
Kenapa kamu baru ngomong ai?" Kata mbak Uti kesal dengan apa yang sudah disampaikan adik iparnya.
"Mas Ardi melarangku mengatakan pada sampean karena nggak mau mengganggu sampean" ucap Aisyah tertunduk
Wanita berusia tiga puluh empat tahun itu mendesah kesal. Perasaan sedih dan bersalah pada adik bungsunya membuatnya lupa jika ikan yang sedang ia goreng sudah berubah warna.
"Sayang kamu masak apa kok bau gosong?" Tanya mas Tomy yang datang dari arah kamar
Uti langsung menoleh ke arah dapur dan mencium bau menyengat dari dapur.
"Astaghfirullah ikan ku.." teriak Uti berlari ke arah dapur dengan langkah seribu.
Aisyah yang tadinya merasa seperti seorang narapidana sekarang justru menahan senyum. Sebenarnya sejak tadi ia sudah mencium bau gosong dari dapur tapi lebih memilih diam demi mendengar omelan kakak iparnya.
"Sudah sana di depan aja kasian itu adek kamu sendiri. ini biar jadi urusan aku" ucap mas Tomy sembari mematikan kompor dan membereskan kekacauan yang dibuat istrinya.
"Tapi mas"ucap mbak Uti
"Udah sana" ucap Tomy dengan satu tangannya memberi kode agar sang istri menurutinya.
Mau tidak mau Uti menurutinya. Ia berjalan dengan langkah panjang pendek dan sesekali menoleh ke arah sang suami.
Uti duduk di sofa dengan wajah semrawut. Di tatapnya sang adik ipar dengan wajah sedikit malu dan kesal.
"Mbak aku pamit mau kerumah sakit, kasian mas Ardi nungguin kiriman makanannya" ucap Aisyah merasa tak enak melihat wajah sang kakak ipar.
"Ya udah nanti aku sama mas Tomy yang bicara sama mami. Kalian jaga Karin saja di rumah sakit, kabari mbak kalau ada apa-apa" kata Uti.
"Assalamualaikum mbak" ucap Aisyah pamit dan mencium tangan Uti.
"Waalaikumsalam hati-hati bawa motor, Naina dimana? Kok aku nggak lihat daritadi" tanya Uti.
"Di rumah sama mami, sedang aku sapih mbak makanya aku tinggalin di rumah" jawab Aisyah berjalan keluar pintu dan Uti mengikutinya.
"Udah tiga hari ya di rumah sakit, dan kalian baru ngomong sekarang" gumam Uti karena kekesalannya masih ada.
Aisyah yang mendengar langsung mengucapkan kata maaf yang entah keberapa kalinya.
Setelah motor Aisyah menghilang di balik pagar, Uti kembali masuk ke rumah dengan wajah tak enak.
"Mas, ngapain sih?" Tanya Uti dengan muka cemberut
"Ngapain apanya?" Tanya Tomy balik karena bingung dengan sikap Uti yang aneh.
"Itu kan kerjaan aku mas, kenapa malah mas yang ngerjain?" Tunjuk Uti pada ikan di dalam penggorengan.
Tomy seketika menepuk jidatnya. "Ya Allah punya istri gini amat, umur tua tapi sikap kekanakan" ucapnya sembari mencubit pipi istrinya.
Bu Maryam sibuk bermain dengan Naina meskipun satu tangannya di perban dan tak bisa digerakkan. Sudah tiga hari sejak pernikahan Uti di gelar, perasaan Bu Maryam memang tak enak. Apalagi saat pernikahan Uti Karin tak datang sama sekali.
Bahkan ia sempat berbohong pada besannya jika Karin sedang mengikuti suaminya ke luar kota dan tak bisa pulang.
Sebagai ibu, semarah apapun ia pada anak-anak nya, tetap saja hatinya menyimpan rasa bersalah dan menyayangkan atas sikapnya pada Karin.
