
Langit sore ini begitu cerah. Hilir mudik pengendara yang melintas saling sahut menyahut di tengah kemacetan jadwal pulang kerja.
Rama menatap deretan mobil itu dengan tatapan sendu. Bahkan suara Agam berbicara bagai angin lalu saja.
Rentetan kejadian masa lalu yang masih terus bergulir di kepalanya menyisakan kenangan menyakitkan yang masih ia rasakan hingga kini. Sakit itu masih terasa hingga ke tulang.
Andai saat itu ia melarang.
Andai saat itu ia ikut menunggu.
Andai saat itu lebih cepat datang.
Andai saat itu ia tahu lebih awal.
Andai saat itu ia memilih mengikuti keinginan adiknya.
Andai saat itu………. Ah sudahlah!
"Ram." panggil Agam. Pundak lelaki itu di tepuk beberapa kali hingga Rama tersadar dari lamunannya.
"Kenapa?." Tanya Rama tanpa menoleh
"Pulang yuk." ajak Agam karena merasa kesal di cuekin sejak tadi.
"Bentar, kalau mau pulang ya duluan aja." kata Rama
"Huft." Agam meletakkan tangannya di belakang kepala dan bersandar di sofa.
"Gue tahu apa yang Lo pikirin, kita kenal udah dari orok kali. Belajar ikhlas Ram, Lo nggak kasihan sama almarhum orang tua dan adik Lo?." Kata Agam mencoba mencairkan suasana.
"Lo masih punya keluarga lengkap gam, gue sekarang sendiri, satu-satunya keluarga yang gue punya cuma Tante Rosa dan." Ucapan Rama berhenti karena teringat seseorang yang pernah menorehkan luka pada keluarga nya.
__ADS_1
"Dan Satria maksudnya?."ucap Agam
"Iya, Lo tahu kan akar masalah dari siapa?." Tanya Rama
Agam hanya mengangguk mengerti. Angannya teringat beberapa tahun silam saat mereka masih berempat. Rama, Agam, Satria dan almarhum Ramon. Hanya Agam saja yang tidak ada hubungan darah dengan ketiga sahabatnya.
Ramon yang notabene pekerja keras dan Satria yang begajulan dengan gaya hidup hedonnya sering memaksa Rama dan Ramon bahkan memeras uang hasil kerja keras mereka demi keinginannya saja.
Orang tua Rama yang hanya bekerja serabutan sering mendapat aduan tak mengenakan dari Satria hingga membuat mereka terlilit hutang banyak pada rentenir karena tertipu dengan bujuk rayu Satria.
Setiap pulang sekolah Rama selalu menjadi tumbal kebohongan yang Satria buat. Ibu dan bapaknya memarahinya habis-habisan tanpa ia tahu apa penyebabnya.
Hingga hari itu terjadi, saat Rama dan Naila di sekap oleh preman tua suruhan juragan Karto sebagai ganti rugi karena orang tuanya yang tidak bisa membayar hutang.
Kedua orang tua Rama tak tahu menahu hutang apa yang pernah mereka lakukan, Hingga juragan Karto marah besar. Saat itulah semuanya terungkap. Satria memakai nama orang tua Rama sebagai pembayar hutang dan Rama serta Naila yang menjadi tumbal jika hutang tak dapat di bayar.
Meski Ramon tahu, ia tak memiliki nyali untuk mengatakan pada orang tuanya bagaimana kelakuan sang adik. Tante Rosa sebagai ibu juga tak berani membantu saat kedua orang tua Rama datang meminta pertolongan karena takut pada suaminya.
Akhirnya Ramon membantu orang tua Rama membayar hutang mereka diam-diam meski sedikit. Hingga suatu hari Ramon di terima bekerja di salah satu perusahaan di kota besar. Seiring waktu hutang yang ia cicil pada juragan Karto hampir lunas.
Hingga hari itu terjadi, saat salah satu anak buah juragan Karto bercerita tentang hutang sang anak pada juragan mereka. Sampai di rumah, bapak Ramon tak sadarkan diri dan meninggal saat itu juga. Namun sebelum meninggal almarhum sempat berpesan pada istrinya untuk pergi jauh meninggalkan desa mereka dan merantau ke kota menyusul Ramon. Tante Rosa yang tak tahu apapun akhirnya menurut saja dan membawa serta Satria ikut ke kota.
Beberapa tahun kemudian orang tua Rama menyusul ke kota dan ikut bekerja di usaha rumahan milik keluarga Agam karena Agam melanjutkan sekolah di kota.
