Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 42


__ADS_3

Sampai acara selesai baik Ardi dan Aisyah tidak mendapatkan kabar apapun dari Rama dan Arkan.


Mami memutuskan untuk pulang kerumah setelah acara selesai karena ingin beristirahat setelah beberapa Minggu ini sibuk mengurusi pernikahan Uti sejak lamaran hingga hari ini.


Aisyah dan Ardi nampak tegang saat mereka dalam perjalanan pulang namun mereka lebih memilih diam terlebih dahulu hingga ada kabar dari Arkan dan Rama. Mereka tak mau membuat mami berfikir berlebihan dan itu menganggu kesehatannya.


Ardi melihat jam di pergelangan tangannya beruntung malam ini mereka pulang di antar oleh ajudan Tomy, sehingga mereka tak peu repot mencari taxi karena hari juga sudah malam.


Aisyah merapalkan doa dalam hati, semoga saja Raisa dan Karin baik-baik saja. Seandainya mereka bicara dengan mami apa yang akan mereka hadapi nanti? Mereka tak mau mengambil resiko berat. Biarlah mereka menunggu hingga ada kabar dari Arkan juga Rama.


Arkan masih menunggu informasi dari anak buah Kinara di cafe tempat yang sudah mereka janjikan sebelumnya.


Entah sudah keberapa kalinya ia memesan minuman hingga perutnya terasa kembung. Karena lelah menunggu akhirnya Arkan tertidur di gazebo kafe. Untung pemilik cafe ini suami Kinara jadi Arkan tak perlu merasa khawatir.


Pukul sebelas malam dua anak buah Kinara datang membawa kabar baik.


"Orangnya kecapekan itu Rom, Lo sih kelamaan" ucap pria berambut keriting


"Ya maaf bang, tadi masih ada inspeksi darurat di kantor, jadi kami baru bergerak menjelang Sore." Jawab pria bertubuh tinggi itu


"Ya udah sono bangunin, cafe mau gue tutup, udah ngantuk" ujar pria berambut keriting itu


Pria bertubuh tinggi itu menurut dan berjalan ke arah gazebo dimana Arkan sedang tertidur lelap.


"Bener-bener ini bos perhatian banget sama pelanggan nya sampe di nyalain obat nyamuk di semua sudut ckckck" gumam pria bertubuh tinggi itu.


"Mas, bangun mas, mas ada kabar baik, halooo maaaas" ucap pria itu membangunkan Arkan.


Tak perlu menunggu lama, Arkan terbangun.


"Ada apa mas? Cafe sudah tutup ya? Saya masih nunggu teman" ucap Arkan di antara sadar dan tidak karena masih terbawa suasana ngantuk dan lelah.


"Ini saya mas, saya sudah datang, ada kabar baik soal Adik mas" ucap pria bernama Romi itu.


"Oh, kamu mas Romi, maaf ya, efek ngantuk dan capek, saya sampai nggak konsen" ucap Arkan meminta maaf


"Lah, nggak papa, ada kabar baik mas juga kabar buruk" ucap Romi.


"Dua-duanya mas, ngomong aja, saya sudah pasrah" ucap Arkan membenarkan letak duduknya bersandar di tiang gazebo


"Kabar baiknya mereka sudah ketemu, dan kabar buruknya…. Ternyata mereka mengalami kecelakaan beruntun pagi tadi sekarang sudah ada di rumah sakit dalam penanganan" ucap Romi.


"Apa? Kecelakaan? Rumah sakit mana mas, ayo kita kesana" kata Arkan langsung beranjak


Romi memegang lengan Arkan dengan sigap. " Lebih baik besok mas, tidak ada jam besuk malam hari" ucap Romi


"Tapi mereka butuh saya mas, siapa yang menjaga mereka di sana?" Ucap Arkan khawatir

__ADS_1


"Mas tenang saja, kami membantu tidak kaleng-kaleng mas, sudah ada dua anak buah saya yang saya tugaskan menjaga mereka di rumah sakit, dan kabar baiknya lagi, adik mas sudah di jaga oleh suaminya, ternyata suami nya lebih dulu menemukan adik mas dan calon istri anda" ujar Romi


"Hah? Rama? Tapi saya mau bertemu mereka mas" ucap Arkan tak bisa menahan tangisnya. Pundaknya mulai bergetar hebat.


Sebagai laki-laki ia juga merasa rapuh di orang yang ia sayangi dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Romi menepuk pundak Arkan dan menghela nafasnya berat. Ia juga tahu bagaimana rasanya kehilangan.


