Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 38


__ADS_3

Hari berganti tanpa terasa Karin sudah tinggal di rumah Arkan selama dua Minggu lama nya.


Selama itu pula mami tak pernah datang mengunjunginya meski sekedar menelpon menanyakan keadaannya. Hanya ketiga saudaranya saja yang bergantian datang setiap ada waktu luang mereka. 


Karin juga sudah akrab dengan Raisa bahkan kemanapun mereka pergi selalu bersama. Meski nampak senang mendapat sahabat baru, hati Karin tetaplah tidak tenang. 


Sejak terakhir kali mereka bertemu, Karin tak pernah lagi mendengar kabar dari Rama, nomor ponsel laki-laki itu juga sudah tidak aktif lagi. 


Pernah mencoba menghubungi Rama setelah mendengar jika Rama resign dari kampus, tapi tetap nihil. Bertanya pada mbak Uti juga tak tahu apapun.


Setelah Rama benar-benar pergi, Karin merasa hidupnya seolah sepi. Seperti ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. 


Seharusnya ia senang, karena ini yang ia inginkan sejak dulu kan? Seharusnya ia bahagia karena ia memang tidak mencintai Rama, seharusnya ia tak perlu bersedih setelah laki-laki itu benar-benar pergi dari hidupnya sesuai keinginannya selama ini. 


Hati tetaplah hati, Karin tak bisa membohongi hatinya jika ia benar-benar merasa kehilangan setelah dua Minggu lamanya tak ada sedikitpun kabar tentang Rama. Lalu bagaimana nasib pernikahan mereka? 


Karin mulai ragu, apakah Rama menggugat cerai? jika ia seharusnya sudah ada surat panggilan datang kerumah mami atau setidaknya ada kabar tentang Rama dari ketiga saudaranya.


Hujan sore ini memang deras, Karin menatap tetesan air hujan dengan perasaan hampa. Rasa bersalah itu mulai menggelayuti hatinya. 


Karin tak mampu menerka apa yang ia rasakan, hanya ada air mata atas rasa bersalah dan penyesalan yang mampu mengatakan semuanya. 


Segala kemungkinan berkelebat dalam benaknya bak pita kaset yang rusak. Rama benar-benar pergi meninggalkannya dengan sejuta penyesalan. 


Seandainya ia bisa sedikit menahan diri, seandainya ia bisa mendengar sedikit nasihat mami, seandainya saat itu ia tidak benar-benar meminta Rama pergi. Penyesalan ini tidak akan datang. 


Raisa menatap iba pada adik kekasihnya itu, sudah dua Minggu ini Karin berusaha bersikap seperti biasa meskipun setiap kali pulang kerumah hal yang sama selalu Raisa lihat. Karin menangis menatap keluar jendela. 


Berulang kali pun Raisa mencoba bertanya, Karin selalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja dan tak perlu mengkhawatirkannya apapun.


Raisa kembali ke kamar dan menghubungi Arkan.


"Dia nangis lagi mas, aku ngga tega, apa mami kamu nggak mau jenguk kesini? Lagian tiga hari lagi kan mbak Uti mau nikah, masa iya mami nggak mau nemuin Karin?" Tanya Raisa beruntun.


"Kami sudah bicara sama mami Sa, tapi mami tetap kukuh nggak mau lihat Karin sebelum Rama bisa kembali, sedangkan kita nggak tahu Rama perginya kemana, terakhir kali Rama cuma bilang ke mbak Uti kalau dia resign dari kampus dan pergi itu aja" jelas Arkan.


"Trus gimana mas? Lagian kalau Karin nggak datang ke acaranya mbak Uti, aku juga nggak mau datang, kasihan Karin, mental nya butuh dorongan mas bukan tekanan" kata Raisa mencoba memberi Arkan pengertian.


"Kamu benar Sa, nanti lah aku bicara lagi sama mami, semoga mami mau mengalah kali ini" ucap Arkan kemudian.


"Ya udah mas, aku tutup dulu, oh ya nanti aku minta bantuan teman aku di butik buat nyari keberadaan pak Rama, karena dia punya saudara yang ngajar di kampus tempat pak Rama juga"


"Oh ya? Ide bagus itu, aku tunggu kabar baiknya"


"Iya mas ,ya sudah aku tutup assalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsalam"


Raisa menghela nafas berat, setelah sambungan telepon benar-benar terputus, Raisa mencari kontak teman kerjanya di butik. 


___


"Ram, nanti habis Maghrib ada tahlilan di rumah pak Asman, kamu sama Agam bisa kan mewakili pakde?" Tanya pakde Karim sore itu saat Rama tengah duduk termenung di teras menikmati hujan yang mengguyur bumi sejak siang.


"Jam berapa? Lha pakde mau kemana?" Tanya Rama menoleh


"Tahlilan nya habis Maghrib, saya mau kerumah sakit umum, istrinya Ruly mau lahiran" jawab pakde Karim


"Lah mau berangkat sekarang pakde?" Tanya Rama lagi


"Iya ini nunggu jemputan mobilnya, tadi udah di pesankan mobilnya pak Rahmat sama Ruly" kata pakde Karim..


"Ya Allah pakde, kenapa repot sewa mobil? Wong mobilnya Agam aja ada nganggur juga, biar Agam yang sopirin ke sana, saya jaga rumah sekalian pergi tahlilan" ujar Rama 


"Wes kadong e le, wes lah nanti kalau mau pulang biar Agam yang jemput" ucap pakde merasa tidak enak dengan ucapan Rama.


