
"Pak maaf ya saya sudah bicara yang tidak-tidak sama bapak" ucap Karin malam ini.
"Nda papa saya memaklumi, saya yang seharusnya meminta maaf sama kamu, karena sudah memaksa kamu menerima pernikahan yang tidak kamu inginkan" kata Rama menatap Karin yang masih menggunakan mukena lengkap.
"Saya memang tidak punya keinginan menikah muda pak, kalaupun menikah targetnya setelah saya sukses" balas karin sembari melipat sajadah.
"Tapi kenapa kamu bertahan sampai hari inii, kalau perempuan lain mungkin sudah sejak lama meninggalkan saya" ucap Rama.
"Jadi bapak mau kita berpisah? Begitu?" Tanya Karin menatap kesal pada Rama.
"Ahh…bu..bukan begitu maksudnya…" elak Rama
"ya udah kalau bapak mau kita pisah besok saya yang melapor ke pengadilan, kita pisah baik-baik, mumpung belum terlanjur" kata Karin cepat.
Rama menganga mendengar ucapan Karin yang tanpa filter. Benar-benar susah menghadapi gadis seperti Karin, bukan hanya cerdas tapi sikap manja dan semaunya sendiri itu memberikan kesan tersendiri pada Rama.
"Maksud saya bukan begitu Rin…" ucap Rama.
Sepertinya memilih diam dan mengalah lebih baik dari pada berdebat dengan pemikiran Karin yang sesuka hati. Baru mau ngomong sudah di serobot. Benar-benar membingungkan. Batin Rama.
"Kalau bukan begitu lalu apa?" Sahut Karin tanpa mendengar apa yang akan di ucapkan Rama
Rama menghembuskan nafas berat berkali-kali, lalu tersenyum.
"Rin, saya juga merasa bersalah sudah memaksa kamu menerima pernikahan ini, tapi tolong jangan ucapkan kata-kata keramat itu, saya tidak mau mendengar nya" ucap Rama menatap Karin tajam
"Trus maksudnya bapak tadi apa? Bedain saya dengan perempuan lain huh? Saya memang tidak menerima pernikahan ini, tapi bukan berarti saya mau mempermainkan janji bapak di hadapan Allah swt, itu sama saja saya nyakitin orang tua saya, juga orang tua bapak, papi saya sudah meninggal pak, saya nggak mu papi saya sedih di sana karena rumah tangga anaknya gagal. Cukup bang Arkan saja. Ngerti?" Ucap Karin panjang lebar dengan air mata mengalir.
Rama sungguh tak menyangka Karin berucap panjang lebar meski dalam keadaan marah dan menahan tangis.
Karin keluar kamar dan masuk ke kamar Uti dengan tangisan tergugu.
Rama terduduk di sofa memandang lantai keramik yang berwarna putih itu dengan tatapan nanar dan perasaan campur aduk.
Baru beberapa jam saja mereka akur setelah pulang dari kantor polisi, sekarang harus bertengkar lagi dan mendengar ucapan Karin yang ngalor-ngidul tak karuan.
Matanya menelisik setiap sudut kamar. Ranjang tempat Karin terbaring saat ia mengucap ijab qobul dua bulan lalu, kamar yang jadi saksi bisu ia memandang wajah Karin saat tertidur lelap.
Rama kini percaya jika ia benar-benar sudah jatuh cinta pada Karin meski dalam waktu sesingkat ini. Tapi itu juga bukan hal yang mudah. Menaklukkan hati Karin butuh perjuangan ekstra lahir batin. Terlebih Karin adalah atlet bela diri.
Meski ia juga bisa beladiri, tapi kemampuan nya tidak seperti Karin yang sudah menyamai master.
Rama memilih keluar kamar dan membawa baju ganti yang ia perlukan ke kamar tamu di bawah.
Menghindar dan memberikan waktu untuk Karin seperti lebih baik, biarkan dia sendiri dulu hingga merasa tenang.
__ADS_1
Rama tidak merasa aneh saat berjalan menuruni anak tangga, hingga tiba di lantai bawah sebuah teguran ia dengar dari arah pintu pembatas ruang makan dan ruang keluarga.
"Kamu di usir Karin lagi?" Tanya Bu Maryam yang sibuk mengaduk adonan tepung.
"Iya mi, maaf kalau saya merepotkan anak mami" ucap Rama merasa bersalah
Bu Maryam tersenyum memandang sang menantu. Kakinya melangkah hingga di pembatas tangga lalu menoleh ke arah kamar Uti yang terbuka pintu nya.
"Karin kalau marah memang begitu, udah kamu naik lagi, jangan tidur di kamar tamu, masak mau tidur sama Tante kamu? Udah balik aja ke kamar, urusan Karin biar mami yang tanggung jawab, anak itu sesekali harus di jewer telinga nya" ucap mami meminta Rama kembali ke kamar.
"Tapi mi,...." Ucap Rama tertahan.
"Udah nurut aja, sok atuh balik lagi ke kamar" usir mami menatap horor ke arah Rama.
"Hehe..ya … ya udah…Rama ke atas mi, tapi …. Karin…" ucap Rama terbata dengan telunjuk mengarah ke kamar Uti.
"Udah sana, kalau Tante kamu tahu, emang kamu nggak malu?" Ucap mami
"He..I…iya deh" ucap Rama menuruti perintah mami.
