Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 51


__ADS_3

Setelah usul Agam satu minggu lalu yang mengajari nya bagaimana harus menaklukkan Karin, kini Rama sudah mulai berani dan membuka diri di depan Karin secara terang-terangan.


Seperti pagi ini, Rama sengaja mengulur waktu untuk mandi dan sarapan agar bisa berlama-lama di kamar melihat Karin yang sepertinya sudah mulai uring-uringan karena salah tingkah.


Beberapa menit lalu Rama meminta Karin untuk menyiapkan pakaian kantor nya juga perlengkapan mandi yang sudah habis. Mini market dekat rumah belum ada yang buka sepagi itu Alhasil Karin kebingungan mencari keperluan mandi Rama di warung kanan kiri rumah mami.


Hingga pukul 7.30 Karin baru kembali setelah berkeliling hingga ke pasar induk untuk mencari keperluan mandi Rama juga membelikan pakaian kerja yang baru untuk suami dosennya.


Ada rasa kasihan di sudut hati Rama melihat Karin kelabakan karena permintaannya. Tapi sekali lagi ia ingat tujuannya. Ia ingin suatu hari nanti Karin bisa terbiasa mengurus dirinya dan keluarganya kecil mereka.


Dan alasan mengapa Rama berani, karena ia sudah mengantongi izin dari mami. Meskipun ia ingat betul bagaimana perjanjian pernikahan yang pernah mereka buat. Tapi kini Rama lebih memilih masa bodoh dengan semua itu karena baginya pernikahan ini hanya sekali seumur hidupnya.


"Bener-bener ngeselin, kenapa harus dia sih jadi suami gue." Gerutu Karin setelah Rama masuk ke kamar mandi.


Mulutnya komat-kamit tak karuan karena ibadah paginya terganggu karena ulah Rama yang memintanya untuk membeli keperluan mandi. Belum lagi mami yang ngoceh sana sini buat nyiapin sarapan pagi untuk Rama.


"Kenapa kamu ngomel mulu sih Rin?." Tanya mbak Uti yang juga baru masuk ke dapur setelah mengantar suaminya berangkat kerja di depan gerbang.


Karin tidak menanggapi, hanya mencebik saja sambil menata piring di atas meja makan.


"Melayani suami itu kudu ikhlas Rin, jangan mencucu gitu bibirnya, nanti monyong loh." Ledek mbak Uti yang mengerti kekesalan adiknya.


"Kalau nggak ngerti mending diam." Timpal Karin kesal.


"Woo, gue laporin mami Lo. Biar di usir lagi, mau?." Ancam mbak Uti.


"Ck, udah sana pergi. Ganggu aja." Usir Karin kesal bukan main.


Mbak Uti berlalu meninggalkan Karin dengan senyum mengejek. Karin yang sudah terlanjur kesal semakin di buat murka saat Rama datang ke dapur dan mencium pucuk kepalanya.


"Makasih." Ucap Rama lalu duduk di kursi.


Karin langsung berlalu ke kamar dengan perasaan nano-nano. Bahkan nasi goreng miliknya yang masih ada di atas wajan ia abaikan begitu saja meskipun perut terasa lapar.


Kamar dengan nuansa abu-abu kombinasi pink itu terasa berbeda saat ia masuk. Tempat tidur yang belum sempat ia bersihkan kini sudah rapi, rak buku yang semalam amburadul sudah tertata kembali dan pakaian kotor di keranjang sudah tidak bersisa.


Karin terhenyak sejenak dengan tatapan heran. Beberapa menit kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi dan mendapati bak mandinya sudah terisi kembali dengan air bersih juga peralatan mandi tertata rapi di tempatnya. Aroma terapi yang Rama pesan tadi rupanya untuk di pasang di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Karin tersenyum tipis dan kembali ke meja belajarnya untuk melihat jadwal mata kuliahnya hari ini.


"Masuk jam sepuluh, pulang jam dua." Gumamnya sembari melihat ke arah jarum jam di dinding kamar.


"Oke masih punya waktu satu setengah jam otewe." Gumamnya lagi.


"Rin." Panggil Rama masuk ke dalam kamar.


"Kenapa pak, ada yang kurang menu sarapannya?." Tanya Karin tanpa menoleh.


