
"Kenapa Karin nggak kamu aja ke proyek Ram?" Tanya Tante Rosa sore itu.
"Saya kasihan Tan kalau dia ikut apalagi ini lokasi proyek sedikit masuk hutan, meskipun ada mess tapi tetap saja saya nggak tega ninggalin dia sendirian di sana kalau saya sedang kunjungan dengan para pekerja." Jawab Rama.
"Apa Karin mau tinggal disini sama kami?"
"Dia sudah bilang setuju Tan, semalam saya sudah ngomong panjang lebar, lagian saya di sana hanya dua minggu saja."
"Tante cuma khawatir kalau dia nggak kerasan tinggal disini, atau bosen dengan suasana disini Ram, tapi kalau memang istri kamu sudah setuju, Tante lega."
"Aku titip Karin ya Tan, soalnya dia punya fisik yang lemah nggak bisa kena hujan apalagi suhu udara terlalu dingin."
"Iya."
"Itu Naira datang, kenapa nangis?" Tanya Rama yang terkejut mendengar suara keponakannya menangis keras dari arah depan.
Tante Rosa yang mendengar suara cucunya langsung berlari ke depan dan melihat Naira yang sedang di gendong oleh Karin dengan pipi yang berdarah.
"Itu kenapa Rin?" Tanya Rama
"Jatuh di aspal depan warung Mak Lastri, ini langsung aku bawa pulang."
"Kok bisa?" Tanya Tante Rosa mengambil alih Naira dari gendongan Karin.
"Tadi sama Bu RT belanja pas kebetulan aku juga belanja, Naira ngejar kucing Mak Lastri trus jatuh nyium aspal. Larinya cepet saya sama Bu RT nggak bisa ngejar." Terang Karin.
"Ya udah nanti om pesenin kucing Persia sepasang buat main di rumah ya, nggak boleh ngejar kucingnya orang lagi." Ucap Rama mengambil alih Naira dari gendongan Tante Rosa.
Karin tersenyum tipis melihat sikap Rama yang sayang dengan Naira. Tante Rosa masuk kerumah mengambil kotak p3k untuk membersihkan luka gores di wajah Naira.
"Udah pengen banget ya pak?" Tanya Karin berbisik di dekat Rama. Tangannya sibuk mengusap air mata Naira yang menetes membasahi lukanya. Rama hanya menoleh sekilas tanpa merespon. Ia tahu Karin hanya mencandai nya saja.
"Sini ikut Tante, minum dulu biar dadanya nggak sakit." Ucap Karin meraih Naira dari gendongan Rama. Anak balita berusia dua tahun lebih itu menurut saja.
Rama mengelus dada dan bernafas berat saat melihat punggung Karin yang masuk dan menghilang melewati pintu rumah. Karin benar-benar sudah membuatnya kesal beberapa hari ini setelah ucapan perasaannya saat itu. Meski semalam mereka sempat berdebat kecil karena Rama harus segera ke tempat proyek tanpa membawa Karin. Lagi-lagi Karin hanya menuruti saja keinginannya dengan jawaban ya ya ya dan itu membuat Rama kesal bukan kepalang di buatnya.
"Aku memang ingin kamu cepat hamil Rin, tapi aku juga nggak mau kalau akhirnya kamu tertekan lalu pergi membawa separuh hidupku." Ucap batin Rama.
"Mas Rama kenapa melamun?" Tanya Aziz yang baru saja datang dari bekerja.
"Loh, udah pulang kamu, pak juragan panen besar ya sampai kamu bawa beras sekarung?" Tanya balik Rama.
"Mas ini di tanya malah ikut nanya, kepiye toh?"
"Hahaha, ya maaf. Naira nangis abis jatuh nyium aspal itu di dalam nangis mulu, saya gendong nggak mau diam." Ucap Rama.
"Lah kok bisa." Sahut Aziz seraya mempercepat langkahnya masuk ke dalam rumah. Begitu melihat Aziz yang baru masuk membawa sekarung beras, Naira langsung turun dari gendongan Tante Rosa dan berlari memeluk Aziz.
"Adek kenapa? Kok bisa gini?" Tanya Aziz mengusap air mata Naira dan menggendongnya.
"Di obatin nggak mau ziz katanya pedis." Kata Tante Rosa.
"Di obatin dulu sama eyang ya, biar sembuh nanti kita main lagi di rumah mas Riski, ngaji bareng disana." Rayu Aziz. Seketika gadis kecil itu mengangguk dan terdiam.
"Sama kamu lebih jinak ya ziz?" Seloroh Karin membuat Tante Rosa tertawa.
"Dia itu memang begitu, di mushola anak-anak TPA itu lebih senang kalau ngajinya sama Aziz daripada sama Riski." Sahut Tante Rosa.
"Umur kamu berapa sekarang ziz?" Tanya Karin
"Baru tujuh belas mbak." Jawab Aziz
"Sudah lulus SMA?"tanya Karin lagi.
