
Karin sibuk memasukkan baju-baju miliknya dan Rama ke dalam koper. Rencananya ia akan ikut ke desa menjenguk Tante Rosa sekaligus ikut Rama ke luar kota untuk melakukan kunjungan proyek.
"Liburan sebulan lebih Rin, jadi sepi rumah kalau kamu pergi. Emang Rama ngajak kemana selain ke rumah Tante Rosa?" Tanya mami sembari melihat sang anak sibuk mengemasi barang bawaannya.
"Nggak tahu mi, aku mah ngikut aja. Mau di bawain oleh-oleh apa?" Tanya Karin
"Cucu."
Mendengar jawaban mami, Karin langsung melengos dan menatap mami tajam.
"Mami aja nikah lagi biar aku punya adek." Kata Karin membuat mami tertawa terbahak-bahak.
"Kalau mami nggak ingat umur dari dulu Rin, ngurusin kamu aja ribet boro-boro mau nikah lagi." Sahut mami
"Nikah juga nggak papa mi, dari dulu kan udah aku minta." Timpal Ardi yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamar.
"Hai abang gagah, mana oleh-oleh dari mertua?" Berondong Karin
"Di bawah, Lo mau pindah rumah Rin?" Ardi melihat dua koper besar di samping Karin.
"Bulan madu" kini mami yang menjawab
"Ck, nggak ada acara bulan maduan. Belum cukup umur." Sahut Karin
"Hillih." Sahut mami dan bang Ardi bersamaan.
"Dibilangin ngeyel." kata Karin
"Apaan ribut-ribut, aku ketinggalan berita kayaknya ini, ada yang mau bulan madu ya?" Suara cempreng mbak Uti menginterupsi mereka.
Karin memutar bola mata jengah, bibirnya mencebik tak karuan mendengar ucapan mbak Uti yang memojokkannya.
"Ciee akhirnya bulan madu." Goda mbak Uti menoleh pipi chubby Karin.
"Nggak usah sentuh-sentuh ah." Tolak Karin menepis tangan mbak Uti.
"Cieee jual mahal sekarang mi, mentang-mentang mau bulan madu ke Maldives in Java hahahaha" goda mbak Uti membuat Karin tersipu malu. Bang Ardi dan mami tertawa melihat tingkah Karin yang tersipu malu.
Menjelang tengah malam Rama baru pulang kerumah. Karin yang tengah tertidur sampai tak menyadari jika Rama pulang terlalu larut. Rama duduk di sofa dan memegang kepalanya yang masih terasa pening. Sore tadi sepulang kantor, ia dan Agam pergi ke acara ulang tahun pernikahan teman semasa SMA. Mereka pikir acara itu hanya acara ngobrol dan reuni biasa. Tapi rupanya ia dan Agam salah mengira. Justru acara itu di adakan di sebuah rumah mewah yang di sulap seperti diskotik.
Hendak berbalik arah mereka merasa tak enak karena tuan rumah rupanya sedang berada di luar pagar menyambut tamu pentingnya. Demi menjaga perasaan tuan rumah ia dan Agam akhirnya memilih masuk saja meksipun sedikit merasa risih saat bertemu dengan tamu undangan lain yang rupanya bukan teman alumni mereka.
Agam dan Rama merasa terjebak dan memilih menghargai tuan rumah. Di awal semua baik-baik saja bagi mereka. Ngobrol dan bercerita biasa saja dengan tamu undangan lain. Sampai saat seorang pramusaji menyajikan minuman di meja mereka.
__ADS_1
Mereka tak menyadari jika ada salah satu dari minuman itu yang di masukkan obat perangsang. Agam baru menyadari saat Rama tiba-tiba merasakan hawa panas di tubuhnya. Karena insting seorang teman itu kuat. Agam langsung membawa Rama keluar di antara kerumunan tamu lainnya. Ia tahu jika Rama pamit ke kamar mandi sudah dapat di pastikan akan berbelok arah.
Agam membawa mobil ke arah hotel terdekat dan reservasi satu kamar untuk Rama. Rama yang tak pernah bersentuhan dengan barang haram langsung menunjukkan reaksi berlebihan.
Berbekal pengalaman dari seorang teman wanita nya, Agam membawa Rama ke kamar mandi dan membiarkan Rama menyelesaikan sisanya. Agam menunggu di teras hotel sembari menikmati sebatang rokok dan menghubungi seseorang yang ia kenal untuk menyelidiki siapa yang sudah memasukkan barang haram itu ke minuman Rama.
Hingga hampir pukul sepuluh malam Rama belum juga menghubunginya. Agam naik dan melihat Rama tengah tertidur dengan pakaian tak beraturan di atas sofa. Barulah pukul dua belas malam Rama terbangun karena mendengar suara Agam berbicara keras dan memaki seseorang di telepon.
"Kita dimana Gam?"
"Bangun Lo akhirnya. Ayo pulang bini Lo nyariin tuh, kalau perlu malam ini lo jebol aja gawangnya." Ucap Agam mengajak Rama
"Kepalaku masih sakit Gam, ini rasanya masih panas." Kata Rama lirih sembari menggigit bibirnya. Tanpa ba-bi-bu Agam langsung menarik lengan Rama dan memaksa keluar hotel. Agam tak perduli lagi dengan tatapan tamu hotel yang masih berseliweran. Baginya menyelamatkan nasib sahabatnya jauh lebih penting.
Beruntung sampai di rumah, mereka berpapasan dengan bang Arkan yang baru saja pulang dari luar kota. Tanpa banyak bicara Agam langsung meng-kode bang Arkan dan membawa Rama masuk ke dalam kamar.
"Rama kenapa?" Tanya Arkan pada Agam yang hendak pulang.
