. Mungkin sebaiknya dia ikuti saja apa yang di inginkan pria itu.
"mereka membuatku takut." Ujarnya pelan.
Sarah melihat Rada, yakin jika Moana pasti melihat semuanya. Rada dengan cepat meraih tangan Moana. Sebagai seorang mertua, ia tak akan membiarkan menantunya terluka ataupun di tindas oleh oranglain. Karena dia tahu rasanya seperti apa di sisihkan dan selalu di remehkan.
"Jangan takut, ibu akan melindungimu. Sekarang kamu adalah keluargaku, tenang saja."
Moana menatap wajah Rada. Tatapan matanya menyiratkan ketulusan. Dengan cepat dia pun memeluk Rada.
"maafkan aku, ibu. seharusnya aku tadi tidak diam saja waktu melihat mereka menindasmu."
Rada tersenyum, mengelus punggung Moana lembut. Sarah ikut tersenyum, dia tahu Rada adalah wanita yang tepat bagi Moana. Mereka bisa saling menguatkan nanti. Jane menggigit bibirnya, baru kali ini ada orang lain yang begitu peduli terhadap ibunya.
"dimana Yansen?" Tanya Rada.
"di kamar, Pak Yansen sepertinya lelah." Jawab Moana, tak tahu jika pria itu baru saja keluar.
"kenapa memanggil suami dengan sebutan Pak, kamu ini." Sarah memprotesnya.
"tapi kan..."
"Sudahlah, Moana belum terbiasa dengan Yansen. Sarah, kamu mau menginap?"
"tidak. aku akan pulang." Ujarnya cepat. "Rada, aku titip Moana ya."
"kamu ini, aku mertuanya sekarang. jangan terlalu cemas."
__ADS_1
Moana dan Jane memperhatikan keduanya. Dua wanita itu benar-benar sahabat baik.
...**************...