
"Trus kenapa semalam di hotel Lo teriak-teriak kayak orang kesurupan? Gue sampai jantungan." Tanya Rama
"Orang yang gue suruh ke rumah Gary nggak bisa masuk karena nggak megang undangan. Gue curiga dari situ kayaknya ada yang ngejebak. beruntung tadi pagi Robin langsung nelpon gue dan nanyain soal undangan yang kita dapet." Jawab Agam. Rama manggut-manggut mengerti.
"Huft kayaknya kita harus operasi wajah deh Gam." Celoteh Rama.
"Maksudnya?" Tanya Agam tak mengerti.
"Lo ingat nggak waktu SMA, si Gary pernah deketin Lo dan sering nungguin Lo pulang sekolah, sampai-sampai dia marah gara-gara Lo bentak." Kata Rama
"Ingat gue, tapi gue emang nggak suka aja sama gaya dia yang kayak perempuan. Aneh." Balas Agam.
"Nah itu dia, sepertinya Lo harus operasi wajah biar dia nggak ngenalin Lo lagi hahahah." Ledek Rama
"Ckk apaan. Itu namanya nggak bersyukur." Timpal Agam.
"Kapan ke rumah pakde Karim lagi?" Tanya Rama
"Nunggu fix tanda tangan kontrak proyek kita baru kesana. Gue denger dari bude Sumi kalau anak juragan katanya sudah nikah di lamar sama keponakan kyai." Ucap Agam membuka cerita.
"Wah patah hati beneran Lo, pantes aja dari kemarin mukanya murung mulu." Ledek Rama
"Ya mau gimana lagi, gue mana berani kalau bapaknya kayak gitu Ram. Takut gue." Kata Agam.
"Ya sudah nanti gue kenalin sama temen istri gue yang kemarin ketemu di mall." Ucap Rama memberi harapan.
"Siapa?"
"Dia anak dari kenalan gue waktu magang di KUA." Kata Rama.
"Cantik nggak?"
"Sholihah, Insha Allah. Nanti gue tanya ke Karin."
"Siapa namanya?"
"Kalau nggak salah ingat, Nurul. Kemarin gue sempet ketemu di mall."
"Owh gitu. Okelah yang penting baik dan Sholihah."
"Oh ya, Lo ada kabar soal Satria nggak?" Tanya Rama
"Nggak pernah." Jawab Agam.
"Tante Rosa sakit dan pengen ketemu Satria. Gue nggak tahu harus gimana Gam, Lo tahu sendiri kan Satria kayak gimana. Sampai hari ini gue belum bisa memaafkan kesalahan yang dia buat." Kata Rama.
"Semoga saja dia insyaf. Kapan lo berangkat?"
"Besok pagi nunggu Karin baikan dulu." Jawab Rama
"Hahaha sampai sakit ya bini lo." Ledek Agam. Rama hanya tersenyum masam menanggapi ledekan Agam.
****
"Mi, pamit ya." Ucap Karin mencium tangan mami.
"Hati-hati di jalan, pulang harus ada kabar baik." Balas mami mencium pipi Karin
"Doakan saja mi." Kata Rama melirik Karin yang masih terlihat lesu.
Mereka masuk ke dalam mobil. Rama menyetir mobil sendiri karena hari masih pagi. Rencananya mereka akan ke desa mengunjungi Tante Rosa esok pagi. Dan malam ini mereka akan menginap di hotel untuk beristirahat.
__ADS_1
"Masih sakit hem?" Tanya Rama melihat Karin menguap terus dengan wajah masih lesu.
"Capek, gara-gara bapak juga kan." Jawab Karin menatap keluar jendela.
"Tapi kamu senang kan?" Tanya Rama
"Issh." jawab Karin malu-malu.
"Hahaha, makasih ya sudah bersedia meskipun terpaksa." Ucap Rama merasa bersalah.
"Iya aja deh." Balas Karin.
"Kamu masih sering dapat buket bunga?" Tanya Rama
"Masih, justru kemarin katanya Abdul ada di mejaku. Aneh kan?" Jawab Karin.
"Emang nggak ada anak-anak yang tahu?"
