Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 37


__ADS_3

Abdul, Miftah dan Dani menatap heran pada Karin yang lebih banyak diam sejak pagi. Ketiga sahabat itu saling sikut saat dosen yang mengajar sudah keluar dari kelas. 


"Lo nanya duluan gih" bisik Miftah pada Dani


"Abdul aja deh, gue takut" jawab Dani 


"Dul, Lo aja deh" bisik Miftah menyenggol lengan Abdul


"Ck, biarin aja dulu, kalau sudah tenang nanti pasti ngomong sendiri, Lo kira masalah yang kemarin nggak bikin mental dia down?" Bisik Abdul menekan ucapannya.


"Bener juga sih" timpal Dani. 


Tak lama Karin keluar kelas menenteng tas karena jam perkuliahan mereka memang sudah selesai. 


"Dah ayo pulang, jaga jarak" ucap Dani mengikuti langkah Karin yang sudah keluar dari kelas.


"Santai ngapa sih dan?" Ucap Abdul.


"Ck, Lo nggak peka sih Dul?" Cibir Miftah saat Dani sudah keluar kelas


"Nggak peka gimana maksud Lo?" Tanya Abdul heran


"Lo nggak peka sama sikap Dani ke Karin?" Tanya Miftah lagi


Abdul mengerutkan keningnya tanda tak mengerti. "Ngomong yang jelas Mip" ucap Abdul


"Lah, ya udah lah ayok pulang" ajak Miftah


Abdul dan Miftah berjalan menyusul Dani yang sudah jalan bersisian dengan Karin. Sampai di depan gerbang rupanya sudah ada Raisa yang menjemput Karin. Dani melambai pada Karin yang sudah pergi bersama Raisa.


"Tumben Karin di jemput cewek, biasanya naik motor sendiri" ucap Miftah berdiri di samping Dani.


"Karin kerja kayaknya, soalnya gue pernah liat itu cewek di butik langganan mama sih kalau nggak salah ingat" ucap Dani menatap kepergian Karin yang sudah menghilang di ujung jalan.


"Karin kerja? Bukannya tiap hari juga di pasar induk bantuin kakaknya jual campuran" kata Abdul 


"Nggak tahu lah, yang penting dia udah baik-baik aja, meksipun masih murung, apa gara-gara pak Rama mengundurkan diri ya?" Ucap Dani berpikir


"Eh?" Miftah menoleh ke arah Dani.


"Lo kenapa Mip?" Tanya Dani heran


"Tadi Lo bilang pak Rama mengundurkan diri?" Tanya Miftah terkejut


"Lah Lo nggak tahu? Astoge…." Ucap Dani menepuk dahinya


"Astaghfirullah…." Ucap Abdul membenarkan kalimat Dani.


"Emang beneran pak Rama mengundurkan diri huh?" Tanya Miftah sekali lagi 

__ADS_1


"Astaga… Lo nggak lihat di mading prodi?"


"Nggak" ucap Miftah menggeleng.


"Tumben lo ketinggalan info, biasanya aja paling cepet" cibir Dani


"Nggak punya kuota, makanya gue nggak tahu informasi apapun" jawab Miftah ngasal.


"Dah, ayo pulang" ajak Abdul.


Mereka bertiga berjalan beriringan keluar dari gerbang kampus. Sampai di sudut jalan raya, mata Abdul tidak sengaja melihat Ridho tengah berbincang dengan seseorang dan menyerahkan beberapa lembar uang. 


Mata Abdul menyipit karena menyadari gelagat Ridho mencurigakan. Abdul memilih memperhatikan saja tanpa berniat menghampiri.


"Aneh banget si Ridho" batin Abdul.


"Heh ngelamun, ayo pulang" ucap Miftah menarik lengan Abdul.


____


"Mbak kerja di sini?" Tanya Karin pada Raisa saat mereka tiba di parkiran butik


"Iya mbak, saya kerja di sini sudah setahun, mbak biasa kesini?" Tanya balik Raisa


"Nggak juga, cuma pernah datang kesini anterin mami aja" ucap Karin


Karin mengikuti langkah Raisa memasuki butik. Karin duduk di sofa yang di sediakan khusus untuk pelanggan yang datang. 


Karin melihat interaksi Raisa dengan seorang wanita berbusana muslimah modern yang terlihat anggun meski posisinya membelakangi Karin.


Saat wanita itu berbalik, netra mereka bertemu, Karin cukup terkejut pasalnya pemilik butik itu tidak lain adalah seniornya di kampus.


