Dinikahi Paksa

Dinikahi Paksa
Chapter 22


__ADS_3

Moana terus saja melihat jam dan sesekali mengintip melalui celah gorden, memastikan jika Yansen sudah tiba. Menghela nafas berat, rasa laparnya kini berangsur menghilang tergantikan oleh rasa kesal. Sudah mau 2 jam ia menunggu pria itu.


"Moana, kamu dari tadi terus saja mondar-mandir seperti itu, apa yang kamu tunggu?" Tanya Rada.


"Pak Yansen. kenapa belum pulang juga ya?"


Rada tersenyum tipis lalu mengajak Moana untuk masuk kekamarnya.


"Kamu tunggu di kamar saja. ini sudah hampir petang, tak baik bagi ibu hamil terus mondar-mandir seperti ini di dekat pintu keluar."


Moana pun menurut. Ia akan menunggu Yansen di kamarnya saja. Mungkin pria ini masih bekerja jadi belum juga pulang.


Yansen menatap bungkus nasi yang sudah kosong, semua isinya telah di habiskan oleh Alea juga dirinya. Sejenak dia terdiam, ingat akan Moana tapi kemudian menepis rasa tak enaknya. Lagipula baginya Moana hanya gadis yang dia nikahi tanpa sengaja, bukanlah seseorang yang harus dia pentingkan dalam hidupnya. Hanya nasi saja, biarkan gadis itu membelinya sendiri nanti.


Alea hendak kedapur untuk mengambil minum. Ia mencebikkan bibirnya melihat Johan dan Karan yang sedang duduk bersantai di kursi tamu. Kedua pria itu sangat acuh padanya, maka ia akan membuat keduanya terkena imbasnya.


"lihat saja, nanti akan ku buat kalian di pecat." Serunya sembari berjalan melewati keduanya.


Karan hanya melirik sekilas, tak peduli dengan ancaman itu. Johan pun masih menikmati kue nya, Alea sungguh tak mereka anggap sama sekali.


"sebentar, siapa di luar." Alea yang tak sengaja melihat ke arah luar pun langsung menghentikan langkahnya menuju dapur.


Ia buka pintu lalu berjalan keluar untuk memastikan siapa orang asing yang tengah berdiri di luar pagar rumahnya.


"Pasti yang minta sumbangan." Decihnya, lalu kembali masuk.


Orang yang di maksud pun hanya diam terus memperhatikan. Sesekali pria bertopi itu celingukan seolah mencari sesuatu. Hingga detik kemudian ia panjat pagar itu lalu meloncat kedalam. Berjalan mengendap-endap menuju ke arah mana Alea berada. Dari luar dapat dia lihat dengan sangat jelas Alea tengah berdiri membelakangi jendela.


Senyumnya menyeringai ketika di rasa keadaan cukup aman. Tangannya dengan lihai mencoba membuka jendela.


"Karan, apa kamu merasa ada sesuatu?" Tanya Johan.


Karan mengeryitkan keningnya lalu menggeleng pelan. Padahal dia tahu jika saat ini ada seseorang yang telah mengincar Alea, dari tadi Karan sudah melihat seorang pria mencurigakan tengah berada di luar. Hanya saja, Karan tak ingin mencegah atau menolong gadis itu. Entah kenapa, hatinya amat tak suka dengan Alea hingga apapun yang akan terjadi nanti Karan sudah siap menanggung resikonya.


Trak...


Alea segera berbalik lalu melihat ke sekeliling dapur, jelas sekali ada bayangan seseorang dan juga suara. Gadis itu mengendikkan bahunya.


"tikus di sini harus segera di basmi." Gerutunya yang mengira mungkin saja itu tikus.


Alea kembali menuangkan air, sama sekali tak menyadari jika saat ada seseorang yang tengah berjalan mengendap menuju ke arahnya.


Grep...


"eeeuuummmm...." Alea terhenyak ketika sepasang tangan mendekapnya dari arah belakang. Mulutnya di tutup rapat dan lehernya di apit begitu kuat.


"diam atau aku cekik." Desis pria itu tajam.


Alea tak bisa diam saja, tangannya terus berusaha melepaskan cengkraman kuat itu. Kakinya pun bergerak tak beraturan membuat pelaku sedikit kewalahan. Hingga dengan sengaja Alea pun menepis gelas yang ada di atas meja, berharap akan Karan dan Johan yang ada di ruang tamu mendengarnya nanti.

__ADS_1


Prang...


Gelas itu terjatuh kelantai dengan keras. Pecahannya langsung berhamburan.


"****..." Pria itu pun panik hingga langsung menyeret tubuh Alea ke arah pintu dapur yang menuju keluar.


Karan dan Johan saling menatap ketika mendengar sesuatu benda jatuh dari arah dapur.


"ada apa dengan gadis itu? memecahkan sesuatu?" Tanya Johan.


Karan hanya mengendikkan bahunya tak peduli. Dengan penasaran Johan itu beranjak untuk memastikan apa yang terjadi.


"hei...siapa kamu? lepaskan nona Alea." Pekik Johan begitu tiba di dapur, dengan sigap dia mendekat hendak menolong tapi si pria asing bertopi dengan wajah tertutup masker itu langsung menodongkan pisau ke arah leher Alea.


"jangan mendekat atau ku bunuh gadis ini?"


Alea semakin gemetar ketakutan apalagi saat ujung benda tajam itu terasa dingin menyentuh kulitnya.


Karan yang mendengar teriakan Johan pun langsung berlari untuk melihat lalu segera melapor pada Yansen yang tengah duduk santai di kamar.


"Pak, ada penyusup yang mencoba melukai nona Alea." Lapor Karan.