Tak ada jawaban apalagi sahutan, Karin memilih diam saja dan tidak menggubris lagi. Tangannya sibuk memasukkan buku catatan ke dalam tas dan beberapa keperluan kuliahnya.


Hingga perutnya terasa sesak karena kedua tangan Rama berada di sana. Rama memeluknya dari belakang dan menciumi rambutnya yang tergerai.


Karin berdiri mematung. Detak jantungnya langsung berlari tak tentu arah membuat aliran darahnya mengalir deras dan memberikan sensasi sedikit panas yang menjalar tiba-tiba.


"Pak." Ucap Karin tertahan.


"Gini aja dulu. Nggak usah bergerak." Kata Rama membuat jantung Karin semakin tidak terkendali.


"Pak ini salah." Ucap Karin berusaha menutupi kegugupannya.


"Pak plis ingat perjanjian kita." Ucap Karin berusaha mengingatkan Rama temtang perjanjian rahasia mereka.


"Persetan dengan itu." Balas Rama


"Tapi nggak gini juga pak, saya nggak bisa bernafas." Ucap Karin melepas pelukan Rama


Rama menyadari kekeliruannya dan langsung melonggarkan pelukan di tubuh kecil Karin.


"Maaf." Ucap Rama mencium kepala Karin sementara satu tangannya meraih tas kerjanya di atas ranjang.


Rama langsung berlalu setelahnya tanpa peduli dengan Karin yang kebingungan menenangkan detak jantung nya yang senam dadakan.


"Sial." Batin Karin kesal.


Karin terduduk di atas king size dengan tangan memegang kedua wajahnya yang tiba-tiba bersemu merah.

__ADS_1


Antara hati dan logika berperang. Meski ada debar tenang ia rasakan, tapi logikanya berusaha untuk melawan dan tetap mengingat bahwa itu sebuah kesalahan atas perjanjian rahasia yang pernah mereka buat.


Karin berdiri dan melangkahkan ke kamar mandi dengan perasaan tak menentu.


"Gimana?." Tanya Agam begitu tiba di kantor.


"Apanya yang gimana?." Tanya balik Rama


"Ck, gimana resep gue udah berhasil belum?."tanya Agam terkekeh


"Karin benar-benar susah di taklukin. Resep Lo kurang ngena, tapi biarlah seiring waktu biar Tuhan yang membuka hatinya, setidaknya gue udah berusaha. Bukan begitu?." Tanya Rama


"Hahahhaaaaa anjir Lo beneran lakuin itu semua. Busyet dah semoga berhasil bro. Ingat kalau Lo berhasil bawa istri Lo di perayaan anniversary perusahaan, gue yakin Lo bakalan dapat bonus dari bos hahaha." Seloroh Agam menertawakan Rama.


"Sa aja Lo, oh ya ngomong-ngomong gue minta tolong. Lo minta anak it masangin gps di motor Karin." Ucap Rama dengan wajah serius.


"Kenapa?." Tanya Agam heran karena tiba-tiba Rama meminta hal yang di luar perkiraan nya.


"Gue curiga, setiap kali Karin pulang kampus ada yang nyimpen bunga di motor nya tanpa nama." Ucap Rama.


"Ha? Kok bisa?." Tanya Agam kaget.


"Maka dari itu gue minta tolong sama Lo, kemarin udah hari ketiga Karin nemuin bunga di jok depan motor nya. Gue dapat laporan dari sepupu Lo si Abdul." Ucap Rama.


"Anak iseng kali." Ucap Agam


"Iseng nggak mungkin ngasih kata mutiara gitu gam." Ucap Rama.


"Masa sih?." Tanya Agam semakin heran.


"Oke nanti gue minta Abdul nyari pelakunya diam-diam. Biar Abdul aja yang masangin cctv nya. Dia udah ahli soal masangin alat pelacak." Usul Agam.


"Oke. Kita atur aja kapan Abdul dan teman Karin lainnya bisa gue undang ke rumah sama Lo juga pastinya." Usup Rama.


"Sip. Lo sendiri bisa ram kenapa harus nyuruh gue sih?." Tanya Agam


"Terlalu beresiko kalau gue, kan Lo sendiri yang ngajarin gue buat naklukin hatinya Karin. Gimana sih Lo?." Timpal Rama

__ADS_1


"Oh iya hehehe."


__ADS_2