"Sebenarnya tahun ini saya ujian madrasah Aliyah mbak, tapi karena saya sudah terlanjur pamit ke pak kyai waktu ibunya Naira meninggal. Jadi nggak lanjut lagi." Jawab Aziz malu-malu
"Duh kok eman-eman ya ziz, kamu mau lanjut lagi nggak? Ke pondok lagi." Tanya Rama.
"Malu mas, udah terlanjur pamitan sama pak kyai Bu nyai, sebenarnya beliau nggak rela saya pamitan tapi ya mau gimana lagi." Kata Aziz sedih
"Saya yang bertanggung jawab sampai kamu selesai kuliah. Lanjutkan lagi mondoknya sekalian ikut ujian kalau masih bisa, itupun kalau nama kamu masih terdaftar sebagai siswa di madrasah maksudnya nama kamu belum di keluarkan dari aplikasi." Terbang Rama.
__ADS_1
"Emang bisa toh mas? Tapi saya nggak tega ninggalin Naira, cuma dia keponakan saya satu-satunya, keluarga yang saya punya mas." Kata Aziz
"Kan ada bude ziz, dari awal kan sudah bude bilang kamu mondok saja biar Naira jadi tanggung jawab bude." Sahut Tante Rosa.
"Biayanya itu bude aku nggak punya duit."
"Kamu pikir bude Iki sopo to ziz? Manut o mas Rama wae, mondok maneh sampai selesai kuliah." Ucap Tante Rosa.
"Memang mas Rama nggak keberatan? Saya nggak mau terlalu banyak ngutang mas." Kata Aziz menatap Rama.
"Saya nggak merasa ngutangin kamu." Sahut Rama.
"Saya mendukung kamu 1000 persen ziz. Lanjutkan lagi mondoknya sampai lulus kuliah." Kata Karin mengangkat kedua jempol nya.
Aziz tersenyum, kali ini wajahnya kembali bersinar setelah setahun lamanya terlihat mendung.
***
"Rin, besok aku pergi dua minggu, bisa nggak aku minta malam ini?" Tanya Rama pelan seraya mengusap rambut Karin yang tergerai di atas bantal.
Karin hanya menoleh sekilas tanpa bicara apapun. Kakinya beranjak turun ke lantai dan berjalan ke arah steker listrik dan mematikan lampu.
Karin membuka lemari dan mengambil satu buah baju dinas dan langsung memakainya tanpa peduli Rama melihatnya atau tidak dalam keadaan gelap gulita.
Setelah merasa siap, kakinya terayun menuju ke tempat tidur dan langsung memeluk Rama.
"Jadi bisa kan?" Tanya Rama lagi. Karin hanya mengangguk saja. Rama tersenyum lebar dan menghujani ciuman berkali-kali di wajah istrinya.
Malam itu mereka habiskan untuk memenuhi keinginan mereka berdua hingga pagi menjelang.
Sinar matahari masuk melalui celah dinding kayu semi permanen itu. Rama menoleh ke arah Karin yang tertidur pulas setelah kepuasan yang mereka dapatkan berkali-kali malam tadi hingga menjalang pagi.
Tangannya meraih ponsel di atas nakas dan melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Rama hanya menghela nafasnya berat. Kali ini pasti Tante sudah pergi ke sekolah untuk menjual di kantin dan Aziz sudah pergi bekerja ke tempat juragan.
Rama mencium Karin untuk membangunkan istri kecilnya itu.
"Pak sudah, saya capek masih ngantuk." Ucap Karin dengan suara serak.
"Sekali lagi sayang." Pinta Rama.
****
"Sorry gue datang lambat, emak gue minta di anter ke pasar dulu." Kata Abdul yang baru saja datang menenteng tas ranselnya.
"Ada apa sih Lo minta ketemuan di waktu liburan." Dani berucap seraya meminum cappuccino hangat.
"Gue dapat kiriman paket atas nama Karin lagi, dan ini lebih menjijikkan daripada buket bunga yang sebelumnya." Ucap Abdul. Kedua temannya langsung terdiam dan saling menatap.
"Atas nama Karin?" Tanya Dani menyakinkan
"Iya." Jawab Abdul
"Gue juga dapat." Tambah Miftah, membuat Abdul menoleh dan menatapnya tak percaya.
"Gue juga Dul." Sahut Dani.
"Lo juga?" Tanya Abdul tak percaya.
Mereka bertiga sama-sama terdiam dan saling menatap tak percaya.
"Apa isi paket Lo?"tanya Abdul.
"Gue nggak berani ngomong, yang jelas lebih menjijikkan kayak Lo bilang tadi Dul." Sahut Miftah.
"Sama gue juga." Ucap Dani
"Kenapa bisa gitu?" Gumam Abdul.
