Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
CJIS 22


__ADS_3

"Mi aku pergi kuliah ya" pamit Karin pada mami nya.


"Hati-hati, kenapa nggak bareng Rama kalian kan searah" tanya mami


"Nggak, aku ada janji sama anak-anak mau kerja tugas di rumah Abdul" kata Karin berbohong.


Sejak kepulangan dari rumah Rama sikap Karin memang lebih banyak diam bukan hanya pada Rama tapi pada mami juga ketiga kakaknya.


Bu Maryam yang tak tahu permasalahan rumah tangga Karin dan Rama hanya memilih diam sebagai solusi agar hubungan anaknya dengan sang suami tidak berantakan. Terlebih lagi mereka baru menikah sebulan lalu.


Rama yang mendengar jawaban Karin hanya menghela nafas sembari mengusap punggung Naira yang tengah berada dalam gendongannya. bayi mungil itu nampak terlelap setelah menghabiskan sebotol susu.


Karin pergi tanpa menoleh kembali ke dalam rumah. Suasana hatinya benar-benar buruk. Semalam ia nekat menghubungi Abdul tentang gosip yang beredar di grup WhatsApp kampus tentang dirinya yang jual diri dan hamil duluan hingga merayu pak Rama yang notabene dosen mereka harus menikahi nya dan bertanggung jawab atas anak orang lain yang ia kandung.


Hilang sudah kesabaran Karin, ia akan mencari tahu sendiri siapa dalang di balik adanya fitnah yang tak bermoral itu.


Pagi ini ia nekat mendatangi rumah Abdul yang letaknya pinggiran kota. Beruntung Abdul masih bersantai di depan rumah dengan kedua orangtuanya sehingga Karin bisa lebih leluasa untuk ngobrol dengan Abdul.


"Teman kuliah kamu Dul?" tanya wanita paruh baya yang membukakan pintu pagar.


"Iya Bu, masuk Rin, ayo sarapan dulu" sapa Abdul ramah.


"Sini neng, sarapan dulu sama ubi rebus, hasil panenan di kebun" sapa bapak Abdul


Karin yang memang orang nggak enakan akhirnya memilih bergabung dengan keluarga kecil Abdul. Setelah acara sarapan selesai barulah Abdul mengajak Karin ke tambak ikan di belakang rumah sambil bercerita.


"Sorry Dul, gue nekat datangin rumah Lo" ucap Karin membenarkan letak duduknya di balai-balai.


"Nggak papa, gue ngerti kok, Lo nggak ingat bapak gue Rin?" tanya Abdul.


"Bapak Lo?" tanya Karin heran. Kedua alisnya berkerut matanya menatap tak mengerti pada ucapan Abdul.


"Hahaha, ya udah kalau nggak ingat, tanya suami kamu aja" ucap Abdul

__ADS_1


"Jangan bikin penasaran Dul, Lo tau kan gue jago beladiri" ancam Karin


"Heheh iya iya, masak nggak ingat sama saksi nikah Lo di KUA?" kata Abdul.


"Sak...saksi nikah?" kata Karin terkejut


"Hahaha udahlah nggak usah di bahas tanya suami kamu aja, yang jelas bapak ku jadi saksi nikah waktu pak Rama ngucapin ijab qobul." putus Abdul.


"Iya deh ... Dul gue izinin nggak masuk lagi ya" kata Karin


"Kenapa? Lo udah sehat gitu kok" tanya Abdul


Bukannya bicara Karin justru tertunduk menahan tangisnya. Membuat Abdul merasa bersalah.


"Nggak baik nangis di depan laki-laki bukan muhrim Lo, gue tau Lo tertekan makanya nggak mau datang kuliah, tapi mau sampai kapan? Hidup harus terus berjalan Rin" nasihat Abdul.


"Kenapa harus gue yang di fitnah kayak gini Dul?"kata Karin


"Hidup rasanya anyep kalau nggak ada masalah Rin" sahut Abdul


"Sangkaan manusia itu biasa, tapi perhitungan Allah swt itu yang luar biasa Rin" sahut Abdul


"Lo dari tadi nyahut Mulu Dul, Lo nggak ada di posisi gue, di fitnah dengan kejam seperti itu" kata Karin kesal.


