Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 35


__ADS_3

Sesuai kesepakatan mereka, setelah makan malam dan memberikan sedikit wejangan pada Karin, Arkan dan Uti pulang, tapi sebelum pulang Arkan meminta teman baiknya di kantor untuk menemani Karin di rumahnya agar anak itu tidak kesepian.


Karin dan Uti sebenarnya berat jika harus meninggalkan Karin sendiri, apalagi Karin tidak terbiasa jauh dari mereka. 


"Mbak sedih?" Tanya Arkan menoleh ke arah samping.


"Baru kali ini mbak liat mami semarah itu Ar, mbak takut kalau nantinya mbak juga melakukan kesalahan pada suami dan mami tahu lali marah juga seperti itu, ngebayangin aja mbak udah merinding Ar" jawab Uti lugas.


"Aku tahu mami, mami sebenarnya nggak tega dan merasa bersalah sama Karin, tapi mami pasti punya alasan kenapa harus melakukan hal itu." Sahut Arkan.


"Iya Ar, ngomong-ngomong si Raisa itu teman baik kamu atau ……" tanya Uti penuh selidik, matanya memicing memandang adik sepupunya itu. 


Arkan di buat diam tak berkutik,ia tahu serapat-rapatnya ia menyimpan sesuatu pasti akan ketahuan juga. Arkan kemudian tersenyum penuh arti dan menatap Uti dengan bibir tersungging. 


"Malah mesem, jawab hayo… Raisa itu siapa? Pacar kamu? Cemceman? Atau calon adik iparku?" Goda Uti membuat Arkan semakin salah tingkah.


"Apapun lah yang mbak bilang, tapi aku minta jangan ngomong ke siapapun dulu ya termasuk mami, plisss" ucap Arkan dengan tatapan memohon.


Uti langsung mengadahkan satu tangannya ke depan. 


"Apaan nih?" Tanya Arkan sok tidak mengerti


"Nggak gratis" ucap Uti menggoyangkan tangannya


"Ckckck, uang mbak itu udah banyak, kenapa masih mlintiri uang adiknya sih??" Oceh Arkan sebal.


"Ya udah kalau nggak mau, malam ini juga aku cerita ke mami dan orang serumah biar heboh, Arkan yang baru cerai empat bulan Langsung nikah lagi gara-gara nggak pernah dapat belaian" ucap Uti mencoba memprovokasi Arkan. 


"Ck, mbak Uti mah, itu urusan besok, aku fokus nyetir, kalau ada apa-apa mbak yang tanggung jawab emang mau?" Seloroh Arkan


"Hillih bilang aja ngeles… budaya lama" cibir Uti mendapat pelototan dari Arkan. 


"Auuu takut" ucap Uti seraya menirukan gaya ketakutan. 


Mereka akhirnya tertawa bersama hingga tak terasa mobil sudah sampai di rumah.


Suasana rumah begitu hening dan sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Arkan dan Uti masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Sementara itu di lain tempat Rama dan Agam baru saja tiba di sebuah rumah kecil yang sederhana dan asri serta masih terawat. 


Sudah larut malam tapi pintu rumah itu sepertinya memang sengaja dibiarkan tetap terbuka untuk menyambut kedatangan dua tamu malam ini. 


Agam melangkah mengetuk pintu sebelum masuk untuk memastikan sang pemilik rumah masih terjaga.


"Assalamualaikum pakde Karim, ini saya Agam" ucap Agam di depan pintu. 


Sementara Rama duduk di kursi yang ada di teras satu tangannya sibuk mengurut kaki nya yang terasa kram karena duduk terlalu lama di dalam mobil dan tidak bebas bergerak.


Terdengar suara langkah kaki mendekat dari dalam. Agam menatap pria paruh baya yang berjalan dengan mata setengah mengantuk dan mengenakan sarung sebagai selimut. 


Dengan mulut menguap dan pandangan masih setengah sadar, pria paruh baya itu mendekati Agam yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan senyum mengembang.

__ADS_1


"Masuk, cepat tidur ini sudah jam dua malam, besok kalian apa ndak penelitian?" Ucap pakde Karim tanpa basa-basi. 


Agam dan Rama yang sudah hafal betul karakter pemilik rumah langsung mengangkat semua koper mereka ke dalam rumah.


"Bude Murni sehat?" Tanya Rama 


"Alhamdulillah sehat, kemarin habis dapat bagian PKH hehehe" jawab pria tua itu dengan tawa pelan. 


Agam dan Rama ikut tertawa, "pakde dapat bagian apa?" Goda Agam


"Cuma ****** sama beha hahaha" jawab pria tua itu asal.


Agam dan Rama tertawa, sudah lama mereka tidak mendengar lelucon dari pria paruh baya itu. 


"Cepat tidur, kalian pasti capek, jangan lupa kunci bagasinya, sekarang ini musim maling" pesan pakde Karim sebelum pria itu masuk kembali ke dalam kamar.


Agam dan Rama kembali memeriksa keadaan rumah di luar dan di dalam, memang lokasi rumah pakde Karim berada di ujung lorong yang berbatasan langsung dengan hamparan sawah yang sangat luas. 


Mereka masih mengingat tentunya saat liburan semester kuliah S1 dulu, mereka hampir kehilangan salah satu kendaraan yang lupa di masukkan ke bagasi karena kondisi mereka benar-benar lelah saat itu setelah menempuh perjalanan jauh. 


Agam memeriksa kunci bagasi dari pintu samping yang terhubung langsung dengan ruang makan, Rama melihat sekeliling rumah dan menutup pagar besi setinggi dua setengah meter itu.


