Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 52


__ADS_3

"Cie yang tiap hari dapat kiriman bunga dari pak dosen." Ledek Miftah saat Karin hendak mengambil motornya di parkiran.


"Ck apaan sih." Ucap Karin tersipu malu.


"Cie cie cie." Ledek Dani menyenggol lengan Karin


"Apaan sih kalian ih, nggak usah gitu kali." Ucap Karin merasa malu


Abdul yang berjalan paling belakang memilih diam saja dan nampak cuek bebek. Tapi tak ada satupun yang tahu apa yang sedang di pikirkan anak muda itu.


"Rin, kapan ada waktu?." Tanya Abdul ikut nimbrung


"Mau ngajakin Karin keluar?." Tanya Miftah


"Bukan, sesekali dong kita kerumah Karin bikin acara kek. Seru-seruan gitu, bentar lagi kan libur semester dua, kayak nya bagus kalau kita bikin acara kumpul-kumpul berempat." Ucap Abdul membuat ketiga sahabatnya langsung menghentikan langkahnya.


"Ide bagus, gue setuju." Tambah Dani. Matanya berbinar mendengar usul Abdul


"Oke, gue juga setuju." Miftah ikut menyetujui


"Kalau gue terserah, tapi alangkah baiknya kalau pas kita lagi ngumpul jangan lupain teman yang lain loh, ingat Santi?." Tanya Karin membuat ketiga sahabatnya saling memandang.


"Gais, biarpun Santi sudah nggak di sini, dia tetap teman kita. Nggak ada salahnya kok kalau kita jenguk dia di rumahnya sekaligus silaturahmi." Kata Karin lagi.


Ketiganya terdiam dengan pemikiran masing-masing. Karin menatap mereka dengan perasaan tak enak. Namun beberapa detik kemudian senyum terbit di wajahnya.


"Gue setuju." Ucap Abdul


"Gue juga."ucap dani


"Sama." Ucap Miftah.


"Nah gitu dong, jadi kapan kerumah gue?." Tanya Karin


"Minggu depan selesai semester." Ucap Dani.


"Kelamaan, kalian nggak ingat ada tugas dari pak Johan?."tanya Abdul.


"Oh iya." Ucap ketiganya bersamaan


"Besok, mumpung hari minggu." Usul Abdul kemudian.


"Oke, gue tunggu di rumah. Kalau bisa jangan terlalu pagi agak siangan dikit." Kata Karin.


"Oke." Ucap Dani menyetujui.


Diam-diam Abdul tersenyum tanpa di sadari ketiga temannya.

__ADS_1


"Rin, kenapa sih selalu ada bunga di motor Lo tiap kita pulang kuliah?." Tanya Miftah melihat Karin yang mengambil bunga dan memberikan pada mahasiswa lain yang kebetulan lewat di depannya.


"Bodo amat lah, yang penting gue tahu kalau itu bukan pak Rama." Jawab Karin seraya memakai helm.


"Lo yakin bukan suami Lo?." Tanya Dani.


"Seribu persen yakin, logikanya aja kalau suami gue yang ngasih kenapa harus tiap gue di kampus? Kenapa nggak di rumah aja? Dua puluh empat jam ketemu loh bahkan tidur pun bareng." Kata Karin mengungkapkan isi pikirannya.


"Hem iya juga sih." Sahut Miftah


"Kali ini Gue sependapat sama Lo Rin." Tambah Dani.


"Gue juga mikirnya gitu sih, tapi bisa aja sih Pak Rama ngelakuin itu sebagai penyemangat buat lo. Atau jangan-jangan ada orang lain yang diam-diam jadi fans Lo?." Tambah Abdul


"Kalau fans bisa jadi, tapi kalau pak Rama udah nggak mungkin Oke." Ucap Karin penuh penekanan.


"Ya udah lah itu urusan Lo, yang penting Lo baik-baik saja sama pak Rama." Sahut Dani.


"Oke gue cabut duluan." Pamit Karin mendahului ketiga sahabatnya.


"Lo merasa aneh nggak sama bunga-bunga itu?." Tanya Dani pada dua sahabatnya.


"Yang ada di pikiran Lo ya itu yang ada di pikiran kita." Jawab Miftah.


"Baca sms gue begitu kalian sampai di rumah." Ucap Abdul pelan pada kedua sahabatnya.


