Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 41


__ADS_3

Moana berjalan cepat menuju Karan yang tengah duduk di teras rumah. Pria itu sudah menunggunya sejak setengah jam yang lalu. Bukan karena Moana lelet tapi tadi dia menerima telpon dulu dari Yansen yang tak hentinya bicara. Pria itu memintanya untuk tidak jauh-jauh dari Karan saat di mall nanti, jangan membeli makanan pedas karena nanti bayi kepedesan katanya. Jangan pula bicara dengan siapapun apalagi seorang pria.


Sungguh Moana tak habis pikir, kenapa Yansen bisa segila itu. Pria itu sungguh menjadi over sekali.


"maafkan aku ya, Pak Karan. Suami ku lama sekali menelponnya." Sesal Moana.


Karan tersenyum kecil. Maklum dengan apa yang di lakukan bos nya.


"Iya Bu, tak apa. mau berangkat sekarang?"


"iya. sebentar ya, aku pamit dulu sama ibu."


Moana kembali masuk kedalam untuk memberitahu Rada kalau dia akan segera berangkat. Setelah itu mereka pun pergi, seperti biasanya Moana akan duduk di belakang.


Di tengah perjalanan Moana meminta Karan untuk menjemput Jane lebih dulu. Membuat pria itu melihat kebelakang sekilas.


"Memangnya kita mau pergi bersama Jane, Bu?" Tanya Karan.


"iya, Jane mah ke perpustakaan kota katanya. karena ibu tak mengizinkan dia pergi sendiri jadi kita akan temani dia. kamu tak apa-apa kan? tak keberatan?" Tanya Moana takut Karan merasa keberatan, karena pria ini pasti banyak kerjaan di kantor.


Karan tersenyum, untuk apa dia keberatan. Lagi pula ini pekerjaannya. Dia di tugaskan menjadi asisten Yansen merangkap juga sebagai pengawal pribadi Moana beserta Jane. Lagian gajinya bertambah menjadi dua kali lipat, menguntungkan baginya.


Sebelum menuju mall, mereka pun akhirnya menjemput Jane di sekolah. Gadis itu sudah menunggu. Berdiri di depan gerbang masuk sambil memakan es loli.


"kak, akhirnya datang juga." Coleteh Jane, langsung masuk dan duduk manis di samping Moana.


"Jane, kita ke mall dulu ya lalu ke perpustakaan." Tukas Moana.


Jane mengangguk setuju, lagipula perpustakaan kota buka hingga jam 8 malam. Masih banyak waktu baginya bersenang-senang. Gadis itu menepuk bahu Karan dari belakang, membuat Karan terperanjat.


"apa Jane, aku sedang menyetir jangan menggangguku."


"Aku hanya mau katakan, kakak tunggu di luar saja nanti. aku akan menjaga kak Moana saat belanja." Tuturnya dengan percaya diri.


"tidak bisa, Pak Yansen menugaskan ku untuk menjaga Bu Moana."


Jane berdecak lalu menyilangkan tangannya. Bibirnya cemberut mendengar jawaban Karan. Ia ingin membeli beberapa buku komik nanti, jika Karan ikut masuk kedalam mall nanti pria itu bisa lihat dan memberitahu Yansen. Selama ini Yansen melarang Jane untuk membaca komik, karena menurutnya membuat gadis itu malas dalam belajar.


"memangnya kenapa?" Tanya Moana pada Jane. "baguskan kalau Pak Karan ikut belanja juga."


"bukan begitu kak. sudahlah." Renggut Jane.


Gadis SMP itu semakin kesal saat Karan malah tertawa keras. Pria itu malah sengaja membuatnya marah.


Tak lama, mereka pun tiba. Karan langsung memarkirkan mobilnya. Moana dan Jane pun keluar, berjalan terlebih dulu memasuki mall.


Moana sempat ragu, karena ini pertama kalinya dia belanja ketempat sempat seperti ini. Ia menggandeng lengan Jane.


"Jane, kakak baru ketempat seperti ini. ternyata luas ya dan banyak sekali orangnya." Bisiknya Moana.

__ADS_1


Jane tertawa pelan. "tentu saja kak, ini mall yang sedang viral itu. baru buka beberapa bulan lalu, menurut berita pemiliknya seorang pria muda. Tapi dia tak mau wajahnya di ekspos ke media." Seru Jane.


"waaahh...begitu. ayo bantu kakak cari baju."


"siap kak."


Karan hanya berjalan mengikuti keduanya. Matanya bergerak kesana-kemari seolah mencari sesuatu.


"nah itu kak, perlengkapan ibu hamil dan bayi." Jane membaca sebuah tulisan yang sangat menarik perhatian.


Mereka pun langsung masuk dan memilih-milih baju. Moana jadi bingung sendiri, banyak sekali baju yang bagus di sini. Ia pun melihat-lihat perlengkapan bayi. Tangannya menyentuh sebuah roller.


"Bagus ya, kak?" Seru Jane.


"iya. tapi belum waktunya."


Di saat sedang asyik mencari baju dari luar nampak seorang pria memperhatikan Moana. Pria itu tersenyum lalu segera berjalan menghampiri.


"oh... Moana?" Pura-pura terkejut seolah kebetulan bertemu.


Moana pun sama terkejutnya. Dia langsung tersenyum ramah, menyimpan baju yang sedang di pegangnya kembali ketempatnya.


