Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 39


__ADS_3

Teriknya panas matahari yang sudah mulai meninggi tidak membuat Karin merasa lelah. 


Saat weekend seperti ini, ia biasa pergi jogging bersama mami sejak selesai sholat subuh dan saat pulang berhenti di warung bubur ayam langganan untuk sarapan.


Namun kali ini tidak ada kehadiran mami membuatnya sedikit merasa sepi. Mami benar-benar marah besar kepadanya, bahkan sekedar menjenguknya saja mami tak mau, terlebih lagi hari ini mbak Uti sudah resmi di persunting mas Tomi, tentara yang juga seorang duda tanpa anak yang di tinggal mati oleh istri dan calon anak mereka.


Karin menatap hamparan rumput di taman yang tak terlalu luas itu. Ingin sekali ia menjerit sekeras mungkin agar hatinya bisa tenang. Kemarahan mami sudah membuat separuh jiwanya hilang belum pernah lagi Rama yang tanpa kabar hingga kini. 


Dari kejauhan, Raisa nampak menghirup nafas banyak-banyak, perasaan nya bimbang, ingin sekali membawa Karin pulang sekedar menghadiri pernikahan mbak Uti. Tapi Karin tetap lah Karin yang teguh pendirian meskipun itu merugikan dirinya sendiri.


Raisa berjalan dengan langkah maju mundur. Semalam ia sudah mengatakan pada Karin akan hadir di pernikahan mbak Uti sendirian jika memang Karin tetap tak mau datang.


Tiga hari yang lalu, bang Ardi, Arkan, dan mbak Uti sudah datang kerumah meminta Karin untuk pulang meskipun harus menghadapi wajah murung mami. Tapi Karin tetap kukuh tak akan datang sampai kabar tentang Rama ia ketahui.


"Maaf kan saya pak, sudah berbuat tidak baik pada bapak hingga mami marah dan tak mau menerima ku pulang, bapak dimana sekarang?" Batin Karin sedih. 


Berkali-kali ia mengusap sudut matanya yang berair. Kiasan amarahnya hari itu masih menari-nari di ingatan. Kesalahan fatal yang ia lakukan dalam hidupnya.


Sebuah tepukan di pundak Karin membuyarkan lamunan nya. Karin menoleh dan langsung memeluk Raisa dengan isakan memilukan.


"Aku nggak kuat mbak". Ucap Karin di sela Isak tangisnya


Raisa ikut menangis memeluk Karin. Ia tahu apa yang Karin rasakan saat ini. 


"Allah swt bersama kita mbak, mbak harus kuat" ucap Raisa mengusap punggung Karin.


Di kediaman Bu Maryam sesi ijab qobul sedang berlangsung. Bu Maryam menemani Uti dengan perasaan gugup teringat orang tua Uti yang sudah tiada sejak Uti masih kecil. 


Arkan duduk dengan gelisah di dalam kamar. Ia memang sengaja masuk ke kamar setelah menerima tamu dari pihak mempelai pria. 


Berkali-kali ia menghubungi Raisa untuk mendengar keputusan Karin tapi tidak terjawab. Arkan gelisah bukan main. Pasalnya semalam ia sudah meminta Raisa untuk membujuk Karin agar mau pulang kerumah. 


"Saya terima nikah dan kawinnya Mutia Najwa Latif binti Abdul Latif dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" 


Suara ijab qobul terdengar dari ruang depan. Arkan semakin merasa gelisah tak menentu. 


"Ayo dong Raisa… angkat telponnya" gumam Arkan sembari mondar-mandir di dalam kamar


Kini mbak Uti sudah resmi menyandang status sebagai seorang istri. Tomy Rayhan Setiawan resmi seorang abdi negara mempersunting Uti yang tidak lain adalah teman sekelasnya dari SMP hingga SMA. 


Mereke bertemu di usia yang sudah sama-sama matang dengan latar belakang pernikahan yang sama-sama pernah di tinggalkan. 


Bu Maryam menangis haru memeluk Uti dan juga Tomy bergantian. Kini usai sudah tanggung jawab yang ia pikul selama ini. 

__ADS_1


Membesarkan Uti seorang diri sejak ia masih berstatus seorang siswi SMA, hidup dengan ala kadarnya, menikah dalam keadaan sama-sama tidak memiliki apapun dan nekat kuliah demi cita-cita hingga selesai. 


Bu Maryam benar-benar merasa lega bisa melepaskan Uti kepada laki-laki yang tepat demi janjinya pada almarhum kedua orang tua Uti. 


"Maafin mami ya banyak salah ke kamu, mami nggak akan pernah bisa gantikan posisi orang tua kamu nak, mami sudah melaksanakan wasiat terakhir bapak dan ibu mu, jadi istri yang berbakti dengan suami, dukung pekerjaan suami dan jangan lelah belajar jadi ibu yang baik untuk anak-anak mu nanti, doa mami menyertai kalian" ucap mami terbata pada kedua mempelai


Bu Maryam memeluk Uti dan Tomy dalam dekapannya. Orang tua Tomi dan keluarganya menatap haru pada mereka. 


—-


"Pak, di depan ada apa ya?" Tanya Rama pada sopir bus.


