Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
CJIS 25


__ADS_3

"Rin, kamu baru pulang? Rama mana?" cecar mbak Uti sembari mengangkat keranjang pakaian bersih dari jemuran.


Karin hanya diam seribu bahasa, tidak mengindahkan pertanyaan mbak Uti yang menatapnya heran.


Bahkan suara Naira yang menangis dari arah dapur pun tidak membuat Karin menoleh. ia tetap berjalan lurus menaiki anak tangga hingga


Braak


Suara pintu kamar ia tutup keras membuat seisi rumah kaget. Ardi yang sedang menyuapi makan Nena juga nampak kaget meksipun ia sendiri ada di halaman belakang.


"Mi, anak bontot mami kenapa?" tanya Arkan yang keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk saja.


Mami yang sibuk menenangkan Naira hanya mengedikkan bahunya saja. Arkan dan Ardi saling tatap. Keduanya tahu pasti ada masalah yang sedang di hadapi adik bungsu mereka.


"Anak mami ngamuk, suaminya nggak pulang" seru Uti dari arah dapur. Melihat Arkan hanya memakai handuk saja tangannya Langsung mencubit pinggang Adik sepupu nya itu.


"Sakit loh mbak, tangan kecil cabe rawit" kata Arkan kesal.


"Lagian nutup akses orang jalan aja Lo, sana mandi cepat" usir Uti.


Arkan masuk ke kamar mandi dengan mulut komat-kamit tak karuan saking kesalnya menahan sakit di pinggang.


"Mi, itu Naira kenapa?" tanya Uti mencoba ikut menenangkan bayi berusia satu setengah tahun itu.


"Nggak tahu ini dari tadi nangis terus, mungkin nyari Rama ti" jawab mami yang terus menenangkan Naira.


"Telpon dong mi, ini udah mau maghrib, tumben juga belum pulang" kata Uti


"Bukannya tadi kamu bilang Rama nggak pulang? Gimana sih ti?" sahut mami


"Tadi itu cuma mau godain Karin aja, ya udah aku telpon deh" kata Uti berjalan masuk kembali ke dalam rumah.


Di dalam kamar Karin menangis sejadi-jadinya, setalah pulang dari makam tadi ia sempat pergi ke toko kue Pendopo di temani dua sahabatnya Miftah dan Abdul.


Barulah menjelang sore mereka memutuskan untuk pulang. Hari ini mereka bolos seharian. Kata Miftah tidak apa-apa sesekali absen mereka warna warni.


Meskipun di cafe hampir setengah hari baik Miftah dan Abdul tidak membahas apapun persoalan yang tengah di hadapi Karin. Mereka tahu jika di posisi Karin sudah pasti merasa tertindas dan tidak terima dengan fitnah yang tidak manusiawi itu.

__ADS_1


Yang menjadi kekesalan Karin saat ini bukanlah siapa yang membuat dan menyebarkan fitnah, tetapi kehadiran Rama sebagai seorang suami yang seharusnya tahu dan peka terhadap apa yang sedang mereka hadapi.


Bukan tidak mungkin jika Rama tak tahu fitnah yang tersebar di kampus tentang mereka. Bermacam pikiran buruk menghantui Karin.


Ketidakhadiran Rama menyelesaikan masalah, bahkan terkesan menjauh membuat Karin semakin terluka. Sejatinya pernikahan mereka memang tidak ia inginkan tetapi bisakah Rama sedikit memberikan ruang untuknya sekedar menyelesaikan dan meluruskan fitnah yang sudah terlanjur terjadi.


Karin semakin tergugu, menghadapi lawan di laga baginya hal biasa tetapi menghadapi fitnah keji yang di tujukan padanya bukanlah hal mudah dan seharusnya Rama tahu itu.


Di depan pintu kamar Karin, mbak Uti berdiri dengan tangan mengambang, ia memang tak tahu apa yang tengah terjadi dengan rumah tangga adik sepupunya yang baru seumur jagung. tapi setelah menghubungi Rama, ia yakin ada masalah yang tengah tejadi di antara mereka.


"Mbak, di panggil mami" kata Ardi dari anak tangga paling bawah.


Uti mengangguk dan langsung meninggalkan kamar Karin. ia memutuskan untuk berbicara dengan adik bungsunya itu nanti setelah keadaannya lebih baik.


"Kenapa mi?" tanya Uti saat sudah tiba di dapur


"Bisa kan kamu antar Naira kerumah Rama saja? Barusan Ardi telpon Rama katanya nggak pulang kesini, mami kasihan lihat Naira nangis terus, siapa tahu kalau kesana dia bisa diem dan tenang" kata mami dengan tatapan memohon.