Ramon, Rama, Satria dan Agam sering bersama meskipun mereka berbeda usia. Rama dan Agam yang masih SMA. Satria kuliah dan Ramon sudah bekerja di perusahaan dengan jabatan yang mentereng.
Tapi sikap dan kelakuan Satria masih tidak berubah. Selalu berulah dan menjadikan dua saudara sebagai tumbal demi ambisinya saja. Hingga saat kelulusan, Ramon merekomendasikan satria bekerja di perusahaan yang sama dengan nya. dengan harapan agar satria bisa berubah untuk menghargai orang lain dan mau bekerja lebih giat serta tidak selalu mengkambing hitamkan orang lain demi ambisinya.
Rupanya harapan tinggal harapan, Satria bukannya berubah justru dia berperilaku lebih buruk lagi. Hingga saat Ramon sudah menikah, sang istri akhirnya kena rayuan Satria untuk meminta Ramon menggelapkan uang perusahaan.
Istri Ramon yang memang mata duitan, berusaha terus menerus merayu suaminya hingga akhirnya luluh dan mengikuti keinginan sang istri.
__ADS_1
Hingga hari naas itu tiba, saat Ramon tahu jika sang istri terpengaruh omongan Satria untuk menggelapkan uang perusahaan, Ramon marah dan melabrak Satria.
Satria yang tidak terima akhirnya nekat membunuh sang kakak dengan membuat rem mobil Ramon blong dan terjadilah kecelakaan itu. Ramon meninggal di tempat sedangkan sang istri koma selama beberapa bulan.
Beruntung kandungan istri Ramon bisa di selamatkan, karena usianya sudah memasuki hpl dan dilakukan tindakan Caesar saat itu juga.
Rama yang tahu kematian Ramon akhirnya mengatakan semuanya pada Tante Rosa serta bukti yang selama ini ia selidiki diam-diam bersama Agam karena permintaan Ramon.
Satria di usir saat itu juga oleh Tante Rosa dan tidak di akui sebagai anak. Satria marah dan meninggalkan mereka dengan masih menyimpan dendam.
Tak lama setelah Ramon meninggal, Tante Rosa harus keluar dari rumahnya karena di sita oleh perusahaan sebagai ganti rugi uang perusahaan yang di gelapkan oleh Ramon.
Dan nasib buruk juga berlaku pada orang tua Rama yang meninggal secara mendadak dalam perjalanan pulang kerja malam itu. Saat itu Naila adiknya masih di pesantren dan ia sendiri baru pulang kuliah. Hingga tengah malam pak RT datang kerumah dan mengajak nya kerumah sakit. Ternyata kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dan tewas di tempat.
Rama marah dan meminta Agam untuk menyelidiki kasus kecelakaan itu diam-diam. Setahun setelah kematian orang tuanya, Naila juga mengalami kecelakaan di tempat.
Menurut saksi di tempat saat kecelakaan itu terjadi, ada sebuah motor melintas tiba-tiba dengan kecepatan tinggi dan menabrak Naila hingga menghantam tiang listrik dan meninggal di tempat.
Pengendara itu terlalu cepat hingga mereka tak bisa mengingat nomor plat pelaku. Setelah memeriksa cctv jalan rupanya cctv sudah rusak.
Lagi-lagi Rama hidup dalam kesedihan dan dilema tidak berkesudahan. Membiayai kehidupan Tante Rosa dan istri serta anak Ramon bukanlah hal yang mudah.
Rama dan Agam juga berkali-kali mendapatkan teror saat di perjalanan pulang bekerja atau saat mereka pergi.
Hingga kini kasus kematian orang tuanya, adiknya seta Ramon masih menjadi misteri. Satria pun menghilang bak di telan bumi setelah di usir oleh sang ibu. Hanya saat istri Ramon meninggal ia berani muncul di hadapan Rama tapi setelahnya ia menghilang lagi.
"Ram, ayo pulang mau sampai kapan kita terus menerus begini, gue udah minta pak Bagas untuk menyelidiki dan membuka kembali kasus kecelakaan bang Ramon dan orang tua Lo. Kita tunggu saja informasi dari beliau" ucap Agam hendak berdiri.
Rama memegang lengan Agam dan berkata, "gue udah tahu siapa pelakunya, gue punya bukti tinggal kita atur strategi buat nangkap si pelaku." ucap Rama menatap Agam yang terheran-heran.
"Kenapa baru ngomong?." Tanya Agam kembali duduk.
__ADS_1
"Orang kantor yang bantu gue, Lo tahu perusahaan tempat kita kerja, Selama ini diam-diam pak Anderson membantu kita."
"Apa?." Agam terkejut luar biasa.