Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 62


__ADS_3

Deru mesin mobil terdengar membelah jalanan licin dan berlumpur. Langit masih nampak gelap tertutup awan hitam, rintik hujan pun masih turun membasahi tanah becek kemerahan yang menjorok karena lindasan kendaraan yang lalu lalang.


Rama terpaksa menghentikan laju mobilnya karena suara ponsel yang sejak tadi berdering. Dengan tenang benda berbentuk persegi itu ia ambil dari atas dasboard mobil.


"Assalamualaikum ada apa Dul?"


"Saya di jalan mau ke proyek."


"Ngomong aja, lagian saya sedang menepi."


"Paket?"


"Atas nama siapa? Bener buat Karin?".


"Isinya menjijikan gimana maksud kamu Dul?"


"Kirim aja fotonya di wa saya."


"Loh kalian bertiga dapat paket yang sama?"


"Ini serius buat Karin? Tapi kenapa harus ke kalian yang nerima? Kenapa bukan kerumah mertua saya aja?"


"Ya sudah, kalian simpan itu sebagai barang bukti, nanti bilang sama bang Agam soal ini, biar dia ikut telusuri siapa pengirimnya."


Rama menyimpan ponsel di atas dashboard dengan perasaan campur aduk. Mulai dari buket bunga tanpa nama dan kini kiriman paket misterius untuk Karin bahkan lebih menjijikkan daripada buket bunga yang pernah di terima Karin sebelumnya.


Rama memijit pelipisnya yang terasa nyut-nyutan tiba-tiba, kenapa di saat seperti ini justru masalah berat datang secara tiba-tiba. Akankah Karin terkejut saat tahu kenyataan baru yang di terima ketiga sahabatnya?.


Sedangkan di sebuah rumah minimalis bergaya klasik, Miftah, Dani, dan Abdul sedang muntah-muntah di area belakang rumah setelah beberapa menit lalu mereka bersamaan membuka sebuah paket berisi tikus mati dengan darah segar. 


Agam yang baru datang karena mendapatkan informasi dari Rama langsung menuju ke area taman belakang rumah yang tertutup tembok pembatas yang cukup tinggi.


Agam melihat tiga kotak paket yang berisi tikus mati dengan darah segar. Agam menutup kedua matanya rapat seraya menghela nafasnya berkali-kali. Agam kembali masuk ke dalam rumah dan meninggalkan tiga kotak itu masih tergeletak di atas rumput hijau.


Dani dan Miftah masuk ke dalam rumah dan berebut kamar mandi untuk membersihkan sisa muntahan mereka. 


"Di kamar gue aja sana." Titah Agam yang berjalan dengan seraya mengenakan kaos tangan. Dani langsung naik ke kamar Agam tanpa ba-bi-bu. 


"Dul, sini dulu." Panggil Agam pada adik sepupunya itu.

__ADS_1


"Jijik aku mas, gilo..j*****k wong gendeng seng ngirim paket." Omel Abdul.


"Yo wes, dadi kameramen wae, reneo." Titah Agam. Abdul menurut saja meski perutnya masih terasa mual.


"Kapan paket ini kamu terima?" Tanya Agam.


"Tadi pagi mas."


"Kalau yang lain?"


"kemarin sore katanya, tapi mereka nerima dari kurir cewek." 


"Lha kamu?"


"Kurir cowok."


Agam terdiam mendengar penjelasan adik sepupunya itu. Seperti yang Rama ceritakan beberapa waktu belakangan saat Karin pertama kali menerima buket bunga hingga akhirnya menerima sebuah paket misterius yang sangat menjijikkan. 


"Urusannya sama kalian apa? Yang harus nerima paket kan atas nama Karin kenapa harus kalian yang menerima?" Tanya Agam 


"Lha iku mas makanya kami bingung, kita nggak tahu apa-apa soal ini kenapa harus kita yang kena teror?" Timpal Abdul.


"Karin tipe orang yang bebas mas, dia nggak terlalu suka dekat teman perempuan karena rata-rata mulut ember. Di kampus ya cuma kami bertiga laki-laki yang bisa akrab sama Karin." Sahut Abdul.


