
"Rin, maaf ya mas baru datang, tadi ada rapat di kampus, Naira sudah tidur?" tanya Rama saat baru saja tiba di rumah menjelang maghrib.
"Nggak papa pak, nggak baik tidur surup makanya saya pangku sambil minum susu" jawab Karin sembari membenarkan letak baju Naira yang ada dalam gendongannya.
"Kamu udah mandi?" tanya Rama melihat Karin hanya memakai kaos oblong dan celana jeans longgar serta rambut yang di ikat asal.
"Udah tapi malas ganti baju, nanti aja kalau udah mau tahlilan" jawab Karin.
Rama tersenyum meskipun sikap Karin terkesan jutek, ia beruntung Naira ada yang menjaganya. Rama segera mengambil baju ganti di lemari dan selembar handuk yang ia sampirkan di belakang pintu.
Hari sudah menjelang maghrib, suara masjid sudah menggema pertanda waktu sholat akan segera dimulai.
Ibu-ibu yang sedang membantu di belakang memasak dan menyiapkan makanan untuk tahlilan nanti juga sudah selesai dan mereka pulang ke rumah masing-masing untuk sholat terlebih dahulu.
Hanya Bu RT, Bu ustadzah, mbak Uti serta Bu Maryam yang sibuk menata makanan yang akan di bawa pulang oleh para tamu nanti.
Selesai mandi Rama langsung ke masjid sedangkan Karin masih harus menemani Naira sampai Rama pulang dari masjid.
"Rin, kamu udah sholat?" tanya mami yang masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan anaknya.
"Pangku dulu ini mi, pegel tangan ku, mau sholat dulu" ucap Karin
"Baru gitu udah ngeluh, sini biar mami yang jaga dulu, lagian kenapa nggak di tidurin aja di ranjang" tanya mami
"Yang selalu ngomong nggak boleh ninggalin bayi kondisi tidur kalau surup siapa? Mami sendiri kan?" seru Karin kesal
"Hehe iya, ya udah sana sholat gantian mami juga belum" Sahut Bu Maryam meraih Naira dan menggendongnya.
Karin keluar dari kamar dengan mulut masih komat-kamit. Mbak Uti yang melihat tingkah adik sepupunya itu cuma mesem-mesem saja.
"Kamar mandinya nggak bakalan pindah biarpun Lo ngomel sampai pagi" goda mbak Uti yang melewatinya lengkap dengan alat sholat.
__ADS_1
"Sono Lo, cerewet amat" sahut Karin menye-menye. Bu RT yang melihat juga ikut tertawa.
"Mbak Karin ternyata humoris juga ya" celetuk Bu RT.
"Terimakasih Bu, kebetulan kantong baju saya lagi kering hehehe" sahut Karin sembari mencomot satu kue di atas meja.
"Hehehe" Bu RT tertawa pelan meski dalam hati merasa geli dengan sikap Karin yang terlihat sombong disisi lain juga lucu, jutek dan entahlah, namanya juga anak muda. Maklumi aja.
Setelah sholat Karin sibuk menscrol beranda sosmed melihat berita terbaru selama enam hari tidak aktif bersosial media. Baru pagi tadi ia pulang ke rumah Rama setelah di rawat selama lima hari tapi baru kali ini bisa memegang gawai kesayangannya.
"Astaghfirullah, ini siapa yang bikin gosip kayak gini di grup? kenapa nama gue di bawa-bawa sih, anjai, gue cari besok orangnya" ucapnya melihat semua isi chat di grup kampus.
"Astaga...tega bener mereka bikin fitnah kayak gini, gue di tuduh hamidun, eh kurang ajar bener mereka....
"Gue ngerayu pak Rama biar di nikahin? Anjai kurang ajar banget sih yang bikin gosip kayak gini.....
"Tunggu....apa jangan-jangan.... Ah nggak mungkin mereka.... tapi cuma mereka yang kebetulan tahu status gue pas di rumah sakit.... Arggh.... Atau gue telpon Abdul?...