"Nggak ada pak, kemarin kan aku nggak masuk. Katanya si Abdul waktu dia masuk di kelas buket bunga itu sudah ada di situ di atas meja ku." Kata Karin
"Pindah kampus mau nggak?"tawar Rama
"Malas ribet. Cuma soal bunga mau sampai pindah, terlalu kekanak-kanakan pak." Jawab Karin.
"Ya, supaya kamu nyaman aja, aku juga nggak nyaman kalau ada yang ganggu istriku." Ucap Rama membuat Karin tersenyum lucu.
"Cemburu? Saya biasa aja kok pak." Ledek Karin
"Iya kamu udah biasa, tapi buat saya nggak biasa." Balas Rama sedikit tak suka.
"Aku nggak suka orang yang over posesif pak." Kata Karin sarkas
"Maaf kalau kamu nggak nyaman Rin, saya memang posesif." Kata Rama
"Kalau gitu ya jangan posesif sama saya pak, saya bukan orang yang bodoh untuk berkhianat demi ego dan ambisi. Dari dulu saya nggak pernah pacaran, kalau suka sama orang memang pernah tapi nggak pernah berharap lebih. Cita-citaku cuma mau nikah sekali seumur hidup. Udah itu aja." Ucap Karin panjang lebar membuat Rama akhirnya tersenyum.
"Terimakasih, saya sudah suka kamu dari awal kita ketemu di pasar sentral, masih ingat nggak?" Kata Rama
"Udah lupa pak, saya cuma ingat orang yang nggak sengaja saya tabrak bukannya terimakasih di tolong malah saya di plerok'i." Balas Karin.
"Hahah kamu lucu."
"Iya dong."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Karin akhirnya tertidur di mobil hingga mereka sampai di perbatasan provinsi.
Rama memilih berhenti di salah satu hotel untuk mereka menginap malam ini. Sudah beberapa kali mereka berhenti untuk istirahat karena lapar dan masuk waktu sholat. Berhubung hari sudah sore saat mereka sampai di perbatasan, Rama tidak langsung berhenti melainkan meneruskan langkahnya ke hotel yang ada di pusat kota. Mereka sampai pun waktu sudah lewat waktu sholat isya.
"Sholat di hotel aja ya pak, aku capek mau tidur." Pinta Karin yang merasa kelelahan seharian bersandar di mobil.
"Iya ayok, bawa baju ganti secukupnya aja untuk malam ini dan besok sama keperluan kita." Imbuh Rama membuka bagasi dan mengambil satu paper bag yang memang sudah ia sediakan untuk di bawa ke hotel.
"Masukin sini aja baju yang di perlukan, kita nginap cuma semalam. Besok pagi udah cek out." Kata Rama memberikan paper bag pada Karin.
"Bapak pilih sendiri aja baju yang mau di pakai." Kata Karin dengan malas.
"Sini, biar aku yang ambil kamu tunggu di kursi depan sana aja." Pinta Rama menunjuk ke kursi tunggu teras hotel. Karin menurut dengan sikap malas dan duduk di kursi.
Rama memilih pakaian yang akan ia kenakan juga pakaian milik Karin. Tapi sorot matanya mengarah pada paper bag pemberian bos yang di titip pada Agam semalam. Rama meraihnya dan membuka isinya, dalam hati ia istighfar berkali-kali membuka sebuah bungkusan bermerk yang ternyata berisi baju dinas untuk Karin dan beberapa pack alat tes kehamilan. Rama sempat mendumel dalam hati karena oleh-oleh tak biasa dari sang bos.
Setelah yakin dengan pilihannya, Rama menutup bagasi dan mengunci mobil otomatis. Karin nampak menguap berkali-kali. Rama tersenyum karena kini setelah hampir setahun pernikahan mereka, Karin sudah bisa menjadi miliknya secara utuh.
__ADS_1
"Ayo masuk." Ajak Rama menggand lengan Karin.
Mereka berjalan ke arah kamar setelah melakukan reservasi hotel.
"Saya mau tidur duluan pak, nanti bangunin ya." Kata Karin langsung merebahkan diri di atas kasur.
