
Ardi baru saja tiba di kantor saat ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Arkan.
"Hal Ar kamu dimana?" Tanya Ardi tanpa basa-basi
"Di rumah sakit bang, Karin koma dja Raisa luka-luka. Mereka kecelakaan kemarin di jalan xxxx" kata Arkan
"Astaghfirullah.. di rumah sakit mana Ar?" Tanya Ardi
"Dirumah sakit Citra Husada bang, ajak mami kesini bang, bicara pelan-pelan" ucap Arkan.
"Iya, itu biar jadi urusan Aisyah di rumah, aku minta izin dulu sama bos"
"Oke bang"
Aisyah sedang berada di kamar saat terdengar suara pecahan piring dan gelas di dapur. Aisyah langsung berlari keluar dan melihat tangan mami sudah berlumuran darah.
"Mami kenapa?" Tanya Aisyah panik
"Cepat ambil kotak p3k, panggil baik Sum untuk bersihkan pecahan gelas dan piringnya ai" perintah mami seraya menahan perih dan memegang pergelangan tangannya.
Aisyah langsung bergegas melakukan perintah mami. Sembari berteriak di depan pintu rumah memanggil asisten yang sedang membersihkan rumput di halaman depan.
"Bik sum, di panggil mami" ucap Aisyah di depan pintu.
"Iya non"
Aisyah kembali masuk kerumah dan mengambil kotak p3k di lemari.
"Kenapa bisa begini sih mi?" Tanya Aisyah membersihkan luka pada pergelangan tangan mami
"Kepeleset ai, perasaan mami dari kemarin nggak enak terus kenapa ya? Apa karena mami ngusir Karin?" Ucap mami gelisah.
Deg
Aisyah tiba-tiba kaku. "Haduh gimana ini?" Batin Aisyah
"Ai, kamu dengar mami?" Tanya mami lagi
"I..iya mi, mami jangan mikir yang aneh-aneh ya, Karin pasti baik-baik aja kok" ucap Aisyah mencoba menyembunyikan kegugupan nya.
__ADS_1
"Apa Ardi dan Arkan menjenguk Karin?" Tanya mami
"I…iya mi, Karin baik-baik aja kok kata mas Ardi" ucap Aisyah gugup
"Non, hape nya bunyi terus itu daritadi?" Ucap bik Sum pada Aisyah
"Oh iya bik, sebentar ya" kata Aisyah
"Angkat dulu ai, siapatahu penting" ucap mami. Tangannya mengambil kapas yang ada di genggaman Aisyah.
"Iya mi" ucap Aisyah menurut.
Sampai di kamar, rupanya Ardi menghubungi nya beberapa detik lalu. Aisyah meraih ponselnya dan memanggil ulang.
"Assalamualaikum mas kenapa?" Tanya Aisyah
"Karin koma, kamu ke rumah sakit sekarang" ucap Ardi
"Astaghfirullah…." Aisyah menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Ai…kamu dengar mas ai?" Tanya Ardi.
"Astaghfirullah ya udah, mas ke rumah sakit duluan, kamu nyusul sama mami nanti ya, tapi tolong bicara pelan-pelan sama mami" ucap Ardi.
"Iya mas" ucap Aisyah.
____
"Mas udah ngomong sama mami?" Tanya Rama saat mereka tengah di kantin rumah sakit untuk mengisi perut yang sudah keroncongan semalaman.
"Nggak berani ngomong ram, cuma bang Ardi aja yang aku telpon, nggak berani telpon mbak Uti juga" jawab Arkan
"Biar bagaimanapun mami harus tahu bang, daripada mami tahu dari orang lain? Untung aja Polsek yang menangani kemarin kalau Polda dan pak Supri yang turun tangan? Bisa jadi mami lebih marah lagi" ucap Rama berpendapat
"Kamu bener ram, tapi nanti lah biar mbak ai saja yang bicara ke mami" ucap Arkan
"Iya deh".
"Kamu kemana selama ini?denger-denger Tante kamu pulang kampung ya ram?" Tanya Arkan.
__ADS_1
"Aku pulang ke kampung pakde di desa sama sepupu ku, Tante Rosa memang sudah lama berniat pulang ke kampung setelah bang Ramon meninggal, tapi aku larang karena saat itu almarhumah istrinya bang Ramon masih dalam masa penyembuhan" jawab Rama.
"Oh gitu, kirain gara-gara masalah kamu sama Karin, aku nggak enak aja sama Tante kamu gara-gara sikapnya Karin ke kamu ram" kata Arkan
"Nggak usah mikirin yang aneh bang, Tante Rosa nggak seburuk itu mau nyampurin urusan rumah tangga aku" ucap Rama
"Ram, selama ini Karin tinggal dirumah ku yang baru, Raisa yang aku minta menemaninya selama disana. maaf saja nih" ucap Arkan menjeda
"Karin sering menangis dan sakit kepala tiba-tiba, Raisa kadang kebingungan kalau menghadapi Karin yang seperti mengingat sesuatu tapi nggak bisa" cerita Arkan
Rama tertegun sejenak, ia ingat sesuatu tapi masih enggan untuk menanyakan.
"Dulu Karin punya sahabat di pesantren, saya kurang tahu namanya, sahabatnya juga meninggal di waktu dan tempat yang sama saat Karin kecelakaan" ucap Arkan
"Karin pernah di pesantren bang?".
"Pernah cuma setahun setengah karena papi sakit dia pindah kesini dan sekolah di sekolah negeri" ucap Arkan.
"Di pesantren mana bang?"
"Daarul Qur'an"
"Daarul Qur'an? Kok sama dengan adik saya?" Tanya Rama
"Adik kamu di sana juga?"
"Iya bang, kalau dia masih hidup ya seusia Karin, bahkan mungkin satu angkatan" ucap Rama.
"Semenjak kecelakaan itu, memang kondisi mental Karin sering down, kadang marah nggak jelas, kadang tiba-tiba diam dan pusing mendadak trus pingsan" cerita Arkan
"Tadi dokter Hans juga ngomong begitu, kondisi Karin seperti dalam traumatik cukup dalam, dan itu bisa saja mengganggu mental nya" tambah Rama
"Seandainya aku tahu siapa yang di temui Karin saat itu, dan untuk apa mereka janjian di pendopo cake dan bakery" ucap Arkan menyesali.
"Saya juga menyesali saat hari dimana adik saya meninggal kecelakaan bang, seandainya saat itu saya menunggunya di sana" ucap Rama.
"Sudahlah, semua sudah menjadi suratan takdir Allah swt. Kita yang harus ikhlas ram" ucap Arkan .
"Ayo balik bang, siapa tau Karin siuman" ucap Rama menyudahi makannya.
__ADS_1
"Ayo"