
"Kamu yakin mau pulang?" Tanya Rama saat mereka sedang menyiapkan makan malam di dapur.
"Iya, aku kangen mami." Jawab Karin membuat Rama akhirnya menyerah dan mengiyakan.
Makan malam hari ini yang pertama kali tanpa Aziz. Naira yang biasa makan dengan suapan Aziz kini nampak terdiam di bangku kecil yang biasa ia gunakan saat mereka sedang makan.
Tante Rosa dengan telaten menyuapi Naira meskipun gadis kecil itu beberapa kali tampak menolak. Bahkan tiap kunyahan makanannya, selalu ada nama Aziz di sebut.
"Naira, besok mau nggak ikut Tante ke sekolahnya kak Aziz?" Tanya Karin membuat gadis kecil itu langsung menatap ke arahnya
"Ante benelan?" Tanya gadis kecil itu dengan suara cedalnya.
"Beneran, mau ya besok kita beli oleh-oleh yang banyak, kita makan bareng sama kak Aziz di sana. Mau kan?" rayu Karin.
"Mau mau.. hole aciih ante." Ucapnya tersenyum senang.
"Sekarang makan dulu ya, habisin kalau nggak habis besok nggak jadi ketemu kak Aziz." Kata Rama membuat Naira langsung melahap semua sisa makanan dari piring yang pegang oleh Tante Rosa. Mereka tertawa melihat tingkah lucu Naira yang menggemaskan.
__ADS_1
Di sudut kota xxxx pria berbaju koko putih dengan sarung bermotif batik berjalan pelan ke arah sebuah rumah petak yang tak jauh dari masjid. Rumah petak minimalis dengan desain kuno dan qq yang cukup besar itu nampak megah meskipun terhimpit di antara rumah-rumah mewah bergaya modern yang berdiri di sisi kanan kirinya.
Pria itu tak lain adalah Satria. Lelaki berusia sekitar 25 tahun-an yang sedang berjalan hendak bertamu ke rumah tempat ia tuju. Langkahnya terhenti tepat di depan undakan tangga menatap sejenak ke dalam rumah yang pintunya terbuka lebar.
"Assalamualaikum" ucapnya hingga tiga kali namun tak ada sahutan. Dengan perasaan tak menentu ia berbalik arah hendak pulang namun sebuah suara dari dalam rumah menghentikan langkahnya.
Ia berbalik dan melihat seorang gadis muda tersenyum padanya.
"Silakan masuk kang, tamunya bapak kan?" Tanya gadis berjilbab hitam itu dengan senyuman yang mampu membuat hati Satria bergetar hebat.
"I..iya tadi sore su…sudah janjian." Ucapnya kaku.
Dengan langkah ragu dan kaki sedikit kaku ia mengikuti arahan sang tuan rumah. Begitu masuk Satria merasa seperti seorang narapidana. Suasana rumah yang terkesan sederhana namun memiliki aura cukup menakutkan baginya. Andai sore tadi ia tak membuat janji dengan kepala rumah ini mungkin melarikan diri lebih baik. Namun demi niat yang sudah ia tata sejak lama dan keinginan untuk bisa berubah semakin besar membuatnya urung untuk membatalkan niat itu. Toh apapun yang terjadi statusnya hingga saat ini tetaplah seorang buronan polisi.
Tak lama seorang pria berbadan tegap dengan kumis tipis dan senyum ramah datang menghampirinya. Satria menjabat tangan pria itu dengan tangan bergetar.
"Maaf menunggu lama, anak saya yang ragil minta di semak ngajinya. Kamu dari masjid atau dari rumah?" Tanya pria itu membuka obrolan.
__ADS_1
Satria menjawab apa adanya dengan kepala masih menunduk. Baru kali ini seumur hidupnya merasa seperti seekor kerbau dicucuk hidungnya. Bahkan dengan almarhum bapaknya saja ia masih berani melawan tapi dengan pria di depannya ini tak ada sedikitpun nyalinya. Hingga menjelang tengah malam Satria baru keluar dari rumah itu dengan hati dan perasaan yang lebih lega. Sudah saatnya menata hidup baru kedepan lebih baik.
***
Mobil hitam itu melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah Tante Rosa. Wanita tua itu menatap kepergian Rama dan Karin dengan perasaan sedih begitu juga Naira yang ada dalam gendongannya. Gadis kecil itu nampak tak bersemangat saat melihat mobil sudah mulai menjauh dan menghilang di ujung jalan.
Kemarin Rama dan Karin benar-benar menepati janji mereka untuk mengajak Naira jalan-jalan dan mengunjungi Aziz di pondok pesantren. Gadis itu tertawa seharian hingga tiba di rumah saat malam sudah mulai larut. Dan pagi ini senyum itu kembali surut kala Karin dan Rama memutuskan untuk pulang ke kota.
Sudah dua bulan Karin dan Rama tinggal di desa. Sudah begitu banyak hal mereka lalui bersama. Keinginan Karin yang awalnya hanya ingin menghindari seseorang kini justru membuatnya semakin tak bisa lepas dari Rama. Makin hari hubungan mereka semakin baik. Karin dan Rama sudah mulai saling terbuka satu sama lain dalam hal apapun.
"Kamu nggak pengen beli oleh-oleh buat mami?" Tanya Rama saat mereka sudah di pertengahan jalan.
"Mas aja yang beli aku capek mau tidur." Jawab Karin cepat.
"Kamu sakit?" Tanya Rama dengan satu tangan mengusap dahi sang istri.
"Nggak, cuma lemes aja badan rasanya capek sakit semua." Ucap Karin.
__ADS_1
"Ya udah nanti sampai di toko pusat oleh-oleh kita berhenti."
"Hem."