Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 68


__ADS_3

Seperti biasa setiap pagi Karin menyapu di halaman rumah dan saat seperti itu sudah menjadi hal lazim bagi ibu-ibu tetangga yang suka nyinyir saat sedang membeli sayuran. Perlahan Karin pun sudah mulai terbiasa meski sesekali ia juga ikut menanggapi ocehan tak berfaedah mereka.


"Pagi mbak Karin." sapa si penjual sayur yang memang selalu standby di depan rumah Tante Rosa setiap hari.


"Pagi juga mbak Romlah, apa kabar hari ini?" Balas Karin ramah.


"Kabar baik, Alhamdulillah masih bisa jualan. Kalau mbak Karin mah tinggal terima gaji iya kan." Balas mbak Romlah cekikikan.


Karin hanya memutar bola mata jengah menanggapi ocehan itu yang setiap pagi sudah malang melintang di indera pendengarannya.


"Saya juga kepengen kok bisa jualan sayur kayak mbak Romlah biar bisa dapat pemasukan tiap hari. Saya mah pemasukan tiap bulan juga abis buat bayar utang bank, mbak Romlah kan bebas utang hahahaha." Sahut Karin membuat si penjual sayur langsung cemberut sekaligus tinggi diri karena tak memiliki utang bank seperti yang di sebut Karin.


"Kebutuhan tiap orang mah beda mbak Rom, mbok yo jangan bandingkan sama mbak Karin. Sampean itu loh apa nggak bosen toh tiap hari nyinyirin mbak Karin? yang sampean nyinyirin loh orang santuy." Tegur seseibu yang sibuk memilih sayur.


"Nyinyir gimana toh buk Er, wong emang nyatanya begitu. Mbak Karin loh nggak usah capek nyari duit udah ada terus pemasukan. Lah saya, mau ini itu aja harus keliling dulu."sahut mbak Romlah merasa tak terima.


"Halah wes karepmu Rom, wes Ndang di itung wi piro kabeh blonjoku." Kata seseibu yang tadi menegur mbak Romlah.


Karin yang mendengar perdebatan mereka hanya tersenyum saja. Mereka tak tahu saja kalau ia adalah pekerja keras di rumah. Ngurus mami, kuliah, jualan di pasar. Belum lagi harus ngecek kebun sawit di Kalimantan kalau pas di ajak bang Ardi kesana.


"Kenapa senyum-senyum mbak?" Tanya Aziz melihat Karin memunguti dedaunan kering sambil terkikik.


"Biasalah ziz, itu denger sendiri." Jawab Karin seraya menoleh ke arah tukang sayur yang sedang berdebat dengan pembeli karena tawar menawar harga.


"Oalah." Gumam Aziz mengikuti arah pandang Karin.


"Kamu mau kemana?" Tanya Karin melihat Aziz berseragam rapi.


"Mau berangkat ke pondok mbak, mau ikut ujian susulan. Bukannya tadi malam aku sudah pamit?" Tanya balik Aziz


"Oh iya, maap aku lupa ziz, ya udah hati-hati di jalan ya. Kalau lulus tak susul ke pondok kalau perpisahan nanti." Ucap Karin

__ADS_1


"Sip mbak, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah Aziz pergi Karin masuk ke dalam rumah dan melihat Rama sedang tertawa bersama Naira. Ada helaan nafas panjang, lagi-lagi hal seperti ini memang sangat langka ia temukan dalam diri sang suami.


Entah perasaan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Di satu sisi ia tak tahu apakah ia sudah benar-benar mencintai pria yang sedang tertawa bersama keponakannya itu ataukah hanya sekedar perasaan yang singgah karena mereka sudah menyatu.


Karin tahu memikirkannya hanya membuatnya merasa lelah. Langkah kakinya menuntun ke bagian belakang rumah yang terlihat kepulan asap menyembul dari balik atap genteng. Tante Rosa sedang merebus air untuk keperluan minum sehari-hari. Tangan keriput itu dengan telaten memasukkan batang-batang kayu bakar agar api tetap menyala.


