Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 47


__ADS_3

Setelah pernyataan cinta Rama malam tadi, pagi ini Karin bangun dengan perasaan bahagia. Entah kenapa, meskipun di sudut hatinya ia belum benar-benar mencintai Rama tapi rasa nyaman dan perhatian yang Rama berikan mampu membuat Karin merasa sangat beruntung. Mungkinkah ia sudah jatuh dalam pesona Rama yang notabene pernah ia labeli dengan sebutan jadul?


Nasi jatah rumah sakit yang baru di antar perawat, tetap tak mengubah nafsu makannya. Setelah tiga hari lamanya ia tertidur, saat bangun merasakan lapar yang luar biasa.


Beberapa saat lalu Rama pamit pulang sebentar ke kontrakan lamanya untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal. Esok jika dokter sudah mengizinkan pulang, Karin akan pulang sementara ke rumah Arkan bersama Rama. Itupun karena permintaan Karin sendiri, meskipun Rama kurang setuju.


"Nona Karin, dokter akan visit sebentar lagi, apa ada pihak keluarga yang menjaga ibu?" Tanya suster


"Suami saya pulang sebentar ke rumah sus, apa mau visit sekarang?" Tanya Karin


"Iya nona"


"Oh ya udah, nggak papa" kata Karin menyudahi sesi makannya.


Tak lama setelah perawat keluar ruangan, mami datang bersama mbak Aisyah. Karin bisa bernafas lega. 


"Mi, telpon pak Rama suruh cepat kesini mi" bisik Karin pada mami yang baru saja datang.


"Kok?" Tanya mami heran


"Aku kok gidik sama dokter yang kemarin  meriksa" ucap Karin


"Oh dokter Hans maksud kamu?" Tanya mami memastikan


"Nggak tahu namanya mi, yang jelas bukan dokter yang bule" ucap Karin.


"Ya udah mami telpon, tapi kamu tenang aja kalau dokter itu yang meriksa kamu lagi, biar mami yang ngomong" ucap mami menenangkan anaknya.


"Emang dokter itu ngapain kamu Rin?" Tanya mbak Aisyah


"Ck, gidik aja aku mbak"jawab Karin 


"Geli maksudnya?" Tanya Aisyah lagi


"Kayak begitulah, kayak kalau lihat sesuatu jijik gitu," ucap Karin berusaha menjelaskan dengan bahasanya yang dia sendiri tak bisa mengartikan. Mbak Aisyah mengangguk mengerti.


"Mi aku mau jenguk Raisa ya," ucap Aisyah pamit


"Raisa? Siapa?"tanya mami


"Temennya Karin yang kecelakaan juga mi, cuma dia luka-luka dan  katanya hari ini udah bisa pulang" jawab Aisyah sengaja memberi kode pada Karin tentang siapa sosok Raisa

__ADS_1


"Jadi kamu kecelakaan nggak sendirian Rin? Sama temen kuliah kamu?" Tanya mami meminta penjelasan


"Iya mi. kebetulan dia juga kerja paruh waktu, pas kecelakaan itu kami bareng pulang jalan-jalan pagi." Ucap Karin 


"Astaghfirullah kok nggak ngomong?" Tanya mami 


"Orang aku juga baru nyadar mi, gimana sih" tukas Karin


"Iya sih, ya udah kamu kesana dulu ai, nanti mami nyusul kalau Rama udah balik lagi" ucap mami. Aisyah tersenyum lalu keluar ruangan dan bertemu dokter Hans yang hendak visit ke ruangan Karin


Aisyah tahu siapa dokter Hans meski tak terlalu mengenal dekat. Aisyah hanya tersenyum simpul dan berlalu.


Beberapa langkah kemudian Aisyah menoleh kembali ke ruangan Karin. "Ya Allah lindungilah keluarga ku semoga saja tidak terjadi apapun dengan Karin. Ah ya aku harus menelpon Rama" batin Aisyah


"Apa yang di rasakan sekarang nona Karin?" Tanya dokter Hans dengan tatapan intens ke arah Karin.


"Nggak ngerasain apa-apa dok, justru saya bahagia pengen cepat pulang, kasihan suami saya sampai bolos kerja" jawab Karin tanpa ba-bi-bu. Meski di balik selimutnya ia memegang erat tangan mami saking gemetar.


Dokter Hans tersenyum kecut tanpa di sadari siapapun mendengar jawaban Karin. 


"Apa nona sudah mau pulang? Bukankah pelayanan di rumah sakit ini sudah lebih baik dan ini juga ruangan VVIP" kata dokter Hans


"Senyaman-nyamannya rumah sakit, lebih nyaman rumah saya pak dokter" sahut Karin. Beruntung semalam Rama sudah memberitahu nya tentang dokter Hans meskipun Karin sendiri merasa tak percaya.


