Dosen Jadul itu Suamiku

Dosen Jadul itu Suamiku
DJIS 70


__ADS_3

"Karin kenapa mi?" Tanya mbak Uti yang pagi itu memang datang berkunjung karena mendengar kabar kalau Karin pulang.


"Hamil mungkin, dari kemarin datang sudah lemas nggak bertenaga, malahan dari kemarin itu dia baru keluar kamar tadi pas sarapan." Jawab mami.


"Apa sudah periksa?" Tanya mbak Uti


"Kata Rama belum, nanti sore katanya mau periksa ke dokter kandungan."


"Mi, Karin muntah-muntah terus pingsan." Kata Aisyah yang baru saja turun dari lantai atas dengan nafas tersengal.


"Astaghfirullah, ayo kerumah sakit, Uti panggil suamimu suruh siapin mobil cepat." Teriak mami histeris.


Uti yang sudah terbiasanya dengan sikap mami yang suka panik hanya mendengus sambil mematikan kompor dan melepas selang tabung gas. Makanan yang baru saja matang langsung ia tata dalam box Tupperware untuk ia bawa ke rumah sakit hanya untuk jaga-jaga kalau ada kondisi yang terjepit.


"Anak saya kenapa dok?" Tanya mami cemas.


"Muntaber, dan lambungnya sepertinya infeksi, apa pasien makan cabai atau makanan pedas lainnya?" Tanya balik pak dokter


Mami hanya diam dan menatap Rama dengan mata menyipit. Rama yang merasa terintimidasi hanya tersenyum kemudian menggeleng pelan.


"Biar saya tanya dulu istri saya dok, tapi sehari sebelum kami berangkat dari desa, istri saya memang sempat mengeluh perutnya sakit dan bolak-balik ke kamar mandi. Tapi waktu saya tanya nggak bilang apa-apa cuma mules aja katanya." Jelas Rama.

__ADS_1


Sehari sebelum berangkat ke kota Karin makan rujak jambu dengan cabai yang cukup banyak hingga membuat perutnya mulas dan beberapa kali keluar masuk kamar mandi. Sarinah anak pak RT yang ia temani sudah menegur dan mengingatkan untuk tidak makan cabai terlalu banyak. Tapi Karin abai karena baru pertama kali makan rujak dengan rasa yang menggiurkan.


Begitu dokter keluar ruangan, mami menatap Karin yang masih terkulai lemas meski kondisinya sudah siuman.


"Mami cuma nanya kamu jawab jujur, nggak usah ngomong cukup goyangkan kepala aja." Tanya mami pelan di angguki Karin dengan isyarat alisnya yang naik turun.


"Kamu makan pedis?" Tanya mami dan Karin mengangguk lalu tersenyum. Mami langsung memberikan sebuah pukulan di lengannya yang tertusuk jarum infus.


"Rama, mulai besok stok cabai dirumah mami mau museumkan. Sampai ini anak masih makan pedas, kamu juga mami hukum. Bikin repot orang tua aja." Oceh mami. Rama hanya mengangguk saja.


Mbak Aisyah juga mbak Uti tersenyum geli mendengar mami mengoceh.


"Apaan Samiun mah?" Tanya mbak Aisyah


"Sambal rasa mau nambah kikikik." Jawab mbak Uti asal. Mereka berdua tertawa pelan lalu keluar ruangan. Mami pun menyusul kemudian.


***


"Kamu mau kemana?" Tanya sang ibu


"Mau ke kampus, ibu kenapa sih kepo terus?" Jawab Nurul membuat wanita paruh baya itu meradang.

__ADS_1


"Bu, tahan." Cegah Furqon yang datang tepat waktu memegang lengan ibu angkatnya itu.


"Ck, basi." Cibir Nurul dengan langkah tegap meninggalkan ruang makan.


Furqon memeluk sang ibu yang menangis tertahan dalam dekapannya.


"Biar aku yang bicara sama bapak Bu, kali ini ancaman terakhir bapak kalau Nurul masih bersikap kurang ajar lagi." Ucap Furqon menenangkan.


Nurul melangkah pasti mengendarai motor matic yang selalu dipakai sejak setahun belakangan. Niat dan tujuannya kali ini ingin ke rumah Karin karena mendengar kabar dari mbak Uti kalau Karin pulang kerumah mami.


Dengan senyum tersungging dan sikap tenangnya, Nurul menekan tombol angka dan menghubungi mbak Uti.


"Oh jadi di rumah sakit ya, oke aku kesana ya kak." Ucap Nurul di akhir kalimat dengan senyum smirk.


"Kali ini aku masih baik, kita lihat saja Karin." Batin Nurul dengan sorot mata penuh dendam. Motor itu melaju dengan kecepatan sedang di jalan yang cukup lengang siang itu.


Karin tengah tertidur lelap saat Nurul datang menjenguknya di rumah sakit. Rama saat itu sedang keluar untuk menebus obat di apotek. Hanya ada mbak Uti saja yang menemani. Mami dan mbak Aisyah pulang karena harus pergi ke toko untuk membantu pegawai mereka yang kelelahan melayani pembeli.


Karin dan Nurul mengobrol banyak seperti biasanya. Namun tak ada yang tahu sebenarnya apa yang tengah di rencanakan oleh Nurul. Tepat saat Nurul hendak pamit pulang, Rama baru kembali membawa beberapa kantong belanjaan.


Rama yang pernah mempelajari ilmu psikologi dan kejiwaan saat kuliah dulu, sedikit curiga dengan gerak gerik dan sorot mata Nurul yang menatap Karin saat mereka berpelukan. Bahkan sikap Nurul di depannya pun berbeda seratus derajat saat berhadapan dengan Karin. Namun Rama memilih diam tak memberikan respon apapun.

__ADS_1


__ADS_2