
"Kenapa Lo nggak cerita Ram?." Tanya Agam dengan masih menyimpan rasa tak percaya mendengar penjelasan Rama
"Gue baru tahu pas di rumah sakit, ternyata selama ini diam-diam tuan Anderson membantu kita. Gue tahu itu dari dokter Fritz yang curiga dengan kejadian kecelakaan Karin waktu itu karena dokter Fritz saat itu juga ada di tempat kejadian, hanya saja posisi nya ada di sebuah toko." kata Rama
"Kok aneh, lo ada kenalan dokter di rumah sakit itu?." Tanya Agam
"Ya cuma dokter Fritz itu aja, kan dia keponakan bos. Aku nggak tahu gimana ceritanya, yang jelas istrinya dokter Fritz itu masih tetangga dengan almarhumah istrinya bang Ramon, mereka pernah ketemu secara nggak sengaja waktu almarhum masih hidup semua. Dan setelah kejadian kecelakaan bang Ramon, setahun kemudian almarhumah mbak Esti pernah cerita panjang lebar ke istrinya dokter Fritz bahkan ngasih wasiat buat nyari pelaku kecelakaan yang menimpa bang Ramon, orang tua ku juga Naila." kata Rama panjang lebar.
"Ooh jadi gitu, secara diam-diam almarhumah juga mencari jalan, bisa jadi k ini bentuk rasa bersalah nya mbak Esti sama kalian karena pernah termakan hasutan Satria." Kata Agam menyimpulkan.
"Bisa jadi, dan menurut gue mbak Esti diam-diam mencari bukti atau mbak Esti yang meminta pertolongan langsung ke bos Anderson." Lanjut Rama
"Nah itu dia, gue juga berpikir ke situ. Ya udah yuk pulang. Udah mau magrib kita mampir dulu sholat di masjid sebelah." Ajak Agam.
"Lo bayar dulu ya, besok giliran gue." Pinta Rama tersenyum jahil.
"Beres." Kata Agam
Rama dan Agam keluar dari cafe bersama dan berjalan ke arah masjid yang ada di seberang jalan menunggu waktu sholat magrib tiba.
Sementara itu di rumah, Karin tengah kebingungan sendiri. Pasalnya sejak kepulangan nya kemarin ke rumah mami, Rama selalu pulang saat tengah malam dan saat di tanya selalu beralasan kalau lembur.
"Gue kenapa sih." Batinnya kesal karena sejak kematian mengkhawatirkan Rama dengan alasan tak jelas.
"Rin, mbak masuk ya" panggil Aisyah di depan pintu.
"Iya, Jangan bawain aku jus mangga lagi. Ogah mbak." Ucap Karin dari atas bed.
"Ini jus jeruk, permintaan Rama tadi siang." Kata Aisyah sembari meletakkan gelas jus di atas nakas.
"Ha, sejak kapan pak Rama ngatur menu makan aku mbak?." Tanya Karin memicingkan mata.
"Sejak tadi siang kayaknya. lihat piring kamu masih utuh tadi pagi makanya dia mikir kalau kamu nggak nafsu makan." Kata Aisyah
"Aku udah makan sandwich sisa semalam makanya nggak makan nasi." Sahut Karin.
"Ya udah nurut aja apa kata suami Rin, daripada ribet. Ntar mami marah lagi." Ucap Aisyah membuat Karin merengut.
"Mbak, mau nanya." ucap Karin sedikit berbisik
Aisyah menaikkan satu alisnya menatap Karin. Ingin rasanya tertawa melihat wajah Karin tapi ia tahan.
"Nanya apa?." Tanya Aisyah berbisik dengan senyum mengembang
__ADS_1
"Mbak dulu gimana sih rasanya pas jatuh cinta sama orang jutek dan cuek kayak bang Ardi?." Tanya Karin membuat Aisyah tertawa.
"Ck" Karin mencebik kesal karena Aisyah menertawakan dirinya.
"Sorry, sorry. tanya aja abang kamu gimana dulu caranya naklukin mbak." jawab Aisyah membuat Karin mencebik dan menatap horor pada Kaka iparnya.
"Mbak beneran ini." Rajuk Karin
"Beneran deh, mbak itu dari awal benci banget sama bang Ardi tapi dia pintar ambil hati abi sama umi, karena itu kelemahan mbak." Kata Aisyah.
"Wow jadi itu yang bikin kalian lama baru punya anak ya?." Todong Karin membuat Aisyah malu bukan kepalang.
"Kamu ini bisa aja." Sahut Aisyah menutup wajahnya malu.
"Hahahahahha." Karin justru tertawa keras.
"Kamu jatuh cinta sama pak dosen Jadul ya hayoooo." ledek Aisyah menoleh pipi Karin yang tersenyum malu-malu.
"Nggak tahu sih, masih ragu sama perasaanku sendiri. Tapi lihat sikapnya waktu aku sakit ternyata dia sebaik itu untuk di sia-siakan mbak." Kata Karin menatap mata Aisyah.