"Ada kecelakaan kayaknya mas, saya cek dulu ya, ini lumayan panjang juga antriannya" ucap sang sopir mengkode sang kernet untuk memastikan keadaan jalanan di depan mereka yang macet total


Rama duduk dengan gelisah, dua hari perjalanan dari desa tempat Tante Rosa menjenguk Naira dan hari ini ia berencana datang ke acara pesta pernikahan mbak Uti.


Tak berselang lama menunggu akhirnya sang kernet kembali dan mengatakan jika di depan ada kecelakaan maut antara mobil dan pengendara motor.


Rama sedikit gelisah, pasalnya lokasi kecelakaan tak jauh dari kompleks perumahan mertuanya. Hatinya bertambah gelisah melihat sebuah mobil ambulans melewati jejeran mobil yang tengah macet. 


Sekilas netra Rama mengapa seorang korban dari kaca mobil ambulans. Rama seolah mengenali baju yang di kenakan oleh korban. 


"Ah semoga saja bukan" batin Rama mengingat baju yang pernah di kenakan Karin. 


Perlahan kemacetan sudah bisa teratasi, mobil bus yang di tumpangi Rama akhirnya melaju ke halte tujuan. 


Ia tak lagi memikirkan apapun yang akan terjadi nanti, bagaimanapun caranya rumah tangganya harus di selamatkan. 


Agam sudah menasihati nya panjang lebar agar tak terlalu gegabah mengambil keputusan dan berusaha merebut hati Karin meski harus berperang melawan arus. 


Sampai di depan rumah mertua, Rama tercengang karena suasana rumah nampak sepi, hanya ada dua orang ibu-ibu dan seorang pria paruh baya sedang membersihkan halaman rumah.


"Assalamualaikum, permisi pak Bu, acaranya apa sudah selesai?" Tanya Rama ramah 


"Acaranya ijab qobul sudah selesai dari pagi pak, sekarang keluarga besar pengantin pergi ke hotel tempat resepsi, apa bapak nggak dapat undangan?" Tanya seorang wanita paruh baya


"Saya datang dari jauh pak, sudah beberapa kali saya hubungi tapi tidak di angkat" jawab Rama memberi alasan.


"Oh apa mas ini keluarga nya?" Tanya ibu itu hati-hati


"Saya suaminya Karin Bu, kebetulan baru pulang tugas dari luar kota" jawab Rama 


Ibu itu terperangah, dua orang yang sedang membersihkan rumput dan membakar sampah juga terkejut.

__ADS_1


"Astaghfirullah, pantas tadi mas Ardi pesan ke saya kalau ada yang nyariin langsung ke hotel saja, tunggu ya mas saya ambil alamat tadi sempat di tulis di kertas kok" jawab ibu itu.


Setelah seseibu tadi masuk ke dalam rumah, seorang bapak menghampiri Rama dan melihat wajah Rama dengan seksama. 


"Kamu Rama?" Tanya pria tua itu 


"Eh? Bapak kenal saya?" Tanya Rama terkejut


"Benar kamu Rama anaknya pak Syakur?" Tanya pria itu lagi


"I..iya bapak kenal orang tua saya?" Tanya Rama lagi


"Nggak salah lagi, kamu benar menantu ibu Maryam?" Tanya bapak itu lagi


"Benar pak, saya suaminya Karin"


"Apa benar kamu dosen di kampus xxx?" Tanya bapak itu lagi


"Iya pak benar, bapak siapa ya kok saya seperti narapidana di tanyain terus" tanya Rama merasa sedikit risih


"Maaf saya banyak nanya mas, hanya memastikan saja. nanti kalau ada waktu singgah ke alamat ini" ucap bapak itu memberikan secarik kertas berisi alamat sebuah rumah. 


"Oh, ini rumah bapak ya, nanti ada waktu libur saya datang kerumah bapak insha Allah, kalau panjang umur" ucap Rama ramah menerima kertas itu dan menyimpannya di dalam tas ransel.


Ibu tadi keluar rumah rumah membawa secarik kertas dan memberikan pada Rama. 


"Hotel Pinisi" gumam Rama membaca alamat tertera di kertas


"Terimakasih Bu, saya langsung kesana saja" ucap Rama pamitan setelah menerima kertas tadi. 


Sementara itu di lobi hotel, Ardi dan Arkan gelisah karena Raisa dan Karin sama sekali tidak menjawab panggilan mereka. Sementara Rama ponselnya tidak aktif sejak kemarin. 


Satu Minggu lalu mereka mencoba menghubungi Rama melalui pesan singkat saat tengah malam dan mengabarkan tentang pernikahan mbak Uti. 


"Gimana ini mas, biar saya aja yang nyusul mereka ke rumah, mas yang ke panggung deh, kasian mami" ucap Arkan memutuskan untuk pergi meninggalkan hotel. 


Tanpa mereka semua sadari, Raisa dan Karin tidak membawa ponsel mereka masing-masing dan masih tersimpan di dalam rumah. 


Sampai di parkiran hotel Arkan tak menyadari jika mobil yang ia kendarai berpapasan dengan Rama yang juga baru datang dan turun dari mobil taxi.


Entah takdir apa lagi yang terjadi pada mereka. 


Siapakah si bapak Tua yang bertugas membersihkan rumah Bu Maryam? 

__ADS_1


Apa yang terjadi dengan Raisa dan Karin karena mereka tak membawa ponsel? 


Apa yang terjadi di hotel saat Rama tiba di sana?


__ADS_2