"Ya udah mas, ayo pergi ke rumah sakit, tapi janji ya, mas jangan bikin keributan di sana" ucap Romi membuat Arkan langsung tersenyum.


"Terimakasih mas, ayo"


"Ayo saya pamit dulu sama bos di dalam"


"Baik"


.


Di rumah sakit Rama terlelap di samping brankar. Ia benar-benar merasa kelelahan selama dua hari perjalanan jauh dari rumah pakde Karim ke desa tempat Tante Rosa tinggal sekarang lalu harus nekat pergi kembali ke kota ini demi Karin dan rumah tangganya.


Bahkan Rama terlupa untuk memberikan kabar kepada Arkan dan Ardi yang sudah menunggu dengan gelisah sejak seharian.


Arkan datang dan melihat Rama tertidur di sisi brankar sang adik akhirnya memilih pergi dan melihat kondisi Raisa di ruang perawatan.


Arkan menatap wajah lelah Raisa, beruntung gadis pujaannya itu tidak mengalami luka parah, hanya tangan dan kakinya yang di perban karena mengalami luka tergesek aspal.


"Oh iya mas Romi, terimakasih banyak bantuannya hari ini, sampaikan salam saya sama bos kalian, beliau baik sekali sudah membantu saya menemukan calon istri saya" ucap Arkan terharu


"Sama-sama kami senang membantu"


____


"Mas belum ada kabar dari mereka?" Tanya Aisyah pada suaminya


"Arkan belum pulang dek, masih tidak ada kabar, ponselnya juga tidak aktif" ucap Ardi gusar


"Rama gimana?" Tanya Aisyah


"Sama aja mereka sama-sama nggak bisa di hubungi, mas mau ke kantor polisi sekarang, kamu dirumah saja ya, temani mami, jangan sampai mami tahu" ucap Ardi


"Iya mas" ucap Aisyah


"Apa yang mami nggak boleh tahu Ar?" Suara mami terdengar dari pintu dapur


Deg deg


Mereka berdua serempak menoleh dengan muka pucat. Ardi dan Aisyah saling menatap.

__ADS_1


"Eengg….enggak mi, kita mau ngasih kejutan buat mbak Uti, kemarin belum sempat ngasih kado, makanya kami rahasiakan dari mami dulu, nanti mami marah kalau kami ganggu mbak Uti" ucap Ardi beralasan.


"I. .Iya mi" tambah Aisyah


"Kirain apaan, jangan main rahasiaan sama mami, panggil Arkan suruh sarapan" ucap mami


"Arkan udah pergi mi, katanya ada inspeksi mendadak di kantor nya,makanya cepat pergi" ucap Ardi berbohong


"Oh iya, mami lupa, Arkan karyawan baru, okelah nanti kamu bawakan makan siangnya" ucap mami


"Iya mi" jawab Ardi cepat


Setelah mami berlalu dan masuk ke dapur Ardi dan Aisyah bernafas lega meskipun ada rasa bersalah di hati mereka.


"Kayaknya kita harus kerumah mbak Uti mas, kita harus ngomong juga ke mbak Uti" ucap Aisyah


"Nanti mas singgah kesana sebelum ke kantor polisi" ucap Ardi


"Ya sudah aku ke dapur lagi"


Raisa terbangun saat mendengar suara perawat sedang berbicara di sampingnya. Matanya perlahan terbuka dan betapa terkejutnya ia saat melihat kaki dan tangannya penuh dengan perban.


Raisa melihat ke samping kirinya, Arkan sedang berdiri membelakangi dan berbicara dengan perawat.


"Tidak ada luka dalam pak, hanya luka luar saja, obatnya di minum rutin agar tidak menimbulkan infeksi" ucap sang perawat


"Baik sus, oh ya sus, saya mau ke ruang ICU melihat kondisi adik saya, boleh?"


"Boleh, saya akan menjaga istri bapak di sini"


"Terimakasih sus"


Deg


Raisa mencoba duduk namun tak bisa karena rasa sakit dan nyeri di seluruh tubuhnya terasa menyakitkan.


"Mbak sudah siuman, perlu apa?"tanya suster yang sudah menyadari Raisa terbangun


"Minum" hanya itu yang keluar dari mulut Raisa Meksi pelan.


Arkan berjalan ke arah ruang kerja perawat dan memanggil salah satu teman SMA nya yang menjadi perawat.


"Saya mau ambil ponsel saya yang saya isi daya di sini" ucap Arkan pada salah satu perawat


"Oh ini mas, tadi mbak Sugi sudah berpesan sama saya"


"Terimakasih"

__ADS_1


Arkan langsung menghubungi Ardi kakaknya.


__ADS_2