"Fix kamu udah jatuh dalam pesona si dosen jadul xixixi." Mbak Aisyah tertawa pelan
"Apaan sih., Nggak dulu lah." Kata Karin tersipu
"Mbak ai." Rajuk Karin tersipu.
"Hahahahahahah." Aisyah tertawa berhasil meledek adik iparnya dan langsung keluar kamar.
Karin menepuk pipinya berkali-kali, merasakan panas di wajahnya. Tersenyum malu dan menutup wajahnya dengan bantal hingga suara bariton itu terdengar di pintu kamar.
"Assalamualaikum Rin." Detak jantung Karin berdebar kencang mendengar suara Rama mengucapkan salam dan berjalan memasuki ruangan.
Karin bersembunyi di balik selimutnya dengan wajah yang merona. Detak jantungnya semakin tak beraturan saat tangan Rama menyentuh rambutnya.
Ada desiran halus secara mendadak dan perlahan berubah menjadi rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Degup jantung nya semakin bertalu saat ciuman Rama mendarat di pucuk kepalanya.
Tanpa Karin sadari selimut yang menutupi tubuhnya tertarik karena cengkeramannya yang kuat. Giginya bergemelatuk saling tindih dan menimbulkan bunyi gesekan yang terasa sedikit ngilu.
Rama menatap tubuh Karin yang tertutup selimut dan bantal. Selimut itu nampak bergeser karena tubuh Karin yang bergerak tak biasa.
"Kamu kedinginan Rin?." Tanya Rama mengusap rambut Karin.
Karin semakin mengencangkan cengkeraman. Ingin rasanya berteriak namun mulutnya tak kuasa untuk sekedar berucap. Desisan itu hanya tertahan di tenggorokan tanpa mampu ia keluarkan.
__ADS_1
Beberapa detik berikutnya, Rama beringsut dan mengambil remot AC lalu menekan tombol off.
Rama pikir Karin kedinginan hingga meringkuk di balik selimutnya. Aroma jus jeruk yang baru di bawa Aisyah menyeruak di indera penciuman Rama saat pria itu menunduk untuk mengambil selimut di laci nakas yang biasa Karin berikan padanya jika tidur di kamar tamu.
Rama mencium aroma jus jeruk itu dan menatap Karin sekilas.
"Rin, ini jus jeruknya nggak di minum juga?." Tanya Rama mencoba membangunkan Karin.
Karena tak ada sahutan akhirnya Rama menyerah dan menyimpulkan jika Karin butuh waktu tenang untuk tidur, terlebih kondisi tubuhnya masih belum sembuh total.
Setelah menambah selimut di tubuh Karin, Rama langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Perjalanan dari kantor harusnya tidak memakan waktu selama itu hingga berjam-jam. Tapi karena kerinduan nya pada almarhum kedua orang tua dan adiknya membuatnya urung untuk langsung pulang kerumah setelah dari makam bersama Agam siang tadi.
Justru ia dan Agam memilih menghabiskan waktu di cafe D'twins sekedar melepaskan penat. Hingga sore menjelang mereka memilih mandi dan berganti baju di toilet cafe.
Karin mengintip di balik selimut untuk memastikan Rama sudah tidak ada. Suara deritan pintu kamar mandi tadi memang tak di dengarnya saking kesal menahan rasa gugup yang berlipat-lipat.
Setelah memastikan Rama tak ada, Karin melepas semua selimut yang bersarang di atas tubuhnya.
"Sial, kenapa gue bisa segugup itu sih?." Batin Karin menepuk kedua sisi pipi nya bersamaan.
"Ya Allah, gue harus ngapain?." Batinnya gelisah.
Tak lama Rama keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian lengkap dengan rambut sedikit basah. Netra mereka saling bertemu dan menghasilkan suara dentuman keras yang tak mempu di dengar oh siapapun kecuali diri mereka sendiri dan Tuhan.
Saling menyelami tatapan satu sama lain dan bertukar rasa yang sama-sama menjadi tanya dalam hati mereka.
Tatapan yang saling mendamba, menginginkan, mengagumi, meminta dan saling menuntut.
Hingga derita pintu terbuka tak mampu menggoyahkan keinginan keduanya untuk saling memutuskan siapa yang akan berbalik arah.
Perasaan yang mereka rasakan mampu menutupi keseluruhan indera mereka tidak peka.
"Ehm."
"Ehm."
Dalam hitungan ketiga keduanya menoleh dan tersipu malu. Aisyah datang kembali membawa makan malam Karin.
"Ini makan malamnya Rin, jangan di sisa lagi ya kasihan pak Rama yang ngabisin terus makanan kamu." Ucap mbak Aisyah dengan senyum mengembang dan ingin tertawa melihat Rama dan Karin saling salah tingkah.
Selesai meletakkan nampan, Aisyah langung melipir keluar kamar dan berlari ke kamar Uti yang terbuka lebar dan tertawa.
__ADS_1