"Kamu foto-foto dulu trus kirimkan buktinya ke Rama, abis itu buang dan kubur itu tikus tidak bersalah di bawah pohon sana, biar jadi penunggu." Titah Agam menunjuk satu pohon mahoni yang ada di pojok pembatas tanah miliknya.


"Oh iya jangan lupa videonya." Ucap Agam mengingatkan. Setelahnya Agam masuk ke dalam rumah.


Abdul hanya duduk sambil menutup hidungnya dan menatap horor melihat tiga ekor tikus yang mati bersimbah darah. 


"Emang kita salah apa sama yang ngirim Lo kesini kus-tikus. Lo dikirim khusus buat Karin kenapa musti kami yang harus nerima? Mau nggak mau gue harus nuntut balas sama yang nyakitin Lo hingga mati seperti ini. Dasar manusia biadab." Gumam Abdul menahan kesal.


Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Rama menerima pesan masuk dari Abdul dan langsung membacanya. Rama hanya mengurut dada saat melihat video singkat yang Abdul kirimkan. 


"Apa ini ulah Satria? Bajingan satu itu belum kapok ganggu hidup gue dan orang tuanya sendiri." Batin Rama geram satu tangannya memukul setir.


Dengan perasaan kesal bercampur aduk, Rama melajukan kendaraannya hingga sampai di tempat tujuan. 


Hamparan sawah luas dan menghijau menghiasi indera penglihatannya, Rama keluar dari dalam mobil dan berjalan pelan ke arah dua orang pria yang sedang duduk-duduk di balai.

__ADS_1


"Permisi, numpang tanya pak." 


"Iya dari mana mas?


"Saya dari Jakarta, mau tanya arah ke lokasi proyek xxx di desa yyy kemana ya?"


"Oh mas sudah sampai, tapi lokasi proyek nya masih jauh ke sana, lewati jalan setapak, mas ini penanggungjawab proyek?"


"Iya pak."


"Kalau begitu ayo saya antar, kita harus melapor dulu ke kepala desa dan aparat, apa mas ini mau menginap disini?"


"Sepertinya hanya dua hari saya disini pak, nanti ada orang dari perusahaan yang menangani proyek saat saya pulang." Kata Rama. Pria tua yang berbaju khas petani itu mengangguk mengerti.


Rama berjalan menyusuri jalan setapak menggunakan motor milik petani tadi. Sepanjang jalan hingga ke lokasi proyek memang hamparan sawah dan kebun yang luas.


"Apa kendaraan proyek biasa lewati jalan ini pak?"


"Tidak mas, mereka lewat jalur lain yang tembus ke area proyek. Mas tadi lewat arah barat ya?" 


"Iya pak, saya lewat arah barat, saya pikir lebih cepat karena ada jalan pintas, ternyata salah hehe."


"Kita sudah sampai mas itu lokasi pembangunan proyek jembatan yang menghubungkan dua desa, kalau untuk pembangunan sekolah ada di sebelah sana mas." Kata pak petani menunjuk ke arah lorong.


"Lewat jalan setapak yang itu?" Tanya Rama mengikuti arah pandang pria di sampingnya.


"Iya pak, sekitar seratus meter dari sini." 


Rama melihat denga memperhatikan daerah sekitar yang memang masih berupa sawah dan perkebunan warga. Jarak antara satu rumah dengan rumah lain memang cukup jauh terbentang oleh areal persawahan.


"Pak komoditi utama warga disini selain hasil padi dan kebun coklat, apa masih ada yang lain?" Tanya Rama.


"Komoditi utama desa kami memang hanya ini pak, hasil panen akan kami jual langsungnya ke pengepul dan sisanya kami simpan untuk kebutuhan sendiri."


"Nilai jualnya apa mencukupi pak?"


"Kalau dari segi kisaran harga ya naik turun pak, makanya kami tidak menjual semua tapi kami simpan sedikit untuk dijual ke desa lain atau ke kota lain."


"Oh begitu." Jawab Rama mengangguk mengerti.

__ADS_1


__ADS_2