Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 34


__ADS_3

"Mami gagal jadi orang tua Di" ucap Bu Maryam di sela Isak tangisnya


"Mama nggak gagal, sudah seharusnya mami bersikap tegas, kalau bukan karena mami dan papi kami semua nggak akan lahir kedunia mi, kalau bukan karena didikan kalian kami nggak akan bisa menapaki hidup di dunia ini, mami nggak gagal, justru papi akan bangga sama mami karena bisa mendidik kami dengan penuh kasih sayang" ucap Ardi mengusap punggung mami. 


Ardi tahu bagaimana pedihnya jalan hidup yang orang tuanya lalui. Sama-sama yatim-piatu dan dituntut hidup mandiri membuat mereka mengalirkan kemandirian itu pada anak-anak nya. 


Karin memang anak bungsu yang sangat ditunggu kelahirannya oleh papi. Meskipun sejak menikah dengan Bu Maryam sudah ikut mengasuh Uti yang juga yatim-piatu. Tetap saja keinginan memiliki anak perempuan tak bisa ia bendung. 


Sejak kelahiran Karin, almarhum pak Halim memang sangat menyayangi anak bungsu perempuan satu-satunya itu tanpa membedakan kasih sayangnya dengan Uti yang tak lain adalah keponakan dari Bu Maryam yang sudah yatim-piatu sejak bayi.


Meski Karin begitu di manjakan, pak Halim tetap menerapkan kemandirian pada anak bungsunya itu. Bahkan tak pernah sekalipun pak Halim berkata kasar apalagi membentak dan memarahi Karin.  


Meski Bu Maryam selama ini cerewet dan penuh aturan pada anak bungsunya, tetap saja jiwa sebagai seorang ibu tak bisa di bohongi.


Bu Maryam benar-benar merasa menyesal sudah menyakiti Karin, meski ia tahu kesalahan itu juga berasal dari Karin sendiri. Bu Maryam hanya Ingin sang anak bisa menghormati dan menghargai suaminya bagaimana keadaan mereka. 


Sikap Karin yang keras, manja dan selalu berbuat semaunya sendiri terkadang membuat Bu Maryam kesal bukan kepalang. 


Di sudut rumah minimalis modern, Arkan dan Uti berbicara serius di temani teh hangat dan roti kesukaan mereka. Meski sore ini cuaca begitu hangat, minum teh sambil menikmati pemandangan matahari terbenam adalah kesenangan tersendiri. 


"Jadi Rama pergi?" Tanya Arkan menyipitkan mata. Uap teh itu menyembul ke udara mengenai wajahnya yang nampak tirus beberapa bulan ini.

__ADS_1


"Iya, tadi subuh aku nelpon dia, cuma mau tahu masalah mereka apa sampai Karin bisa ngamuk seperti itu, ternyata cuma hal sepele dan Karin marah besar" kata mbak Uti.


"Rama hanya salah berucap, Karin sudah mengamuk nggak karuan" seloroh Arkan.


"Nggak usah nyalahin Karin, dia memang dididik begitu sejak kecil, juga bukan salah papi, tapi emang sikap Karin di usia yang masih labil seperti itu, seolah semua serba salah dan dia yang benar" ujar Uti 


"Papi juga salah mbak, Karin selalu di manja, dan nggak pernah ngajarin Karin menghargai lain jenis, memang benar papi ingin Karin jadi anak tangguh yang bisa menjaga diri sendiri, tapi juga bukan begitu konsepnya, ngajarin anak beladiri tapi nggak Ngajarin anak perempuannya hormat sama suami" ucap Arkan yang rupanya juga kesal.


"Kamu masih dendam sama papi Ar?" Tanya Uti menatap sang adik sepupunya itu lekat.


Arkan menghela nafas berat, belum sempat berucap Uti sudah memberondong nya dengan pertanyaan lain.


"Papi udah meninggal Ar, apa kamu masih dendam sama orang tua kandungmu sendiri?" Tanya mbak Uti membuat Arkan semakin terpojok.


"Iya mbak tahu Ar, itu kenapa mami cerewet sama Karin karena mami juga nggak suka kalau anak-anaknya di bandingin dengan yang lainnya, sudahlah kita bahas masalah Karin kenapa ujungnya malah kesitu sih?" Gerutu Uti 


"Mbak duluan yang nanya, sekarang kalau Karin ada masalah biar dia selesaikan sendiri mbak, jangan di bantu, ya itu akibatnya kalau terlalu manja sama hidup, orang lain nggak boleh bikin salah ke dia, apa dia nggak mikir kalau dia juga luka buat orang lain?" Timpal Arkan.


"Iya kamu benar, ya udah malam nanti kita pulang, biar Karin di sini sendiri, besok pagi biar Mang Ucup yang anter motor nya kesini, lagian nggak jauh-jauh amat kalau ke kampus" ucap Uti setuju dengan ucapan Arkan.


"Kok tumben? Tadi sok ngebelain?" Seloroh Arkan

__ADS_1


"Kesel, gaun gue buat lamaran di injek, trus keseret dan akhirnya robek" ucap Uti menatap nyalang pada rumput yang menghijau.


"Hahaha, kamu itu aneh mbak mbak"


Mereka tak menyadari jika Karin mendengar semua percakapan kedua saudaranya. Meski ia terluka tapi apa yang mereka ucapkan ada benarnya. 


Karin menyadari diantara semua saudara nya hanya dia yang mendapatkan perlakuan khusus dari almarhum papi. Tapi ia tak pernah tahu jika kakaknya menyimpan rasa sakit hati pada papi karena membandingkan dirinya dengan sang kakak yang memang memiliki fisik lemah sejak kecil. 


Karin menaiki anak tangga dengan perasaan hampa. Sekarang ia tahu kenapa mami selalu cerewet padanya. Karena tak ingin anak-anaknya di bedakan oleh suaminya sendiri. 


Karin menutup pintu kamar dan menguncinya, menatap ke arah jendela kamar yang masih terbuka dan menampilkan pemandangan sore hari yang begitu cerah.


Karin menangis yang kesekian kalinya, ia memang tak menyukai Rama apalagi mencintai nya, tapi ia juga tak suka jika ada yang membandingkan dirinya dengan orang lain. Itu Manusiawi. 


Meskipun pernikahan ini bukan keinginannya, tapi ia tak suka jika ada wanita lain yang di sebut oleh Rama. Wanita lain? Memang Rama tak menyebutkan nama tapi tetap saja Karin merasa sakit hati dengan ucapan Rama. 


Karin mengusap air mata dengan kasar, seandainya mereka tak menyetujui ia tak akan mendapatkan permasalahan hidup seperti ini.


Sejak kecil hidupnya baik-baik saja, tak pernah ada masalah apapun. Tapi mengapa di usia baru sembilan belas tahun ia mendapatkan masalah yang begitu rumit, hidupnya tak seberuntung orang lain.


Andai ini semua tak terjadi ia tak akan pernah mendapat masalah. Hidupnya akan baik-baik saja dengan keluarga nya jika tak ada Rama masuk ke dalamnya.

__ADS_1


Hidup itu sebuah pilihan, jika tak suka itu artinya Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk kita. Jangan pernah pesimis dan menyalahkan orang lain. Apa yang terjadi dalam hidup kita sudah ada tangan Tuhan yang mengatur semuanya.


__ADS_2