
Karin memacu motornya dengan lambat, bayangan ia akan di bully habis-habisan di kampus berkelebat bagai benang kusut memenuhi otaknya.
18 tahun hidupnya tak pernah ada masalah, justru di usia ke 19 tahun masalah itu muncul. Sejak awal ia bertemu Rama hingga hari ini hidupnya benar-benar tak pernah damai.
Ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya agar beban di hatinya lepas tak bersisa. Apalah daya benar kata Abdul hidup masih harus terus berjalan. Bagai sayur tanpa garam jika hidup tak ada batu sandungan untuk melangkah lebih hati-hati.
sampai di depan gerbang, hal pertama yang ia dapatkan bukan lagi sosok Abdul yang sudah ia janjikan untuk menunggunya, tetapi cibiran pedas mahasiswi yang mengakui dirinya sebagai penggemar pak Rama di dosen idaman para wanita.
Karin kesal bukan kepalang, tapi ia tak mau gegabah mengambil tindakan, bisa-bisa ia kena skors jika harus meladeni mulut tak bermutu dan tak bermoral macam mereka.
Sampai di parkiran ia bernafas lega karena Abdul ternyata juga baru sampai dan menunggu nya di parkiran.
tapi tak berhenti di situ, cibiran datang lagi dari senior yang notabene mahasiswi cerdas yang juga mendekati pak Rama.
"Jadi ini si gundik itu, ciiih malu-maluin" cibir perempuan berambut cokelat yang di kuncir kuda.
Abdul langsung menahan lengan Karin yang hendak melayangkan tinjuan.
"Sok-sokan, eh inget ya cewek gundik, jangan pernah Lo sentuh laki-laki gue, ngerti" ancam perempuan dengan tinggi tak beda jauh dengan Karin itu.
Karin tersenyum smirk lalu, "Sayangnya udah tuh" balas Karin menjulurkan lidahnya dan berlalu meninggalkan senior itu yang kepanasan.
Abdul tersenyum melihat sikap yang Karin tunjukkan untuk menjatuhkan lawannya.
"Gitu dong, istrinya pak Rama jangan takut sama nyali kerupuk kayak mereka" goda Abdul
"Ck, kenapa juga Lo tahan gue tadi, udah lama gue nggak nyoba mainan baru anjai" kata Karin membuat Abdul tertawa lebar.
Mereka berjalan menyusuri lorong kampus dan rata-rata mendapatkan hal yang sama, cibiran dan ejekan dari anak-anak kampus yang berpapasan dengannya.
Sampai di depan kelas Karin berhenti sejenak menata hatinya yang gundah. Biar bagaimanapun mengahadapi teman sekelasnya bukanlah suatu hal yang mudah baginya.
__ADS_1
lima bulan menjadi mahasiswi Karin sudah terbiasa dengan candaan mereka. Namun di tengah badai fitnah yang ia terima bukan tak mungkin semua teman sekelasnya juga akan menjauhinya juga.
Abdul masuk terlebih dahulu, suasana dalam kelas masih nampak ramai dengan candaan tapi saat Karin baru menginjakkan kakinya di pintu, semua langsung terdiam menatap Karin dengan berbagai cara.
Dani menarik masuk lengan Karin perlahan meskipun semua menatap mereka dengan tatapan aneh. Karin juga terkejut mendapatkan perlakuan berbeda dari Dani. Ia pikir Dani juga akan memusuhi nya, nyatanya tidak.
Dani mendudukkan Karin di kursinya lalu menatap semua teman sekelasnya.
"Kenapa pada diem semua? Kesurupan Lo pada?" seru Dani pada anak-anak di kelas.
Cukup lama suasana hening, lalu seorang teman sekelas memberikan celetukan yang membuat Karin langsung meradang.
"Bukannya dia udah di keluarin dari kampus gara-gara jadi simpanan dosen?" ucap salah seorang mahasiswi berjilbab.
"Bangsat Lo" teriak Karin lalu berdiri dan menghampiri gadis berjilbab biru besar itu dan menampar nya berkali-kali.