Mami menatap kasihan pada Rama yang selalu mendapatkan perlakuan buruk dari sang anak. Baru berapa jam baikan udah heboh lagi si Karin.
Mami Kembali sibuk di dapur dengan dua orang asisten nya di toko yang ia panggil kerumah.
Ia pikir saat pulang dari kantor polisi Karin akan baik-baik saja atau bahkan mau berbuat lebih baik dengan Rama, nyatanya tidak. bahkan Karin tega mengusir Rama untuk tidur di kamar tamu seperti yang dilakukan selama ini.
"Mi…anak mami kenapa lagi itu di atas, haduh… tuh anak kesambet setan pasar atau gimana sih??" Gerutu Uti yang masuk ke dapur dengan muka awut-awutan
"Kenapa lagi? Yang penting Rama nggak di jadikan kepiting rebus aja, biarkan saja adikmu, kita nggak usah ikut campur" balas mami tanpa menoleh.
"Mami nggak malu sama besan?" Tanya Uti.
"Udah diem, maklumi aja, tahu sendiri adik mu kayak apa" tambah mami membuat tensi Uti tambah naik.
"Mami sama anak sama aja" ucap Uti kesal dan berlalu meninggalkan dapur.
"Mbak Narsih, ini masukin loyang ya, saya mau ke atas dulu" ucap Bu Maryam.
"Nggih Bu"
Bu Maryam naik keatas untuk melihat apa yang tengah Karin lakukan dengan Rama.
Beruntung kamar tamu kedap suara, jadi penghuninya tidak merasa terganggu.
"Ram, kenapa kamu masih di luar?" Tanya mami pada menantunya yang menenteng tas dan koper di depan pintu.
__ADS_1
"Mi, saya pamit pulang saja kerumah, Tante saya dan Aziz biar di sini dulu. Besok saya kembali lagi kalau Karin sudah tenang" ucap Rama menunduk
"Loh kenapa tiba-tiba Ram? Karin kenapa lagi?" Tanya Bu Maryam dengan perasaan bersalah
"Nggak apa-apa mi, saya memang yang salah sejak awal, jadi biarkan Karin memilih jalannya sendiri sampai benar-benar tenang" ucap Rama
Bu Maryam hanya menatap iba pada menantu nya, air matanya tak bisa ia tahan. Sikap Karin benar-benar keterlaluan. Entah kenapa anak itu semakin brutal sejak kecelakaan dua tahun lalu, sebentar marah sebentar baik, cepat tersinggung dan selalu marah tak jelas.
"Maafkan anak mami, pulang lah jika itu lebih baik, Karin biar jadi urusan mami, minta tolong Uti untuk simpan koper kamu di kamar Ardi untuk sementara." Ucap mami mengambil koper dari tangan Rama dan berjalan mendahului Rama.
Rama menatap nanar pada pintu kamar Karin. "Maafkan saya Rin, saya pergi seperti yang kamu mau, saya akan kembali jika kamu yang meminta saya kembali, terimakasih atas waktu singkat yang sudah kamu berikan, meskipun itu membuat kita sama-sama terluka, terutama kamu" batin Rama sedih.
Bu Maryam benar-benar menyimpan koper Rama di kamar Ardi, beruntung anak itu sudah pulang dari acara jalan-jalan. Dan mereka mengerti apa yang terjadi dengan rumah tangga adiknya. Ardi mengantar Rama pulang kerumahnya tanpa sepengetahuan Bu Rosa dan Aziz. Biar mami yang bertanggung jawab jika mereka bertanya.
Sampai di rumah, Rama membuka lemari dan mengambil beberapa potong pakaian yang akan ia bawa pergi beberapa waktu ke depan dan memasukkan ke dalam koper besar milik almarhumah adiknya.
Setelah semua siap, Rama menghubungi Agam untuk menjemput nya di rumah malam ini juga.
Rama memutuskan untuk pergi ditengah kemelut hati yang ia rasakan. Menyakiti seorang perempuan bukanlah keinginannya juga buka impiannya. Tapi semua sudah terjadi, Rama memilih menuruti keinginan Karin untuk pergi sejauh mungkin dari hidupnya.
Rama sadar sepenuhnya kalau ini memang salahnya, tapi saat itu ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa.
Rama mengambil sebuah kotak dan memasukkan ke dalam tas ranselnya, namun selembar foto berhasil membuatnya berhenti sejenak.
"Ini… ini foto Naila dan ini… bukannya ini Karin? Tapi pakai hijab" batin Rama memandang foto adiknya bersama seorang gadis berhijab putih membawa Alquran.
Rama membalik foto itu dan membaca sebuah note tertulis di sana.
"Anggi, my new friend"
Pesantren Daarul Qur'an, 21/12/19
"Namanya Anggi tapi kenapa mirip Karin?" Batin Rama bingung, lalu memasukkannya foto itu ke dalam kotak dan menyimpannya dalam tas.
Tak berselang lama, Agam datang karena jarak rumah mereka hanya berbeda kompleks saja.
Rama mengangkat koper dan mengunci kembali pintu dan memastikan semuanya aman.
"Lo serius?" Tanya Agam sebelum menyetir kendaraan
"Serius, Lo udah buatin apa yang gue minta kan?" Tanya Rama
"Udah" jawab Agam lesu.
Mobil itu melaju membelah jalanan yang nampak mulai sepi dari kendaraan lalu lalang karena hari sudah menjalani larut malam. Keduanya terdiam dengan pemikiran masing-masing.
__ADS_1