
Jane senang sekali bisa melupakan masalahnya karena seharian ini Karan mengajaknya ke tempat-tempat yang menyenangkan. Mulai dari menonton, ketaman bermain hingga makan di restoran Jepang.
Menikmati makannya dengan serius, Jane suka sekali shusi yang di pesan Karan itu.
"ini enak sekali. Kapan-kapan ajak kak Moana juga ya, kak." Ucapnya dengan mulut penuh.
"Telan dulu baru bicara."
"iya-iya."
Karan hanya memesan minuman saja. Dia tak lapar sama sekali. Memperhatikan Jane dengan perasaan tak menentu. Berkali-kali menepis rasa yang menurutnya salah itu. Usia Jane dan dirinya sangatlah jauh berbeda. Bagaimana mungkin dia bisa jatuh hati pada gadis sekecil ini, yang lebih pantas menjadi adiknya.
"Jane, kamu ada masalah di sekolah? Kenapa hari ini tak masuk?"
Jane meneguk air nya lalu mengelap sudut bibirnya yang basah.
"Tidak, aku hanya malas saja."
Karan menopang dagunya dengan kedua tangan. Ia tatap wajah Jane dengan seksama.
"Jane, kamu bisa menyembunyikan masalahmu jika itu mau mu. Tapi, setidaknya berbagilah dengan orang di sekitar mu sedikit saja, agar hati mu sedikit lebih tenang."
Penuturan Karan membuat Jane terkejut. Gadis itu menjadi bingung sendiri, apa yang harus ia katakan sekarang.
"Johan sudah mengatakan semuanya pada ku. apa kamu ingin menyembunyikan dariku?"
Jane menelan ludahnya. Ia tak bermaksud seperti itu, hanya saja rasanya belum siap menceritakan hal itu kepada Karan ataupun Yansen. Karena kedua pria ini hampir memiliki tempramen yang sama, bedanya Karan tak pernah melakukan kekerasan.
Gadis berambut panjang itu hanya takut, Karan akan melakukan sesuatu pada Sammy. Bagaimana jika nanti Sammy di permalukan oleh Karan.
"oke, jika itu memang mau mu. aku tak akan memaksa." Ujar Karan yang memang tak ingin memaksa Jane untuk bercerita.
"nanti saja, setelah aku siap pasti akan mengatakannya pada kak Karan."
Karan tersenyum lalu mengangguk. Setelah menghabiskan shusi dan minumannya, Jane pun mengajak Karan pulang. Langit sudah sedikit mendung, sepertinya akan turun hujan.
Dengan cepat keduanya berjalan keparkiran. Jane menghentikan langkahnya ketika melihat Sammy dan kedua temannya ada di sebrang jalan. Ini memang sudah jam pulang sekolah. Ketiga anak itu biasanya akan nongkrong di cafe sebelum pulang kerumah.
"ada apa Jane?" Karan berbalik,melihat Jane yang seolah melihat hantu di siang bolong.
Dengan cepat Karan pun mengikuti arah pandang Jane. Ada tiga pemuda di sana yang berseragam putih hijau dengan rompi kotak-kotak.
__ADS_1
"Itu seragam sekolah mu bukan?"
Jane tersentak mendengar pertanyaan Karan.
"i...iya."
Karan memperhatikan ketiganya. Pasti salah satu dari mereka adalah pemuda yang telah menyakiti hati Jane. Tapi, Karan tak tahu persis yang mana.
"sudahlah, ayo naik." Karan menyerang helmya pada Jane.
Saat ini Karan membawa kendaraan roda duanya, karena sudah lama sekali dia tak memakainya. Semenjak sibuk bekerja, kuda besi itu menjadi hiasan gudang.
Jane pun segera memakai helm nya lalu naik. Tangannya melingkar di pinggang Karan dengan erat.
"hei... Sam, itu bukannya Jane?"
Sammy yang sedang menyeruput jus jeruknya langsung melihat kearah jalan. Matanya menyipit ketika melihat Jane. Dia mengambil ponselnya lalu mengarahkan kameranya ke arah dimana Jane dan Karan berada saat ini.
"hei, untuk apa memotretnya?"
"kalian akan tahu nanti." Ujar Sammy.
"bilang mencintai ku tapi kencan dengan pria dewasa sampai bolos sekolah." Gumam Sammy pelan sehingga kedua temannya tak mendengar.