"Mbak Kinara?" Ucap Karin tersenyum mengulurkan tangannya 


"Eh saya Keisya, adik kembarnya Kinara, pasti temen kampusnya ya?"  Menjabat tangan Karin.


"Eh? Kem…kembar?" Tanya Karin terkejut.


"Hehe nggak usah panik gitu mbak, tidak banyak yang tahu kalau kami kembar, karena saya hidup di luar negeri cukup lama belasan tahun" ujar Keisya


"Oh gitu, maaf saya nggak tahu kalau kalian kembar heheh" ucap Karin malu-malu 


"Nggak apa-apa, udah biasa, silahkan duduk mbak, mau minum apa?" Tawar Keisya


"Nggak usah repot mbak, air putih biasa saja" ucap Karin merasa tidak enak. 


"Nggak boleh gitu, mbak suka vanilla latte? Kebetulan ini sudah jam makan siang sebentar lagi pegawai katering datang, mbak jangan pulang ya kita makan bareng-bareng di sini" ucap Keisya membuat Karin merasa tidak enak untuk menolak


"I..iya mbak, makasih sebelumnya, nggak enak ngerepotin, padahal saya cuma nemenin temen saya aja mbak" ucap Karin 

__ADS_1


"Hehe nggak ngerepotin sama sekali, justru saya senang kalau makan bersama karyawan apalagi ada pelanggan datang di jam makan siang" ucap Keisya


"Haduh baik bener ini orang, terbuat dari apa sih hati nya? Lembut banget, seneng deh kalau punya kakak ipar kayak dia" batin Karin merasa nyes dengan sikap ramah Keisya


Tak lama pegawai katering yang di maksud datang membawa beberapa box besar makan siang.


"Bu, kotak yang di lebihkan mau di tambah lagi tidak?" Tanya pegawai katering pada Keisya


"Kalau masih ada tambah saja, bagikan ke masjid dan jalanan ya terutama di kolong jembatan" ucap Keisya 


Karin menatap kagum pada wanita muda yang usianya tak terlalu jauh dengannya itu. Masih muda kaya raya, baik hati lagi. Beruntung banget yang jadi suaminya nanti. Batin Karin.


Akhirnya siang itu Karin menghabiskan waktu di butik bersama Raisa dan karyawan yang lain. Sikap hangat Keisya membuat Karin betah tanpa rasa jenuh menunggu Raisa hingga jam pulang.


Di desa, Rama dan Agam baru saja pulang dari kebun membantu pakde Karim panen mentimun dan sayuran yang nantinya akan dijual ke seorang pengepul yang datang setiap dua kali seminggu. 


"Ram, istri Lo tahu kalau Lo pergi?" Tanya Agam 


"Nggak tahu, tapi kakaknya tahu" jawab Rama.


Mereka duduk di teras belakang karena merasa lelah setelah pulang dari kebun tadi.


"Lo nggak khawatir? Kalau ada apa-apa sama dia gimana?" Tanya Agam lagi. Rama memicingkan matanya


"Istri gue, kenapa Lo yang sewot?" Tanya Rama membuat Agam langsung salah tingkah.


"Hehe maaf mulut gue khilaf" ucap Agam merasa bersalah


"Ck" Rama berdecih lalu meninggalkan Agam masuk ke dalam rumah.


"Istri Rama cantik ya gam?" Tanya bude Sumi. Wanita itu datang membawa kayu bakar dari kebun belakang rumah.


"Heh? I…iya bude paling cantik plus jago beladiri" jawab Agam mesem


"Beh, perempuan sekarang mana ada yang jago beladiri, hebat betul Rama nyari istri, kamu juga kapan nyari istri gam?" Seloroh bude Sumi


"Aiishh itu terus yang di tanya bude, mbok menu lainnya kek yang di tanyain, pantang menikah sebelum lulus S3 hehe"


"Selak karatan manok mu gam" ledek pakde Karim menghampiri Agam yang duduk di teras.


"Jiiiahhh malah di dungani elek to pakde.." ucap Agam kesal


"Hahaha mbok nyari istri dulu, nanti wisuda S3 mu udah ada yang nemenin foto" sahut bude Sumi


"Bener juga sih, tapi sopo seng gelem Karo aku pakde …" ucap Agam membenarkan ucapan bude Sumi


"Rondo kembang e juragan Kunto hahaha" sahut Rama dari pintu.


"Asem…" ucap Agam melempar handuk ke arah Rama. Mereka semua tertawa. 

__ADS_1


__ADS_2