
"Gimana kondisi istri saya dok?" Tanya Rama pada pria muda berjas putih di depannya
"Alhamdulillah pasien orang yang kuat, dia sudah melewati masa kritis nya. semoga saja secepatnya ada perubahan. banyak-banyak berdoa pak" jawab dokter Hans menepuk pundak Rama.
Pria itu tersenyum tulus pada Rama dan melihat sekilas dengan tatapan sendu ke arah Karin yang masih terbaring lemah di atas brankar.
Rama mengikuti arah pandang dokter muda di depannya dengan tatapan menyelidik. Beberapa detik berikutnya dokter itu pamit menyisakan keheranan di benak Rama.
Rama keluar dari ruang perawatan Karin untuk ke kantin, karena sejak pagi ia belum makan kecuali sepotong roti yang di bawa Aisyah siang tadi. Ini sudah hari ketiga dan malam keempat Karin berada di rumah sakit. Rama berharap kali ini Karin benar-benar siuman.
Nampak dari arah depan mbak Uti dan mami berjalan cepat ke arahnya dengan wajah tegang. Rama berhenti sejenak untuk berbicara dengan mertua dan iparnya.
"Ram, bagaimana Karin ram?" Tanya mami. Tangannya yang terluka memegang kedua lengan Rama.
"Sabar ya mi, Karin sudah melewati masa kritisnya. Semoga Karin cepat siuman" ucap Rama memegang pundak mami.
Mbak Uti memeluk mami yang menangis. Ia menatap Rama yang terlihat lebih banyak berubah setelah tiga Minggu tidak bertemu.
"Kamu udah makan ram?" Tanya mbak Uti
"Hehe baru mau ke kantin mbak" jawab Rama.
"Bukannya tadi Aisyah kesini bawa makanan?" Tanya Uti
"Iya bawa tapi mereka aku minta makan duluan. Nggak bisa ninggalin Karin hehe" jawab Rama menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Mbak Uti memutar bola mata, " ya udah sana cepat makan, ada mas Tomy kayaknya di kantin, sana aja" ucap mbak Uti
"Iya mbak" ucap Rama dan langsung pergi meninggalkan mami dan mbak Uti di depan ruang perawatan Karin.
"Mami mau masuk ti, mau lihat Karin" ucap mami terisak
"Nggak sembarangan kita bisa masuk mi, si Aisyah aja tadi mau masuk nggak di bolehin sama dokternya" ucap Uti
"Kamu izin sama perawat nya ti"
"Tunggu Rama aja mi, nggak usah ngeyel" ucap Uti mengajak mami duduk di kursi tunggu.
Tak lama ada seorang perawat datang dan masuk ke ruangan Karin. Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh mami.
"Sus saya mau lihat anak saya di dalam" ucap mami memohon
"Maaf Bu, pasien akan visit lanjutan oleh dokter, silakan ibu menunggu setelah dokter melakukan visit nanti" kata suster dengan tersenyum lembut pada mami
"Plisss sus, saya baru tahu kalau anak saya kecelakaan, saya mohon" ucap mami memelas
__ADS_1
"Mi, sudah kita tunggu Rama kembali" ucap Uti menahan mami untuk tidak merengek lagi.
"Harap sabar ya Bu, banyak berdoa semoga pasien cepat siuman" ucap suster.
Di ruang dokter, pria muda bernama Hans Purnomo Yusgiantoro itu tengah uring-uringan tak jelas. meskipun jadwal tugasnya hari ini sudah selesai, ia tetap malas untuk pulang.
"Kenapa bro? Kayak orang putus cinta Lo, berapa hari ini gue perhatiin Lo kayak menelan kekecewaan besar" kata dokter Fritz yang baru saja masuk ke ruangannya
"Nggak kenapa-napa, lagi bete aja mau pulang" balas dokter Hans
"Tumben, biasanya Lo paling cepat kalau soal pulang. barusan begini deh, apa karena pasien kecelakaan itu? Lo nekat masukin dia ke ICU VVIP ada angin apa?" Ledek dokter Fritz
"Ck pa'an sih, lagian juga yang jagain juga bodyguard dari perusahaan keluarga Lo kan" kata dokter Hans ketus
"Itu udah lain urusannya sama gue, nggak ada hubungannya. Lo pikir gue nggak tahu, yang minta ke direktur buat masukin dia ke ruang ICU VVIP siapa?" Ejek dokter Fritz tersenyum smirk.
"Ya udah kalau Lo tahu, trus kenapa? Nggak boleh? Udah gue bayar full kali" ucap dokter Hans tersenyum kecut
"Bukan gitu, Lo galau karena ternyata pasien Lo udah punya suami dan suaminya nggak kalah gagah dari Lo. dosen, calon doktor, ahli IT, manajer pula" kata dokter Fritz sengaja memancing dokter Hans
"Dia perempuan yang gue cari selama ini, Karina Anggraeni Suwiryo, dia yang pernah ngubah hidup gue sampai bisa di titik ini" kata dokter Hans dengan berapi-api tanpa sadar sudah masuk jebakan dokter Fritz.
"Ooh jadi gitu, tapi Lo nggak boleh gitu. Dia sudah bersuami, jangan ganggu rumah tangga orang lain kalau nggak mau kena karma oke?" Kata dokter Fritz
"Nggak segitunya juga gue Fritz, aneh aja Lo." Elak dokter Hans.
