
"Untuk apa Lo lakuin hal itu? Lo tahu nggak resikonya kalau sampai Rama tahu kalau gue yang ikut andil, Lo bego atau apa sih?" Umpat pria bertubuh tinggi itu dengan wajah penuh amarah.
Gadis berjilbab salem itu hanya terdiam dengan kedua buku-buku tangannya terkepal erat. Dalam hati ia benar-benar mengumpat pria kurang ajar di depannya itu dengan bermacam sebutan.
"Masih untung gue nggak nyelakain Lo dasar bodoh. Gue bilang dari awal, jangan buru-buru Lo kirim paket ke Karin. Rencana awal kita cuma buat misahin mereka dengan salah faham nggak guna karena buket bunga. Bukan malah neror Karin dengan foto nggak guna yang Lo kirim itu. Apalagi ini sampai ke rumah orang tua gue. Lo tahu nggak sih, ibu gue selama ini numpang hidup sama Rama karena kesalahan gue. Dan sekarang Lo bikin masalah kayak ini. Kalau Rama sampai tahu, ibu gue mau tinggal dimana kalau gue di penjara Lo tahu kan gue buron?" Bentak pria itu hingga membuat gadis di depannya berjingkat karena takut dengan bentakan mautnya.
"Maa….maaf." hanya satu kata itu yang mampu ia ucapkan.
"Hah, persetan, pergi Lo dari sini daripada gue garap Lo abis-abisan. Pergi!" Bentak nya sekali lagi.
Tanpa pikir panjang, gadis berjilbab salem itu keluar dari gubuk tua menyeramkan dengan ketakutan. Karena keadaan sudah malam, ia berjalan berhati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan orang yang lewat. Ia berjalan keluar dari pintu belakang ke arah semak-semak yang tinggi menjulang dan melewatinya tanpa rasa takut sama sekali.
Tiba di sebuah pagar tembok usang yang tinggi ia mengendap untuk melihat keadaan sekitar agar tidak menimbulkan kecurigaan orang-orang yang lalu lalang melewati jalan berbatu tepat di depan rumah tua yang konon katanya berhantu itu.
Saat keadaan di rasa aman, Ia berjalan santai sembari menenteng tas yang ia sembunyikan di balik pagar yang tertutup rumput liar. Jalanan berbatu itu ia lalui tanpa rasa takut sama sekali meski sekeliling hanya ada beberapa rumah yang juga sudah tidak berpenghuni dan di kelilingi pekarangan yang rungkut seperti hutan belantara.
"Baru pulang neng?" Sapa seseibu yang melewati nya dengan kendaraan roda dua.
"Iya Bu, tadi nggak bawa motor jadi jalan kaki pulang nya." Jawab gadis itu sopan
__ADS_1
"Ayo ibu antar, sekalian mau kerumah anak saya lagi ada yasinan. Nggak baik perempuan jalan sendiri apalagi ini jalanan sepi nggak ada orang, banyak rumah kosong berhantu." Ujar ibu itu menawarkan tumpangan.
"Iya Bu, kebetulan kalau gitu saya juga capek jalan dari sekolah."
"Ya udah buruan naik."
Gadis itu naik ke atas boncengan motor sang ibu dengan tersenyum puas dan merasa tertolong. Angannya masih teringat beberapa menit lalu saat pria itu membentak nya habis-habisan.
Saat ini yang ia rasakan hanya kebencian mendalam atas rasa yang tak pernah terbalaskan, atau mungkin lebih tepatnya hanya dirinya saja yang merasakan tanpa bisa mengolah rasa itu dengan baik hingga berbuah kebencian pada sosok yang ia anggap bersalah padanya.
Panggilan dari ibu yang memboncengnya menyadarkan lamunan panjangnya selama di duduk di atas roda dua itu.
"Udah sampai ya bu, maaf saya mengantuk jadi kurang sadar kalau sudah sampai dirumah." Katanya sopan sembari turun dari atas boncengan.
Gadis itu masuk ke dalam rumah dengan santai tanpa peduli dengan ibunya yang sedang memasak makanan untuk di jual esok pagi. Tanpa menyapa dan menyalami ibunya ia langsung masuk ke dalam kamar.
Sebuah bingkai foto terpajang di atas nakas ia raih dengan kasar dan melemparnya ke tong sampah.
"Sahabat macam apa yang udah berani merebut pria yang ku cintai. Aku benci kamu Karin." Umpatnya dalam hati dengan tatapan nyalang ke arah bingkai foto.
__ADS_1
Sementara di sudut ruangan dengan cahaya minim, pria berusia sekitar 25 tahun-an terduduk lesu setelah mendengar laporan dari anak buahnya beberapa saat lalu.
"Gue emang jatuh cinta sama Lo dari pandangan pertama, tapi gue sadar sekarang gue nggak ada hak buat miliki Lo, gue sadar kalau kebahagiaan Lo bukan sama gue. Gue emang niat bikin Lo pisah sama Rama tapi sekarang gue tahu kalau Lo nggak bisa hidup tanpa Rama. Maafin gue Ram udah bikin hidup Lo susah selama ini karena perbuatan gue. Ibu pasti malu punya anak kayak gue yang udah banyak nyakitin orang." Ucapnya dalam hati.
Bertahun-tahun ia lari dari kejaran polisi karena kasus kecelakaan yang menimpa kakak kandungnya dan penggelapan uang perusahaan tempatnya bekerja dahulu. Kini setelah bertahun-tahun berlalu hidupnya tak merasa tenang sedikitpun setelah kasus kecelakaan itu ditutup oleh kepolisian dan menetapkan ia menjadi tersangka buronan polisi.
Hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, bersembunyi dari kejaran polisi ataupun orang-orang sekitar yang ia anggap membahayakan. Hingga ia memutuskan menyamar sebagai kuli hanya untuk mengisi perutnya meski tidak setiap hari. Beruntung masih ada satu orang baik hati yang mau menolongnya dan menjadi teman meskipun tahu ia adalah buronan.
Ridho, yang ia kenal beberapa bulan lalu saat mengantar bahan bangunan kerumah orang tua anak muda itu. Dari situ mereka saling mengenal, karena Ridho tipe yang baik dan humanis membuat pria berusia 25 tahun-an itu merasa nyaman dan mendapat teman baru.
Ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari orang suruhannya.
"Ada berita apa?" Tanyanya.
"Target sudah masuk perangkap bos, ini harus di eksekusi sekarang?" Tanya suara bariton dari seberang.
"Biarkan saja dulu, bawa saja ke markas kalian. Aku akan menyusul besok pagi. Kalau mereka masih tidak mau mengaku jangan beri mereka makanan hingga uang tebusan kalian terima."
"Baik bos."
__ADS_1
"Besok yang terakhir kali aku menyandera orang tak bersalah demi uang tebusan untuk anak terlantar. Ibu maafkan anakmu yang selama ini selalu membuatmu susah dan menanggung malu." Ucap hatinya.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Jika biasa ia akan keluar mencari mangsa, maka kali ini ia memilih berdiam diri di rumah tua itu hingga esok pagi menjelang.