Mereka berdua dulu yang sengaja membuat pagar tinggi itu setelah aksi kejar-kejaran dengan maling yang hendak mengambil motor salah atau teman mereka. 


Meski pelaku tertangkap dan ditahan, tentu hal itu juga masih menyisakan trauma bagi warga sekitar. 


Rama masuk dan mengunci pintu rumah, Agam menyusul ke dalam kamar dan berbaring. 


"Mau mandi, gerah sekalian sholat malam" jawab Rama.


"Ya udah, bangunin pagi ya, gue mau ke sawah lihat hasil tangkapan ikan pakde" ucap Agam.


"Emang pakde ngomong?" Tanya Rama.


"Ya nggak sih," jawab Agam nyengir


"Bilang aja mau caper sama anak juragan Kunto hahhaa" timpal Rama membuat Agam malu setengah mati.


Rama melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Sedangkan Agam langsung terlelap karena merasa lelah.


Di rumah milik Arkan, Karin tengah gelisah, teringat saat ia benar-benar marah dan mengusir Rama hingga membuat mami marah besar.


Meskipun ada Raisa yang menemaninya tetap saja Karin merasa aneh tinggal di rumah sebesar ini hanya berdua dengan orang yang baru ia kenal.


Melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari, Karin benar-benar merasa gelisah tak karuan. 


Tidak biasanya ia terjaga di tengah malam seperti ini. Sejak tadi ia berusaha menutup mata tetap saja tidak kunjung terpejam. 


Karin memilih duduk di tepi ranjang, mengambil ponselnya dan membuka beberapa pesan. Karena bosan akhirnya Karin memilih keluar kamar dan ke dapur mencari cemilan. 


Melewati kamar yang di tempati Raisa, karin berhenti sejenak, karena mendengar suara orang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. 

__ADS_1


Karin melihat ke arah pintu yang terbuka sedikit dan melihat Raisa tengah larut dengan bacaan Al-Qur'an nya. Karin tersenyum dan meneruskan langkahnya ke dapur.


Karin membuka tudung saji dan melihat menu istimewa kesukaannya. Terdiam sesaat lalu menutup kembali dan mengambil segelas air dan menghabiskan dalam satu tegukan. 


Karin kembali ke kamar dan berpapasan dengan Raisa yang baru saja keluar dari kamar. 


"Kamu nggak tidur mbak?" Tanya Raisa


"Kok mbak sih? Kan saya lebih muda, mbak Raisa ini aneh" jawab Karin merasa risih dengan panggilan mbak padahal usia Raisa lebih tua dua tahun dari nya. 


"Maaf kalau sampean tersinggung, kita kan baru kenal, saya terbiasa memanggil mbak dengan teman-teman di pondok, lebih sopan lah gitu" jawab Raisa pelan.


"Oh mbak Raisa ini alumni pondok pesantren mana kalau boleh tahu?" Tanya Karin.


"Dari Daarul Qur'an, saya sudah lulus empat tahun lalu" jawab Raisa.


"Em…empat tahun lalu? Padahal usia kita cuma beda dua tahun mbak katanya bang Arkan" tanya Karin heran


"Memang benar mbak, hanya saja di akta saya di tuakan biar cepat masuk sekolah katanya almarhum orang tua saya gitu sih" jawab Raisa


"Maaf mbak, nggak ada maksud menyinggung, saya nggak tahu kalau mbak yatim piatu" ucap Karin dengan perasaan bersalah


"Nggak apa-apa mbak, sudah seharusnya mbak Karin tahu" ucap Raisa.


Karin terdiam, mengingat sebuah tempat yang tadi di sebut oleh Raisa kepala Karin sedikit merasa sakit secara tiba-tiba. 


Pesantren Daarul Qur'an, nama itu terngiang di ingatan Karin dan membuatnya merasa sakit yang tiba-tiba.


"Mbak, kenapa? Sakit?" Tanya Raisa melihat Karin meringis dengan memegang kepalanya


"Antar saya ke kamar bisa mbak?" Tanya Karin memohon


",Bisa…ayo" ucap Raisa langsung merengkuh Karin dan membopong nya ke kamar. 


Sampai di kamar Karin langsung berisitirahat. Raisa dengan telaten mengusap punggung Karin hingga tertidur.


Setelah Karin benar-benar tertidur, Raisa kembali ke kamarnya dan menghubungi Arkan tentang keadaan Karin. 


Paginya sesuai janjinya, Uti mengantar motor milik Karin agar sang adik tidak kelelahan naik angkot jika ke kampus. 


"Karin belum bangun mbak?" Tanya Uti pada Raisa yang tengah menyiapkan sarapan.


"Mbak Karin sakit mbak, semalam pucat trus sakit kepala tiba-tiba, kata bang Arkan kalau sarapan menu sarapan susu dan roti ya?" Tanya Raisa memastikan 


"Iya mbak, itu kesukaan dia, ya udah saya pamit ya mau buka toko di pasar, ini kunci motor sama kopernya karin, tolong di pastikan ya mbak, kalau Karin kondisinya lemah langsung hubungi saya atau Arkan. Saya titip adik saya yang manja ya mbak, maaf kalau merepotkan" ucap Uti menyerahkan koper dan kunci motor pada Raisa.


"Nggak papa mbak, saya senang akhirnya punya teman ngobrol"


"Ya udah saya pamit, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam hati-hati mbak Uti"

__ADS_1


__ADS_2