Memang sejak kecil Karin tak pernah mendapatkan perlakuan buruk dari almarhum suaminya. Karin selalu diperlakukan bak ratu oleh sang suami. Itulah yang kadang membuatnya kesal bukan kepalang pada Karin yang sering berbuat semaunya sendiri tanpa pernah memikirkan bagaimana perasaan orang lain terlebih pada lawan jenis.
__ADS_1
Kecerewetannya pada Karin tak lain hanya karena ia tak ingin sang anak terus-menerus selalu berlindung di bawah ketika orang tua. Ia ingin Karin mandiri dengan caranya sendiri dan bisa menghormati suaminya kelak.
Memang benar, tak masalah Karin sejak kecil diajarkan ilmu bela diri. tetapi satu hal yang lupa diajarkan suaminya pada anak bungsunya yaitu menghormati laki-laki yang kelak menjadi imam nya.
Sikap Karin yang berbuat semaunya sendiri itulah yang membuat Bu Maryam sering meradang.
"Bu makanan sudah siap, mau makan siang sekarang?" Tanya bik Sum
"Biarkan saja di atas meja bik, tunggu Aisyah pulang antar makan siangnya Ardi" ucap Bu Maryam
"Ya udah kalau gitu saya pamit ya Bu, mau pengajian nanti jam dua siang" ucap bik Sum pamit.
"Iya bik makasih, oh ya bibik udah bawa makanan pulang belum?"tanya Bu Maryam memastikan dan bik sum menjawab dengan anggukan sembari mengangkat rantang yang ia letakkan di atas kursi.
Sampai di rumah sakit Aisyah langsung ke ruangan Raisa melihat kondisi Raisa yang masih terbaring lemah.
"Gimana kondisinya Ar?" Tanya Aisyah
"Baru saja tidur mbak sudah minum obat. bagian belakangnya masih nyeri karena sempat menghantam pembatas jalan waktu kecelakaan" jawab Arkan menjelaskan kondisi Raisa.
"Kalau sembuh coba di urutkan Ar, kasihan kalau kasep". Ujar Aisyah.
"Iya mbak rencana nya gitu, mbak udah ngomong sama mami?" Tanya Arkan.
"Nggak berani Ar. biar mbak Uti saja yang ngomong karena mbak nggak tega." Jawab Aisyah.
"Mbak Uti nggak marah?" Tanya Arkan mencoba menebak
"Bukan lagi marah tapi emosi tingkat tinggi, mbak di marahin habis-habisan sampai dia lupa kalau goreng ikan dan bau gosong hihihi" ucap Aisyah bercerita tentang kedatangan nya kerumah Uti sebelum kerumah sakit tadi.
"Lucu aja reaksi mereka Ar, haduh tadi tuh aku nahan ketawa gara-gara bau gosong, mas Tomy keluar kamar cuma pakai kolor Spongebob hahaha" ucap Aisyah pelan menahan tawanya
"Astaghfirullah mbak lihat? Maksiat mata itu mbak…berarti mbak kesana tadi ganggu acaranya orang dong hahaha" seru Arkan.
"Terlanjur lewat ya udah, oh ya aku mau jenguk Karin dulu, mas Ardi masih di sana kan?" Tanya Aisyah
"Iya masih, makasih makan siangnya ya mbak"
"Oke"
__
"Mas aku harus ngomong apa sama mami?" Tanya Uti. Saat ini mereka tengah bersiap kerumah sakit menjenguk Karin dan sebelumnya akan kerumah mami terlebih dahulu.
"Ya ngomong aja lah sayang pelan-pelan" jawab Tomy
"Aku nggak tega, takut mami shock" ucap Uti.
"Lebih baik ngomong meskipun terlambat daripada mami tahu dari orang lain, emang kalian nggak di marahin habis-habisan?" Timpal Tomy
"Iya sih" kata Uti membenarkan ucapan suaminya
"Nanti mas bantu ngomong, nggak usah takut, jujur itu lebih baik meskipun menyakitkan, oke ibu kepala Persit?" Ucap tomny mencubit pipi Uti.
