
"Kamu nggak usah keluar ya, saya ambilkan makanan." Kata Rama setelah Karin keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Rama memandangnya sejenak lalu tersenyum dan meninggalkan Karin di kamar.
"Belum aja gue jawab udah main pergi." Batin Karin. Ia duduk di depan meja rias dan mengeringkan rambutnya yang basah.
"Arrh kenapa sakit banget, mana perut laper." Batin Karin memegang perutnya yang keroncongan. Saat menatap ke arah cermin Karin terkejut bukan main melihat tanda hasil percintaan mereka semalam di sekitar lehernya.
"Aargh kenapa bisa begini sih." Batinnya merasa kesal bercampur sedih. Hairdryer langsung ia matikan dan memilih untuk berbaring meski berjalan sedikit terseok-seok karena perih dan pegal di seluruh tubuhnya.
Saat membuka selimut terlihat bercak darah di sprei. Karin menghela nafasnya berkali-kali. Beberapa detik kemudian terisak sendiri.
Rama yang baru saja turun ke dapur untuk mengambil makanan langsung mendapat tatapan aneh dari mami dan para iparnya. Rama hanya bisa tersenyum dan menelan ludah karena ia tidak terbiasa bangun terlambat hingga sesiang ini.
"Maaf mi, lambat bangun." Ucap Rama mengusap kepalanya yang tidak gatal.
"Bisa dimengerti. Ayo makan, bawakan Karin makanan juga. Sebentar mami siapkan." Ucap mami langsung sigap mengambil piring yang baru dan mengisinya dengan makanan.
Mendapat perlakuan seperti itu, Rama hanya bisa diam dan berdiri kikuk. Merasa seperti seorang narapidana. Sementara saudara iparnya hanya mesem-mesem dan saling lirik lalu terkikik pelan.
"Ini bawakan Karin, kamu juga jangan telat makan. Udah mami lebihkan itu lauknya, soalnya Karin kalau makan kayak banyak." Ucap mami menyerahkan nampan besar berisi makanan.
Rama menerimanya dengan perasaan tak enak sekaligus malu nggak ketulungan. Dengan perasaan berdebar, Rama membawa nampan dan naik ke kamar.
"Rin, ayo makan." Ajak Rama saat sudah di kamar.
Melihat Karin masih bersembunyi di balik selimutnya, Rama langsung naik ke atas bed dan membuka selimut yang menutupi tubuh istrinya.
"Maaf." Ucap Rama mengusap rambut Karin dan ikut berbaring memeluk sang istri yang menangis terisak.
"Ayo makan mumpung masih hangat, kamu lapar kan, aku suap ya." Ucap Rama mencoba menenangkan Karin yang masih saja menangis.
"Bapak jahat, kenapa bisa begini?" Ucapnya terisak. Satu tangannya memukul lengan kekar Rama yang masih mengusap punggungnya.
"Maaf. Aku belum bisa cerita. Nanti tunggu pak Agam datang kesini. Harusnya aku berterimakasih karena kalau nggak ada pak Agam saat ini saya sudah tidur bersama wanita lain." Ucap Rama merasa bersalah. Karin terdiam mendengar ucapan Rama.
"Emang bapak kemana? Selingkuh?" Cecar Karin mengusap kasar air matanya.
"Nggak, sepertinya saya di jebak oleh seseorang. Pak Agam masih menyelidikinya." Jawab Rama
"Kirain, tapi kenapa harus saya pak." Protes Karin
"Ya kamu kan istriku, lebih baik saya lakukan dengan istriku daripada dengan wanita lain yang bukan apa-apa saya." Sahut Rama menatap wajah sembab Karin.
__ADS_1
"Tapi ini sakit pak." Kata Karin
"Nggak papa nanti juga sembuh dengan sendirinya. Masih pertama memang seperti itu sayang." Ucap Rama. Karin hanya terdiam dengan bibir manyun.
"Kalau manyun, aku tambah seperti semalam mau?" Goda Rama sembari mengusap air mata Karin.
"Nggak." Tolak Karin cepat.
"Nggak bisa nolak, aku masih mau seperti tadi malam." Goda Rama membuka jubah mandi Karin yang masih belum sempat di ganti.
"Nggak pak plis."
"Nggak ada penolakan." Ucap Rama. Sesaat kemudian mereka kembali bergelut hingga Karin benar-benar tak berdaya.
Setelah sesi olahraga mereka selesai dan Karin tertidur pulas, Rama menghubungi Agam. Mereka sepakat bertemu malam ini di rumah mami saja.
"Sorry gue baru datang, tadi ada rapat dadakan dan gue harus presentasi proyek lain yang bakalan di garap di daerah xx." Ucap Agam saat baru tiba di rumah mami.
