Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 41


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan mbak Uti dan suaminya berlangsung meriah. Kebahagiaan terpancar dari keluarga kedua belah pihak termasuk bu Maryam yang terlihat tak berhenti tersenyum pada semua tamu undangan.


Namun Aisyah yang menyadari raut wajah suaminya beringsut mundur dari pelaminan. seharusnya Ardi suaminya yang menemani mami di pelaminan, tapi justru ia terpaksa naik menggantikan Ardi karena suaminya tak kunjung kembali dari toilet.


Ardi duduk di bagian pojok aula tempat pesta berlangsung, berulang kali menghubungi Rama tapi tidak mendapatkan jawaban, begitu juga adiknya Arkan.


Di tengah kegelisahan, Aisyah datang dan bertanya yang membuat ia mau tak mau harus mengatakan keadaan yang sedang terjadi.


"Mas kenapa? Dari toilet sejak tadi tapi kenapa wajah mas murung?" Tanya Aisyah.


Ardi menetap wajah istrinya yang menuntut jawaban. "Ayo ikut mas ke belakang, Naina mana?" Tanya Ardi menggandeng tangan istrinya.


"Naina sama umi dan Abi, itu di sana" tunjuk Aisyah pada kedua orang tua angkatnya yang duduk menikmati sajian bersama tamu undangan lainnya. 


"Kamu pamit dulu sama umi mas tunggu di mobil" ucap Ardi lalu melangkah pergi.


Aisyah mengangguk meski tidak mengerti dengan sikap suaminya. Aisyah bergegas pamit pada orangtuanya lalu menyusul Ardi ke mobil.


Arkan memarkirkan kendaraannya di depan sebuah butik ternama di ibukota "twins galery".


Arkan menatap bangunan berlantai dua itu dengan tatapan penuh harap. Semoga saja Karin dan Raisa ada di dalam sana.


Arkan melangkah masuk dan bertanya pada satpam sudah membuat janji dengan pemilik butik. Arkan di antar masuk dan menunggu di ruang khusus untuk pelanggan.


Tak lama seorang gadis muda sekira berusia dua atau tiga tahun di bawahnya datang menghampiri. 


"Selamat siang, maaf menunggu lama" ucap wanita berhijab yang tak lain adalah Keisya.


Arkan sempat terpaku melihat Keisya yang begitu anggun dengan busana muslimah modern dan sopan. Terlebih senyum Keisya yang tulus. Arkan langsung menoleh membuang pandangannya.


"Ehm..maaf nyonya, saya datang kesini ingin bertemu calon istri saya yang bekerja disini" ucap Arkan sedikit gugup.


"Calon istri? Atas nama siapa ya kalau boleh tahu, karena karyawan kami cukup banyak disini" tanya Keisya.


"Raisa Andriana" jawab Arkan 


"Raisa? Dia tidak datang hari ini, kemarin sudah izin katanya mau ada acara pernikahan keluarga nya" ucap Keisya membuat Arkan terkejut.


"Izin Bu?" Tanya Arkan lagi tak percaya


"Iya, dia izin langsung dengan saya dan kakak saya kemarin" ucap Keisya meyakinkan sembari menatap Kinara yang baru keluar dari ruangan. 


"Ada apa Kei?" Tanya Kinara


"Ini mbak, mas ini nyari Raisa, dia kemarin sudah izin kan mbak waktu kita selesai briefing?"tanya Keisya pada Kinara 

__ADS_1


"Iya, Raisa kemarin izin sehari nggak masuk mas karena mau hadiri acara pernikahan keluarga nya" ucap Kinara meyakinkan Arkan .


"Kakak saya yang menikah nyonya, dan sejak pagi tadi Raisa saya hubungi tidak menjawab, saya coba cek kerumahnya ternyata ponselnya dan ponsel milik adik saya ada dirumah itu, saya sudah mencari mereka kemana-mana tapi tidak bertemu" ucap Arkan menceritakan kegelisahan nya


"Bisa ceritakan secara detail mas, siapa tahu kami bisa membantu" ujar Kinara


Arkan akhirnya menceritakan semua kronologi yang terjadi sampai akhirnya mereka tidak ada kabar hingga siang ini.


Kinara dan Keisya saling memandang sebelum akhirnya memberikan sebuah penawaran bantuan pada Arkan.


"Mas duduk tenang dulu disini, biar anak buah kami yang mencari, ini belum dua puluh empat jam, semoga saja ada titik terang dan mereka bisa di temukan" ucap Kinara membuat Arkan terkejut


"Maksudnya?" Tanya Arkan tak mengerti


"Mas pernah dengar perusahaan asing Eins Corp?" Tanya Kinara


"Iya sering, saya pernah mendaftar sebagai karyawan disana tapi tidak lolos" jawab Arkan


"Oh, saya akan menghubungi pihak perusahaan dan meminta bantuan untuk mencari keberadaan adik dan calon istri mas" ucap Kinara


Arkan hanya melongo, lalu sekian detik berikutnya ia menganggukkan setuju.