"Iya tapi siapa yang antar aku kesana mi, jauh sekali" tanya Uti.


"Ya udah kalau gitu, itu udah tidur gitu mi" seru Uti melihat Naira yang tengah tertidur lelap di gendongan Bu Maryam.


"Iya, barusan di Gendong Arkan langsung tidur makanya mami ambil alih biar Arkan bisa sholat magrib dulu" balas mami.


"Karin ada masalah ya mi?" tanya Uti


"Nggak usah campuri urusan rumah tangga adik mu, biarkan mereka selesaikan sendiri nanti kalau sudah tenang biarkan mereka bicara sendiri tanpa di minta. Ingat bulan depan Tomy datang melamar apa kamu sudah siapkan keperluan mu?" tanya balik mami.


"Apa yang mau di siapin? Umur juga udah 32 mi, nggak usah ngoyo lah, biasa aja, lagian mas Tomy juga nggak mau terlalu mewah, malah pingin kayak Karin langsung di KUA hahah" kata Uti.


"Tomy tentara, harusnya ada upacara pernikahan yang apa itu namanya mami nggak tahu"


"Terserah keluarganya saja mi, aku mah nurut wae" jawab Uti.


Di rumah kontrakan, Rama sedang termenung sendiri di dalam kamar. Meski jarinya sibuk menscrol media sosial tetapi angannya melayang pada sang Karin.


Sore tadi ia mendengar berita dari Agam jika Karin memukul salah satu teman sekelas nya hingga masuk ke rumah sakit. orang tua korban tidak terima dan melaporkan Karin ke kantor polisi.

__ADS_1


Pihak kampus langsung turun tangan dan memanggil ketua kelas dan mahasiswa yang menjadi saksi.


Agam meminta pada Rama untuk bisa mendampingi Karin, karena biar bagaimanapun Karin tidak tahu menahu persoalan ini karena ada ketiga sahabatnya yang berusaha membantu dan bersaksi di kantor polisi bahkan memohon pada pihak kepolisian untuk tidak menangkap Karin.


Rama menghela nafas panjang, ia bingung harus dengan cara apa menyelesaikan masalah ini. Sedangkan Karin masih enggan berbicara dengannya sejak pulang dari rumah sakit.


Mertua dan saudara iparnya juga sudah menghubungi nya berkali-kali menanyakan kepulangan nya. Tetapi Rama tidak menggubris. Ia terlalu tertekan dan tak tahu harus berbuat apa.


"Ram, makan malam sudah siap, ayo makan" panggil Tante Rosa di depan pintu kamar.


"Iya Tan sebentar," jawab Rama.


Langkah kakinya terasa berat, beban hatinya benar-benar membuat nya pusing. sebuah panggilan masuk nama Agam yang tertera di layar ponselnya.


"Assalamualaikum kenapa gam?"


"Waalaikumsalam kamu dirumah atau dimana?"


"Dirumah ku, kenapa?"


"Tiga saksi utama masih di tahan karena mereka ngotot nggak mau Karin di panggil, bisa nggak Lo selesaikan? Pak rektor marah dan Lo nggak bisa masuk lagi mengajar kalau masalah ini nggak cepat selesai dalam waktu dua hari, bisa nggak Lo? Karin ada di situ kan?"


"Nggak ada Karin, gue di rumah kontrakan, Karin di rumah orangtuanya"


"Lo gimana sih? Bini Lo dapat masalah tertekan dan Lo santai aja? gila Lo ya jadi laki-laki, mana tanggung jawab Lo sebagai suami Ram?" umpat Agam kesal


", Karin nggak mau ketemu gue, bicara sama gue juga nggak mau" kata Rama


"Apa Lo udah coba tanya ke dia secara langsung? Atau emang itu kesimpulan yang Lo buat sendiri?" cerocos Agam


"Emm....ya ... Dari sikap nya selalu menghindar" kata Rama terbata


"Busyet Lo, lembek amat jadi cowok, susul Karin, bicara empat mata kalau perlu semua keluarganya harus tahu, jangan Lo biarin anak orang menderita, kalau sampai Karin nekat bunuh diri karena tertekan, siap yang paling bersalah disini? Karin atau Lo huh?" kesal Agam


Rama terdiam membenarkan ucapan Rama. Sedetik kemudian ia langsung mengambil jaket dan menghubungi bang Ardi jika ia pulang kerumah dan tak perlu mengantar Naira pulang.


"Tante, aku pamit, istriku sakit" ucap Rama pamitan pada Bu Rosa yang sedang menata piring di meja makan.

__ADS_1


__ADS_2