"Nggak malu Lo sama jilbab Lo yang kegedean huh? Nggak pernah dididik jaga mulut Lo huh" teriak Karin histeris memegang kepala dan menarik rambut gadis berjilbab itu.
"Rin sudah, kini Abdul juga ikut menggenggam tangan Karin dan berusaha melepaskan cengkeramannya pada Jihan.
"Lo bukan pembunuh Rin, ini anak orang, biarkan Tuhan yang balas omongannya, udah Rin kasihan" ucap Abdul membuat Karin langsung melepaskan cengkeramannya.
Beberapa teman langsung membantu Jihan dan membawanya ke klinik terdekat. Dani meminta mereka untuk tidak melaporkan pada Bu prodi dan jangan sampai kericuhan itu sampai ke rektorat.
Karin memilih pulang dengan air mata tak dapat lagi di bendung. Abdul dan Miftah terpaksa ikut pulang mengiringi Karin, mereka takut Karin akan berbuat nekat jika tidak ada yang mengekornya di belakang.
Sementara itu di sudut kelas, Santi nampak terdiam dengan dada berdebar-debar, melihat keberingasan Karin saat memukul Jihan membuat nyali nya ciut dan semakin merasa bersalah karena telah membuat fitnah keji hingga riuh menjadi pembicaraan hangat di kalangan mahasiswa dan dosen. Tentu ini juga mengganggu ketenangan mahasiswa lain yang sedang belajar.
Praduga Abdul dan Miftah salah, ternyata Karin tidak pulang tetapi berbelok ke arah makam. Mereka berdua memutuskan untuk tidak ikut masuk ke area makam tetapi menuggu di luar.
Sementara itu di ruangan rektorat, Rama sedang berhadapan dengan orang paling di segani di kampus.
__ADS_1
"Jadi benar pak Rama sudah menikah?" tanya laki-laki paruh baya dengan setelan kemeja batik.
"Iya pak sebulan yang lalu, kami hanya menikah di KUA, belum sempat menggelar resepsi" jawab Rama
"Dan berita yang beredar di kalangan mahasiswa di kampus apa itu benar?" tanya pria yang biasa di panggil pak Hamzah itu.
"Saya jamin itu tidak benar pak" jawab Rama tegas
"Baik, saya percaya pak Rama, tapi dengan syarat selesaikan berita miring yang sudah beredar itu, saya tidak mau itu merusak citra kampus terutama kita sebagai dosen di sini" putus pak Hamzah
Rama mengangguk patuh. Ia tahu betul konsekuensi dari pernikahannya kali ini. memang tidak mudah tapi semua sudah terlanjur terjadi. lalu bagaimana dengan Karin? akankah Karin akan terus bersikap jutek dan menjaga jarak dengannya?
Rama keluar dari ruangan rektorat dan berpapasan dengan Agam yang juga baru keluar dari kelas.
"Ck bahaya istri Lo, barusan nyelakain teman sekelasnya" kita Agam membuat Rama berhenti untuk meyakinkan pendengarannya.
"Jangan bercanda Lo" bisik Rama pelan menahan gerak langkah Agam
"Ck, Lo cek teman sekelasnya, gue kebetulan lihat kejadiannya meskipun nggak semua, Lo tanya aja ketua kelasnya kalau nggak percaya" kata Agam pelan.
Rama bernafas berat, baru saja berhadapan dengan orang nomor satu, sekarang harus menghadapi satu permasalahan lagi.
Rama berjalan pelan dengan pikiran kacau. Mengabaikan ocehan Agam yang ngelantur kesana-kemari.
Pikirannya benar-benar buntu, tidak tahu harus berbuat apa, baru beberapa hari sikap Karin sedikit melunak padanya, tapi kali ini justru semakin berjarak lagi.
Rama bingung harus mulai darimana untuk berbicara dengan Karin tentang permasalahan yang mereka hadapi.
Pernikahan baginya cukup hanya sekali, tapi ketakutannya melebihi apapun yang ia pikirkan saat ini.
"Karin...maafkan aku"batin Rama mengusap kedua wajahnya yang terasa penat.
__ADS_1