"Siapa bilang, trus mau kamu sekarang apa? Bolos kuliah lagi? Baru semester satu udah banyak warna absen Lo Rin" kata Abdul membuat Karin menghela nafas kesal.


"Lo nggak usah khawatir, datang aja kuliah, yang berani berbuat injak aja kakinya sampai patah, katanya Lo jago beladiri, gimana sih Bu??" Lanjut nya.


"Ck, Lo mah nggak asyik, Lo beneran nggak tahu siapa dalangnya Dul?" tanya Karin penasaran


"Lo cari tahu sendiri aja Rin, gue cuma bisa ngira aja siapa pelaku sebenernya, meskipun belum tentu benar dia pelakunya" jawab Abdul.


"Bu Arini masuk jam sepuluh, ini sudah jam sembilan Dul, gue nggak yakin kalau bisa masuk ke kampus" kata Karin sedih

__ADS_1


"Jangan takut hadapi kenyataan, Lo jatuhin lawan di laga aja bisa masak ngadepin cecunguk mental krupuk aja nggak bisa" ucap Abdul.


"Eh...dari tadi Lo ngomong kok bahasanya Lo gue, biasanya Lo kalem Dul kalau di kampus, apa ini namanya formalitas demi pansos?" kata Karin menyadari tata bahasa Abdul sejak tadi.


",Posisi kita dimana Rin? dirumah gue kan bukan di kampus, sesuaikan tempat nya yang penting tetap jaga adab." balas Abdul.


"Bisa aja Lo hahahah, tapi bener juga sih" Karin tertawa.


"Ya udah gimana keputusannya, kuliah atau nggak? Kalau sampai pak Rama tahu Lo kesini bisa berabe gue Rin biar bagaimanapun Lo itu udah bersuami, bisa-bisa bapak gue marah juga nantinya" kata Abdul mengingat kan Karin


Karin menutup mata dan menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu menghembuskan keluar dengan perlahan.


"Ya udah ayok tapi Lo pergi duluan, gue mau mampir ke toko roti dulu minta uang jajan sama mami" putus Karin


"Nggak di kasih uang jatah Lo sama pak Rama?" ledek Abdul.


"Ada sih kartu hitam, tapi nggak tega aja mau pake hehehe"


"Busyet kartu hitam ... Orang kaya Lo..wah nggak rugi Lo jadi istri pak Rama, baru kartu hitam belum kartu yang lain itu hahaha"


"Hahaha enak aja Lo, biar bagaimanapun gue juga punya penghasilan sendiri Dul, duit suami biar jadi milik anak nanti, eh opps" ucap Karin menutup mulutnya karena keceplosan.


"Hahah udah ada rencana... berarti beneran dong gosipnya temen-temen di kampus" sahut Abdul di iringi tawa pecah


"Enak aja Lo, belum ada program kesana, sampai Lo ikut-ikutan gosipin gue yang enggak-enggak gue bikin patah kaki sama tangan Lo, ngerti?" ancam Karin


"Wiuush galak bener nyonya Rama hahah"


"Ck ayok ah telpon gue kalau udah di kampus ya, tungguin gue di parkiran" kata Karin seraya pamit pada bapak dan ibu Abdul.


Di kantor Rama di buat bingung dengan pemberitaan mengenai dirinya yang menikahi Karin karena terpaksa harus mengakui anak orang lain. Berita itu ia dapatkan dari Bu Nuri saat ia tiba di kampus beberapa saat lalu.


Memang selama hampir sebulan ini Rama tidak terlalu menggubris sosial media nya. Semua gosip tentangnya dan Karin hanya ia dengar dari Agam dan Bu Nuri saja selama ini.

__ADS_1


Bahkan grup dosen di kampus juga tidak ada yang membahas hal itu karena sudah termasuk melanggar etika.


"Ram, Lo di panggil ke rektorat" kata Agam di depan pintu.


__ADS_2