"Nggak mau mandi dulu, terus sholat?" Tanya Rama
"Bentar pak, punggung ku rasanya mau copot." Jawab Karin.
"Ya udah aku temenin, tapi jangan marah kalau aku minta jatah lagi." Kata Rama ikut berbaring di samping Karin.
"Ck, masih capek pak, ini masih sakit, jalan rasanya kayak mau putus semua urat di kaki." Gerutu Karin.
"Nggak ada penolakan." Ucap Rama langsung mengungkung Karin dalam dekapan.
"Pak plis." Tolak Karin
"No debat." Sahut Rama. Karin hanya bisa mengalah saja menuruti kemauan Rama. Bisa saja ia menolak tapi karena masih ingat ancaman mami dan juga ajaran agama, Karin lebih memilih menurut saja.
Hingga tengah malam mereka baru selesai dan Karin tertidur pulas setelah mandi dan berganti pakaian.
****
"Pak masih jauh ya rumahnya Tante Rosa?" Tanya Karin di tengah perjalanan.
"Masih lewati satu kabupaten lagi baru kita sampai, paling cepat kita sampai ya setelah ashar." Jawab Rama.
"Biyuuuh, mending nggak usah ikut aja gue, mana pinggang sakit, ngelayani dia sampai lupa waktu. Hiish kesel banget gue." Batin Karin
"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita istirahat, aku nyari tempat yang cocok dulu." Kata Rama mengusap lengan Karin.
"Terserah, aku mau tidur." Balas Karin kesal bukan main.
Rama hanya mendesah pelan, ia tahu Karin lelah karena melayaninya selama empat hari ini tanpa henti. Bahkan selama di rumah pun Karin tak mau keluar kamar karena merasa malu pada semua keluarganya.
Karin ia biarkan tertidur hingga mereka sampai di desa tempat Tante Rosa tinggal. Sejak tadi Rama memang tidak berhenti untuk istirahat karena ingin cepat sampai. Bahkan urusan perut pun ia abaikan agar Karin tidak mengeluh terus menerus.
Waktu baru pukul dua siang saat mereka sampai. Tante Rosa sangat bahagia menyambut keponakannya yang baru tiba.
"Istri kamu kecapekan Ram, biarkan istirahat dulu di kamar Naira, kamar kalian belum Tante bersihkan, salah siapa mau datang nggak ngomong dulu." Ucap Tante menggandeng Karin masuk kerumah.
"Kejutan Tan, Naira mana?" Tanya Rama
"Naira ikut buk Surti ke pengajian rutin mingguan." Jawab Tante Rosa sembari membuka kamar Naira dan mempersilahkan Karin masuk dan istirahat.
"Tante nggak ikut pengajian?" Tanya Rama.
"Aziz sakit Ram sekarang di rawat di puskesmas, ini Tante pulang ambil baju ganti sama masak buat bekal nungguin Aziz di puskesmas." Jawab Tante Rosa sedih.
"Sudah berapa hari Aziz sakit? Kenapa Tante nggak nelpon aku?"
"Sudah satu minggu, Tante nggak punya pulsa mau nelpon kamu, mau pinjam tetangga juga nggak enak, uang yang kamu kirim saja Tante nggak berani ambil Ram." Ucap Tante Rosa menunduk sedih.
"Astaghfirullah Tante, itu yang sudah hal Tante sama Naira dan Aziz. Meskipun aku nggak punya hak menafkahi Aziz, itu sudah termasuk sedekah jariyah karena Aziz yatim-piatu, Naira juga yatim-piatu, cuma Tante satu-satunya keluarga yang aku punya sekarang." Ucap Rama memandang Tante Rosa dengan tatapan tak mengerti.
"Tante nggak enak Ram, Tante malu sama kebaikan kamu sedangkan di masa lalu hidup kamu sudah kesusahan karena ulah anak Tante Satria." Ucap Tante Rosa terisak.
"Lupakan masa lalu tan, udah Nggak penting untuk kita bahas."
Rama akhirnya memilih diam dan memeluk erat Tante Rosa yang menangis tergugu.
__ADS_1