
Flashback
Karin masuk ke dalam kamar dengan perasaan tak menentu. Kisah masa kecil Rama yang ia dengar sepenggal-sepenggal dari mencuri dengar percakapan Bu Rosa dan kakak iparnya membuat nya berubah pikiran.
"Tapi kenapa harus gue, kenapa bukan cewek lain aja yang dia nikahin? Gue nggak suka" batin Karin seraya menghela nafas gusar.
Dari arah tangga ia mendengar mbak Aisyah berjalan memanggilnya.
Karin langsung menyambar tas dan berpura-pura membenarkan baju dan make up nya.
"Rin udah siap? " Tanya Aisyah di depan pintu
"Sudah, mami mana? Ayo kita pergi" tanya Karin
"Mami masih ada tamu Rin, Tante mertua kamu datang" jawab Aisyah dengan nada sedikit pelan.
"Bu Rosa?" Tanya Karin
"Iya" jawab Aisyah mengangguk
"Ya udah gue samperin dulu, yang penting mami ikut" ucap Karin beringsut dan berjalan ke arah pintu. Aisyah bergeser untuk memberikan jalan. Karin melewati pintu dan Aisyah menutup pintu dan menguncinya. Karin menerima kunci kamarnya dan langsung turun.
"Rin, kamu nekat mau ke kantor polisi?" Tanya Aisyah menahan lengan adik iparnya
__ADS_1
"Iya mbak, kenapa sih?" Tanya Karin menoleh menatap wajah ayu kakak iparnya.
"Mbak cuma takut, kalau kamu di penjara Rin" ucap Aisyah memelan
Karin menghirup udara banyak-banyak dan menghembuskan perlahan. Tangannya terulur memegang pundak kakak iparnya.
"Mbak berdoa saja oke!" Ucap Karin tersenyum lalu berjalan meninggalkan Aisyah yang masih terpaku di atas anak tangga.
Sepeduli itu Aisyah dengan adik dari suaminya. Ia yang juga yatim piatu dan di rawat oleh pamannya juga tahu bagaimana rasanya hidup tanpa penopang. Karin terlalu tangguh meski hidup penuh kasih sayang, gadis muda itu tahu rasanya bertahan di atas luka yang di terima dan nyaris membuatnya putus asa.
Karin turun dan langsung menyalami Bu Rosa. Karin sudah tidak merasa terkejut karena tahu wanita yang datang bertamu kerumah mami nya sudah beberapa kali bertemu sebelumnya. Meski dalam keadaan yang tidak sebaik ini.
"Mbak ini yang pernah nabrak saya gara-gara ada kucing lewat kan? Mbak juga yang pernah antar saya pulang kerumah pas kecelakaan dulu, mbak juga yang ketemu di apotik kan?" Tanya Bu Rosa beruntun mengingat memori pertemuannya dengan Karin beberapa kali.
"Iya Bu" hanya itu jawab Karin sambil tersenyum
"Ehm tidak sengaja Bu, waktu itu gara-gara ada kucing tiba-tiba menyeberang, motornya mbak Karin langsung oleng dan nabrak saya" jawab Bu Rosa tersenyum, satu tangannya sibuk mengusap anak rambut Naira cucunya yang sedang tertidur lelap.
"Anak ini memang kalau bawa motor kadang ugal-ugalan Bu, mohon di maafkan ya" ucap mami membuat Karin merasa kesal.
Mami menyerahkan kotak beludru hitam itu pada Bu Rosa. dalam hati mami berharap ada sebuah keajaiban yang terjadi. Memang sejak dulu saat almarhum suaminya masih hidup, pak Halim berusaha mencari keluarga dan kedua orangtuanya yang terpisah sejak kecil.
Bu Rosa tersenyum melihat isi dalam kotak dan memandang Karin serta ibunya bergantian.
__ADS_1
"Jadi Karin keponakan tiri saya Bu" ucap Bu Rosa membuat Karin dan mami menatap tak percaya. Mami tersenyum bahagia sedangkan Karin merasa bingung dengan sikap dua orang tua di depannya.
Belum hilang rasa terkejutnya, dua orang polisi datang dan akhirnya membawa Karin ke kantor polis untuk di mintai keterangan.
Karin pergi dengan dua orang polisi, mami dan mbak Aisyah mengantar Karin hingga depan pagar. Mereka berharap permasalahan bisa selesai dengan kekeluargaan seperti yang di katakan Rama dan Arkan tadi.
Bu Rosa menatap bingung pada bu Maryam.
"Ibu nggak usah bingung, ayo kita masuk, saya ceritakan detailnya supaya tidak ada yang kesalah pahaman" ucap Bu Maryam yang tahu kebingungan Bu Rosa.
"Kenapa anak ibu di bawa polisi malah baik-baik saja Bu?" Tanya Bu Rosa gusar.
Bu Maryam memilih duduk di sofa dan meminum teh nya. Beliau tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Bu Rosa.
"Pernikahan Karin dan Rama sudah memasuki dua bulan Bu, dan selama ini yang tahu pernikahan mereka hanya kami sekeluarga saja dan tetangga kanan kiri." Ucap Bu Maryam menjeda ucapannya.
"Saya sebagai orang tua tidak pernah tahu apa yang terjadi diantara mereka termasuk kesepakatan yang mereka buat dan mereka setujui berdua dalam pernikahan, Karin di fitnah oleh sahabatnya dan di sebarluaskan di kampus dengan bumbu-bumbu penyedap rasa yang membuat orang jadi muak dan menaruh kebencian pada Karin dan itu membuat mental Karin down, belum lagi Rama mendapatkan teguran dari pihak kampus jika permasalahan ini tidak selesai dalam waktu satu Minggu, maka Rama sudah tidak bisa lagi mengajar sebagai dosen di kampus itu bahkan mungkin di kampus lain" cerita Bu Maryam membuat Bu Rosa terperangah.
"Saya tidak menyangka… maafkan keponakan saya Bu, kalau saya di posisi Karin juga pasti melakukan hal yang sama, menikah dengan orang yang tidak di cintai memang pilihan yang sulit untuk di terima, tapi saya bangga Karin bisa bertahan hingga hari ini" ucap Bu Rosa
"Sebagai orang tua saya juga merasa bersalah Bu, saat itu posisi kami benar-benar merasa kesulitan mengambil pilihan, di satu sisi kami ingin menolong Rama bersembunyi dari kejaran preman itu, dan benar saja, saat tengah malam rumah kami di satroni maling Bu, beruntung pak ustadz depan rumah siaga dan langsung menghubungi anak saya" cerita Bu Maryam
"Iya Bu, Rama juga sudah cerita, saya pikir setelah bertahun-tahun berlaku preman tua itu insyaf ternyata masih berulah"
__ADS_1
"Ya doakan saja Bu, semoga mendapatkan hidayah di usia senjanya"
"Amiiin"