"Terimakasih nyonya sudah membantu saya" ucap Arkan


"Mas kerja dimana sekarang?" Tanya Keisya basa-basi


"Oh, mas di bagian apa?" Tanya Kinara manggut-manggut 


"Sales marketing" jawab Arkan 


Keisya sibuk berbicara di telepon dengan seseorang dan meminta bantuan untuk mencari orang hilang.


Arkan menatap heran pada kedua wanita kembar di depannya, baru kali ini ia bertemu seorang pemilik butik terkenal bahkan memiliki hubungan baik dengan perusahaan asing. 


"Gimana kei?" Tanya kinara


"Mereka siap, sebentar lagi kesini" jawab Keisya


Arkan hanya bengong saja melihat interaksi dua saudara kembar di depannya. Tidak rugi ia datang kesini karena mendapatkan bantuan gratis. 


Rumah sakit nampak ramai dengan orang lalu lalang. Rama mengikuti langkah lebar pria di depannya dengan harap-harap cemas.


Pak Agus berbicara dengan petugas rumah sakit. Setelah perbincangan yang sedikit alot akhirnya pak Agus mengajak Rama melihat beberapa korban luka-luka yang masih ada di IGD. 


"Mari pak,mereka semua korban luka-luka, satu korban tanpa identitas sedang di ruang ICU karena mengalami pendarahan cukup hebat, dan seperti nya korban dalam kondisi traumatik cukup parah." Ucap pak Agus mempersilakan Rama masuk ke ruang IGD.

__ADS_1


Rama memperhatikan semua korban yang masih dalam kondisi pingsan, hanya satu korban yang berhasil ia ajak bicara. Namun itu jelas bukan calon istri Arkan. Wanita muda itu bernama Mariah seorang karyawan di salah satu PT. 


"Pak, boleh saya melihat korban yang di ruang ICU tapi sebelumnya boleh saya melihat identitas korban luka-luka?" Tanya Rama 


"Baik, mari ke ruang ICU semoga saja korban salah satu istri bapak" ucap pak Agus


Meski sedikit kesal dengan ucapan petugas polisi itu, Rama tetap Mengikuti langkah pria itu hingga ke ruang ICU.


Sebelum memasuki ruang ICU Rama memakai pakaian khusus pengunjung, setalah melalui beberapa tahap syarat harus masuk ICU.


Rama dan pak Agus di tuntun langsung oleh perawat. Saat tirai di buka Rama terkejut bukan main.


Deg


Air mata Rama langsung menetes tak terbendung. Korban yang tergeletak di atas brankar ICU tidak lain adalah Karin dengan banyaknya alat terpasang di tubuhnya.


"Ini istri saya pak, dia istri saya hikks Hikss hikss" ucap Rama terpukul


Pak Agus langsung menepuk pundaknya berkali-kali agar Rama tidak merasa sendirian.


"Sus, bisa saya lihat catatan kondisi korban?" Tanya pak Agus pada suster yang bertugas.


"Sebentar pak saya ambilkan" ucap suster tersebut


Tak lama suster Kemabli membawa catatan kondisi pasien dan memberikannya pada pak Agus.


Setelah membaca catatan, pak Agus langsung menghampiri Rama. 


"Pak, temani istri bapak, kalau ada apa-apa bapak bisa berkonsultasi langsung dengan dokter yang menangani, saya akan cari calon istri kedua bapak" ucap pak Agus menepuk pundak Rama. 


"Pak, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih banyak, tolong bapak ingat kalau istri saya cuma satu, hanya dia saja" ucap Rama menahan kesalnya. 


Sejak tadi pak Agus berbicara seolah menertawai nya dan mengajaknya bercanda di saat yang tidak tepat.


"Oh iya maaf, bukan calon istri kedua" ralat pak Agus.


Setelah membicarakan banyak hal pada suster, pak Agus pamit undur diri dan kembali ke kantor. 


Sementara itu di cafe hotel, Ardi dan Aisyah terlibat pembicaraan serius. Setelah menceritakan banyak hal pada Aisyah, Ardi langsung mendapatkan ceramah panjang lebar dari sang istri. 


"Harusnya mas ngomong waktu masih di rumah, kenapa malah ngomongnya di saat seperti ini? Gimana sama mami mas? Kamu tega bikin mami shock trus masuk rumah sakit lagi?" Cecar Aisyah


"Syah, intinya kan kita belum ngomong ke mami, tadi malam Arkan masih komunikasi sama Raisa, kita tunggu kabar dari Rama sama Arkan semoga saja mereka Bertemu" ucap Ardi 


"Ck, kita lapor polisi aja mas" putus Aisyah

__ADS_1


"Ini belum dua puluh empat jam Syah, belum bisa kita lapor polisi" kata Ardi


"Astaga…." Ucap Aisyah ikut kesal campur khawatir. 


__ADS_2