Hari sudah mulai gelap, Rama baru kembali setelah dua jam lalu pamit ke kantin. Mami dan mbak Uti masih setia menunggu di depan ruangan Karin.
"Mi, kirain masuk di dalam?" Tanya Rama
"Nggak boleh ram. kata suster dokter mau visit lagi, nunggu setelah dokter visit katanya" jawab mbak Uti
"Ya udah aku masuk dulu mi, kalau ada apa-apa nanti aku langsung keluar, mami banyak berdoa ya" ucap Rama memegang pundak mami
Rama masuk ke dalam dan duduk di sisi brankar Karin. Di tatapnya lekat wajah Karin yang pucat.
"Cepat bangun sayang, maafkan mas yang sudah membuatmu terluka. Bangunlah apapun yang kau minta akan aku turuti, kalaupun itu harus berpisah dengan mu." Batin Rama sedih dan menciumi punggung tangan Karin yang tidak tertancap jarum infus.
Berulang kali Rama menyapu air matanya, berulang kali pula ia menciumi punggung tangan istrinya. Berharap ada keajaiban.
"Maafkan aku Rin, bangunlah. Apapun yang kamu minta aku turuti. Mami mengkhawatirkan mu. mami sayang sama kamu Rin, bangunlah" kata Rama membisikkan di telinga Karin.
Tangannya terulur mengusap kepala Karin dengan sayang. Rama benar-benar menyadari perasaannya kali ini. Ia sudah jatuh hati pada Karin, meski sesering apapun Karin berbuat tak baik padanya beberapa waktu lalu.
Tanpa terasa pernikahan mereka sudah empat bulan. Masih seumur jagung, tapi pesona Karin mampu memikat Rama sedemikian besar hingga membuat laki-laki itu merasa harus melindungi Karin dengan segala cara agar tetap dalam dekapannya.
__ADS_1
Lirih ia lantunkan ayat suci di telinga Karin agar wanita di sisinya itu cepat terbangun dari tidur panjangnya. Tanpa sadar Rama ikut terlelap hingga hari sudah melewati senja. Rama terbangun saat sebuah tangan mungil menyentuh kepalanya.
Rama mendongak dan samar-samar melihat Karin sedang tersenyum kepadanya. Tubuhnya ia tegakkan dan mengucek matanya berkali-kali.
"Karin? Kamu sudah siuman sayang?" Ucap Rama tersenyum bahagia dan langsung menghujani Karin dengan ciuman di wajah berkali-kali.
"Maaf" ucap Rama saat sudah menyadari apa yang sudah ia lakukan. Karin hanya tersenyum tanpa bisa berucap apapun.
Rama menangis haru, dan menciumi punggung tangan istrinya. "Terimakasih sudah kuat demi mami dan keluarga" ucap Rama membuat senyum di wajah Karin perlahan memudar.
Rama yang menyadari hal itu langsung meminta maaf kembali, tapi Karin hanya mampu menjawab dengan air mata.
"Maafkan aku Rin" ucap Rama mengusap rambut Karin yang tertutup hijab. Karin menggeleng dan berusaha membuka mulutnya untuk berbicara.
"Haus" kata itu yang terucap sangat lirih di telinga Rama.
Rama dengan cekatan mengambil segelas air dan pipet agar Karin mudah untuk meminumnya.
Tak lupa Rama menekan tombol di sisi brankar. Ia sempat lupa untuk memberi sinyal darurat jika terjadi apa-apa dengan pasien.
Tak lama dokter Hans datang bersama perawat. Dalam hati dokter Hans merasa beruntung membatalkan niatnya untuk pulang.
"Terimakasih sudah menjadi wanita kuat, banyak beristirahat ya, kalau ada apa-apa saya ada di ruangan" ucap dokter Hans tanpa sadar. Karin hanya tersenyum saja meskipun merasa aneh dengan ucapan dokter yang memeriksanya.
Rama yang merasa mendapati satu hal aneh dari sikap dokter Hans langsung memegang erat jari-jemari Karin.
"Istri saya memang wanita kuat dok, terimakasih sudah meluangkan waktu merawat istri saya" ucap Rama membuat dokter Hans tak berkutik.
Detik berikutnya dokter Hans pamit dengan wajah kesal. Hatinya benar-benar merasa tersentil dengan ucapan Rama. Insting seorang suami ternyata kuat juga.
Rama keluar dari ruang perawatan Karin dan meminta mami menemui anak bungsunya itu.
"Mbak udah makan?" Tanya Rama
"Belum, ini tadi mas Tomy kesini bawain martabak, kamu mau?" Tanya balik Uti menunjuk satu kantong berisi martabak.
"Nanti lah mbak, aku mau sholat Maghrib dulu" ucap Rama
"Ini udah jam sembilan malam ram" ucap mbak Uti membaut Rama menghentikan langkahnya.
"Jam sembilan?" Tanya Rama panik dan melihat di layar ponselnya.
"Astaghfirullah…" ucap Rama. Mbak Uti tersenyum geli melihat tingkah Rama.
"Ya Allah mbak, aku tadi ketiduran sampai nggak sadar Karin sudah siuman" ucap Rama malu-malu.
__ADS_1
"Iiish dasar, ya udah sana sholat dulu sujud syukur Karin udah siuman" kata mbak Uti membuat Rama langsung melengos dan pergi. Mbak Uti senyum-senyum sendiri.