
"Tante, ada yang nyariin di depan." Kata Aziz begitu memasuki rumah. Baru beberapa hari ini ia pulang ke rumah karena Tante Rosa sedang tidak enak badan.
"Siapa ziz?" Tanya wanita paruh baya itu tanpa menoleh dari barisan ayat Al-Qur'an yang tengah ia baca.
"Laki-laki masih muda seumuran pak Rama Tan, katanya sudah semingguan kesini tapi pintu rumah tertutup terus." Jawab Aziz menyampaikan apa yang ia dengar dari laki-laki yang ia temui di depan lorong rumah.
"Ya sudah suruh masuk, siapa tahu penting mau nagih listrik karena Tante belum sempat bayar." Ucapnya
Aziz berlalu meninggalkan ruang tengah dan membuka pintu depan. Ia menatap sekeliling rumah tapi laki-laki yang belum lama ia temui beberapa menit lalu sudah menghilang tanpa jejak.
"Huh, niat bertamu apa nggak sih, kok kayak jelangkung. Ya udahlah." Putusnya kembali ke dalam rumah.
"Orangnya udah pergi Tan," ucapnya begitu sampai di ruang tengah.
"Ya sudah." Jawab Tante Rosa pelan.
Wanita paruh baya itu menyudahi bacaan Al-Qur'an nya. Menghembuskan nafasnya yang terasa berat beberapa hari terakhir. Sebulan lalu ia mendengar kabar tentang Satria anak satu-satunya yang masih hidup.
"Satria belajar ngaji sama kyai di desa xxx." Ucap Rama sebulan lalu.
__ADS_1
Bahagia tentu saja, tapi apalah daya jika sang anak sendiri tak pernah lagi datang mengunjunginya. Sesakit apapun hatinya karena ulah sang anak di masa lalu, kasih sayang nya pada sang anak tetap tidak berubah. Jemari nya berhenti mengusap air mata saat suara Naira memanggil di depan pintu rumah.
"Nenek, ada orang kecelakaan ketabrak sapinya pak RT." Teriak Naira di depan teras.
Aziz yang mendengar ucapan Naira dari dalam kamar tertawa keras dengan langkah lebar menghampiri anak kecil berusia hampir tiga tahun itu.
"Orang ketabrak sapi Ra? Hehe" gumam Aziz seraya mengusap lembut rambut Naira yang bergelombang.
"Iya disana, ayo abang lihat." Ucapnya menarik lengan aziz untuk mengikuti langkah kecilnya.
Tante Rosa menarik jilbab yang tersandar di kursi dengan cepat berjalan keluar rumah. Dari depan pagar terlihat kerumunan orang sedang melihat seorang pria menggendong korban yang berlumuran darah naik ke atas motor trail milik pak RT.
"Satria" sebutnya dalam hati.
"Bu Ros, eh mau kemana?" Ucap seseibu yang menarik lengannya dari belakang karena ia hendak mengejar motor pak RT yang sudah tak terlihat di ujung jalan.
"It…itu Bu anu, loh mana Aziz?" Ucapnya tergagap mengingat Aziz tak nampak di depan matanya.
"Aku di sini Tan." Ucap Aziz menghampiri.
__ADS_1
"Loh, kamu nggak papa?" Tanya Tante Rosa mengusap wajah Aziz khawatir.
"Bukan aku kok, tapi orang yang tadi itu di bawa pak RT." Ucap Aziz meski merasa bingung dengan sikap Tante Rosa.
"Ya sudah ayo pulang, perasaan Tante nggak enak mau istirahat aja." Ucapnya.
Masuk ke dalam rumah yang pertama kali di lihat oleh Tante Ros adalah bingkai foto keluarganya yang dulu masih utuh. Rasa rindunya pada sang anak beberapa bulan terakhir memang tak terbendung. Seburuk-buruknya Satria di mata keluarga dan teman-temannya, dia tetaplah putra satu-satunya yang masih hidup.
"Tante, kenapa sih selalu lihat foto keluarga?" Tanya Aziz seraya menaruh segelas teh panas di atas meja. Mata nya ikut menatap deretan wajah dalam bingkai foto itu.
"Pak Rama kok nggak ada Tan?" Tanyanya
"Rama keponakan ziz, ini almarhum suami dan anak-anak Tante. Kamu pasti cuma kenal almarhum papinya Naira aja." Jawabnya menatap foto wajah Satria yang masih memakai seragam SD.
"Anak yang pakai baju SD ini kok mirip sama orang yang tadi mau bertamu ya Tan." Ucap Aziz spontan sembari mengingat siluet wajah Satria yang tadi sempat di lihatnya saat baru pulang ke rumah.
"Satria maksud kamu ziz?" Tanya Tante Rosa terkejut.
"Emmm…,......"
__ADS_1