Yansen pun dengan cepat berlari.


...*************...


Hingga akhirnya Gutomo pun memilih untuk langsung menuju kamar, ia yakin Rada pasti ada di sana.


Ceklek...


Rada langsung melihat kearah pintu. Melihat Gutomo hatinya kembali bergemuruh, ucapan suaminya malam itu terus terngiang di telinganya. Ada rasa penasaran tapi lidahnya terasa begitu berat untuk di gerakkan.


"dimana Jane dan menantuku? ku tebak putra mu belum pulang." Seru Gutomo, karena di luar dia tak melihat mobil Yansen.


"Jane sudah di kamarnya." Seru Rada. "Moana juga tengah menunggu Yansen." Lanjutnya dengan memalingkan wajahnya.


Pria itu mengangguk, membuka jas lalu dasi yang melilit di lehernya. Matanya terus saja memperhatikan Rada, menurutnya ada yang aneh karena wanita yang di nikahinya itu terlihat gelisah juga resah.


"ada masalah?"


Rada langsung mendongak mendengar pertanyaan Gutomo. Detik kemudian menarik nafas panjang lalu menghembuskan kasar. Dengan nekad akhirnya Rada pun bertanya.


"aku ingin tahu maksud dari ucapanmu tadi malam?"


"ucapanku? Yang mana?"


"Jangan pura-pura lupa, aku mendengar semuanya dengan jelas. kamu mengucapkan sesuatu sebelum tidur."


Gutomo terdiam.

__ADS_1


"Kamu memiliki istri simpanan?" Tebak Rada membuat pria itu mengepalkan tangannya.


Gutomo tak menyangka Rada akan mendengar semuanya. Meski begitu, Gutomo tetap memasang wajah tenangnya. Walau hatinya resah, bagaimana cara dia menjelaskan semuanya. Apa hari ini adalah akhir dari segala kebohongannya. Apa rumah tangganya dengan Rada akan berakhir sekarang. Gutomo tak bisa biarkan itu terjadi.


Rada bangkit dari duduknya, tangannya mencengkram erat kemeja Gutomo.


"aku menemanimu selama 35 tahun ini. Bahkan warna rambut ini hampir berubah. Teganya kamu berlaku seperti itu. apa kamu tak malu dengan usia juga anak-anak mu?" Mata Rada berembun, menumpahkan segalanya.


Gutomo tak bergeming. Lidah dan bibirnya amat kelu untuk mengakui segalanya. Hanya tak ingin Rada semakin memandangnya sebagai pria yang kejam tak berhati. Selama pernikahannya tak pernah dia bersikap lembut terhadapnya lalu jika sampai Rada pun tahu apa yang telah di lakukannya maka di mata wanita itu, ia adalah pria yang tak berhati.


"jawab aku, mas. siapa wanita itu? berapa usia anaknya?" Cerca Rada tak mau menyerah.


Helaan nafas terdengar jelas. Gutomo tak bisa mengatakannya sekarang. Ia akan menunggu kabar tentang Alea yang telah lenyap dan menghilangkan semua jejaknya maka Gutomo akan mencari cerita lain untuk membuat Rada tak lagi mendesaknya untuk mengaku.


"Ibu... ayah..." Teriakan Jane dari luar kamar membuat keduanya langsung terdiam.


Rada buru-buru menghapus airmatanya. Ia buka pintu depan cepat. Jane nampak panik di sana, dengan segera menyerahkan ponselnya kenapa Rada.


"Karan, asisten kak Yansen." Terangnya saat Rada akan bertanya siapa.


Rada pun langsung menempelkan benda pipih itu di telinganya. Tubuhnya langsung bergetar hebat, hampir saja ponsel yang di pegangnya pun terjatuh.


"apa yang terjadi?" Dengan sigap Gutomo menangkap tubuh Rada yang hampir terjatuh kelantai. "Jane?" Gutomo menatap Jane meminta gadis itu menjelaskan.


Jane pun berkata dengan suara patah-patah karena menangis.


"kak Yansen mengalami luka tusuk."


"apa?"


"kita kerumah sakit sekarang, mas. Jane, kamu tunggu di rumah dan jangan katakan apapun pada Moana." Ujar Rada.


Jane mengangguk mengerti. Rada dan Gutomo pun bergegas pergi. Moana menggigit bibirnya, ia mendengar semuanya. Tak sengaja ingin keluar untuk mengecek apa Yansen sudah kembali tapi malah mendengar berita buruk itu.


Tangannya menyentuh perut, di sana sangat tak nyaman. Sepertinya bayi mereka merasakan sesuatu.


"Aku ikut." Pekik Moana berusaha mengejar.


"Mo... Moana.."


"Aku sudah mendengarnya, aku ingin ikut." Pintanya memelas pada Rada dan Gutomo.


Kedua mertuanya hanya bisa mengangguk lalu mereka pun segera berangkat. Sepanjang jalan hati Moana resah, ia takut terjadi sesuatu terhadap Yansen. Bahkan gejolak di dadanya terasa tak seperti biasanya. Ada rasa cemas juga takut yang berlebihan.


Di rumah sakit, Karan dan Johan terlihat cemas. Mereka tak bisa menyelamatkan Yansen waktu pria yang menyandra Alea mengarahkan pisau kearahnya. Mereka terlalu lambat bergerak hingga akhirnya Yansen terluka.


Alea sendiri, menangis histeris. Hingga saat ini gadis itu pun masih menangis. Duduk di lantai dingin tanpa mempedulikan keadaannya sendiri. Luka gores kecil di lehernya sama sekali tak ia rasakan.


...*************...

__ADS_1


__ADS_2