"Ck kebiasaan ah pipi di cubit, sakit mas" kata Uti kesal.
__ADS_1
"Kalau cemberut, nggak jadi pergi kerumah mami kita bikin adonan anak lagi mau?" Goda Tomy
"Ah nggak nggak masih perih, udah sana siapin mobilnya" ucap Uti mendorong suaminya keluar kamar. Tomy keluar dengan tawa keras.
Pukul tiga sore Uti dan suaminya tiba di rumah mami. Naina yang sedang asyik bermain lego langsung berlari dan memeluk Uti.
"Mama, Ina angen" ucap anak berusia dua tahun itu
"Oh anak mama kangen ya, mama juga kangen sama Naina" kata Uti membalas pelukan Naina.
"Ini papa?" Tanya gadis kecil itu menunjuk Tomy yang berdiri di samping Uti.
"Iya ini papa, mau di gendong papa nggak?" Tanya Tomy tersenyum. Anak balita itu langsung menghambur ke pelukan Tomy.
Uti langsung mencari mami di seluruh penjuru rumah.
"Di panggilin dari tadi ternyata lagi ngadem di sini mi" ucap Uti ikut duduk di bawah pohon mangga belakang rumah.
"Ini tadi Naina minta dibuatkan rumah-rumahan, makanya mami nyiapin tenda jadi di sini" kata mami seraya merapikan hasil karyanya memasang tenda siap guna di bawah pohon mangga.
"Ai kemana mi?" Tanya Uti basa-basi
"Ke kantor nya Ardi. anterin makan siang dari tadi belum pulang, palingan singgah ke pasar sore belanja." jawab mami.
"Tangan mami kenapa?" Tanya Uti
"Kecelakaan kecil lah biasa itu. kamu juga udah biasa lihat mami kena pisau, pecahan piring, gelas" kata mami.
"Ya nggak biasanya aja mi sampai perban segitu tebel nya, mami pasti ada masalah ya" kata Uti memicing menatap mami mencoba memancing emosi mami.
"Sok tahu kamu. tapi emang benar sih, sejak kamu nikah perasaan mami nggak enak terus. keingat Karin dan sampai sekarang anak itu nggak ada ngasih kabar, apa semarah itu ya Karin sama mami ti?" Ucap Bu Maryam mengeluarkan uneg-unegnya.
Uti tersenyum tipis, tandanya mami sudah bisa di ajak ngobrol baik-baik kalau begini.
"Kenapa mami nggak telpon aja?" Tanya Uti
"Kamu tahu sendiri adik kamu ti, kalau sudah marah jangankan di sapa di ajak ngomong aja kayak kanebo kering" tukas mami.
"Mami tahu nggak kenapa Karin nggak ngasih kabar, padahal malam sebelum akad nikah dia udah janji sama aku mau pulang tapi ternyata nggak pulang" kata Uti.
Mami menoleh menatap Uti dengan seksama.
"Ada apa sama Karin? Apa dia sudah baikan sama Rama dan ikut Rama pergi?" Tanya mami
"Mereka nggak kemana-mana mi, mereka sekarang ada di rumah sakit" ucap Uti dengan menahan nafasnya.
Mami tertegun sejenak, mencoba menerka apa maksud ucapan Uti.
"Maksud kamu apa ti?"tanya mami
"Karin dan temannya kecelakaan hari itu dimana akad nikah ku berlangsung mi" ucap Uti menatap mami dengan wajah sedih serta menahan air matanya.
Mami terdiam beberapa saat dengan salah satu tangannya menutup mulutnya tak percaya.
"Ka..Karin kecelakaan lagi?" Tanya mami dengan air mata mengalir deras.
__ADS_1
Uti langsung memeluk mami dan menangis. Mami histeris hingga Tomy dan Naina terkejut mendengar suara tangis mami.