"Kalau gini pasti ada sesuatu nih." Batin Dani cepat mengambil kendaraan nya di antara kendaraan lain yang berjejer.


Abdul dan Miftah lebih dulu karena mereka berboncengan.


****


"Assalamualaikum." Ucap Karin saat tiba di rumah.


"Waalaikumsalam." Ucap Aisyah dan mami yang sedang bermain dengan Naina di ruang keluarga.


"Cepat banget pulang Rin." tanya mba Aisyah


"Iya mbak, satu dosen nggak masuk. Harusnya pulang jam satu. Ini baru jam setengah dua belas." Jawab Karin


"Rin, cek saldo tabungan kamu coba." Kata mami


"Buat apa?." Tanya Karin.


"Tadi Rama nitip mami buat transferin uang bulanan kamu. Karena kamu ngorok nggak bangun-bangun." Jawab mami.


"Nanti aja deh ke bank, habis sholat dhuhur." Kata Karin

__ADS_1


"Makanya pake sms banking Rin, biar tahu kalau ada uang masuk ke rekening kamu. Dari dulu di suruh daftarin sms banking malas mulu alasan nya." Cecar mami.


"Males ngantri di bank." Sahut Karin dengan satu tangan seraya mencolek-colek pipi gembul Naina.


"Udah makan belum?." Tanya mami


"Udah di kampus tadi sama anak-anak." Jawab Karin


"Oh ya mi, besok anak-anak pada kesini mau kerja kelompok akhir sebelum semester. Mami masak yang enak ya." Ucap Karin tersenyum memperlihatkan giginya yang gingsul.


"Masak sendiri lah, sebenarnya mami minta kamu bantu di pasar mumpung hari minggu. Tapi ya udah kalau gitu biar Rama aja yang mami minta bantu di pasar." Ucap mami


"Ide bagus, setuju." Sahut Karin mengacungkan jempolnya.


"Diiih enaknya, Lo asik ngumpul di rumah, suami Lo capek di pasar." Cibir Arkan yang tiba-tiba datang


"Bodo amat. Urus aja si Raisa Lo itu, cepat di halalin, jangan disimpan mulu di rumah Lo. ntar dikira Lo nyuri anaknya orang." Balas Karin tak kalah pedis.


"Ada aja isi mulutnya nih anak." Ejek Arkan membuat mami akhirnya marah dan menegurnya.


"Ar, mau mami usir pacar mu atau kita batalin aja lamarannya minggu depan?." Tegur mami membuat Arkan langsung terdiam dan Karin tersenyum penuh kemenangan.


"Maaf mi." Ucap Arkan pelan.


***


"Rin, uang yang ditransfer mami sudah kamu cek?." Tanya Rama saat mereka tengah sibuk dengan ponsel masing-masing.


"Sudah pak tadi siang sekalian daftarkan sms banking. Kenapa banyak sekali pak, yang dulu aja belum pernah aku pakai." Jawab Karin tanpa menoleh.


"Itu sudah hak kamu. Mau kamu pakai apapun terserah kamu, oh ya kata mami besok ada teman-teman kamu datang?." Tanya Rama


"Iya ngerjain tugas terakhir dari pak Johan." Jawab Karin tanpa menoleh


"Oh ya udah, besok pagi biar saya yang masak buat mereka setelah itu pergi ke pasar bantuin mami." Ucap Rama memberi usul.


"Nggak usah repot masak pak. Saya juga bisa." Sahut Karin merasa tak enak. Menoleh sejenak ke arah Rama dengan tatapan tak mengerti.


"Bapak mau nya apa sih?."Tanya Karin.


"Bukan apa-apa. Apa salah aku bantuin istri?." Tanya Rama.


"Ya kan aku nggak minta pak, lebih baik bapak ke pasar aja sama mami. Urusan anak-anak itu biar jadi urusan aku. Lagian bapak ini aneh aja mau ikutan acaranya anak muda." Ucap Karin kesal.


Bukannya marah justru Rama tersenyum mendengar jawaban polos Karin.


"Karena saya mau istri saya bahagia, apa itu salah Rin?." Tanya Rama menatap Karin yang juga tengah menatapnya.

__ADS_1


"Ya udah lah. Apa mau bapak aja." Ucap Karin akhirnya.


__ADS_2