Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
CJIS 28


__ADS_3

"Maafkan ucapan Karin" ucap Arkan dengan rasa bersalah pada Rama.


Rama tersenyum dengan nafas teratur, dalam hati ia juga merasa bersalah telah menarik Karin masuk dalam kehidupannya.


"nggak papa bang, saya maklumi seandainya saat itu saya tidak egois kami tidak akan menikah, dan Karin tidak tertekan, maaf" ucap Rama pelan.


Arkan merasa tak enak mendengar ucapan Rama. Arkan meyakini jika memang sudah seperti in jalannyai di atur oleh sang pencipta.


Memang legowo itu sulit, sama saat ia memutuskan menikahi Sintya dua tahun silam demi menutupi kehamilan Sintya dengan pria lain. Permintaan mantan mertua sekaligus bosnya di perusahaan memang sulit di tolak, apalagi saat itu ia juga benar-benar butuh uang banyak untuk pengobatan sang papi, meskipun pada akhirnya papinya meninggal sebulan setelah ia menikahi Sintya.


Bahkan kini setelah berpisah pun Arkan masih belum bisa legowo melepaskan Boy, anak Sintya. Ia tahu anak itu bukan darah dagingnya dan ia juga tidak pernah menyentuh Sintya selama menikahi wanita itu. Ia terlanjur mencintai Boy sejak saat anak itu lahir ke dunia.


Meskipun setiap hari ia menyempatkan untuk mengunjungi anak balita itu, tetap saja baginya Boy adalah bagian dari hidupnya selama ini.


"bang, aku mau tidur dulu," ucap Rama berlalu meninggalkan ruang keluarga masuk ke dalam kamar Rama.


Rama tak mau mengganggu Karin hingga anak itu benar-benar bisa menerima dan memaafkannya.


Arkan ikut menyusul masuk ke dalam kamar. Mengabaikan suara sendok yang terjatuh di lantai dapur. Begitulah Karin jika marah akan ia lampiaskan pada perkakas dapur yang tidak bersalah.


Paginya Karin benar-benar tak bangun meski hanya sekedar membuka pintu. Hatinya masih benar-benar kesal setelah melihat Rama semalam. Dalam hati ia mengutuk laki-laki yang berstatus suami itu.


Rama dan Arkan sudah pergi ke kantor polisi untuk memenuhi panggilan. Sebenarnya Arkan ingin membicarakan ini dengan Karin, tapi kondisi anak itu benar-benar membuat orang dirumah merasa tertekan.


Rupanya semalam mami dan yang lainnya juga bangun mendengar teriakan Karin dari lantai atas tapi mereka urung keluar setelah mendengar suara Rama di ruang keluarga.

__ADS_1


Saat sarapan tadi mami baru menanyakan permasalahan Karin dan Rama menceritakan semuanya. Setelah mendengar penjelasan menantunya, mami merasa memang harus diperjelas persoalan laporan orang tua Jihan terhadap Karin.


"Mi, yakin mau ngomong sama anak itu sekarang?" Tanya Uti sebelum pergi meninggalkan rumah.


"Udah itu urusan mami, kamu pergi saja sana, pelanggan mu banyak yang ngantri" jawab mami


"Bu, Karin mengamuk" kata mbak Aisyah istri bang Ardi dari belakang. Rupanya wanita berbalut busana muslimah itu berlari ke depan menemui ibu mertuanya.


"Astaghfirullah, kenapa Ai? Ayo dah" mami memutar langkah naik ke lantai atas.


Dari arah tangga sudah terdengar suara pecahan dari dalam kamar Karin.


"Rin, buka pintunya Rin, kamu baik-baik aja kan?" Teriak mami menggedor pintu yang ternyata tidak terkunci.


"Mi nggak di kunci" ucap Aisyah menekan gagang pintu.


Mami langsung memeluk anak bungsunya dengan air mata. ia juga ikut sakit melihat anak bungsu kesayangan almarhum suaminya itu terluka.


Aisyah pergi mengambil peralatan bebersih sedangkan mbak Uti hanya mengamati di depan pintu dengan tangan bersedekap dan nafas naik turun. Tak lama ia memutuskan pergi karena waktunya buka toko sudah terlambat dua jam.


"Rin, maafin mami, maafin Abang dan mbak Uti, mami tahu kami salah menerima lamaran Rama saat itu, sampai akhirnya bikin kamu begini nak, maafin mami" ucap mami mengusap rambut anak kesayangannya.


Karin hanya terus menangis dan menangis tak mampu untuk berbicara apapun lagi.


Mami terus meminta maaf dan mengucapkan perasaan bersalah pada Karin. Mereka juga sebenarnya tidak bisa menyalahkan Rama begitu saja, seandainya malam itu Rama nekat pulang bisa saja ia sudah tidak hidup hari ini. Belakangan mami sudah mendengar dari tetangga toko kuenya kalau ada preman tua yang meresahkan warga kompleks perumahan yang berjarak tak jauh dari tokonya karena ulahnya selalu membuat laporan mengatasnamakan warga kompleks yang tahu apa-apa.

__ADS_1


Kini preman tua itu sudah di tangkap dan mendekam di penjara selamanya karena laporan salah satu warga yang nekat melaporkan ke kantor polisi karena merasa sudah geram dengan kelakuan preman tua itu.


"Aku benci Rama mi…aku benci dia … kenapa mami Nerima lamarannya Hikss hikss…"


"Jangan benci anak orang Rin, ntar kamu jatuh cinta" kata bang Ardi di depan pintu.


Mbak Aisyah yang datang membawa sapu langsung menimpuk kaki sang suami dengan gagang sapu.


"Aku….aku mau cerai Bu" ucap Karin di tengah tangisnya.


Bu Maryam, Aisyah dan Ardi langsung terdiam mendengar ucapan Karin.


"Jangan gegabah ambil keputusan, jangan seenaknya minta cerai" sambar Ardi.


Karin langsung melepas pelukannya dari sang ibu dan menatap tajam sang kakak.


"Kalian juga ambil keputusan seenaknya, tanpa mikir perasaan ku" bentak nya.


"Rin, sudah tenang dulu, Ardi kamu keluar, bukannya kamu udah terlambat masuk kantor?" Tegur Bu Maryam


Ardi langsung melipir namun terlebih dahulu mengusap kepala sang adik dan berucap, "Rama lagi di kantor polisi di penjara" ucap Ardi berbohong.


Ardi tahu adiknya itu sangat welas asih pada siapapun, meskipun dengan musuh sekalipun.


Karin terdiam, dan menoleh pada maminya. "Mi, pak Rama di penjara?" Tanya Karin

__ADS_1


"Di kantor polisi, penuhi panggilan orang tua Jihan yang laporin kamu karena nonjok Jihan kemarin" jawab mami


"Apa?" Tanya Karin terkejut.


__ADS_2