"Tante nggak menjual ke sekolah?" Tanya Karin


"Udah nggak Rin, kemarin Rama sudah melarang Tante menjual, cuma di suruh fokus saja merawat Naira biar nggak kesana-kemari di momong orang." Jawab Tante Rosa


"Oh, Tante nggak ke pasar?"


"Kamu aja ya sama Rama, nanti Tante mau ke rumah tetangga yang ada hajatan di lorong sebelah." Tawar Tante Rosa


"Iya terserah kamu aja. Beli kebutuhan dapur aja seperlunya, lagian masih banyak stok bumbu di rak."


"Iya."


****


"Mas pulang yuk, aku kangen mami." Kata Karin siang itu saat mereka tengah duduk-duduk santai di teras depan sepulang Rama dari kebun.


"Minggu depan, mas ada panggilan di kantor sekalian mau ketemu trio bengek bahas soal teror yang kalian dapat."jawab Rama cepat.


"Nggak usah bahas itu dulu kenapa sih di depan aku. Meskipun kejadian itu sudah 10 hari berlalu tapi kalau aku ingat jadi takut mas." Sahut Karin sedikit kesal.


"Ya maaf, biar masalah ini mas yang selesaikan saja." Kata Rama merasa bersalah.

__ADS_1


Bukan tak mengerti dengan apa yang di rasakan Karin, Rama memang benar-benar lupa untuk tidak membahas hal itu di depan Karin. Hingga hari ini diam-diam ia bersama Agam dan ketiga trio bengek memang sedang menyelidiki pelaku teror itu. Semakin kesini ia juga semakin curiga dengan sepupunya yang memang sedang menjadi buronan polisi meksipun itu hanya kemungkinan kecil.


Karin beringsut mundur dan melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan kesal karena Rama hanya diam melamun saja setelah obrolan mereka tadi.


"Sebel banget sih, udah di bilang jangan bahas itu malah di bahas mulu." Umpat Karin kesal bukan main, satu tangannya sibuk memukul bantal yang tak bersalah.


"Udah pulang Ram, Karin mana?" Tanya Tante Rosa


"Di dalam lagi istirahat. Naira mana?" Tanya balik Rama


"Itu sama Aziz naik motornya pak RT. Ini Tante bawain buah jambu, kemarin Karin bilang pengen makan jambu klutuk." Kata Tante Rosa menyerahkan sekantong jambu pada Rama.


"Karin minta ke Tante?" Tanya Rama menatap wanita paruh baya itu.


"Iya kemarin bilang katanya pengen makan jambu klutuk yang jenis jambu kristal." Ucap Tante Rosa


"Kok nggak bilang ke aku sih, ya udah nanti aku kasih. Tante bawa apa itu?" Tanya Rama melihat kresek di tangan Tante Rosa


"Ini berkat, ayo masuk makan."


***


"Mulai hari ini stop jangan kirim buket bunga di kampus apalagi sampai kamu kirim paket tikus busuk sama teman-teman Karin. Mereka nggak tahu apa-apa. Kenapa sih kamu harus lakukan hal di luar rencana huh?"gertak Satria pada Nurul yang menunduk sejak tadi.


"Jawab b*****h." Gertaknya sekali lagi.


"Karena gue nggak suka ada yang ngambil posisi gue." Jawab Nurul lantang


"Dasar bodoh." Umpat Satria.


"Ya gue emang bodoh, Lo nggak tahu apa yang gue rasain."

__ADS_1


"Bodo amat sama perasaan Lo. Dan Lo ingat satu hal, mulai hari ini gue berhenti mengusik Rama ataupun Karin. Gue cuma minta satu hal sama Lo, kalau sampai ada apa-apa sama mereka dan ibu gue karena Lo, bakal gue seret Lo sampai neraka Ingat itu. Mulai hari ini gue udah nggak mau berhubungan lagi sama Lo soal mereka. Anggap aja kita nggak pernah kenal. Percuma Lo pake jilbab kalau hati sama kelakuan Lo busuk." Ucap Satria panjang lebar. Kakinya melangkah lurus meninggalkan ruangan pengap itu dengan perasaan berbeda hari itu.


__ADS_2