"Oke nggak papa, pak bos nggak nanyain?" Tanya Rama sembari menggeser letak kursi yang ia duduki.
"Nggak, tapi tadi gue di titipin ini." Ucap Agam menaruh paper bag di atas meja.
"Mana gue tau, cuma di amanahin buat ngasih aja. Katanya kalau buka di kamar." Ucap Agam menyampaikan pesan dari bos.
"Oke nanti, terima kasih. Oh ya soal semalam apa Lo tahu sesuatu?" Tanya Rama.
"Nah itu yang mau gue omongin, oh ya hampir lupa, ini sppd Lo udah di tanda tangani pak bos." Kata Agam meyerahkan amplop putih.
"Oke, jadi lo nemu apa semalam sampai gue seperti itu?" Tanya Rama
Agam terlihat menarik nafas dalam-dalam dan berat. Menatap Rama dengan perasaan kasihan dan tak enak jika harus menjawab.
"Kenapa sih?" Tanya Rama melihat Agam seperti orang bingung.
"Gue nggak tahu dari mana mau cerita Ram, semalam lo ingat nggak ngobrol sama pria yang pake baju hitam?" Tanya Agam
Rama mencoba mengingat dan langsung mengangguk. "emang kenapa sama orang itu?" Tanya Rama
"Dia juga minum minuman yang sama dengan lo minum, tapi dia beruntung datang sama istrinya makanya begitu bereaksi dia langsung ngajak istrinya je hotel. Gue tahu ini dari Robin, karena semalam Robin juga ternyata disana." Cerita Agam
"Kok gitu?" Tanya Rama tak mengerti.
__ADS_1
"Ceritanya rumit, masih simpang siur. Robin datang sedikit terlambat, kita pulang dia datang. Dan dia juga papasan sama pria baju hitam katanya pas masuk ke rumah itu."
"Trus? Pria baju hitam kan bukan cuma yang gue ajak ngobrol kali." Kata Rama.
"Iya sih, tapi ini ada rumor kalau tempat itu sering di jadikan tempat para LGBT melakukan aksi mereka. Dan bisa jadi sih semalam itu memang acaranya ultah pernikahan, tapi Lo tahu kan dari dulu Bruno nggak pernah mengekspose istrinya di sosmed?" Kata Agam
"Ck gue nggak ngerti." Rama berdecih
"Gue juga nggak ngerti, tapi tadi pagi si Robin nelpon gue dan cerita kalau semalam dia nggak sengaja lihat mereka lagi nganu di kamar mandi. Maksudnya si terong makan terong." Ucap Agam membuat Rama terkikik mendengar cerita Agam.
"Iya gue ngerti maksudnya, trus Robin ngapain abis itu?"tanya Rama.
"Dia langsung pulang, dan hampir aja dia juga minum dari gelas yang di sodorin pramusaji." Jawab Agam
"Robin tahu kalau itu ada obat perangsang?" Tanya Rama
"Ya Lo kan tahu Robin anak farmasi jelas tahu lah minuman itu ada obatnya apa nggak. Makanya dia alesan mau merokok keluar tapi langsung pulang." Jawab Agam.
"Hmm kok gue jadi curiga, semalam itu teman alumni yang datang cuma kita berdua kan, selain itu orang asing semua nggak kita kenal. Dan terakhir Robin, coba Lo cek di grup alumni ada nggak temen-temen yang dapat undangan?" Usul Rama.
"Udah gue cek satu-satu katanya nggak ada temen yang dapat undangan, tapi ada adek kelas yang bilang kalau si Gary itu sebenarnya belum nikah." Terang Agam.
"Ha? Belum nikah? Jadi bener dong isu LGBT?" Seru Rama kaget.
"Bisa jadi. Bukannya dari dulu si Gary agak mendayu, kalau menurut gue sih mereka sengaja menjebak dengan dalih ultah pernikahan, padahal bisa jadi itu akal-akalan Gary buat nyembunyiin status dia." Kata Agam.
"Bisa jadi. Tapi untung aja semalam ada Lo, kalau nggak ada Lo bisa aja gue udah kena karma sampai mati." Ucap Rama menepuk pundak Agam.
"Untung aja semalam gue belum niat minum." Kata Agam merasa beruntung.
"Nah itu dia, kalau semalam Lo nggak bawa gue pulang, nggak tahu bagaimana jadinya pernikahan gue." Kata Rama.
"Udah jebol ceritanya?" Tanya Agam sengaja meledek
"Ck, nggak usah di bahas. Nikah aja Lo cepat." Jawab Rama tersenyum malu.
"Ciee.. terimakasih Lo sama gue, cariin perempuan yang mau gue nikahin" kata Agam.
"Balik aja ke desa, janda juragan Karso kan nganggur." Ledek Rama
"Ck apaan sih." Kata Agam malu-malu.
__ADS_1