"Besok aja mas Arkan, kalau besok adik dan iparnya mas nggak turun sampai jam makan siang baru telpon saya oke, saya pamit." Jawab Agam langsung masuk ke mobil dan tancap gas.
Arkan hanya terdiam tak mengerti tapi akhirnya ia memilih menutup pintu rumah dan beristirahat dengan tenang.
Rama melihat Karin tertidur pulas dengan selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya. Matanya tak berkedip sama sekali. Deru napasnya naik turun karena pengaruh obat tadi masih terasa. Di antara logika dan nafsu, Rama memukul keras kepalanya ke dinding kamar. Rasa panas itu masih saja menjalar di tubuhnya membuat ia tak kuasa menahan untuk lebih lama lagi.
"Pak." Tolak Karin halus.
"Plis, selamatkan saya. Janji ini yang pertama dan terakhir kalinya. Saya sudah tidak tahan." Ucap Rama lembut di telinga Karin membuat nya bergidik.
"Pak jangan, saya belum siap." Kata Karin menahan wajah Rama yang sudah bersiap menciumnya.
"Plis selamatkan saya kali ini, kamu istriku." Ucap Rama mengabaikan Karin yang menolaknya.
Seberapa kuat Karin mencoba menolak, tetap saja tenaga Rama tak bisa ia taklukan. Cumbuan Rama justru membuat desiran aneh di tubuhnya dan seiring perlakuan lembut Rama akhirnya malam itu menjadi malam bersejarah untuk mereka berdua.
Hingga menjelang pagi aktivitas mereka baru selesai. Rama benar-benar membuatnya tak berdaya berkali-kali. Karin akhirnya tertidur lelap setelah aktivitas mereka berakhir. Rama tersenyum samar sembari mendekap erat tubuh mungil sang istri. Dalam hati ia lega bisa selamat dari neraka malam ini. Seandainya ia tidak bersama Agam. Mungkin saat ini bukan Karin yang ada di sampingnya melainkan wanita lain. Esok ia harus mengucapkan terimakasih pada Agam dan mencari siapa dalang yang sudah memasukkan barang haram itu ke minumannya.
"Mi, kok mereka belum turun, ini udah jam dua belas waktunya makan siang." Ucap Ardi melihat pintu kamar adik bungsunya itu masih terkunci rapat. Mami diam saja tak menjawab hanya mengedikkan bahu.
"Orang lagi bikin sejarah, makanya bangun kesiangan. Lo kenapa pulang secepat ini. Nggak biasanya." Kata Arkan menimpali
"Ck, Lo kayak maling aja tiba-tiba nongol, kapan Lo pulang?" Tanya balik Ardi
"Jam dua belas malam lewat sedikit, beda dikit sama Rama." Jawab Arkan
__ADS_1
"Rama? Tumben pulang jam segitu, biasa maghrib paling lambat sampai di rumah." Ucap Ardi.
"Makanya gue bilang tadi apa, lagi bikin sejarah. Nggak usah heran. Lo dulu bikin Naina gimana coba?" Seru Arkan membuat Ardi akhirnya cekikikan karena mengerti maksud Arkan.
"Ngapain Lo senyum-senyum?" Ejek Arkan melihat kakaknya cekikikan sendiri.
"Ngomong yang jelas lah Ar, Lo ngomong ngalor-ngidul jadi gue gagal paham." Kata Ardi.
"Hillih." Arkan memutar bola mata jengah.
"Dah ayo makan duluan, biarkan saja mereka bikin hadiah buat mami biar rumah ini tambah rame." Lerai mami mengajak kedua anak laki-laki nya ke dapur.
Benar saja, pukul satu siang Karin baru terbangun dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Karin menatap Rama yang masih tertidur pulas dengan nafas teratur. Ada kabut di pelupuk matanya menatap wajah tampan Rama yang terlihat lelah.
"Pak bangun." Tangannya menggoyang lengan Rama
"Hem udah. Gini aja dulu." Jawab Rama dengan mata masih terpejam.
"Sakit pak." Ucap Karin meringis merasakan sakit di bagian bawah saat ia bergerak sedikit.
"Udah diem aja, nggak usah ngapa-ngapain." Kata Rama semakin mengeratkan pelukannya. Bukannya diam Karin malah terisak membuat Rama langsung bangun dan terduduk.
"Maaf." Ucap Rama mengusap rambut Karin.
Rama memunguti pakaiannya yang berserak dan memakainya. Meski baru pertama, Rama tahu apa yang Karin rasakan. Gegas ia ke kamar mandi dan menyiapkan air untuk Karin.
"Bisa bangun atau mau saya gendong saja?" Tanya Rama begitu keluar dari kamar mandi.
"Sakit pak." Isak Karin sembari memegang selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Ya sudah saya gendong saja." Putus Rama akhirnya dan mengangkat tubuh Karin kedalam gendongan.
Rama segera berganti baju sembari menunggu Karin selesai mandi. Saat melihat koper di samping sofa, Rama langsung teringat dengan rencananya hari ini.
"Kalau gini bisa-bisa pak bos marah." Gumamnya. Tangannya meraih ponsel di atas meja rias dan menghubungi Agam.
"Busyet, kenapa Lo nggak nelpon gue Gam?" Serobotnya begitu telepon tersambung.
"Gue nggak mau ganggu acara sakral Lo makanya gue nggak nelpon. Lagian bos juga ngerti kok, gue udah laporan tadi pagi." Kata Agam.
"Arrh, trus sppd gue siapa yang bawa? Gue mau berangkat nanti sore." Tanya Agam
"Ntar pulang kantor gue bawa kerumah mertua Lo, sekalian ada yang mau gue omongin, Oke."
__ADS_1
"Okelah aman."