"eh...kak Drean. sedang apa di sini?"


Drean menggaruk tengkuknya. Ia tak berpikir tadi apa alasannya jika Moana bertanya. Dan parahnya ini tempat khusus ibu hamil.


Jane langsung menghampiri Karan yang ada di luar, menarik pria itu masuk kedalam.


Karan pun langsung bergerak dengan cepat. Hendak mengusir si pria tapi begitu melihat siapa pria itu Karan pun langsung menghela nafas panjang.


"Pak Drean, anda disini." Ucapnya dengan sopan.


"iya, aku sedang melihat-lihat tempat ini." Drean merasa tertolong dengan hadirnya Karan. Dengan begitu ia tak perlu menjawab pertanyaan Moana.


"siapa itu kak?" Tanya Jane, berbisik pada Moana.


"rekan bisnis Mas Yansen."


Jane manggut-manggut. Memperhatikan Drean yang sedang bicara dengan Karan. Ia merasa pria ini selalu mencuri lihat kearah Moana, maka dengan cepat dia menarik Moana menjauh.


"kita bayar yuk kak, aku lapar nih." Ajaknya.


Moana yang memang sudah mendapatkan beberapa potong baju pun mengiyakan. Ia pergi ke kasir bersama Jane, meninggalkan Drean dan Karan yang entah sedang mengobrol apa.


Drean mengumpat dalam hati. Kenapa Karan tak pergi juga, padahal dia ingin sekali mengobrol dengan Moana sekarang.


"Kak Karan, kami sudah selesai. Ayo pergi." Teriak Jane.


Karan pun segera pamit pada Drean. Melihat kepergian Moana membuat Drean berpikir kembali. Dia tak kehabisan akal, cepat berjalan mengikuti ketiganya.

__ADS_1


"Tunggu sebentar. kita bisa makan siang bersama, aku yang traktir."


Moana melirik Jane. Melihat raut wajahnya membuat Moana tahu kalau Jane tak nyaman dengan kehadiran Drean. Lagi dia juga teringat dengan perkataan Yansen. Jangan bicara dengan siapapun apalagi seorang pria.


"maaf kak, tapi suamiku melarangku untuk berbicara dengan pria lain apalagi harus makan bersama." Tutur Moana dengan lugunya.


Tak menyangka justru ucapannya membuat Drean semakin tertarik dengan Moana. Baginya Moana tak seperti gadis-gadis di luaran sana, hanya saja Drean menyesalkan kenapa harus Yansen yang terlebih dahulu bertemu dengan Moana bukan dirinya.


Karan pun tersenyum dalam hati.


"kalau begitu, kami minta maaf Pak Drean. Ayo Bu, Jane kita pergi sekarang." Ajaknya kepada Moana dan Jane.


Drean mengepalkan tangannya. Semakin membenci Yansen. Kenapa pria itu selalu beruntung, bahkan soal percintaan. Bisa-bisanya dia mendapatkan gadis selugu Moana.


...*************...


Yansen berulang kali melihat ponselnya. Tak ada pesan satu pun, padahal dia meminta Karan untuk mengabarinya jika sudah berada di mall. Apa saja yang di lakukan Moana, ia harus tahu.


Hendak menekan tombol hijau untuk memanggil. Tiba-tiba sebuah pesan masuk.


Yansen langsung membukanya. Karan mengirimkan foto Moana dan Jane yang sedang makan, lalu foto keduanya yang berada di dalam perpustakaan. Pria itu juga menceritakan pertemuannya dengan Drean dan bagaimana Moana menolak ajakan pria itu.


"Bagus sekali. Kamu memang istriku." Kekehnya.


Tentu saja Yansen merasa lucu dengan tingkah Moana. Membuatnya tak sabar ingin segera pulang kerumah, mendadak merindukannya.


Ia juga meminta Karan untuk tetap mengawasi Moana dan Jane. Terlebih ia mulai merasa jika Drean sepertinya memilliki niat yang tak baik. Dari dulu mereka selalu bersaing bahkan hingga saat ini. Yansen hanya tak ingin Drean melukai Moana ataupun Jane.


Sekitar jam 9 malam, Yansen kembali kerumah. Akhir-akhir ini ia sibuk dan harus lembur karena memang pekerjaannya sangat banyak.


Pria itu berjalan memasuki kamarnya, Moana sudah berbaring di kasur. Matanya terpejam sangat rapat.


"Maafkan aku yang selalu sibuk bekerja." Yansen mengelus pipi Moana.


Hal itu membuat Moana terbangun. Ia mengerjapkan matanya berulang kali. Begitu penglihatannya sudah jelas Moana langsung memeluk Yansen.


"mas, baru pulang ya?" Tanyanya dengan suara parau khas bangun tidur.


"iya. tidurlah kembali."


"uummm..." Moana langsung merebahkan tubuhnya kembali.


Cup...


Mata Moana yang akan terpejam terbuka lebar. Ia menyentuh bibirnya yang baru di kecup Yansen. Hal yang baru pria itu lakukan. Selama ini Yansen tak pernah seperti itu.


"mas..."


"ah...ha...hanya...aku mau mandi dulu." Yansen buru-buru masuk kekamar mandi.

__ADS_1


Dia sendiri pun terkejut dengan apa yang di lakukannya. Semua terjadi begitu saja. Tanpa sadar dia mencium Moana.


...*************...


__ADS_2