Keisya membanting bantal yang ia pegang ke arah lemari hias yang ada di kamar hingga membuat seisi lemari berantakan.
Bukannya menjawab justru Karin langsung telungkup di samping Naira yang tertidur nyenyak. Ia menangis sejadi-jadinya.
Rama hanya diam saja karena bingung akan berbuat apa, ingin rasanya menenangkan gadis itu tapi teringat janji yang pernah mereka sepakati sebulan lalu.
Rama memilih merapikan kembali isi lemari hias yang berantakan karena ulah Karin. Rama menduga ini pasti soal gosip di kampus tentang mereka yang sudah menikah.
Namun Rama tak tahu permasalahan apa yang tengah Karin alami. Bukankah jika orang tahu status mereka justru itu tidak akan mempengaruhi perkuliahan Karin, dan status Rama sebagai dosen juga tidak ada masalah?
Meskipun merasa risih dan tak tega mendengar tangisan Karin yang tertahan di balik bantal, Rama tetap berusaha bertanya pelan-pelan.
"Rin, kamu mau pulang? Nanti aku antar setelah tahlilan ya, bisa kan nunggu sebentar?" tanya Rama pelan
__ADS_1
Karin hanya diam dan terus menangis membuat Rama akhirnya memilih keluar agar Karin merasa lebih tenang. ia tak tahu dan belum tahu bagaimana sifat Karin selama ini.
Para tamu sudah mulai berdatangan, Rama akhirnya memilih menjamu tamu. biarlah urusan Karin ia selesaikan nanti setelah ini.
"Karin mana Ram?" tanya Bu Maryam
"Tidur Bu" jawab Rama berbohong.
"Tumben, biasanya begadang sampai tengah malam" sahut Bu Maryam
"Katanya habis minum obat tadi makanya ngantuk, biarkan saja bu kondisinya juga belum sembuh total" kata Rama menenangkan meski dalam hati ia ketakutan.
"Oh tadi sore memang minum obat habis makan, ya sudah nanti bangunin kalau selesai tahlilan" kata Bu Maryam berlalu meninggalkan Rama di ruang depan.
"Bu, " panggil Rama
"Iya Ram, kenapa?" tanya Bu Maryam
Rama mendekat
"Bu selesai acara kita pulang ke rumah saja ya, soal bersih-bersih biar saya saja dan Bu RT yang ngerjain besok pagi-pagi lagian besok siang Tante saya juga sudah bisa pulang" kata Rama sopan.
"Kenapa Ram?" tanya Bu Maryam yang mulai curiga dengan ucapan menantu nya
"Kasihan Karin Bu, siapa tahu dia tidak nyaman berada di sini" ucap Rama menunduk.
"Ck, nggak usah pikirkan Karin, anak itu memang begitu, belagu, butuh proses untuk adaptasi, kalau saya ajak pulang ke kampung neneknya saja selalu merengek minta pulang Ram, nggak usah pedulikan rengekannya, biar bisa mandiri jadi perempuan" ucap Bu Maryam terkesan mengacuhkan sang anak meski perkataan nya memang benar adanya.
"Hem, ya sudah kalau begitu Bu, saya ke depan dulu" ucap Rama dengan hati risau.
Rama kembali sibuk menjamu tamu yang berdatangan meskipun pikirannya sedang tidak sejalan.
__ADS_1
Acara tahlilan langsung di mulai setelah pak ustadz datang. Rama akhirnya hanya fokus membacakan tahlil bersama tamu yang lain. Tanpa Rama sadari seseorang datang dan memilih duduk di luar teras bersama tamu yang lain.
Lelaki itu yang datang saat pemakaman almarhumah tetapi di usir oleh Rama. Kini pria itu datang kembali dengan merubah penampilannya agar tak ada yang curiga terutama Rama.