Dalam hatinya Sammy merasa kesal. Ia bukan membenci Jane, hanya saja merasa malu jika dia dan Jane sampai jadian. Jane itu hanya murid biasa, wajahnya pun tak terlalu cantik. Sammy yang terkenal pintar dan cerdas itu mana mungkin jadian dengan gadis biasa macam Jane.
Ia mempermalukan Jane di grup kelas pun hanya untuk membuat gadis itu sadar kalau mereka jauh berbeda, tidak bermaksud mempermalukannya. Tanpa ia pikirkan apa akibatnya nanti. Bahwa tindakannya malah membuat Jane di ejek oleh teman-temannya sendiri.
Meski begitu Sammy tak berniat meminta maaf karena merasa gengsi. Malu jika harus merendahkan dirinya di depan Jane ataupun teman yang lain.
"Pemuda itu salah satu dari mereka bukan?" Tanya Karan.
Jane mengeratkan pelukannya. Kepalanya tersandar di punggung Karan.
"mmm...hanya anak kecil saja." Ucap Karan remeh. Jane mencubit pinggangnya sehingga Karan meringis.
"tak terima aku mengejeknya?" Goda Karan membuat Jane semakin cemberut di belakangnya.
Jane ingin segera tiba di rumah. Ingin merebahkan tubuhnya di kasur ternyaman nya.
Mendapati Jane yang diam saja, Karan pun segera menambah kecepatan laju motornya.
__ADS_1
... ****************...
Rada mengelus punggung tangan Gutomo. Pria itu sedikit lebih kurus, wajahnya menirus dan sorot matanya terlihat sayu. Hatinya sesak melihat Gutomo yang jauh dari kata sehat. Padahal waktu di berkunjung tempo lalu, perawat yang mengurus Gutomo mengatakan jika pria ini lebih baik, mengalami kemajuan yang bagus.
"mas, ada ibu Moana di sini." Lirih Rada sendu.
Safira pun mendekati Gutomo yang kini duduk diam di ranjang. Pria itu hanya tersenyum tipis lalu kembali diam.
Yansen memalingkan wajahnya kearah lain. Selama ini ia memang tak dekat dengan sang ayah, tapi melihatnya seperti ini membuat dia sedih.
"kita keluar saja mas?" Ajak Moana yang tak bisa membiarkan Yansen bersedih.
"tidak. bukankah kamu ingin menunjukkan perut mu yang sudah membesar?"
Moana mengangguk lalu menarik nafas dalam-dalam. Berjalan mendekati ranjang Gutomo dengan ragu.
"a...ayah!" Serunya dengan gugup. "Cucu ayah seorang putri cantik."
Gutomo bereaksi mendengar perkataan Moana. Matanya melirik Moana dengan cepat, tangannya gemetar terangkat ke udara.
"cucu kakek, harus cantik dan sehat. kakek akan menunda kepergian sampai melihat wajah mu nanti." Tangan itu menyentuh perut Moana. Setetes bening membasahi pipinya.
Rada dan Safira ikut meneteskan airmatanya. Perkataan rancu Gutomo membuat Rada tak bisa menahan isak nya.
"kenapa mas berkata begitu? siapa yang akan pergi, kita akan berkumpul kembali."
Safira menggenggam tangan Rada. Hatinya ikut merasakan kesedihannya. Yansen pun sampai membalikkan badannya membelakangi Gutomo. Tak sanggup rasanya melihat wajah Gutomo yang nampak pucat itu.
Moana menyentuh tanah Gutomo.
"ayah pasti pulang,Ibu, Jane dan Yansen merindukan ayah." Ucapnya.
Gutomo tersenyum kecil.
Dua jam lebih mereka menemani Gutomo. Kini waktunya untuk pulang, dengan perasaan berat Rada pun meninggalkan suaminya. Seperti apapun keadaan Gutomo saat ini, cinta Rada tak akan pernah hilang di hatinya.
"Bu Rada pasti bisa melewatinya dengan baik." Safira terus mencoba menyemangati Rada. Sesama wanita memiliki perasaan yang sama, baginya kesedihan Rada sekarang memang tak bisa di sembuhkan begitu saja.
Wanita mana yang akan kuat melihat suaminya dalam kondisi seperti itu. Bahkan mungkin sebagian dari mereka akan memilih untuk pergi meninggalkannya. Tapi, Rada tak seburuk itu. Ia akan tetap setia sampai kapanpun.
...**************...
__ADS_1