Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 65


__ADS_3

Mas aku takut, kenapa ada yang tega ngirimin paket begitu?" Kata Karin saat mereka tengah berdua di teras rumah. Tante Rosa pergi pengajian bersama Naira sedangkan Aziz sedang bekerja.


"Sudahlah, kamu tenang masalah ini biar mas yang selesaikan. Agam baru menghubungi semalam kalau ciri-ciri kurir perempuan yang mengantar paket ke Dani dan Miftah itu berjilbab, mereka sedang menyelidiki. Bisa jadi yang ngirimin paket ke kamu juga perempuan itu." Ujar Rama menenangkan Karin.


"Aku nggak habis pikir mas, kenapa di saat sekarang justru aku di teror. Selama sembilan belas tahun hidupku baik-baik saja nggak ada yang rumit dan semenakutkan ini." kata Karin putus asa.


Secangkir teh hangat dan ubi goreng tak lagi menarik di matanya. Hanya helaan nafasnya yang terasa berat berembus pelan. Rama yang menyadari hal itu langsung meraih Karin dalam pelukan tanpa peduli dengan tatapan orang yang tengah melintas di depan rumah.


"Sudahlah, badai pasti berlalu. Mas tahu kamu terguncang, tapi bukan itu yang membuat mas galau. Tapi bagaimana cara si peneror ini tahu kalau kamu ada disini." ucap Rama.


"Mas nggak ngerasain apa yang aku rasain, enak aja ngomong sudah." Sahut Karin dengan wajah cemberut. Rama hanya menarik nafas panjang dan tersenyum.


"Apa selama ini kamu punya musuh?" Tanya Rama


Karin melepas dekapan tangan Rama di pundaknya. Lalu menatap wajah pria tampan itu lekat-lekat.

__ADS_1


"Sepertinya nggak mas, kalau itu Jihan ya nggak mungkin, dia kan udah pindah ke luar negeri. Santi juga nggak mungkin, karena Santi nggak tahu aku disini, kita juga udah hilang kontak. Trio bengek juga udah lama nggak pernah kontak lagi sama Santi. Jadi nggak mungkin Santi atau Jihan." Jawab Karin.


"Aku juga mikirnya ke situ, mereka nggak mungkin ngelakuin hal itu. Kalaupun memang mereka masih punya dendam harusnya sejak dulu masalah ini nggak selesai. Tapi kan teror ini terjadi setelah masalah kalian selesai setahun lalu." Tambah Rama.


"Tapi yang namanya orang kita nggak tahu apa isi hati mereka pak Rama, bisa jadi benar salah satu dari mereka bisa jadi juga mustahil kalau mereka yang melakukan itu. Kalau firasat ku ini bukan orang lain, tapi orang yang selama ini dekat dengan saya." Ucap Karin menerka-nerka


"Apa kamu punya teman dekat selain trio bengek?" Tanya Rama


"Punya satu, yang waktu itu kita ketemu di mall sama ibu-ibu." Jawab Karin.


"Oh, Nurul maksud kamu?" Tanya Rama menebak.


Rama hanya menatap Karin sambil memutar bola mata jengah. Tangannya terulur mengusap kepala Karin yang tertutup jilbab.


"Saya sering ketemu jauh sebelum ketemu kamu, dulu bapaknya pernah satu kantor sama mas di pengadilan agama. Tapi sekarang pindah tugas. Dulu Nurul sering nungguin bapaknya di kantor kalau pulang sekolah. Kalau ibunya memang mas nggak pernah ketemu." Jelas Rama.

__ADS_1


"Oh pantesan aja waktu ketemu di mall mas biasa saja lihat Nurul, nggak ada rasa sungkan kek atau apa kek kalau ketemu orang baru." Sahut Karin.


"Emang mas harus teriak-teriak gitu? Ya nggak sopan. Udah ada istri cantik masa iya ketemu teman cewek istri harus banyak gaya." Kata Rama membuat Karin akhirnya tertawa lepas.


"Hahahaha."


"Malah ketawa, udah dingin tuh ubinya, cepat di makan. Abis ini ikut mas ke kebun. Kemarin katanya pak RT nawarin kebun ke Tante, hari ini kita lihat kebunnya sekalian jual beli kalau udah cocok." Kata Rama membuat Karin langsung melirik tajam ke arahnya.


"Kenapa?" Tanya Rama heran.


"Mas mau beli kebun?" Tanya Rama.


"Iya kalau kamu cocok dan mau, kita deal hari ini. Makanya mas ajak kamu kesana lihat-lihat dulu. Lokasinya strategis di depan jalan poros pas ada plang selamat datang." Terang Rama.


"Boleh lah, nanti kita aja Tante kesana."

__ADS_1


"Ngapain? Justru Tante yang nyariin kita tanah kebun itu dari pak RT, dan semalam nawarin ke mas katanya ada kebun mau dijual karena yang punya lahan lagi butuh uang." Terang Rama di sambut anggukan dari Karin.


"Sekarang aja lah, daripada aku penat di rumah kepikiran terus." Ajak Karin.


__ADS_2