"Maaf dok, jadi kapan anak saya bisa pulang? Kalau bisa secepatnya hari ini juga anak saya pulang" tanya mami 


"O…e…iya kalau memang sudah tidak merasakan sakit lagi, boleh pulang kok. Tapi tetap rajin kontrol ya, karena sepertinya nona Karin mengalami hilang ingatan semi permanen" ucap dokter Hans berkelit.


"Saya nggak hilang ingatan, saya memang pernah kecelakaan dan lupa sebagian memori, tapi berkat kecelakaan kemarin saya sudah ingat semuanya dan sekarang saya merasa sudah sembuh total. jadi tidak perlu kontrol." Sahut Karin sedikit kesal.


"Oh ya …ya udah saya resepkan obat kalau begitu" kata dokter Hans merasa kesal karena sulit mendapatkan kesempatan untuk bertemu Karin lagi.


"Nggak perlu karena saya lebih suka minuman herbal buatan suami saya daripada obat kimia" sahut Karin lagi.


Dokter Hans akhirnya terdiam kaku karena kehabisan kata-kata. Benar-benar wanita satu ini membuatnya kesal. Andai tak ada orang tua pasien sudah pasti ia akan melahap Karin. Bagaimanapun cara wanita itu menolaknya. 


Dokter Hans akhirnya memilih diam dan pergi setelah memberikan izin pulang untuk Karin. Dalam hatinya bersungut-sungut tak karuan.


Mami dan Karin akhirnya bernafas lega setelah dokter Hans akhirnya keluar. 


Pukul tiga sore, Karin pulang bersama Rama dan mami. Meskipun menurut dokter Fritz belum bisa untuk pulang, tapi mami tetap memaksa. 

__ADS_1


"Bapak kenal dokter yang bule itu?" Tanya Karin


"Kenal, kenapa?" Tanya Rama balik


"Darimana kenal?" Karin bertanya penasaran 


"Dia keponakan bos di kantor" jawab Rama sembari memasukkan keperluan Karin di dalam tas.


"Owh, darimana bapak tahu soal dokter Hans yang gosipnya pedofil?" Tanya Karin


"Dari dokter Fritz. semalam waktu kamu tidur, aku sengaja menemui dokter Fritz. karena pernah ada kasus yang beredar di kantor beberapa tahun lalu kalau salah satu anak dari karyawan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan saat berobat ke rumah sakit ini." Jelas Rama


"Oh gitu, makanya bapak ekstra jagain aku dan nggak masuk kerja gara-gara itu?" Tanya Karin mengerti


"Tanggung jawab sayang, siapa bilang aku nggak kerja. Waktu kamu masih koma bang Ardi sama bang Arkan yang jagain kamu dan mereka yang bolos kerja. Untung bosnya teman baik aku" ucap Rama tersenyum membuat Karin langsung menatap nya horor.


"Jadi bapak ngorbanin bang Ardi sama bang Arkan bolos kerja dan di potong gajinya demi kerjaan bapak?" Tanya Karin menatap kesal


"Siapa yang bilang? Mereka sendiri yang minta, kita gantian bolos kerja demi kamu." Balas Rama menatap Karin dengan wajah masam


"Owh ..hehehe maaf demi aku gaji kalian di potong" ucap Karin merasa bersalah.


"Udah siap belum? Ayo pulang" bang Ardi muncul di balik pintu. 


"Udah bang, ayo" jawab Rama.


Ardi menenteng tas berisi pakaian Karin sedangkan Rama menggendong Karin turun dari brankar dan menuntunnya berjalan hingga parkiran. 


"Mami mana?" Tanya Karin melihat mami tidak ada di mobil.


"Jadi hakim agung" jawab Ardi.


Rama hanya terkekeh, pasalnya tadi mami pamit ke ruang perawatan Raisa menyusul Aisyah. Bisa jadi ada Arkan di sana dan langsung menceramahi anak laki-lakinya itu. 


"Ngomong yang bener bang" ucap Karin.


"Bener Rin. jadi hakim agung. Kalau mau tahu siapa tersangka nya nanti di rumah, palingan mami sudah pulang kerumahnya Arkan" kata Rama


Karin memutar bola mata jengah. Kini ia tahu apa maksud bang Ardi. Dalam hati Karin tertawa karena selama ini berhasil menyembunyikan statusnya dari mami sebagai calon suami Raisa.


"Biar kapok tuh duda perjaka hahahaha" seloroh Karin tertawa pelan

__ADS_1


"Jangan gitu, doakan saja kalau mami nggak bakalan ngusir Arkan kayak ngusir kamu" sahut Ardi menepuk dahi adik bungsunya. 


__ADS_2