"Gue juga nggak tahu, mau ngomong ke Karin rasanya gue nggak tega." Kata Abdul.
"Gue juga." Timpal Miftah.
__ADS_1
"Apalagi gue." Sahut Abdul.
"Ngomong ke pak Rama aja kalau nggak berani ke Karin." Usul Miftah
"Iya gue setuju." Tambah Dani
"Gue takut gais, Lo nggak tahu aja sih pak Rama kalau marah ngalahin Mak lampir sama gerandong." Ucap Abdul membuat Dani tersenyum lucu.
"Masa kita mau diam aja? Lo pikir ini ulah siapa?"
"Apa ini ulah Jihan?" Ucap Dani mengusap dagunya.
"Bisa jadi enggak, bisa jadi iya, tapi Jihan kan udah pindah ke luar negeri, kalau ini ulah Santi juga nggak mungkin Dan." Sahut Miftah.
"Gue justru mikirnya orang terdekat Karin yang punya dendam pribadi gitu ke Karin." Kata Abdul.
"Bisa jadi Lo benar Dul, tapi siapa? Kalau abang-abangnya nggak mungkinlah apalagi keluarga nya." Imbuh Dani.
"Nah itu dia, jadi gimana keputusannya, mau ngomong ke Karin atau pak Rama?" Tanya Miftah
"Eh tunggu dulu, sebelum kita ngomong ke pak Rama, coba deh pikir, kalau memang yang ngirim paket ini punya dendam pribadi ke Karin kenapa kita juga kena teror? Hubungannya apa coba?" Kata Dani di anggguki oleh Abdul dan Miftah.
"Yang ngirim paket cewek apa cowok?" Tanya Abdul mengusap hidung nya yang berair.
"Gue cewek pakai baju perusahaan jasa." Jawab Dani.
"Gue juga." Sahut Miftah
"Berarti cuma gue yang nganterin paket cowok." Tambah Abdul.
"Gue bingung, Karin yang di incar kenapa justru kita temennya yang ikut kena teror juga." Ucap Abdul.
"Kita ke markas aja deh, Abang Lo lagi di kantor kan? Gimana kalau kita kesana dan buka paket itu disana?" Usul Dani.
"Boleh deh." Ucap Abdul.
"Gaskeuun.. ayo otewe gue yang bayar bill nya." Kata Miftah.
Abdul dan Dani keluar terlebih dahulu sedangkan Miftah membayar bill mereka ke kasir.
Abdul mengambil motornya di parkiran dan tanpa sengaja menabrak seorang perempuan yang sedang berjalan di belakangnya saat mendorong mundur kendaraan roda duanya keluar dari parkiran.
"Maaf mbak, maaf." Ucap Abdul sopan.
"Nggak papa mas, permisi." Perempuan itu menoleh sebentar melihat Abdul lalu pergi.
Dani yang melihat kejadian itu, memicing menatap tubuh gadis itu yang berjalan seperti terburu-buru.
"Gue kayak pernah lihat sih dari postur tubuhnya. Tapi siapa?" Batin Dani bingung.
"Ayo pergi." Interupsi Miftah dari arah belakang yang menepuk pundaknya. Dani tetap diam menatap punggung gadis itu yang menghilang di belakang kafe.
"Lo kenapa sih? Kesambet?" Cibir Miftah mengambil alih kendaraan roda dua yang di pegang oleh Dani.
"Gue kayak pernah lihat cewek yang tadi di tabrak Abdul, tapi di mana ya Mip?" Gumam Dani.
"Mana gue tahu, dari orok Lo udah jomblo akut jangan bilang Lo jatuh cinta pada pandangan pertama. Basi tau." Cibir Miftah.
"Ngapain sih pada debat? Ayo pulang." Seru Abdul.
Dani melangkah ragu naik ke atas boncengan motor. Ocehan Miftah yang ngalor-ngidul seperti angin lalu karena pikirannya masih terfokus pada gadis yang di tabrak oleh Abdul tadi.
"Woi Lo mau mati muda anjir?" Bentak Miftah memukul tangan Dani yang masih memegang helm.
"Eh maap, maap." Ucap Dani tersadar dari lamunannya.
"Lo kenapa sih?" Tanya Miftah menatap kesal pada Dani yang baru kali ini membuatnya heran.
"Nanti gue cerita di markas, mudah-mudahan gue ingat siapa perempuan itu." Ucap Dani lirih membuat Miftah tambah bingung.
"Au ah ayo cepat, Abdul udah pergi." Imbuh Miftah.
__ADS_1
Saat motor yang mereka naiki sudah melewati gerbang cafe ke jalan raya, gadis yang bersembunyi di belakang tembok kafe mengintip dan mengelus dada.
"Aku selamat, semoga saja mereka tidak mengenalku. Aku nggak akan berhenti meneror mereka sampai Karin dan Rama berakhir dengan perceraian." Batinnya penuh dendam.