"Oh ya udah kalau gitu, sekalian saya minta izin pakde, besok lusa saya mau pulang ke kota, ipar saya mau nikah, mungkin semingguan saya di sana" ucap Rama


"Loh kenapa ijin segala ram? Wong itu ya keluarga kamu, piye toh, trus Agam ikut nggak?" Tanya pakde 


"Nggak ikut, dia cuma nganter saya sampai terminal saja" jawab Rama


"Hehe insha Allah kalau dia mau, maklum atlet banyak job pakde" ucap Rama terkekeh sendiri


"Gitu ya" pakde manggut-manggut lalu pergi meninggalkan Rama sendiri di teras 


Agam yang mendengar di balik pintu kamar hanya menepuk dahinya karena Rama selalu menutupi keadaan nya yang sebenarnya. 


Sudah dua setengah tahun sejak terakhir kali mereka berlibur kesini, saat itu ia dan Rama memamg baru saja wisuda S1 dan langsung melanjutkan jenjang S2 di kampus yang sama. 


Setelah wisuda pascasarjana tiga bulan lalu, Rama memang berniat istirahat sejak sebelum melanjutkan studi S3nya. Dan memang mereka sudah berencana untuk berlibur sejenak ke desa agar tidak terlalu stress dengan banyaknya tuntutan hidup di kota. 


Bukan tanpa alasan, saat mereka KKN S1 dulu, Rama dan Agam sepakat membeli sebidang tanah dengan luas dua hektar dari hasil tabungan mereka bekerja paruh waktu di perusahaan asing Eins Corp milik tuan Anderson blasteran Indonesia-Jerman. 


Tanah itu mereka jadikan sawah dan pakde Karim yang mengerjakan sawah mer.


eka. Dan hasil panenan akan di jual ke kota separuh dan sisanya akan di simpan untuk keperluan pakde Karim di rumah.


Agam melirik ke arah pintu dan melihat Rama tengah melamun, sebagai sahabat Agam tahu apa yang tengah di rasakan Rama. Mencintai dan bertepuk sebelah tangan memang menyakitkan. 


Berulang kali Agam meminta Rama untuk pulang saja dan berusaha meluluhkan hati Karin. Tapi Rama tetap kukuh dengan pendirian nya yang tak mau membuat hati Karin semakin tertekan jika Rama nekat mendekati nya lagi. 

__ADS_1


"Gue udah bilang, mending Lo pulang aja sono" cibir Rama. Laki-laki itu mendekat dan duduk di samping Rama.


"Ck, gue emang mau pulang tapi buat jenguk Naila sama Tante Rosa ponakan gue, meskipun nggak nemuin mereka secara langsung" Kata Rama.


"Haduhh, Lo payah amat sih ram? Kenapa harus sembunyi bego, terus terang aja, lagian Tante kamu udah nggak pernah ke rumah mertua kamu lagi kan? Mereka udah pindah kan ya" sahut Agam.


"Iya sih mereka udah pindah ke desa tempat Tante Rosa dulu, tapi tetap aja rasanya aneh kalau kesana trus nggak ada Karin, nanti Tante nanya gue bingung mau jawab apa gam" ucap Rama.


"Haduh, pek'ak amat sih, nggak malu Lo sama titel S2 di belakang nama Lo?" Cibir Agam.


"Ya gue musti gimana gam, gue nggak tegaan kalau lihat Karin nangis, ya udah gue ngalah aja daripada ribet" sungut Rama membela diri.


"Ya ampuuuun, tukeran nyawa mau nggak? Gue jadi Lo, Lo jadi gue" sentil Agam 


Plak


"Jangan mainin kodrat Lo" ucap Rama menepuk jidat Agam 


"Lagian Lo itu susah amat sih nyari alasan doang, bilang kek kalau Karin sibuk kuliah apalagi ini mau semester, kan pas kalau Lo ngomong gitu" kata Agam


"Iya juga sih, Lo bener gam, tapi kalau ternyata Tante pergi ke acara ipar gue gimana?" Ucap Rama bingung


"Ada kapak ajaib nggak?" Tanya Agam nyeleneh


"Buat apa?" Tanya Rama


"Buat mencahin kepala Lo yang dangkal itu, urusan bisnis otak Lo encer, tapi urusan perempuan keok Lo" ejek Agam


"Ck, Lo ngasih solusi yang bener gam" sahut Rama


"Lagian tinggal putar haluan apa susahnya sih? Kalau emang Tante Rosa nggak di rumah dan pergi ke acara ipar Lo ya nggak usah nyusulin kesana kali, Lo tinggal pulang aja kesini, apa susahnya sih?" Kata Agam kesal.


"Huh, entahlah di lihat aja nanti" putus Rama merasa frustasi


"Eh, tuh cewek mening kayak baru gue lihat di sini, kayaknya orang baru tuh" ucap Agam melihat seorang gadis berhijab  berjalan di  tengah hujan dengan mengayuh sepeda mini.


"Kayak mata Lo sehat aja, urusan cewek lancar amat otak Lo" cibir Rama gantian


"Ck diem Lo, lagian Lo juga belajar dari gue" sahut Agam


"Sok bangga??" Sentil Rama. 


"Mbak, mbak singgah dulu, di cariin pak Agam" teriak Rama kepada gadis berhijab itu.


Rama langsung lari masuk ke dalam rumah karena Agam siap melemparnya dengan sepatu boots milik pakde yang tergeletak di samping mereka duduk tadi.

__ADS_1


"Bocah sialan" sungut Agam.


__ADS_2